Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 29)
Mpek An Cong mengurai sikap menyembah, kemudian merenung sebentar. Dia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Gejolak di dadanya pun reda. Mpek memperbaiki duduknya.
Ini sudah tidak bisa didiamkan. Bagaimana menurut bapak-bapak berdua, ujarnya ditujukan kepada Pakde dan Pak Kardi.
Keduanya saling pandang sejenak, lalu Pak Kardi mengangguk halus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalau menurut Mpek bagaimana? tanya Pakde.
Mpek An Cong mengutarakan bahwa kedatangannya adalah ingin bekerjasama dengan Pakde Narto. Sesuai rencana yang sudah disusun, dia bersama Pakde akan menghentikan dukun iblis itu. Dia juga ingin memindahkan Ratih ke rumah keluarga Barman, agar lebih fokus melindungi keduanya dari ilmu sesat dukun itu.
Semua disampaikan secara rinci. Dengan adanya Pak Kardi akan menambah kekuatan untuk memagari dan menjaga keluarga yang ditinggal terutama rumah keluarga Rangga.
Perempuan itu sudah mengetahui keluarga Toni dan Ratih. Terbukti dengan serangan ini! Saya yakin mereka pasti sudah melihat semua yang ada di sini, termasuk kelemahan rumah ini, meskipun kedua serangannya gagal. Dukun itu pasti tidak tinggal diam.
Semua mendesah. Dada rasanya penuh dan sesak. Mereka tidak mengira, apalagi Arum, jika perjodohan Ratih membawa petaka yang menyiksa kehidupan putrinya. Arum sangat menyesalinya. Tak terasa kilau bening indah di matanya, membawa lara yang menyakitkan, bergulir di pipinya.
Yayo yang biasanya menganggap enteng masalah pun merasa gamang. Ada sesuatu yang menggores dinding hatinya, ketika melihat sang Bunda tercinta meruntuhkan air mata.
Dia baru tahu permukaannya saja. Dia baru saja datang. Yayo mulai menghubung-hubungkan ucapan Pakde tentang keberuntungan dia terlambat sampai rumah. Dengan semua yang diperlihatkan Pakde, dia memandang adiknya dengan tatapan prihatin.
Ada yang tidak beres telah terjadi, keluhnya dalam hati.
Tapi, Ratih nggak mau tinggal di sana. Ratih mau di sini bersama Ayah dan Bunda, celetuk Ratih tiba-tiba.
Di sana Ratih tidak sendiri, ditemani oleh Bunda. Tujuannya adalah, agar Mpek fokus memagari kalian di satu tempat, kata Mpek An Cong dengan suara bergetar. Dia tahu persis apa yang menjadi keberatan istri Toni itu.
Ayah ¦, rengek Ratih. Rangga menatap Pakde lalu menunduk diam.
Ayah! Ratih nggak mau! tolak Ratih dengan keras dalam nada tinggi. Dia tidak lagi nyaman tinggal bersama mertuanya.
Wajah Rangga merona keruh penuh kesedihan. Jakunnya naik turun mencoba menelan ludah. Kasih seorang ayah sedang diuji. Dengan alasan keselamatan, Ratih harus tinggal di rumah penuh dera dan siksa lahir dan batin.
Ratih, Ayah tau, alasan kamu. Tapi ini demi keselamatanmu! Mata Rangga berkaca-kaca, hatinya masih tak rela.
Siapa yang menjamin Ratih pasti selamat, jika tinggal di sana? Buktinya dia pulang! kata Yayo ketus. Dia merasakan adanya ketidakberesan. Bukan sekedar keselamatan.
Yayo, kamu ndak boleh curiga seperti itu! tegur Pakde, ini semua usaha untuk menyelamatkan Ratih, dan kita semua!
Yayo menatap ayahnya. Rangga menggeleng lemah, mengisyaratkan untuk diam. Mpek An Cong, terpaksa diam. Dia tidak bisa membujuk dan memaksa Ratih. Keputusan tetap berada ditangan Ratih. Rencana menghancurkan dukun sakti dan sepak terjang Erlika tetap harus dilaksanakan. Keberadaan Pak Kardi, memberi sedikit ketenangan.
Keadaan ruang tamu di tempat tinggal Rangga dicekam kesunyian. Hanya desah napas teratur yang sekali-sekali terdengar. Arum berdiri dan berlalu kebelakang. Tidak berapa lama, Simbok menghidangkan minuman teh hangat dan nyamikan. Setelah mengembuskan napas berat, Mpek An Cong memberi usul.
