Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 31)

- Penulis

Kamis, 28 November 2024 - 13:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 31)

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 31)

Mpek An Cong dan Pakde sedang menyusuri jalan setapak di dalam hutan menuju ke tempat kediaman Aki Jungsemi. Mereka mengikuti alur jalan sesuai hasil penelusuran kelompok klenteng. Perjalanan keduanya akan dibayang-bayangi kedelapan kelompok klenteng.

Sekitar tiga jam jalan kaki dari tepi hutan menuju titik sasaran. Mereka melalui jalur penduduk pencari kayu bakar. Dari hasil pengamatan kelompok klenteng: makin dalam masuk ke hutan, semakin tinggi pula kemampuan makhluk-makhluk gaib yang merintangi jalan. Mereka harus berhati-hati dan terus waspada.

Udara mulai terasa dingin, suasana hutan tampak remang-remang diterangi cahaya alam. Kabut mulai naik dari arah lembah, menyebar menyelimuti hutan tempat mereka berada. Perasaan aneh menyusup masuk dalam hati dan pikiran. Hamparan hutan mulai berubah, mereka merasa berada di dunia lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tanpa disangka, sekelebat makhluk besar hitam pekat, menghadang dan menyerang dengan tiba-tiba. Meski bentuknya hanya segumpal bayangan, tapi serangannya begitu nyata dan terasa. Serangan yang bertubi-tubi dari Mpek An Cong seperti menembus asap. Mpek An Cong kebingungan, dia harus menghindar dari serangan lawan yang mematikan, sedangkan serangannya tidak mampu menyentuh lawan.

Di tepi arena pertempuran, Pakde duduk bersila sambil mengheningkan cipta. Bibirnya komat-kamit melafalkan doa, zikir dan mantra-mantra. Menyatukan kekuatan di kedua tangannya, kemudian mengepal di kedua sisi pinggang. Dia menerapkan aji pameling membisiki Mpek An Cong. Menghindarlah ke samping, aku sudah siap!

Tanpa menjawab, Mpek An Cong menyerang lawannya sambil melenting menghindar 10 depa ke samping. Bersamaan dengan itu Pakde melepas serangan pukulan sinar biru lembut berlapis zikir dan ayat-ayat ilahi. Makhluk itu hancur berkeping, lalu lenyap disapu angin malam.

Pakde, ini baru lapis pertama sudah ngedap-edapi. Bagaimana kedepannya? Gila itu orang yang bergelar Jungsemi, sebagai tuannya pasti lebih dari ini!

Kita harus yakin, Mpek. Tuhan selalu bersama kita. Beliau paling tidak suka kepada umat yang berbuat kerusakan! Kita bertarung untuk membasmi kebatilan.

Di bawah pohon tua yang rindang, keduanya duduk bersila mengatur napas, menyatukan akal budi meningkatkan pendengaran. Mereka berjengit merasakan pergerakan dari arah belakang dan sisi kanan kiri mereka. Aura jahatnya sangat mengintimidasi. Mpek An Cong dan Pakde diam membisu, sambil mempertebal pertahanan dan meningkatkan jurus-jurus ilmunya ke tingkat yang lebih tinggi. Keduanya harus menghemat waktu dan tenaga.

Dari arah belakang, datang sosok raksasa tinggi besar, hitam pekat. Matanya merah menyala-nyala penuh kebencian. Mulutnya menganga siap menelan keduanya. Dia mengangkat tangan dengan jari-jari terbuka menampakkan kuku-kuku yang runcing mengerikan. Mpek An Cong menaikkan jurus ilmunya ke tingkat lebih tinggi.

Di samping kanan Pakde, seekor maung besar merunduk siap menerkam. Kaki depannya yang berkuku tajam menghitam lurus kedepan. Mulutnya menggeram memamerkan taring-taring besar dan tajam. Mata merahnya mengintimidasi. Pakde mempertajam pendengaran dan mata batinnya.

Sebelah kiri Mpek An Cong siap menerkam ular hitam sebesar pohon pinang. Tubuhnya meliuk ke kanan kekiri seperti sedang mengukur kekuatan lawan. Matanya merah menyala menatap bengis, lidahnya menjulur-julur. Mulutnya menganga lebar siap mematuk, sambil tak henti mendesis. Mpek An Cong langsung bersiap meningkatkan jurus melawan ular.

Seperti dikomando ketiga makhluk gaib menyerang bersama-sama. Pertarungan dua manusia melawan tiga makhluk gaib tak terelakan. Mpek An Cong dan Pakde melenting tinggi masih dalam posisi duduk bersila, membuat ketiga lawannya saling bertubrukan. Mereka marah lantas mendongak disambut ledakan hantaman sinar kuning dan biru yang keluar dari tangan Pakde dan Mpek An Cong.

