Masalah kemampuan membaca siswa SMP kembali menjadi sorotan serius dalam rapat kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Temuan lapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa SMP yang belum mampu membaca lancar, bahkan menulis kata sederhana pun belum bisa.
Anggota DPR dari Fraksi NasDem, Furtasan Ali Yusuf, membeberkan kenyataan pahit ini usai melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah di Kota Serang, Banten.
Dalam pengamatannya, siswa kelas 1 dan kelas 2 SMP terlihat kesulitan menuliskan frasa-frasa umum seperti Indonesia Raya dan Indonesia Emas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta tersebut memperkuat dugaan bahwa kualitas pendidikan dasar dan menengah, terutama kemampuan literasi siswa di SMP, masih sangat rendah.
Fakta Lapangan Ungkap Rendahnya Literasi Dasar Siswa SMP

Kenyataan bahwa siswa di tingkat SMP belum bisa membaca dan menulis dengan baik menandakan adanya masalah struktural yang serius dalam sistem pendidikan.
Furtasan Ali Yusuf mengungkap, saat ia masuk ke ruang kelas di SMP dan meminta siswa menulis kalimat sederhana, hasilnya tidak sesuai harapan.
Sebagian besar siswa tidak bisa mengeja atau menulis dengan benar, bahkan untuk kata-kata yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran di jenjang SD yang seharusnya menjadi fondasi justru tidak memberikan keterampilan literasi yang cukup.
Kelemahan literasi siswa ini juga menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas kurikulum nasional.
Saat ini, siswa tetap naik kelas meskipun tidak mampu membaca dan menulis, karena tidak ada standar keterampilan dasar yang wajib dikuasai.
Menurut Furtasan, kebijakan yang terlalu longgar ini membuat banyak siswa SMP terjebak dalam sistem yang memaksa mereka naik kelas tanpa kesiapan akademik.
Lebih lanjut, sistem evaluasi yang lemah menyebabkan guru tidak memiliki kontrol yang cukup untuk menilai kesiapan literasi siswa SMP sebelum ke jenjang berikutnya.
Siswa SMP Tak Bisa Baca? Ancaman Nyata bagi Visi Indonesia Emas 2045
Kurangnya kemampuan literasi siswa SMP bukan hanya persoalan akademik, tetapi juga menjadi penghalang besar bagi visi besar Indonesia Emas 2045.
Bagaimana mungkin generasi muda bisa bersaing secara global jika membaca dan menulis pun belum dikuasai dengan baik di usia remaja?
Siswa yang tidak memahami bacaan akan kesulitan mengikuti pelajaran lain seperti matematika, IPA, IPS, hingga teknologi digital.
Bahkan lebih jauh, mereka bisa tertinggal dalam perkembangan zaman karena tidak memiliki akses pengetahuan yang memadai.
Furtasan menyebutkan bahwa sistem saat ini hanya mempercepat proses tanpa melihat kualitas.
Jika siswa di tingkat SMP terus dibiarkan naik kelas tanpa keterampilan dasar, maka pendidikan hanya menjadi formalitas tanpa makna.
Ini akan memperlebar kesenjangan antara siswa yang berasal dari daerah perkotaan dengan mereka yang berada di wilayah pelosok atau tertinggal.
Kondisi ini juga berpotensi memperkuat siklus kemiskinan karena rendahnya kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan dari sistem pendidikan nasional.
Solusi Strategis Tingkatkan Literasi Siswa Secara Nasional
Mengatasi krisis literasi siswa SMP membutuhkan strategi menyeluruh dan terintegrasi.
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah merevisi kurikulum agar kemampuan membaca dan menulis menjadi syarat mutlak kenaikan kelas.
Standar nasional literasi dasar harus ditegaskan dalam regulasi pendidikan, bukan hanya sebagai kompetensi tambahan.
Selanjutnya, perlu dilakukan pelatihan guru yang fokus pada peningkatan metode pengajaran membaca, khususnya di tingkat SD dan SMP.
Pemerintah juga bisa memberlakukan asesmen literasi berkala yang mengukur perkembangan siswa SMP di seluruh Indonesia.
Data dari asesmen tersebut menjadi dasar bagi pemetaan daerah yang butuh intervensi kebijakan lebih cepat dan tepat sasaran.
Peran teknologi juga bisa dimanfaatkan, misalnya dengan menyediakan aplikasi belajar membaca interaktif yang mudah diakses secara gratis.
Namun teknologi saja tidak cukupdiperlukan pendampingan langsung dari guru, orang tua, dan komunitas belajar yang aktif mendorong siswa SMP untuk membaca.
Penting juga membangun budaya literasi di lingkungan sekolah, seperti mengadakan 15 menit membaca buku setiap pagi sebelum belajar.
Pemberdayaan perpustakaan sekolah juga harus dioptimalkan agar siswa SMP bisa mengakses buku bacaan yang menarik dan relevan dengan usia mereka.
Program kemitraan dengan penerbit atau donatur buku bisa menjadi solusi untuk mengisi kekosongan koleksi pustaka di sekolah-sekolah pelosok.
Selain itu, kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Pemda perlu diperkuat agar program peningkatan literasi dapat disesuaikan dengan konteks lokal.
Jika kondisi siswa SMP saat ini tidak segera diperbaiki, maka generasi mendatang akan tumbuh tanpa bekal pengetahuan yang cukup.
Kemampuan membaca dan menulis bukan hanya untuk sekolah, tapi menjadi dasar keterampilan hidup dan bekal menghadapi tantangan global.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






