Novel: Loving You (Part 24)

- Penulis

Kamis, 31 Oktober 2024 - 21:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Loving You (Part 2)

Novel: Loving You (Part 2)

Bab sebelumnya…


Kalau begitu, aku ke sana sekarang, Sayang, kata Fadli begitu mendapat kabar bahwa anaknya harus dirawat inap di rumah sakit.

Enggak usah, Sayang. Aku tadi sudah berjaga-jaga dan membawa perlengkapan Ihsan. Aku juga sudah membawa beberapa popok untuk Ihsan. Kamu santai saja. Untuk makan nanti, aku bisa membeli di sekitar sini atau memesan melalui aplikasi. Faik berusaha menenangkan suaminya yang sepertinya langsung panik begitu mendengar kabar anaknya. Aku minta tolong padamu untuk mengantarkan baju ganti untukku saja sepulangnya kamu dari kantor. Jangan lupa untuk membawa baju dalamku juga. Selain itu, aku juga mau dibawakan peralatan mandi. Aku masih belum tahu Ihsan akan dirawat berapa lama di sini. Kamarnya Ihsan juga cukup nyaman. Ada kamar mandi di dalam dengan pancuran air yang bisa digunakan untuk mandi. Tadi aku juga sudah mengecek ketersediaan air hangat di kamar mandinya. Kamu tenang saja, Sayang. Faik tersenyum pada suaminya melalui panggilan video itu. Aku yang minta maaf karena tidak bisa mengurusmu selama Ihsan di sini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sayang, aku yakin kamu sudah cukup repot mengurus Ihsan di sana. Enggak usah mikir yang lain dulu. Aku orang dewasa dan dalam keadaan sehat. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Bagaimana keadaan Ihsan sekarang? tanya Fadli.

Faik mengarahkan kamera telepon genggamnya pada anaknya yang sudah tertidur pulas di gendongannya. Lihat, dia sudah tertidur pulas. Tadi perawat sudah memberikan obat penurun panas melalui pantatnya. Sekarang, dia sudah enggak demam. Dia mengelap dahi anaknya yang basah karena keringat dengan sapu tangan bayi. Oh iya, aku juga minta tolong untuk mengambilkan beberapa mainan Ihsan. Ihsan lagi suka main mobil-mobilan dan buku kainnya. Lalu, tolong bawakan popok Ihsan juga. Popok yang kubawa sepertinya hanya cukup sampai nanti malam.

Sebentar, Sayang. Pesananmu banyak sekali. Aku tulis dulu semua pesananmu. Fadli mengambil kertas memo dan mulai mencatat semua pesanan istrinya. Faik tertawa pelan dan mengulang lagi mengatakan apa saja pesanannya satu per satu.

Mereka pun akhirnya memutuskan sambungan telepon setelah Faik berpesan agar mereka tidak perlu menghubungi Bu Atikah. Faik tidak ingin membuat ibu mertuanya itu terlalu khawatir. Lagipula, Ihsan tidak bisa dijenguk.

Setelah menutup telepon, salah seorang rekan kerja Fadli memanggilnya. Rekannya itu meminta Fadli untuk melihat laporan penjualan yang sedang diselesaikannya dan meminta pertimbangan pada Fadli apakah ada hal lain yang perlu ditambahkannya. Fadli merasa laporan itu sudah cukup jelas dan meminta rekannya itu untuk mengirimkannya padanya agar ia bisa menggabungkannya dengan data-data lain yang dipegangnya untuk selanjutnya dilaporkan pada atasannya.

Fadli kembali ke mejanya setelah urusan dengan rekan kerjanya selesai. Ia membuka berkas yang berisi data penjualan barang dalam beberapa tahun yang lalu. Ia harus segera menyelesaikan laporan ini karena atasannya sudah memintanya setelah ia selesai menyampaikan presentasinya tadi. Akan tetapi, otaknya tidak bisa diajak bekerja sama.