Auman maung, teriakan raksasa dan desisan kuat ular hitam memenuhi hutan. Raksasa dan maung berusaha menerkam Mpek An Cong yang sudah mendarat sambil terus meningkatkan ilmunya. Sementara ular hitam dengan marah meluncur ke tempat Pakde mendarat.

Apakah ular ini yang menghantui Ratih? gumam Pakde dalam hati, sambil meningkatkan kewaspadaan.

Makhluk tanpa kaki dan tangan itu terus meluncur dengan mulut menganga lebar mematuk-matuk kepala lawan. Tubuhnya menggeliat berputar menggulung musuh, lalu menyabet dengan ekornya. Kecepatan dan kekuatannya, membuat Pakde sedikit kewalahan. Dia harus lincah menghindar agar tidak terbelit lawan. Sangat menguras tenaga, sedang lawan yang sesungguhnya masih menunggu.

Pakde mengheningkan cipta sebentar, seketika tangan kanannya sudah menggenggam bambu kuning sebesar genggaman dengan panjang sedepa. Ujungnya runcing diarahkan ke arah lawan. Kekuatan zikir dan mantra-mantra dialirkan ke bambu yang dipegangnya. Matanya fokus pada titik di antara kedua mata ular siluman itu.

Sementara, pertempuran semakin seru, waktu tengah malam hampir menjelang. Kelompok delapan berniat mengambil alih pertempuran. Dengan menggunakan aji pameling dilambari tenaga dalam tingkat tinggi, Gendon berbisik kepada Mpek An Cong.

Pergilah Mpek, hampir tengah malam. Tidak jauh lagi, ke arah hulu di pinggir lembah. Serahkan cecunguk ini kepada kami!

Jangan mengecilkan lawan! Rendah hatilah. Hadapi mereka bersama-sama. Mereka kuat sekali! Kami sampai kewalahan.

Di sisi lain dari hutan siluman, Aki Jungsemi sedang melakukan ritual pamungkas untuk menuntaskan keinginan Erlika. Pengamatan batinnya merasakan adanya penyusup yang masuk ke daerah kekuasaannya. Perhatiannya mulai terpecah.

Entah bagaimana, Erlika mulai merasakan tuntutan nafsu ingin terpuaskan. Dia bangkit melonggarkan ikatan sarung hingga melorot, lalu mendesah manja. Punggung putihnya hanya tertutup rambut hitam bergelombang. Sarung bagian depan, nyangkut di gunung kembar ranum yang bertengger di dadanya. Elahan serak Erlika menarik perhatian si dukun yang sudah terpecah.

Kapan berhasilnya Ki. Hihihi janji palsu hanya untuk menikmati tubuhku! Berapa kau bayar orang-orang untuk menjebakku kemari? Sekarang, apa kau masih mampu memuaskanku? Hahaha Aki tua ¦ Aki tua gila perempuan!

Erlika menjadi terganggu mentalnya oleh deraan siksa yang dialami. Dorongan nafsunya terus terpicu akibat dicekoki kembang tujuh rupa dan totokan-totokan saat dia dimandikan. Belum lagi niatnya datang untuk membalas dendam yang tidak kunjung berhasil. Gerakan erotis dan desahannya memicu nafsu setan si dukun cabul.

Di arena pertempuran Mpek An Cong dan Pakde, keduanya menyatukan kekuatan dan menyerang bersama-sama, menimbulkan ledakan keras. Ketiga musuh mereka bukan Iblis sembarangan, mereka mampu mengelak meski sebagian tubuh mereka terserempet kilatan ilmu tingkat tinggi yang membuat ketiganya terpental.

Ledakan ini mengagetkan kelompok klenteng, mereka segera menyadari lawan kedua teman mereka berilmu tinggi. Dengan segera mereka berlarian ke arah suara. Tampak Pakde dan Mpek An Cong dikepung tiga bentuk makhluk besar sedang melenting-lenting menghindar dan mengirim gumpalan sinar dari ilmu andalan mereka.

Kelompok klenteng siap di delapan penjuru, segera memberi kode dengan bunyi kicauan burung Emprit Gantil bersahutan. Setelah dijawab dengan kicau sama dalam nada dua dua, seketika delapan orang dengan sigap merangsek masuk arena. Dengan jurus tingkat tinggi dari masing-masing perguruan, mereka menyerang berbarengan ketiga makhluk gaib itu. Pakde dan Mpek An Cong menutup serangan dengan melepas pukulan sinar dari atas saat melenting untuk menghindar.

Pertempuran berlangsung seimbang antara ketiga makhluk gaib dan kelompok klenteng. Ketiga makhluk itu berukuran besar, mempunyai ilmu gaib tingkat tinggi. Kekuatan mereka setara sembilan orang. Sementara delapan orang kelompok klenteng, kekuatan ilmunya dilandasi kesucian hati dan pertolongan Tuhan.  Kesucian hati dan pertolongan Sang Penggengam Nyawa memberi angin segar kepada kelompok klenteng untuk memenangkan pertempuran.

