Novel : Choose Happiness (Part 23)

- Penulis

Kamis, 21 November 2024 - 14:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 23)

Novel : Choose Happiness (Part 23)

Bab. 23 Menghindar Lagi? 

Di sore menjelang malam terlihat Fara yang tengah membuka pintu apartemennya, “Moraa, ayo sini masuk” ucap Fara menyambut Amora.

Lalu Fara pun meraih tangan Amora dan menarik perempuan itu untuk masuk ke dalam apartemennya, “Udah, anggap aja kayak rumah sendiri.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Amora sedikit tertawa saat mendengar itu, “Iyaa, maaf ya jadi ngerepotin” ucap Amora yang lalu duduk di sofa yang sama seperti Fara.

“Alaah, ngerepotin apaan sih?. Gue malah seneng lo ada di sini, jadi ngga kesepian deh gue” jawab Fara.

“Lo lagi ada kerjaan ya makanya tinggal di apart?” tanya Amora.

“Iyaa. Udah ngga usah ngalihin fokus gue. Ada apa?, lagi ada masalah sama Daren?” tanya Fara yang kini membuat Amora sedikit terkejut.

Amora sudah menduga bahwa sahabatnya itu pasti akan menanyakan hal ini, maka dari itu tadinya dia ingin mengalihkan topik agar dugaannya itu tidak benar terjadi.

Dengan menggaruk tengkuk lehernya yang sebenarnya tidak gatal, Amora mulai menjawab dengan kekehan kecil hingga membuat Fara mengerutkan dahinya, “Hehehe, ngga ada kok, Far. Gue sama Suami gue baik-baik aja.”

“Ngga, Morr, lo bohong ke gue. Jujur aja, gue bakal dengerin semua masalah lo. Lo ngga mungkin bisa nanggung masalah lo sendirian kayak gini” ujar Fara memberikan perhatian kepada Amora.

“Ngga ada masalah yang besar kok, Faar. Gue cuma ada sedikit perselisihan aja sama Daren, makanya gue putusin buat ngehindar dari dia, sampai dia sadar sama kesalahannya” jawab Amora, berbohong.

Itu semua Amora lakukan agar Fara tidak mengetahui rencananya yang mungkin cukup gila ini. Tapi dia melakukan ini hanya untuk suatu hal yang sangat dia cari-cari dari dahulu.

“Ya udah, gue ambilin minum dulu. Lo udah terserah mau ngapain, tapi kayanya habis ini Indira ke sini” ujar Fara yang lalu beranjak dari sofa itu.

“Ngapain anak itu ke sini?” tanya Amora yang penasaran.

“Kalau gue di apart dia sering banget main ke sini. Kalau ngga diajak keluar sama Raffi sihh” jawab Fara seraya berjalan menuju dapurnya berada.

Mendengar itu Amora pun mengangguk-angukkan kepalanya, “Ohh, gue pesen makanan fast food aja ya, Far?. Sama gue suruh Sherly ke sini kalau dia bisa.”

“Iya-iya, biar makin seru ada dua anak itu” jawab Fara dengan sedikit menaikkan nada bicaranya karena jaraknya dengan Amora tidak dekat.

Setelah itu Amora pun mengambil handphone-Nya dari totebag-Nya dan langsung menghubungi kedua sahabatnya yang lain agar datang ke apartemen Fara.

Selesai meng-approve kedua sahabatnya itu, Amora pun memesan beberapa fast food yang sangat dia dan sahabat-sahabatnya sukai.

Di malam harinya terlihat mobil Daren yang baru saja berhenti di garasi rumahnya yang awalnya kosong, “Loh, Amora belum pulang?” ujar Daren ketika melihat mobil Amora tidak ada di dalam garasi rumahnya itu.

Dengan cepat Daren pun mengambil handphone-Nya dan langsung menghubungi Istrinya itu. Tapi hasilnya nihil, Amora tidak berhasil dihubungi oleh Daren.

Karena pikiran Daren semakin ke mana-mana, laki-laki itu pun memutuskan untuk masuk terlebih dahulu memeriksa apakah Istrinya benar-benar tidak ada di rumah.

Dan benar, Daren tidak berhasil menemukan Amora di setiap sudut rumah mereka itu, “Amoraa, kamu ada di mana sih?” tanya Daren yang terlihat sudah sangat frustasi sembari terus menelfon nomor Amora.

Beberapa menit kemudian Daren baru sadar bahwa nomornya lagi-lagi diblokir oleh Amora, melihat itu Daren semakin frustasi. Dia pun memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jasnya sebelum beranjak pergi lagi dari rumahnya itu.

