Kericuhan Demo di Malang: Gas Air Mata Masuk RS, Pasien Dievakuasi

- Penulis

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 16:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kericuhan Demo di Malang: Gas Air Mata Masuk RS, Pasien Dievakuasi

Kericuhan Demo di Malang: Gas Air Mata Masuk RS, Pasien Dievakuasi

Redaksiku.com – Situasi Kota Malang pada Jumat (29/8/2025) malam mendadak mencekam setelah aksi demonstrasi besar-besaran berakhir ricuh.

Ribuan massa yang awalnya melakukan aksi protes berubah meluapkan emosi dengan cara yang sulit dikendalikan. Insiden ini dipicu oleh kasus meninggalnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang dilindas kendaraan taktis Brimob pada Kamis (28/8).

Kejadian tersebut membuat publik marah dan akhirnya turun ke jalan menuntut keadilan.

Gelombang Massa Semakin Membesar

Sejak pukul 19.00 WIB, massa sudah mulai berkumpul di depan Polresta Malang Kota. Jumlah mereka terus bertambah hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Kondisi makin panas ketika sebagian peserta aksi melempari batu, menyalakan petasan, dan melemparkannya ke dalam area Mapolresta. Aksi pelemparan itu membuat suasana semakin kacau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah kericuhan, pagar serta beberapa banner yang terpasang di sekitar Mapolresta rusak parah. Jalan utama di kawasan JA Suprapto lumpuh total karena dipenuhi massa. Arus lalu lintas pun dialihkan, sementara aparat kepolisian dibantu anggota TNI mencoba menjaga situasi tetap terkendali.

Aparat Lepas Gas Air Mata

Melihat situasi yang semakin tak terkendali, aparat terpaksa menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Namun, langkah ini justru menimbulkan masalah baru. Angin malam membuat gas air mata menyebar ke wilayah sekitar, termasuk ke area Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang yang lokasinya tidak jauh dari titik bentrokan.

Bau menyengat gas air mata masuk hingga ke dalam ruang perawatan pasien dan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kondisi ini menimbulkan kepanikan luar biasa, baik pada pasien maupun keluarga yang sedang menunggu. Beberapa pasien bahkan harus dievakuasi karena tidak kuat menahan efek gas tersebut.

Kericuhan Demo di Malang: Gas Air Mata Masuk RS, Pasien Dievakuasi
Kericuhan Demo di Malang: Gas Air Mata Masuk RS, Pasien Dievakuasi

Pasien dan Keluarga Panik

Menurut salah satu sumber tenaga medis di RSSA, bau gas yang masuk membuat banyak pasien merasa sesak napas dan tidak nyaman. Sejumlah keluarga pasien sempat menolak perawatan lanjutan karena takut kondisi semakin memburuk. Beberapa perawat dan dokter pun harus bekerja ekstra untuk menenangkan pasien sekaligus melakukan evakuasi darurat.

Bau gasnya masuk sampai IGD, pasien jadi panik, ada yang batuk-batuk, bahkan ada yang nangis karena takut, ungkap seorang perawat yang enggan disebutkan namanya. Situasi ini semakin menunjukkan bahwa dampak dari kericuhan demo tidak hanya dirasakan aparat dan massa, tapi juga masyarakat yang sama sekali tidak terlibat.

TNI Ikut Dikerahkan

Karena situasi di sekitar Polresta Malang semakin panas, sejumlah anggota TNI ikut diterjunkan untuk membantu aparat kepolisian. Mereka berjaga di beberapa titik untuk mengamankan jalur utama sekaligus mencegah massa semakin merangsek ke area dalam kantor polisi.

Walau demikian, upaya pengamanan belum sepenuhnya membuat kondisi reda. Beberapa kelompok massa masih bertahan di sekitar lokasi, meneriakkan yel-yel, serta menyalakan kembang api dan petasan.

Tuntutan Massa

Ribuan orang yang ikut aksi ini menuntut keadilan atas meninggalnya Affan Kurniawan. Mereka menilai kasus ini tidak bisa dianggap remeh, apalagi karena korban merupakan warga sipil yang sedang mencari nafkah. Kita turun karena ingin menegakkan keadilan. Jangan sampai kasus ini ditutup-tutupi, ucap salah satu orator aksi.

Selain itu, massa juga menuding aparat kurang transparan dalam memberikan informasi terkait insiden maut tersebut. Mereka mendesak adanya investigasi terbuka yang bisa dipantau publik, sehingga tidak ada lagi kesan seolah-olah kasusnya hanya akan berakhir dengan permintaan maaf tanpa tindak lanjut.