Bagaimana kalau misalnya, Ratih berangkat nanti sore setelah ibadah asar? Bukan siang ini? Nanti setelah makan malam, kami, Mpek dan Pakde, akan berangkat mencari dukun itu! Kira-kira kamu bersedia, ndak?
Ayah ¦, panggil Ratih. Dia ingin tahu pendapat ayahnya. Di relung hati yang paling dalam, dia merindukan suaminya. Masalah mertua perempuannya, dia tahu itu bukan sifat aslinya, tapi sabetan ikat pinggang itu nyata dan masih terasa sakit di tubuhnya.
Ratih, demi keselamatanmu, pergilah. Jika kamu ingin pulang, bilang Bunda. Ratih kan bisa telpon Ayah kapan saja! kata Rangga sareh dan menenangkan.
Tapi, seringnya nggak ada sinyal, Ayah. Padahal kan, ada Wifi. Papah aja nggak bisa kerja dari rumah, keluhnya.
Tenang aja, Rat, nanti Mas Yayo akan kesana setiap hari, kalau perlu nginep! bujuk Yayo.
Jangan ngawur, Yok. Kamu ndak boleh keluar rumah! tegur pakdenya.
Lha, terus piye, Pakde? Segawat itu kah?
Pakde dan Mpek An Cong mengangguk bersamaan. Yayo melongo bingung tak tahu harus bagaimana. Begitu rumitnya keadaan keluarganya. Dia sendiri mengalaminya semalam. Ternyata ada sisi lain di dunia ini.
Apa yang Yayo alami waktu pulang itu, ada hubungannya dengan ini semua, Pakde?
Bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pasti, orang yang bersamamu itu, telah menyelamatkanmu, dari serangan kemarin malem! jelas Pakde.
Mudah-mudahan malekat. Asyik Yayo diselamatkan malekat. Orangnya ganteng menyenangkan waktu turun di Ambal! Yayo mudah sekali teralihkan. Hatinya mongkog.
Ojo gumede, Yok! Alhamdulillah, semua Allah yang ngatur! nasehat Pakde.
Semua yang mendengar mengangguk membenarkan. Yayo terdiam, meski hati kecilnya masih merasa bangga. Dia sudah mulai mempunyai gambaran, apa yang sedang menimpa keluarganya.
Dimas Rangga, beritahu Bagas untuk membatalkan kepulangannya sampai semua selesai. Aku takut justru begitu dia melangkah masuk halaman, terkena sasaran. Kalian semua tau bagaimana kerikil itu ada, kan? pinta Pakde Narto. Rangga hanya mengangguk menyanggupi.
Sekarang bagaimana langkah kita selanjutnya? tanya Pakde kepada Mpek An Cong.
Rencana saya, kita berangkat habis magrib. Sampai sana sebelum tengah malam, sebelum semua kekuatan dia kerahkan. Kelompok saya sejak kemarin melakukan pelacakan keberadaan dukun itu. Kita berangkat hari ini untuk mengatur strategi. Bagaimana menurut panjenengan?, jawab Mpek.
Bukankah sebaiknya kekuatannya dipecah? Maksud saya, Ratih tetap di sini, agar kekuatan orang itu terpecah untuk Toni dan Ratih? saran Rangga masih belum rela melepas Ratih tinggal di rumah itu.
Yang jadi masalah, tujuan perempuan itu menghancurkan Ratih, bukan Toni! Jika Ratih bersama Toni, mereka akan berpikir dua kali jika menginginkan Toni tidak terdampak, jelas Mpek.
Rasa rindu menyeruak di hati Ratih. Rindu bertemu suaminya. Pipinya semburat merah. Mendengar penjelasan Mpek An Cong, hatinya terusik. Meski jauh di lubuk hatinya masih ada rasa trauma untuk berdekatan dengan suami dan ibu mertuanya.
Tapi ¦, terdengar ada keraguan dalam ucapan Ratih.
Tapi, apa Nduk? Katakan saja sejujurnya, biar Pakde cari solusinya!
Ratih mengembuskan napas sedikit mengentak, untuk mengusir rasa takutnya.
Ratih nggak mau sendiri di sana, Pakde!
Mendengar perkataan Ratih, hati Mpek An Cong seperti diiris-iris. Orang tuanya mendorong untuk tinggal bersama suaminya. Berarti gadis itu tidak mengadu kepada ayah bundanya. Orang tua mana yang mau melepas anak gadisnya tinggal di rumah tempat putrinya tersiksa lahir batin, gumam lirih di hatinya. Wajah Mpek An Cong memerah karena malu. Dia hanya termenung diam, hatinya perih.