Di sisi lain terlihat Amora, Fara, Sherly dan Indira yang tengah menonton film horor di apartemen Fara dengan lampu yang dimatikan sembari memakan makanan fast food yang tadi Amora pesan.

Saat itu Amora dan Fara dengan santainya menonton seraya memakan pizza, sedangkan Indira dan Sherly menutup wajah mereka dengan bantal, karena mereka sangat takut, bedanya Indira seraya memakan kentang goreng.

Saat sampai di konflik film, tiba-tiba ada jumpscare yang membuat Indira dan Sherly berteriak, sedangkan Amora dan Fara hanya terkejut ringan, “AAAAA!!”

“Heh!!, jangan di telinga guee!!” marah Sherly karena Indira berteriak di sebelah telinganya.

“Kaget guee” ucap Indira sedikit merengek.

“Udah-udah, filmnya belum selesai udah debat aja lo berdua” ujar Fara melerai perdebatan kecil kedua sahabatnya itu.

Mendengar itu Indira dan Fara pun kembali melihat film horor yang masih berlangsung itu, dan lama setelah itu sebuah hal kembali mengagetkan mereka ber-4, yaitu bunyi dering telfon dari handphone Sherly yang terdengar sangat mengejutkan.

“Anj*ngg, Sherlyy!. Itu nada dering dari zamannya Fir’aun sampai sekarang masih aja belum lo ganti, padahal gue udah bilang berkali-kali masih aja belum lo ganti” ucap Indira dengan suara cemprengnya karena kesal.

Seketika Amora dan Fara langsung menutup kedua telinga mereka, “Diam lo!. Orang ini HP gue, terserah gue dong mau gue ganti apa engga, lagian ini itu lagu kesukaan gue, ngga akan gue ganti, inget itu” jawab Sherly yang juga mengeluarkan suara cemprengnya.

“Terserah, yang penting sekarang cepet angkat telfon itu. Gue udah jantungan gara-gara nada dering telfon lo itu” ucap Indira seraya menunjuk handphone Sherly berada.

Lalu Sherly pun mengambil benda pipih miliknya itu dan melihat siapa yang menelponnya malam-malam seperti ini, “Ehh, kok nomornya ngga gue kenal ya?” ucap Sherly bertanya-tanya.

“Coba lihat” ujar Fara yang membuat Sherly menunjukkan nomor tidak dikenal itu kepada para sahabatnya.

“Ngga tau gue. Asing banget nomornya” ujar Indira setelah melihat nomor yang tertera di layar handphone Sherly itu.

“Sama gue juga” timpal Fara yang lalu kembali melihat ke arah layar yang menampilkan film yang masih berlangsung itu.

Kini Amora yang masih melihat nomor itu, “Kayak kenal gue. Woy!, nomornya Kak Daren” ucap Amora setelah mencocokkan dengan nomor Daren di handphone-Nya.

Mendengar itu semua seketika terkejut, “Dia ngapain nelfon lo, Sher?” tanya Indira.

“Sumpah gue ngga tau. Tapi pertanyaannya, dia dapat nomor telfon gue dari mana?, soalnya gue ngga pernah tuker kontak sama dia sebelumnya” jawab Sherly yang panik sendiri.

“Kayaknya dia nyariin gue deh. Udah ngga usah diangkat, biarin aja” ujar Amora yang lalu meraih gelas berisikan minuman keras miliknya.

“Hah?, beneran nih, Ra?. Lo ngga mau angkat aja?, pasti dia lagi panik nyariin lo” tanya Sherly yang masih ragu untuk mengabaikan telfon tersebut.

Amora menganggukkan kepalanya, “Iya, beneran ngga usah diangkat.”

Sherly pun mematuhi ucapan Amora, dia mematikan handphone-Nya sehingga telfon itu tertolak, “Suami lo dapat nomor gue dari siapa, Mor?” tanya Sherly setelah menaruh handphone-Nya di tempat tadi.

“Mungkin Andrew. Lo tau sendirikan gimana sifat laki-laki yang kalau ketemu sekali aja udah bisa jadi teman dekat” jawab Amora sembari menaruh gelasnya ke tempatnya semula.

“Bener juga” ujar Sherly seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Setelah itu mereka ber-4 pun kembali melanjutkan film itu hingga habis. Dan akhirnya Amora dan Indira memilih untuk menginap bersama di apartemen Fara, sedangkan Sherly pulang karena dia harus mengurus Suaminya.