Fadli memikirkan anaknya. Tadi Faik menyebutkan bahwa Ihsan terkena penyakit karena terinfeksi virus. Selama ini Ihsan selalu dijaga Faik dengan sebaik-baiknya. Fadli bertanya-tanya sendiri dari mana Ihsan bisa tertular penyakit itu.

˜Jangan-jangan Ihsan tertular saat dia ikut denganku dan Faik sewaktu menghadiri pesta pernikahan Robi seminggu lalu itu.™ Fadli bergumam dalam hati. ˜Waktu itu memang tidak ada yang terlihat memiliki ruam-ruam seperti yang dimiliki Ihsan, tapi siapa yang tahu.™

Fadli mengembuskan napas keras, ˜Bodohnya aku. Waktu itu Faik sudah meminta agar dia tidak usah ikut saja dengan Ihsan. Tapi aku malah memaksanya. Sekarang, Ihsan jadi sakit begini. Ini semua salahku. Apa yang sudah kulakukan?™ Dia menutup mukanya dengan kedua tangan karena merasa sangat frustasi. ˜Seharusnya aku tidak sok tahu dengan mengatakan bahwa Ihsan tidak akan kenapa-napa kalau hanya ikut kami menghadiri pernikahan. Jelas, ini semua salahku. Mungkin memang kata Mama. Peranku saat ini yang utama adalah sebagai pencari nafkah.™

Fadli menyisir rambutnya dengan kedua tangannya. ˜Mungkin memang tugasku yang utama saat ini adalah mencari nafkah sebanyak-banyaknya agar bisa membuat istri dan anakku hidup nyaman. Mungkin aku juga perlu mencarikan pengasuh bayi yang benar-benar berilmu dan berpengalaman untuk membantu Faik agar ia tidak kerepotan mengasuh Ihsan sendiri.™ Ia tertawa hambar, ˜Aku bahkan sebenarnya selama ini tidak tahu apa yang harus kulakukan saat mengasuh Ihsan. Mungkin sebaiknya aku memang tidak perlu sok tahu dan menyerahkan saja urusan pengasuhan ini kepada orang yang benar-benar ahli di bidangnya.™

Fadli berusaha memantapkan dirinya walaupun ia sebenarnya juga merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dengan keputusannya ini. ˜Ya. Aku akan bekerja lebih keras. Biaya pengasuh bayi yang benar-benar berkompeten tidaklah murah. Nanti aku akan bertanya juga pada teman-taman yang sudah berkeluarga tentang cara mereka untuk menemukan pengasuh bayi yang bagus.™

Fadli memutuskan untuk lembur malam itu. Ia mengirimkan pesan pada istrinya untuk memberitahukan hal itu dan juga bertanya apakah istrinya itu membutuhkan barang-barang yang dipesannya segera. Istrinya menjawab bahwa Fadli bisa mengantarkan barang pesanannya setelah selesai mengerjakan tugasnya saja. Faik juga berpesan agar Fadli tidak lupa untuk makan malam.

Malam itu, Fadli mengerjakan semua pekerjaannya sampai benar-benar selesai. Laporan yang diminta atasannya sudah tertata rapi. Ia membuat versi terperinci dan versi ringkasannya juga.

Saking asyik mengerjakan tugasnya, Fadli sampai lupa pesan istrinya untuk tidak melupakan makan malam. Ia baru tersadar kalau ia lapar saat telah menyelesaikan tugasnya. Ia akhirnya memutuskan pulang saja. Di dekat rumahnya, ia menemukan seorang penjual nasi goreng keliling. Ia akhirnya memarkirkan mobilnya di dekat penjual itu dan memesan seporsi nasi goreng untuk dimakan di rumah.

Suapan pertama nasi goreng itu langsung membuat Fadli mengingat kembali masa-masa ia berkuliah. Ia sangat sering membeli nasi goreng bersama Robi dan Randi dulu. Ada satu warung dekat kampusnya dulu yang menjual nasi goreng dengan rasa yang sangat mirip dengan nasi goreng yang ia makan sekarang.