Kedelapan kelompok klenteng menyatukan puncak ilmu dilambari kekuatan dewa-dewa dan kepasrahan kepada Tuhan, dari kedua telapak tangan mereka keluar sinar kuning membentuk sulur-sulur. Sinar-sinar itu terus menyatu membentuk gelang yang memerangkap ketiga lawan mereka. Lawan bergerak dengan waspada.

Gelang sinar kuning menebal dan berotasi dengan cepat, membatasi gerakan lawan. Lingkaran sinar kuning terus mengecil. Tepat ketika maung mengangkat kaki depan hendak melompat, raksasa juga merubah bentuk menjadi gumpalan yang siap melayang ke atas, dan bayangan ular meluncur ke atas, terdengar teriakan berbarengan.

Hua ¦, teriak kelompok klenteng, gelang menebal mengikat erat ketiga lawannya. Kedelapan jawara menekan dengan ilmu pamungkas. Belitan gelang kuning mengikat lawan mereka, berkobar menyala-nyala. Lengkingan ketiga makhluk gaib itu merobek keheningan malam. Ketiganya hancur dalam satu ledakan menyisakan bunga api kecil-kecil yang padam oleh tiupan angin malam.

Suasana hening, semilir angin terasa menyejukkan, mengalirkan energi baru keseluruh tubuh para jawara yang kelelahan. Tiga diantaranya mengalami sesak napas. Teman-temannya membantu menyalurkan hawa murni untuk memperbaiki sistem aliran darah yang mengalami kekacauan.

Kita harus segera menyusul Mpek dan Pakde. Kita menyusur sungai di dasar lembah untuk menyingkat waktu, kata Gendon sambil mengatur kawan-kawannya.

Setelah istirahat sebentar, kekuatan sudah pulih. Kedelapan orang itu bergegas berlompatan menggunakan ilmu meringankan tubuh, menyusul Mpek An Cong dan Pakde.

Saat kedelapan kelompok klenteng masuk menyerang ketiga siluman sambil melepaskan serangan, Mpek An Cong dan Pakde melenting tinggi lalu lenyap di kerimbunan hutan yang berkabut. Keduanya segera menuju ke tempat tinggal si dukun sakti. Mereka berlarian di tengah kabut mengejar waktu. Mereka tidak mengetahui keberadaannya, di dunia nyata atau dunia gaib.

Mpek, apa kita nyasar? Sepertinya berbeda sekali dengan gambaran yang diberikan Gendon.

Mpek An Cong mengamati keadaan sekeliling. Dia lalu manggut-manggut kecil.

Keweningan pikir dan hati sepertinya sangat diperlukan, katanya.

Mereka menuju ke sebuah pohon nyamplung tua yang masih kokoh. Keduanya duduk bersila, lalu mengheningkan cipta dalam doa dan puji kepada sang pencipta. Suasana hening, tintrim dan sunyi. Embusan angin malam semilir dingin, memberikan energi baru di sekujur tubuh keduanya. Setelah menajamkan pengamatan batin, keduanya merasakan kembali berada di dalam hutan dunia nyata.

Lamat-lamat di kejauhan, tampak sebuah rumah kayu, di tepi jurang di bawah rumpun bambu. Mpek An Cong menyenggol Pakde yang masih memejam mata, lalu menunjuk rumah itu.

Itu sesuai dengan keterangan Gendon.

Mpek An Cong menatap Pakde minta pendapat. Pakde hanya menatap tajam rumah itu. Keningnya berkerut, telinganya menegang, kepalanya sedikit menoleh, mendengarkan dengan seksama.

Sepertinya ada orang lain, tapi entahlah. Anehnya, tidak ada pagar sama sekali! jelas Pakde.

Suatu keteledoran atau kesombongan? Malah mungkin ini jebakan! desis Mpek An Cong.

Pakde terkesima dengan pendapat Mpek An Cong. Bahkan yang melontarkan pendapat pun kaget dengan hasil pemikirannya. Tiba-tiba terdengar bunyi gemerisik daun kering yang terinjak dari berbagai arah, susul menyusul. Pakde dan Mpek An Cong seketika melenting berdiri dan pasang kuda-kuda.

Ini kami, bisik Gendon.

Suaranya sangat melegakan. Elahan napas panjang dan gumaman lega terdengar menyenangkan.

Mpek, di dasar lembah tepat di belakang rumah itu, ada mata air jernih. Airnya mengalir dari sela-sela akar pohon beringin tua. Di situ juga tumbuh pohon dewandaru berbunga dan berbuah lebat, lapor Gendon.

Tunggu, itu dua pohon lambang kekuatan dan kehidupan, sambar Pakde terkejut. Yang mendengar manggut-manggut.

