Novel : Bertahan di Atas Luka Part 39
Amira Dzakiya
Lo sadar, Mir? Apa lagi kesambet sesuatu? tanya Marisa begitu aku cerita kalau sering jalan berdua Pras, juga perasaanku padanya.
Apaan, sih, Sa? Tentu aja gue sadar! Emang kenapa? sahutku ketus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Marisa mendelik.
Lo bilang sadar, tapi kelakuan lo kayak gitu!
Maksud lo apa, nih?
Lo itu masih istri Bayu Ramadhan, Amira Dzakiya! Kok bisa-bisanya jalan bareng duda, meskipun itu Pras. Nggak pantas, Mir! Marisa menatapku tajam.
Gue sama Pras nggak ngapa-ngapain, kok. Kita cuma makan sama ngobrol aja. Salah? Pras kan sahabat gue, sahabat lo juga, Sa! Aku tidak terima kalau Marisa menuduh macam-macam.
Salah, Amira! Jelas salah! seru Marisa gemas. Lo istri orang, Pras duda. Biar lo bilang nggak ada apa-apa, tapi gue kan tahu isi hati lo! Cinta yang terpendam. Nggak mungkin kalau hati lo biasa aja waktu jalan sama Pras. Dia juga punya perasaan yang sama. Masih mau ngelak?
Aku jadi teringat kata-kata Ibu. Ibu juga mengatakan hal yang sama. Hanya bedanya, Ibu menyampaikannya dengan cara halus, sementara sahabatku ini lebih meledak-ledak karena memang sifatnya seperti itu. Aku tahu hati Marisa. Perempuan cantik itu memiliki hati seputih kapas. Kalau ia marah padaku, berarti itu tanda sayang. Aku memang patut disalahkan.
Sore itu aku sengaja mengajak Marisa untuk makan malam di restoran Jepang di sebuah mall. Selain karena sudah lama tidak bertemu, aku juga ingin menghibur diri setelah bertengkar hebat dengan Mas Bayu beberapa hari yang lalu. Aku berharap Marisa bisa menghilangkan kesedihanku seperti biasa.
Restoran yang terkenal dengan hidangan sushi-nya yang lezat itu tampak ramai dengan pengunjung yang rata-rata para pekerja kantoran. Kami memilih tempat di lantai dua, dekat jendela kaca besar, sehingga bisa memandang padatnya lalu lintas Jakarta saat jam pulang kantor. Suasana ramai oleh suara obrolan dan gelak tawa pengunjung sambil menikmati hidangan yang lezat.
Aku menyesap teh hijau panas dari cangkir kecil dan unik bermotif lukisan gadis Jepang dengan kimononya. Kami belum saling bicara. Terus terang, aku agak tersinggung dengan kata-kata Marisa. Ia tidak bisa menuduhku sembarangan seperti itu. Aku dan Pras tidak seburuk yang ia tuduhkan, meskipun memang ada rasa cinta yang tak terucap di antara kami. Tanpa sadar aku menarik dua ujung bibirku ke atas.
Kenapa senyum-senyum, Mir? tanya Marisa tiba-tiba, membuatku tergagap. Masalah lo sama Bayu udah beres? lanjutnya sambil mencelupkan sushi ke shoyu, lalu dengan menggunakan sumpit memasukkannya ke mulut.
Aku menggeleng.
Nah, apalagi masalah lo belum beres. Gue percaya, Bayu lagi berusaha sebaik-baiknya supaya kalian nggak cerai, terus lo malah enak-enak pergi sama laki-laki lain? Kata-kata Marisa bagaikan pisau tajam yang menghunjam jantungku.
Cukup, Sa! Lo kayak nggak kenal gue aja. Gue nggak serendah itu! Sekarang ini gue lagi ngerasa bahagia, rasa yang jarang gue dapat dari Bayu. Gue berhak bahagia, Sa.
Iya, gue tahu. Lo emang berhak bahagia, tiap orang berhak bahagia, Amira. Tapi lo cari bahagianya dari orang yang salah. Gini deh, tanya hati kecil lo, ada rasa bersalah nggak, meski sedikit. Kalau ada berarti masih aman.
