Novel : Bertahan di Atas Luka Part 44
Amira Dzakiya
Sejak pertengkaran hebat waktu itu, sikap Mas Bayu perlahan mulai berubah. Aku pun berusaha mengurangi sifat sensitif dan cepat tersinggung yang sering membuat kami bertengkar. Aku memutuskan untuk tinggal di rumah Depok, menemani, dan membantunya menyelesaikan proyek dari Pak Abdurrahman. Karena pernah bekerja di bidang iklan, aku bisa mencarikan Mas Bayu perusahaan konsultan yang bagus untuk menangani rencana pembukaan restoran itu.
Siang itu, aku sengaja masak istimewadaging tumis bumbu bulgogiuntuk makan siang supaya Mas Bayu tetap sehat setelah bekerja keras menyiapkan semuanya. Aku juga membuatkan minuman teh sereh jeruk lemon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mas, aku minta maaf, ya? bisikku lirih sambil memeluk pundaknya dari belakang. Ia sedang duduk serta konsentrasi mengetik.
Mas Bayu menghentikan pekerjaannya, lalu berbalik dan memegang pinggangku.
Maaf kenapa? tanyanya bingung.
Maafkan karena sempat ada laki-laki lain hadir di hidupku, jawabku takut-takut.
Mas Bayu menghela napas sebelum menjawab.
Aku sedang berusaha untuk memaafkan kamu, Mir. Semua butuh proses. Sama seperti kamu, pasti juga butuh waktu untuk mengerti dan memaafkan aku, ia berdiri dan memegang kedua pundakku, kasih aku waktu, ya?
Aku menganggguk. Memang tidak mudah untuk melupakan apa yang sudah terjadi, tapi aku berharap, Mas Bayu bisa memaafkanku.
Sudah hampir jam 02.00, kamu nggak lapar? Makan dulu, yuk! Aku udah masak makanan kesukaan kamu. Semoga enak dan kamu suka, ujarku sambil menarik tangannya.
Mas Bayu menutup laptopnya dan mengikutiku ke ruang makan. Aku lalu menyusun piring, gelas, nasi, sayur serta lauknya di meja. Kami lalu mulai makan.
Mir, kalau nanti restoran ini sudah buka dan berjalan, aku tetap harus kembali ke Riyadh untuk mengecek pekerjaan di sana, apa kamu masih mau ikut? Mas Bayu bertanya ragu-ragu. Gimana menurut kamu?
Aku berhenti makan lalu menatapnya dengan kening berkerut. Tumben ia menanyakan pendapatku. Kedua ujung bibirku tertarik ke atas, buncah bahagia menelusup ke relung hatiku.
Mas sendiri gimana? Masih mau aku ikut? Aku balik bertanya, sengaja ingin memancingnya.
Mata Mas Bayu menatapku lekat.
Tentu saja aku inginnya kamu ikut, tapi aku nggak mau maksa.
Aku tersenyum lembut.
Iya, Mas. Aku mau ikut, tapi kita harus bantuin Sasha dulu ya, ngurusin pernikahannya. Boleh?
Mas Bayu mengangguk dan tersenyum lebar.
Alhamdulillah. Jadi kamu nggak jadi minta pisah, kan?
Aku tidak langsung menjawab.
Memang, hatiku sebetulnya masih belum terlalu yakin, tapi aku sudah berjanji untuk lebih bersabar dan memberikan kesempatan kepada Mas Bayu. Aku tidak boleh egois.
Kita lihat perkembangan sambil jalan, ya? Kan kamu juga masih harus lanjutin urusan restoran sampai pembukaan. Sasha juga akan menikah. Jadi sambil jalan, kita saling memperbaiki diri. Nanti kalau aku sudah yakin, aku akan bilang sama Mas. Setuju?
Baiklah, yang penting sekarang kamu mau tinggal di sini. Itu aja udah bikin aku bersyukur. Apalagi kamu mau bantuin aku. Mas Bayu meraih gelas dan meneguk air putih.
Oya, Mas. Aku boleh kerja lagi, nggak?
Mas Bayu meletakkan gelasnya.
Kan kamu udah kerja bantuin aku? Mau kerja apa lagi? Nanti di Riyadh, kamu bisa ngajar Bahasa Inggris anak-anak. Jadi, sekarang nggak usah dulu, ya?
Meski agak kecewa, tapi aku memutuskan untuk menurut.