Warung itu merupakan warung favorit para mahasiswa yang memiliki uang saku pas-pasan. Namun, saat akhir bulan, warung tersebut juga dipadati oleh mahasiswa yang sebenarnya memiliki uang saku yang lumayan, namun tidak bisa mengatur keuangannya sampai ia kehabisan uang sebelum waktunya.

Penjual warung tersebut sangat baik sekali. Fadli pernah mendengar cerita bahwa panjual itu sering sekali ditipu oleh para mahasiswa dan mahasiswi langganannya. Mereka makan di sana dengan cara berutang. Namun, sampai mereka lulus, dan menghilang, mereka tidak juga melunasi utang-utang mereka.

Walaupun begitu, pemilik warung tersebut selalu tidak tega dengan para pelajar yang kelaparan. Ia selalu memberikan kelonggaran pada mereka untuk berutang. Fadli sendiri tidak habis pikir bagaimana warung tersebut bisa bertahan cukup lama dengan banyaknya oknum yang kabur dari utang mereka pada warung itu.

Warung itu menyediakan berbagai macam menu seperti warung-warung makan pada umumnya. Namun yang spesial, warung tersebut menyediakan makanan mereka dalam porsi besar dengan ongkos yang cukup terjangkau.

Namun, jangan berharap banyak pada makanan yang disajikan. Rasa makanan di sana memang lumayan, namun proporsi nasi dan lauk serta sayur mayurnya sangat tidak ideal. Itulah mengapa warung tersebut jadi tujuan para mahasiswa yang hanya berpikir bagaimana caranya bisa mengenyangkan perut mereka tanpa peduli gizi makanan yang mereka makan.

Fadli sendiri bukan termasuk mahasiswa pas-pasan yang harus selalu berhemat. Namun, ia tidak enak dengan teman-temannya jika ia menghambur-hamburkan uang sementara temannya harus makan seadanya. Temannya itu juga selalu bersikeras untuk tidak ingin dibantu secara finansial oleh orang lain.

Waktu nostalgia Fadli habis seiring dengan habisnya nasi goreng di hadapannya. Fadli sadar ia harus segera menyerahkan barang pesanan istrinya. Ia beranjak untuk menyiapkan semua barang pesanan tersebut dengan melihat memonya. Ia langsung memacukan mobilnya kembali ke rumah sakit untuk mengantarkan barang-barang tersebut.

Sementara itu, Faik sudah setengah tertidur saat telepon genggamnya yang ia letakkan di atas nakas bergetar. Saat itu sudah hampir tengah malam. Ternyata itu Fadli yang mengabarkan bahwa ia sudah di depan gedung.

Faik perlahan turun dari tempat tidur agar tidak membangunkan anaknya yang sudah tertidur pulas. Dengan cepat dan suara seminimal mungkin ia keluar dari kamar. Ia lanjut berjalan cepat untuk menemui suaminya.

Malam sekali, Sayang. Kukira kamu akan mengantarkan barang ini besok pagi sebelum ke kantor. Kamu pasti sudah lelah sekali, kata Faik begitu bertemu suaminya.

Kamu pasti sangat membutuhkan barang-barang ini, jawab Fadli sambil memberikan sebuah kantong belanja kain besar berisi berbagai barang.

Terima kasih banyak, Sayang. Aku langsung kembali ya. Ihsan sendirian di kamar. Faik mencium pipi suaminya sebelum berjalan cepat kembali ke kamar Ihsan.

Fadli menunggu sampai istrinya tak terlihat sebelum berjalan ke tempat mobilnya terparkir. Ia langsung memacu kendaraan menuju rumahnya. Jalanan masih saja agak ramai padahal ini sudah tengah malam.

 

~Bersambung~


Lihat semua bab.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Pendidikan

5 Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:50 WIB

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Hiburan

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:34 WIB