Mau tidak mau aku tersenyum kecut mendengar istilah-istilah Marisa.
Aman apanya? Istilah lo ada-ada aja, ya? Aman gue nggak selingkuh? Terus kalau nggak ada rasa bersalah, berarti gue perlu dicurigai. Gitu?
Marisa mengangguk cepat. Wajahnya seperti mengejekku. Anak ini kalau lagi tidak suka sesuatu bisa berubah menjadi sangat menyebalkan.
Lo bisa kok ngerasa bahagia sama Bayu. Malah lebih aman karena ia suami lo. Kuncinya, bicara dan cari bantuan dari penasihat perkawinan. Coba ingat kebaikan-kebaikan Bayu. Walaupun kadang menyebalkan, tapi ia suami yang baik, yang sayang dan cinta sama lo, Mir!
Pras juga cinta sama gue! Aku masih membandel. Lagipula, gue kan udah pernah minta Bayu ikut ke ustazah di Riyadh, lo tahu dia bilang apa? Dia nggak mau urusan rumah tangga kami diceritain ke orang lain. Aku menjelaskan dengan menggebu-gebu. Terus dia pergi gitu aja!
Iya, Pras cinta sama lo, tapi coba bayangin hidup sama Pras. Yakin lo masih kenal sifatnya? Udah lama nggak ketemu, bisa aja dia berubah, kan? Kalau dia perhatian, ya karena kalian hanya ketemu beberapa saat aja. Lo kan belum tahu gimana nanti kalau udahmisalnyanikah sama dia.
Aku masih membisu.
Jangan lari dari masalah, Mir! Tiap pernikahan pasti akan ada masalah. Lo harus hadapi, bukan menghindar! Marisa menurunkan nada suaranya ketika melihat wajahku berubah. Bayu mungkin waktu itu masih kaget karena tiba-tiba lo minta pisah terus mendadak minta bantuan orang lain. Bayu ingin kalian saling bicara dulu, berdua.
Sudah gue coba, Marisa! Kan gue udah cerita. Bayu masih belum bisa terbuka sama gue kalau ia lagi ada masalah, ujarku tegas.
Namun, aku mencoba mencerna kata-kata Marisa. Sebagian hati kecilku membenarkan ucapannya, tapi sebagian lagi tetap bersikeras kalau perbuatanku tidak salah dan aku ingin bersama Pras.
Makasih udah nasihatin gue, Sa! Sementara ini, biarin gue nyelesaikan sendiri masalah gue, ya. Percaya deh, gue nggak akan berbuat yang aneh-aneh. Aku menyentuh lembut tangan perempuan berjilbab marun itu.
Marisa tersenyum dan mengangguk. Meskipun Marisa sudah berusaha menyadarkanku, tapi aku masih menolak untuk mengikuti kata-katanya. Aku masih ingin bersama Pras. Aku juga tidak mengatakan pada sahabatku ini bahwa saat ini Mas Bayu ada di Jakarta. Aku tidak mau Marisa semakin memojokkanku.
Beberapa hari setelah pergi dengan Marisa, aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Pagi ini, aku masih bermalas-malasan di tempat tidur. Tubuhku terasa kurang sehat, mungkin karena terlalu banyak pikiran. Aku menarik kembali selimut untuk menghilangkan rasa dingin. Ibu masih di rumah Tante Yeni dan si kembar pasti sudah berangkat kerja. Sebulan sudah Mas Bayu di rumah Depok dan hanya beberapa kali saja ia menghubungiku. Aku tidak menyalahkannya. Memang ini keinginan kami berdua, agar bisa berpikir dengan tenang.
Setelah peristiwa Mas Bayu memergoki aku dan Pras pergi bersama, hubunganku dengan Pras menjadi agak renggang. Meskipun kami tidak pernah lagi jalan berdua karena Pras selalu sibuk, ia masih rajin mengirim pesan dan menelepon untuk menanyakan kabarku. Namun, seiring berjalannya waktu, Pras makin jarang mengirim pesan, hingga akhirnya berhenti sama sekali. Kalau dulu tiap hari ia bisa mengirimkan dua sampai tiga pesan dan dibarengi dengan ngobrol di telepon, lama-kelamaan hanya tinggal pesan di pagi hari. Ia juga sudah jarang menghubungiku. Setiap aku tanya, jawabannya selalu sibuk bekerja dan menemani ibunya yang sudah tua. Ia seperti menghindariku.