Wah, kamu udah bilang ke teman-teman kalau aku bisa ngajar?
Iya, sebelum aku pulang, aku udah kasih tahu ibu-ibu di sana bahwa kamu bisa ngajar. Aku nggak mau kalau nanti pulang ke Riyadh, kamu nganggur dan tertekan lagi.
Makasih, ya, Mas! Hatiku terasa menghangat. Sepertinya Mas Bayu benar-benar ingin lebih mengerti aku.
Besok aku harus ketemu orang untuk ngomongin masalah perizinan resto. Kamu mau ikut?
Nggak usah, deh. Aku mau nemenin Sasha fitting baju pengantinnya, setelah itu mau ketemu Marisa. Mas nggak apa-apa kan, sendiri?
Nggak apa-apa. Malamnya kita makan di luar, ya?
Mataku berbinar. Cepat aku mengangguk.
Enak nggak masakanku?
Kali ini Mas Bayu tersenyum puas dan menunjukkan dua jempol tangannya. Aku bersorak. Akhirnya aku bisa memasak dengan baik.
Selesai makan dan mencuci piring, aku kembali membantu Mas Bayu menyelesaikan pekerjaannya. Malam harinya kami berbincang lama tentang berbagai hal. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menikmati obrolan seperti ini. Apakah aku harus mengurungkan niat untuk berpisah? Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
Keesokan paginya, aku bersiap-siap menjemput Sasha. Sebelum pergi, aku membuatkan sarapan untuk Mas Bayu. Aku ingin menunjukkan kalau sekarang lebih memerhatikan suami. Setelah berpamitan, aku menghidupkan mobil dan meluncur membelah udara pagi kota Depok.
Assalamualaikum, Sha! Udah siap belum? Aku memanggil adik kembarku. Mana Ibu? lanjutku sambil masuk dan mencari Ibu.
Waalaikumsalam, Mbak! Bentar, aku tinggal pakai jilbab. Itu Ibu di dapur.
Bu, nggak mau ikut kami? tanyaku sambil mencium punggung tangan Ibu.
Eh, kamu. Nggak usah. Kan ada kamu. Gimana Nak Bayu? Udah lama nggak ke sini? Ibu kembali melanjutkan kegiatannya menggoreng ayam.
Maaf, Bu! Mas Bayunya sibuk banget. Nanti kalau semua udah selesai, dia pasti ke sini. Waktu Mas Bayu datang, Ibu pas nggak ada, jawabku berusaha menutupi kegugupan.
Udah lama banget, loh, Mir. Hampir dua bulan. Kalian baik-baik aja, kan? Nggak bertengkar? Ingat ya, Mir. Istri itu harus nurut dan bakti pada suami. Nggak boleh ngelawan. Kalau nggak suka, lebih baik diam. Jangan lupa ajak Bayu main ke sini!
Iya, nanti aku kasih tahu. Pamit, ya, Bu! Itu Sasha udah siap. Aku bergegas menyusul Sasha ke luar sebelum Ibu bertanya lebih lanjut.
Sha! Kok nggak pamit? Ibu menyusulku.
Lho, kamu belum pamit Ibu? tegurku pada Sasha.
Adikku itu nyengir, lalu mengambil tangan Ibu dan menciumnya.
Tadi mau pakai sepatu dulu. Sha berangkat, ya, Bu.
Tak lama, mobil pun melaju.
Gimana kabar Mbak sama Mas Bayu? tanya Sasha sambil menoleh dan menatapku.
Baik. Mas Bayu kan sibuk mau buka restoran. Aku menjawab sambil memandang jalan raya.
Beneran sibuk? Bukan karena alasan lain? Mas sama Mbak udah baikan dan nggak jadi pisah, kan?
Aku tersentak.
Yang mau pisah siapa? Kami baik-baik aja, kok. Emang Mas Bayu sibuk banget karena dua bulan lagi restorannya harus selesai.
Mbak, aku udah dewasa, udah mau nikah, lho! Jangan bohong terus, dong!
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya.
Baiklah, Mbak akan cerita. Aku memutuskan untuk bercerita sedikit supaya Sasha tidak terus bertanya.