Bunda akan menemanimu, Sayang. Biar Ayah dan Mas Yayo yang jaga rumah, ditemani pak Kardi, kata Arum menenangkan. Mekaten to Pak Kardi? Leres to Pakde? lanjutnya sembari minta kejelasan kakak iparnya.
Setelah Ratih benar-benar setuju untuk tinggal di rumah mertuanya, maka diputuskan untuk berangkat setelah salat asar. Pakde Narto dan Mpek An Cong pamit untuk memulai persiapan menghadapi dukun sakti yang mengganggu kehidupan keluarga mereka.
Adi, saya nitip keluarga ipar saya. Wis monggo, aku pasrah bongko™an, pamit Pakde pada Pak Kardi.
Sumonggo Kangmas, kulo esto™aken. Insyaallah semua bisa berjalan lancar.
Aamiin ¦, jawab semua yang hadir.
Ratih, kamu istirahat, sana. Ndak usah takut, tapi jangan terlena. Ibadah yang baik, jangan lupa berdoa minta perlindungan yang Mahakuasa. Jangan lepas dari zikir dan tadarus. Kowe ugo, Yok! Ojo cengengesan wae! pesan Pakde.
Nggih Pakde, ngesto™aken. Doakan kami juga Pakde, Mpek, jawab Yayo sambil membungkuk hormat.
Setelah pamitan, keduanya langsung berangkat. Lawan yang akan mereka hadapi adalah dukun berilmu tinggi dari aliran sesat. Sebelum berangkat, keduanya mampir ke sebuah klenteng tempat berkumpul kelompok Mpek An Cong.
Di tempat lain, di tempat tinggal dukun sakti Jungsemi dan Erlika. Dari luar tampak biasa-biasa saja, namun di dalam rumah, sedang terjadi ketegangan. Aki Jungsemi, sedang marah-marah merasa tersinggung. Erlika telah membandingkannya dengan Nyai Bang Lor.
Kurang ajar! Beraninya kau membandingkan aku dengan nenek gila itu!
Kenyataan, Aki! Ini kenyataan. Sudah hampir empat malam, belum ada hasilnya. Katanya aku akan kau beri rapalan-rapalan untuk memikat mas Toni. Mana buktinya? Aki hanya minta dilayani! Setiap hari aku sampai tak sempat berpakaian. Makan juga cuma angetan! Aku lelah, Aki. Kau paksa terus untuk melayanimu!
Kata-kata Erlika seperti minyak yang menyiram bara kemarahan Aki Jungsemi. Dia langsung berdiri mendekati Erlika. Menarik rambutnya, lalu menyeretnya hingga sarung, yang dipakai sampai ke dadanya, melorot.
Dasar jalang kotor! serapahnya sambil melempar Erlika ke kasur.
Sarung yang melorot dan menyingkap memicu nafsu si dukun cabul dia merangsek minta dipuaskan. Erlika menolak, dia benar-benar lelah. Tamparan, pukulan membabi buta, membuat Erlika menjerit-jerit. Si Aki tidak peduli. Dia merudapaksa Erlika yang tak lagi bertenaga.
Setelah puas, Aki Jungsemi, kembali duduk di tempat dia melakukan ritual jahatnya. Erlika meringkuk menangis menyesali nasibnya. Kesadaran otak warasnya membuka mata hatinya. Dia menyesal telah mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan.
Bagaimanapun brengseknya, Aki Jungsemi tetap menjaga gengsinya sebagai dukun sakti. Walaupun hatinya benar-benar tersinggung, dia harus menuntaskan janjinya. Dengan kesal dia membuka sebuah peti kayu kecil, lalu mengambil sesuatu dari dalamnya. Dia mendekati Erlika, menjambak dan menarik gadis itu hingga duduk. Dia mencengkram tengkuk dan menyodorkan benda-benda di tangannya, segenggam paku, jarum, silet dan benda-benda tajam kecil lain yang sudah berkarat.
Lihat baik-baik! Akan aku masukkan ini ke perut wanita sainganmu! Jika kau sekali lagi melakukan kebodohan tadi, akan kumasukkan ke perutmu, mengerti?
Mata Erlika membesar ketakutan, wajahnya pias, tubuhnya gemetar. Tatapannya memudar, lalu gelap. Erlika tak sadarkan diri. Dukun cabul mendengus lalu membantingnya ke kasur.
Dukun itu kembali duduk. Setelah menyerap habis tenaga Erlika dengan cara sadis, dia duduk bersila sambil mengisap rokok klembak menyan. Dengan nikmat rokok dihisap dalam-dalam, lalu diembuskan perlahan. Disusul isapan dan embusan, lagi dan lagi. Asap berbau kemenyan bercampur tembakau bergulung-gulung keluar dari mulut yang menghitam, memenuhi rumah itu.