Terus terang, ada rasa hampa yang hadir di hatiku. Kekosongan yang menyakitkan. Aku kehilangan teman bicara dan tempat bertukar pikiran. Ada apa denganmu, Pras? Mungkinkah Pras merasa sangat bersalah karena pergi berdua denganku? Apakah ia sakit? Apakah ia mulai belajar untuk melupakanku? Astaghfirullah. Aku mengucap istighfar berkali-kali. Pras bukan siapa-siapa, untuk apa aku memikirkannya? Mungkinkah ini cara Allah untuk menyelamatkanku dari perbuatan dosa yang semakin dalam?
Tiba-tiba ponselku bergetar, tanda ada notifikasi pesan masuk. Saat membukanya, aku tertegun membaca nama si pengirim. Prasetya! Lelaki yang sedang kupikirkan, mengatakan kalau akan berkunjung ke rumah. Aku mendadak gemetar. Membayangkan kehadiran Pras, membuat dadaku berdesir. Namun, aku juga takut karena di rumah tidak ada orang. Aku khawatir menjadi lupa diri nantinya. Sambil berjalan mondar-mandir aku terus berpikir, apa yang harus kulakukan.
Sejujurnya, rasa rindu pada Pras begitu besar. Beberapa minggu tidak bertemu membuat akal sehatku seolah menghilang. Aku ingin sekali bertemu, tapi kesadaranku masih bekerja dengan baik. Akan tetapi pada akhirnya, perasaan rindulah yang menang dan kuputuskan untuk menerima Pras. Untuk menghilangkan rasa berdosa, aku berdalih bahwa kami hanya akan berbincang-bincang sebentar.
Sambil menunggu Pras, aku segera mandi dan berdandan supaya tidak terlihat pucat. Kupilih gamis ungu muda dengan jilbab warna gradasi. Rasa gelisah menyergap, seolah menanti pujaan hati. Hati kecilku mengingatkan lagi kalau perbuatanku salah, tapi kembali akal sehatku kalah oleh emosi dan cinta yang menguasai hati. Saat ini yang ingin kurasakan hanya bahagia. Hatiku seolah tertutup, sehingga tidak mendengar nasihat Ibu dan Marisa. Semua kuanggap angin lalu.
Satu jam kemudian Pras tiba di rumah. Rinduku begitu membuncah. Pesona seorang Prasetya benar-benar membuatku lupa diri. Kami lalu berbincang hangat sambil sesekali saling menatap. Aku lupa akan sakitku. Tubuhku mendadak sembuh dan sehat seperti biasa. Begitu kuat pengaruh cinta pada seorang perempuan. Aku juga melupakan sejenak persoalan rumah tanggaku.
Pras banyak bercerita soal Safira dan bagaimana ia akhirnya bisa mencintai gadis pilihan ibunya itu.
Aku akhirnya belajar untuk mencintai Safira, Mir. Ia perempuan yang salihah, penurut dan tidak pernah membantah apa kata suami. Safira juga pintar memasak dan mengurus rumah. Ia juga tidak pernah protes soal uang. Aku memang tidak pernah memberikan gajiku padanya. Aku hanya memberikan jatah untuk hidup sebulan, selebihnya tetap aku pegang. Aku tidak mau ia boros menghabiskan uang untuk hal yang tidak perlu.
Aku tertegun. Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak nyaman karena teringat Mas Bayu yang selalu memberikan seluruh gajinya untuk aku kelola. Aku memberikan seperlunya untuk suamiku.
Kok, gaji kamu yang pegang, Pras? Kasihan istrimu kalau tiba-tiba dia butuh uang. Jatah yang kamu kasih kan untuk masak, untuk Safira sendiri kamu kasih nggak? tanyaku kurang senang. Safira nggak protes?
Lho, Safira nggak pernah minta macam-macam, kok. Semuanya kan udah aku sediakan di rumah. Kalau mau jalan-jalan ya sama aku, jadi untuk apa lagi ia pegang uang?