Dampak Luas ke Warga

Kericuhan yang terjadi bukan hanya menimbulkan kerugian di area Polresta, tapi juga berdampak besar pada warga sekitar. Banyak pedagang di kawasan JA Suprapto harus menutup lapak lebih cepat. Pengendara yang melintas terpaksa memutar arah karena jalanan ditutup total. Bahkan, beberapa warga sekitar mengaku ketakutan karena suara ledakan petasan dan gas air mata membuat malam terasa mencekam.

Seorang warga sekitar, Andri, mengatakan, Kami di rumah jadi was-was. Suara petasan, teriakan massa, dan bau gas bikin kita nggak bisa tidur.

Kondisi Pasca Kericuhan

Hingga larut malam, aparat masih berusaha mengendalikan massa dengan cara persuasif sekaligus menambah personel pengamanan. Beberapa orang dilaporkan diamankan karena diduga menjadi provokator dalam aksi tersebut. Sementara itu, petugas medis terus memantau kondisi pasien yang terdampak gas air mata di RSSA.

Meski api kericuhan perlahan mulai padam, banyak pihak menilai bahwa insiden ini jadi peringatan serius. Demonstrasi memang hak masyarakat, tapi ketika berubah jadi anarki, yang dirugikan justru rakyat biasa.

Refleksi dan Harapan

Kericuhan demo di Malang ini memperlihatkan betapa pentingnya komunikasi yang transparan antara pemerintah, aparat, dan masyarakat. Jika suara rakyat diabaikan, maka potensi ledakan amarah bisa terjadi kapan saja. Namun, di sisi lain, cara menyampaikan aspirasi juga seharusnya dilakukan dengan damai agar tidak menimbulkan korban baru yang sama sekali tidak bersalah.

Harapannya, kasus meninggalnya Affan Kurniawan bisa ditangani secara adil dan transparan. Dengan begitu, kepercayaan publik terhadap aparat bisa kembali pulih, dan tidak ada lagi aksi demonstrasi yang harus berakhir dengan kekacauan.

Penutup

Tragedi di Malang menjadi cermin bahwa rasa keadilan masyarakat harus dijawab dengan tindakan nyata, bukan sekadar janji. Massa boleh menyuarakan aspirasi, tapi keselamatan publik tetap harus jadi prioritas. Begitu pula dengan aparat, mereka dituntut lebih bijak dalam mengambil langkah agar tidak ada lagi peristiwa tragis yang menelan korban jiwa maupun merugikan orang banyak.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Penulis : Redaksiku

Editor : Redaksiku

Sumber Berita: Berbagai Sumber

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Viral Kupas Bawang Rp700 Ribu, Ternyata Ada Perbedaan Tiga Nol
Promo HokBen Spesial 17 Agustus 2026, Ada Bento 17 hingga Paket Hemat Rame-rame ‎
Daftar Lengkap 76 Nama Anggota Paskibraka 2026, Siap Bertugas pada Upacara 17 Agustus
Upah Buruh Kupas Bawang Rp700 Ribu Jadi Sorotan, Ini Fakta Upah Sebenarnya di Indonesia
Puan Buka Fakta Terbaru Terkait RUU Perampasan Aset, Kapan Akan Disahkan?
Putri Juficha Meninggal Dunia di Usia 26 Tahun, Tepat di Hari Ulang Tahunnya
Siswa SMK di Kupang Tusuk Guru Saat Tidur, Ini Motif yang Diungkap Polisi
Timeline LPDP Batch 2 2026 Lengkap, Catat Semua Tahap Seleksi agar Tidak Terlewat

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:27 WIB

Viral Kupas Bawang Rp700 Ribu, Ternyata Ada Perbedaan Tiga Nol

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Promo HokBen Spesial 17 Agustus 2026, Ada Bento 17 hingga Paket Hemat Rame-rame ‎

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:36 WIB

Upah Buruh Kupas Bawang Rp700 Ribu Jadi Sorotan, Ini Fakta Upah Sebenarnya di Indonesia

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:19 WIB

Puan Buka Fakta Terbaru Terkait RUU Perampasan Aset, Kapan Akan Disahkan?

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 10:11 WIB

Putri Juficha Meninggal Dunia di Usia 26 Tahun, Tepat di Hari Ulang Tahunnya

Berita Terbaru

Polres Barru bersama Badan Pangan Nasional, Bulog, pemerintah daerah, TNI, dan stakeholder terkait mengecek kualitas serta kuantitas.

Internasional

Beras Bantuan di Gudang Bulog Dicek, Ini yang Dipastikan Polisi

Selasa, 18 Agu 2026 - 15:14 WIB