Dalam rumah tangga, pertengkaran suami dan istri itu biasa. Namanya juga dua orang yang berbeda. Kamu juga nanti akan merasakan banyak sekali hal yang baru dan berbeda dari kebiasaan di rumah. Kalau ada masalah, langsung diomongin baik-baik, jangan dipendam. Jangan berpikir suami kamu bisa baca pikiranmu. Omongin pelan-pelan, cari jalan keluarnya. Aku menoleh sekilas. Sasha tampak termenung mendengar kata-kataku.
Mbak sama Mas Bayu udah saling bicara, kok. Jadi sekarang kita udah baik-baik aja, lagi saling memperbaiki diri, ujarku melanjutkan.
Ibu tahu nggak?
Nggak. Mbak pikir Ibu nggak perlu tahu. Ini urusan rumah tangga Mbak, dan kami udah sama-sama dewasa, jadi lebih baik diselesaikan sendiri.
Sepanjang perjalanan, aku banyak memberikan Sasha nasihat, sekaligus ingin mengingatkan diriku sendiri agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Adikku itu terlihat serius menyimak. Karena asyik ngobrol, tak terasa kami telah sampai di tujuan.
Menjelang siang, setelah semua urusan Sasha selesai, ia minta diantar ke kantor. Aku menyanggupi. Dari kantor Sasha, aku menuju restoran tempat aku dan Marisa janjian untuk makan siang.
Mir! Lo kelihatan ceria banget! Senang deh ngelihatnya. Marisa segera memeluk dan mencium kedua pipiku.
Lo juga makin cantik, aja! Kangen, Sa, ujarku sambil balas memeluknya. Marisa memang terlihat cantik dengan gamis hitam dan pashmina merah muda. Wajah timur tengahnya sengaja hanya dirias tipis dan natural.
Ada kabar apa, nih? Gue harap kabar menyenangkan, ya? Ia segera mengajakku duduk di tempat favorit kami, dekat jendela kaca yang besar.
Alhamdulillah, kabar baik semua. Aku duduk dan mengambil buku menu.
Hubungan lo sama Bayu? Marisa ikut duduk di depanku.
Aku meletakkan buku menu dan menatap Marisa sambil tersenyum simpul.
Gue sama Mas Bayu udah bicara, saling bentak, saling teriak, sampai gue nangis-nangis ¦.
Terus?
Ya udah, akhirnya kita sepakat mau nyoba saling mengerti dan memperbaiki diri.
Nggak jadi pisah, kan? Marisa tak sabar menunggu reaksiku.
Aku sengaja tidak menjawab.
Amira! seru Marisa gemas.
Doakan aja, ya? Semoga semuanya berjalan lancar. Dah, makan, yuk! Cacing perut gue udah nyanyi dari tadi.
Lo tuh, ya! Masa cerita gitu doang. Gue mau yang lengkap, gerutunya cemberut.
Sabar, dong! Kan semuanya butuh proses, ntar kalau udah damai, gue cerita. Eh, lo dah tahu kan, kalau Sasha mau nikah? Bantuin gue ngurus acaranya, ya?
Bantuin nggak, ya? Marisa menggodaku. “Berani bayar gue berapa?” lanjutnya terkekeh.
Please, Sa ¦.
Lihat ntar, ya. Gue sempat apa nggak.
Jahat!
Lebih jahat mana sama lo? Masa cerita aja dicicil, kayak kreditan, celetuk Marisa dongkol.
Iya ¦ iya, gue cerita sambil makan. Puas?
Marisa terbahak. Siang itu aku merasa sangat bahagia karena bisa bercerita dan tertawa bersama perempuan cantik dan ramah ini. Aku merasa beban di hatiku terangkat sedikit demi sedikit, meninggalkan rasa nyaman yang belum pernah kurasakan. Sudah lama aku tak merasakan kebahagiaan seperti ini. Kuharap bahagiaku akan bertambah karena nanti malam Mas Bayu berjanji akan mengajak makan malam.
Tanpa terasa, waktu beranjak sore. Kami menyudahi obrolan karena aku harus pulang dan menjemput Sasha. Aku berjanji pada Marisa akan bercerita lagi nanti. Setelah mengantar Sasha pulang, aku memacu mobil dengan kencang karena ingin cepat sampai rumah. Tiba di rumah, ternyata Mas Bayu belum pulang. Aku segera mandi dan bersiap-siap. Sengaja kupilih gamis motif bunga merah jambu yang sangat halus, kupadu dengan jilbab lebar segiempat warna soft pink. Setelah itu, aku merias wajah dengan riasan natural, sehingga tampak lebih segar.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