Keesokan harinya Amora terbangun karena dibangunkan oleh Fara, “Mor, Mora. Mor, bangun. Udah siang, lo ngga kuliah?”

“Enghh!!” Amora mengerang sejenak mendengar suara Fara barusan.

“Iya, bentar, ngumpulin nyawa” jawab Amora yang mulai mengusap matanya dengan punggung tangan kanannya.

“Dira, bangunn!!. Dicariin Raffi tuh” ucap Fara tanpa menyentuh perempuan itu sama sekali.

Tapi hebatnya Indira langsung terbangun dan duduk serta langsung merapikan rambutnya karena sedikit berantakan, “Mana?!!”

“Di rumahnya lah, ya kali pagi-pagi buta gini Raffi ada di apartemen gue” jawab Fara seraya berjalan pergi menuju dapur apartemennya.

“FARAAA!!!. Ngga jelas banget loo!!

“Woyy, jangan teriak pagi-pagi, Indira!” bentak Amora yang lalu melempar bantal yang ada di dekatnya tepat ke kepala Indira.

“AMORAA!!, sakittt!!”

Fara yang ada di dapur hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar kebisingan kedua sahabatnya itu, sungguh hal biasa jika para sahabatnya saling beradu suara ketika bersama Indira.

Di siang harinya sekitar pukul setengah 10 setelah Indira pergi karena dijemput oleh calon suaminya yaitu Raffi, hanya terlihat Amora dan Fara yang masih ada di apartemen Fara.

“Gue pinjem dulu ya bajunya, kayaknya nanti malem gue nginep lagi di sini” ucap Amora yang kini sedang merias wajahnya di meja rias milik Fara.

“Santai aja, tapi nanti kayaknya gue lembur bentar. Lo langsung masuk aja ya, masih inget pinnya kan?” tanya Fara yang saat itu tengah mempersiapkan beberapa berkas yang berserakan di atas meja.

“Masih” jawab Amora.

“Oke.”

Di sisi lain terlihat Daren yang masih saja mencari Amora sejak tadi malam. Dia terus-terusan mengganti nomornya untuk menelfon Amora, tapi nomor barunya itu terus saja diblokir oleh Amora.

Hingga dia terpaksa menyuruh para sahabatnya untuk mencari keberadaan Amora, dia takut terjadi apa-apa jika dia tidak segera mencari Istrinya itu. Dan dia masih saja bertanya-tanya kenapa Amora menjauhinya sampai seperti ini.

Bahkan salah seorang sahabatnya sudah mencari ke kampusnya, teman kampusnya pun berkata bahwa hari itu Amora tidak mengisi kelas pagi, padahal kelas pagi hari itu adalah kelas kesukaan Amora.

“Saya harus cari kamu ke mana lagi sih, Mora?” kalimat itu yang sedari semalam terus Daren ucapkan ketika dia terus gagal mencari keberadaan Amora.

Ketika Daren tengah frustasi mencari Amora, perempuan itu kini justru sedang berlalu lalang di jalan raya dan berakhir berhenti di sebuah minimarket untuk membeli minuman serta makanan ringan.

Setelah selesai membayar semua belanjaannya, Amora pun beranjak kembali ke parkiran minimarket tempat mobilnya berada, tapi saat hendak membuka pintu mobilnya tiba-tiba seorang laki-laki memegang tangannya.

Amora terkejut, dia takut kalau orang yang memegang tangannya itu adalah Daren. Dengan pelan Amora pun membalikkan badannya, dan bersyukur bahwa laki-laki itu ternyata bukan Daren, “Syukurlah” batin Amora sembari menghela nafas lega.

“Kamu Amora bukan?” tanya laki-laki tampan dengan tinggi sekitar 178 cm itu.

Dengan pelan Amora menganggukkan kepalanya beberapa kali, tak lama setelah dia menganggukkan kepala, datanglah 3 orang laki-laki yang menghampirinya. Jadi kini ada 4 laki-laki yang menghampiri Amora.

Melihat itu Amora pun menjadi was-was, dia juga langsung melepaskan pegangan tangan laki-laki pertama tadi dari tangannya. Walaupun ke-4 laki-laki itu tampan, tapi Amora tetap saja takut dan was-was.

“Cepet telfon Daren” ucap laki-laki yang tadi memegang tangan Amora kepada salah satu dari ke-3 laki-laki yang berdiri di sampingnya itu.

Mendengar itu Amora langsung membelalakkan matanya terkejut, sedangkan laki-laki yang dipinta langsung mengeluarkan handphone-Nya. Tau bahwa mereka adalah suruhan Daren membuat Amora dengan cepat membuka pintu mobilnya dan hendak masuk.