Setelah terbakar sepertiga, rokok ditaruh di asbak. Kemudian, dia membakar dupa sambil berkomat-kamit. Dupa ditambahkan sedikit-sedikit. Asap makin banyak dan tebal seperti kabut yang berbau. Wangi dupa bercampur wangi kemenyan dan tembakau, memenuhi rumah yang sempit dan suram.
Bau wangi yang menyengat menyadarkan Erlika. Begitu matanya terbuka, rasa perih menyergap, langsung memejamkan mata kembali. Penasaran Erlika mengintip perbuatan Jungsemi, senyum tipis menghiasi bibirnya. Akhirnya maniak itu melakukan ritual dengan serius, batinnya. Saatnya dendam terbalaskan.
Aki Jungsemi menaruh wadah benda-benda tajam itu di atas tungku pembakaran dupa, mengasapinya beberapa saat, sambil komat-kamit melafalkan mantra. Tiba-tiba benda-benda itu membara. Jungsemi mengentakkan wadah itu. Isinya yang telah membara terlontar ke udara, menari-nari berputar-putar membuat gumpalan-gumpalan kecil masing-masing berotasi dengan cepat.
Pergilah dan masuk ke perut perempuan itu, jangan sampai gagal! titahnya, lalu huaaah, teriaknya sambil mendorong kedua telapak tangannya lurus-lurus.
Gumpalan benda-benda menyala itu terdorong keras, meluncur menembus dinding tanpa suara, disambut kesiur angin kencang, lalu menghilang. Perlahan-lahan kabut asap menipis menyisakan bau yang menyengat hidung.
Selepas salat Asar, Ratih diantar bundanya dan dikawal Pak Kardi berangkat ke kediaman Sumbogo. Mereka memakai mobil Pakde. Arum duduk di belakang menemani Ratih. Mereka tidak melihat sebentuk bayangan hitam yang baru tiba dan bersembunyi di pohon angsana besar di tikungan jalan. Setelah mobil melewatinya bayangan itu menyeringai. Matanya merah penuh kemarahan dan dendam akibat kegagalan sebelumnya.
Di tengah perjalanan, bayangan hitam berkelebat di samping mobil tempat Ratih duduk. Pak Kardi yang waspada langsung memerintahkan untuk berzikir dan tadarus. Berkat bacaan ayat-ayat suci yang dibaca Arum, zikir dengan ayat-ayat pilihan yang kuat dari Ratih dan pak Kardi, bayangan itu hancur berkeping lalu menguap hilang.
Jauh di angkasa segumpal besar awan hitam pekat memayungi bumi, membuat cahaya mentari di baliknya tak mampu menembusnya. Serpihan bayangan berkumpul di bawahnya satu persatu, membentuk potongan-potongan besar. Tiba-tiba bertiup angin kencang memorak-porandakan kembali. Dengan gigih bayangan itu berkumpul menyatu membentuk bayangan hitam pekat. Di tengahnya benda-benda tajam membara dan berputar kencang dalam formasi bulat. Bayangan hitam itu utusan Jungsemi.
Setelah benar-benar utuh, bayangan itu kembali melesat meluncur ke bawah. Mata merahnya nyalang menyala-nyala penuh dendam, mencari buruannya. Di bawah sana, mobil yang membawa Ratih dan bundanya, disopiri oleh Pak Kardi hampir sampai di rumah kediaman Barman. Dengan seringai menakutkan, bayangan hitam itu secepat kilat menukik turun mendekati korbannya.
Mobil berhenti di depan teras. Bayangan hitam lalu menyerang dengan gumpalan benda-benda tajam membara dan berotasi kencang, ke arah Ratih, tepat saat dia membuka pintu belakang. Tanpa rasa curiga, Ratih turun. Belum sampai berdiri, tiba segumpal hawa panas menyerangnya. Ratih menjerit kesakitan.
Ratih ¦, jerit Arum yang baru menurunkan satu kaki dari mobil. Kenapa, Sayang ¦ kamu kenapa? tanya Arum tergopoh sambil berusaha mendudukkan Ratih yang meringkuk kesakitan.
Astagfirullahalazim! Pak Kardi tersentak merasa kecolongan. Hanya sedetik terpesona melihat rumah mewah yanng mereka datangi, membuatnya terlena. Pendengarannya yang tajam menangkap suara dari dunia lain, suara gelak tawa mengejek penuh kemenangan dari bayangan hitam.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