Setelah minum air, tubuh rasanya segar. Kami tadi sembunyi-sembunyi mengambil air satu bumbung dan buah dewandaru. Kami semua sudah makan dan minum. Kami merasakan khasiatnya, lanjut Gendon.

Seseorang maju memberikan sebumbung air beringin dan buah dewandaru yang masak sempurna masing-masing tujuh buah. Mpek An Cong dan Pakde minum air yang begitu segar dan dingin, lalu makan buah dewandaru.

Keduanya kemudian bersemedi mengatur napas dan menata pikir. Ada rasa hangat dari perut yang menyebar ke seluruh tubuh hingga ubun-ubun. Sumbatan-sumbatan di pembuluh darah langsung terurai, tubuh terasa ringan dan segar. Ada peningkatan tajam atas ilmu gaib yang mereka miliki.

Sementara Jungsemi yang terbakar nafsunya, dengan terburu-buru melepas ritualnya yang mengakibatkan seluruh persiapan urung terkirim. Dia tak peduli semua itu, yang dipikirannya adalah geliatan nakal Erlika yang mendamba pemuasan. Dengan membabi buta seperti sebelumnya, dia merangsek tubuh Erlika. Jika tidak sesuai keinginan, pasangannya akan dihajarnya sepuas hati. Kelakuan bejatnya, meredam semua gerakan musuh yang semakin dekat. Dia dilambung asmara, tidak merasakan kehadiran musuh.

Setelah berdiskusi sejenak, Mpek An Cong dan Pakde mendapat gambaran situasi di dalam bilik. Keduanya sudah menetapkan sebelah mana sasaran gempuran untuk mengabarkan kehadiran mereka. Kedelapan jawara klenteng menyebar untuk berjaga-jaga adanya serangan lain.

Dengan mengendap-endap melangkah tanpa suara mereka sampai di rumah kayu. Tepat si dukun cabul itu hampir mencapai puncak hasratnya, Mpek An Cong dan Pakde uluk salam. Akibatnya pintu dan sebagian dinding jebol, atap di atas tempat ritual ambruk, sedang dapur ambruk total.

Erlika berteriak ketakutan. Jungsemi langsung bangkit berdiri, mengikat tali kolornya. Wajahnya merah padam, peluh mengucur, kedua matanya merah berapi-api. Puncak kepuasan gagal dicapai, penyerapan energi gaib terlepas. Dengan teriakan penuh kemarahan merangsek tamu yang datang tak diundang.

Maaf, mengganggu kesenanganmu. Tapi kelakuanmu harus dihentikan!

Siapa kalian? tanyanya sambil melontarkan serangan.

Tak perlu Aki mengenal kami. Yang pasti cucuku yang tak berdosa padamu, Aki buat dia menderita! Kau benar-benar harus dimusnahkan! jawab Mpek sambil menyerang bertubi-tubi berbarengan dengan Pakde yang bertempur tanpa meninggalkan zikir.

Pertempuran itu berlangsung sengit di antara dua dunia, dunia nyata dan dunia gaib. Dukun cabul yang tidak terpuaskan menjadi uring-uringan. Kepalanya pening membuatnya tidak fokus, sehingga kemampuan ilmunya banyak berkurang. Ritual tengah malamnya belum sempat dia lakukan, keburu lawannya tiba di kediamannya. Untuk menutupi kelemahannya, dia menghardik dan memaki. Kata-kata kotor meluncur deras dari bibir hitamnya.

Kalian pikir bisa menghentikanku? Aku sudah terlalu kuat! teriak Jungsemi.

Namun Mpek An Cong dan Pak De tak gentar. Dengan meningkatkan ilmu hingga puncak dilambari mantra-mantra yang semakin kuat, mereka melawan dukun itu dalam pertempuran tingkat tinggi. Jungsemi menyerang dengan sisa kekuatannya, tapi akhirnya, ilmu hitamnya runtuh. Asap hitam pekat keluar dari tubuhnya, membentuk sosok mengerikan yang disambut hantaman dua berkas sinar kuning dan biru. Akhirnya hancur lebur tersapu angin gunung, lenyap tanpa bekas.

 

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

SSCASN 2026 Terbaru: Cek Link Resmi Pendaftaran CPNS dan PPPK

Lowongan Kerja

SSCASN 2026 Terbaru: Cek Link Resmi Pendaftaran CPNS dan PPPK

Selasa, 18 Agu 2026 - 22:59 WIB

Polres Barru bersama Badan Pangan Nasional, Bulog, pemerintah daerah, TNI, dan stakeholder terkait mengecek kualitas serta kuantitas.

Internasional

Beras Bantuan di Gudang Bulog Dicek, Ini yang Dipastikan Polisi

Selasa, 18 Agu 2026 - 15:14 WIB