Namun pergerakan laki-laki tadi lebih cepat darinya, laki-laki itu pun berhasil menahan Amora, “Lepasinn!!” bentak Amora dengan sedikit memberontak.

“Amora, aku mohon banget kamu balik ke Daren ya?. Suamimu itu udah frustasi banget dari kemarin nyariin kamu ke mana-mana, bahkan nomornya terus-terusan kamu blokir” ucap laki-laki yang jika di kilas balik adalah laki-laki pemilik nama Varo yang beberapa hari lalu menjemput Daren di bandara.

“Saya mohon, lepaskan tangan saya” ucap Amora dengan tatapan tajam ke arah Varo.

“Maaf, Amora. Bukannya aku ngga sopan, tapi ini bentuk dari tanggung jawab kita yang udah diutus Daren untuk nyari kamu” jawab Varo yang masih saja memegang tangan Amora, namun tidak terlalu dia pegang dengan erat.

Mendengar ucapan Varo itu membuat Amora langsung menghela nafasnya, “Kamu pilih lepaskan tangan saya atau saya teriak minta tolong sekarang juga?” tanya Amora memberikan opsi.

Varo hanya diam, dia tidak menjawab ucapan Amora dan terus memegang tangan Istri dari Sahabatnya itu, “Satu… Duaa… Tig-”

“Daren mau ngomong tentang Kak Rena sama Kak Naresh” ujar Varo dengan sangat cepat, jujur dia tidak berani sepenuhnya untuk mengatakan hal itu.

Deg!

“Lo tau tentang mereka?” tanya Amora yang tidak jadi memberontak.

“Aku ngga tau sepenuhnya, tapi habis ini Daren yang akan jelasin itu semua ke kamu. Jadi, tunggu Daren sebentar yaa?” jawab Varo yang berusaha untuk menenangkan Amora.

Untuk kedua kalinya Amora menghela nafasnya kasar, dia sungguh tidak terbiasa dikerumuni laki-laki seperti ini. Apalagi tatapan salah satu di antara mereka berempat itu sangat tajam ke arah Amora hingga membuat Amora terus-terusan menelan salivanya.

Laki-laki itu lebih tinggi dari Varo, mungkin tingginya sama dengan Daren. Tatapannya juga sedikit mirip dengan Daren, tatapan dengan mata elang itu seperti ingin menusuk orang yang dia tatap.

“Glen, biasa aja dong kalau natap Amora, jadi takut loh dianya” ucap salah satu di antara mereka yang langsung menarik perhatian mereka semua yang ada di sana, termasuk Amora.

“Bisa-bisanya lo, Dit, bilang kayak gitu di saat keadaan lagi hening-heningnya” ujar laki-laki lain di antara mereka yang menegur laki-laki pemilik nama Dito itu.

“Ya kasian loh Amoranya jadi takut ngelihat tatapan si Glen yang kayak mau bunuh orang ini” ucap Dito seraya menepuk bahu laki-laki pemilik mata elang itu, namanya adalah Gleano, biasa dipanggil Glen.

Mendengar itu Amora langsung menundukkan kepalanya, karena tidak ingin melihat perdebatan kecil itu. Entah kenapa detik demi detik yang berlalu semakin membuat Amora menjadi ragu, dia jadi bingung ingin bertemu dengan Daren atau tidak.

Setelah beberapa menit keadaan menjadi hening, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Lalu terlihat Daren yang keluar dari bagian pengemudi dengan pakaian dan rambut yang sedikit acak-acakan.

Tapi Daren tidak memperdulikan itu, dia langsung berjalan cepat ke arah Amora dan saat melihat itu Varo seketika melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Amora.

Setelah dekat dengan Amora, Daren langsung memeluk Istrinya yang telah dia cari ke mana-mana itu dengan erat, Amora benar-benar terkejut, “Eh.”

Baru kali ini Amora merasakan pelukan Daren yang benar-benar erat dan hangat, seperti tidak ingin kehilangan dia lagi.

 

 

 

Bersambung…….

 

 

 

https://www.redaksiku.com/novel-choose-happiness-part-22/

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Polres Barru bersama Badan Pangan Nasional, Bulog, pemerintah daerah, TNI, dan stakeholder terkait mengecek kualitas serta kuantitas.

Internasional

Beras Bantuan di Gudang Bulog Dicek, Ini yang Dipastikan Polisi

Selasa, 18 Agu 2026 - 15:14 WIB