Lidahku kelu. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku jadi Safira serta kehidupan yang ia jalani. Tanpa sadar, aku jadi membandingkan Pras dan Mas Bayu. Walaupun suamiku itu tidak seromantis Pras, ia tidak pernah perhitungan dengan uang. Aku bebas belanja apa yang aku suka, bahkan Mas Bayu sesekali juga membelikan hadiah kejutan untukku. Terakhir saat ulang tahun pernikahan, ia membelikanku sebuah jam tangan mewah yang mahal harganya.
Mir, kita makan di luar, yuk? Suara Pras membuatku memandangnya.
Yuk, kamu bawa mobil, kan? sahutku datar.
Pras mengangguk.
Aku bergegas mengambil tas dan mengunci pintu.
˜Biarlah, toh aku hanya pergi untuk makan siang, tidak lebih. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.™ Aku berkata dalam hati.
Kami memilih sebuah rumah makan khas Indonesia dengan beragam menu dari berbagai daerah di tanah air. Rumah makan dengan nuansa Sunda di timur kota Jakarta. Setelah memesan makanan, kami lanjut berbincang masalah rumah tangga.
Gimana kabar suamimu, Mir? tanya Pras sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.
Lagi sibuk kerja. Mas Bayu belum menghubungiku, jadi aku juga nggak nelepon, takut ganggu. Ia bilang, kalau aku udah siap untuk bicara, datang aja ke Depok.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang penuh dengan pengunjung. Para pelayan hilir mudik mengambil pensanan dan membawa hidangan ke meja-meja. Restoran ini cukup luas dengan kursi kayu yang disusun seperti di warung. Walau sederhana, tetap tampak bersih dan terawat. Di tengah ruangan ada meja besar berisi bermacam hidangan yang siap disajikan. Pengunjung bisa memesan atau langsung mengambil di meja prasmanan.
Sebaiknya kamu selesaikan masalahmu sama Bayu, Mir. Ia suami yang baik. Bertengkar dan kecewa itu justru bisa menjadi pelajaran untuk saling mengerti.
Aku memandang Pras dengan kening berkerut. Untuk apa ia memintaku supaya berdamai dengan Mas Bayu? Bukankah ia mencintaiku? Harusnya ia senang aku akan berpisah dengan suamiku, sehingga ia bisa mendekatiku.
Kamu mau aku dan Mas Bayu baikan?
Iya, jawabnya singkat.
Kenapa? Bukannya kamu ingin kita bersama? tanyaku lirih.
Pras membisu. Ia sibuk memainkan ponsel di tangannya.
Maaf, Mir. Sejak kejadian Bayu memergoki kita pergi berdua, aku merasa bersalah. Aku tidak mau menjadi penghancur rumah tanggamu. Aku bisa merasakan hancurnya perasaan Bayu saat itu. Mata Pras menerawang.
Aku terperangah, tidak menyangka ia akan berkata seperti itu.
Maksud kamu?
Aku sengaja ketemu kamu hari ini untuk pamitan. Aku dapat tawaran kerja di luar negeri. Mungkin ini jawaban atas doa-doaku supaya Allah menjauhkan kita dari perbuatan dosa. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan dari Bayu. Aku nggak berhak ngerebut kamu, bisiknya.
Aku menahan air mata yang akan menetes. Kenapa jadi begini?
Kamu sayang sama aku, kan Pras? tanyaku bergetar.
Pras mengangguk.
Aku udah mikirin semuanya, Mir. Makanya aku lama nggak nelepon kamu. Aku ingin menguji perasaanku, ternyata aku belum juga bisa melupakan Safira. Maafkan aku, ujar Pras sambil memandangku lekat.
Hatiku seperti terbakar. Jadi apa artinya selama ini ia mendekatiku? Memberikan perhatian padaku? Selalu hadir saat aku membutuhkannya? Apakah ia hanya ingin mempermainkanku, mengulang cinta lama? Aku ingin bertanya, tapi harga diriku melarangnya. Kalau Pras sudah memutuskan untuk pergi, aku pun harus bisa melupakannya.
Selama ini rasa sayangku padamu tidak seperti dulu, aku sayang sebagai sahabat. Aku hanya ingin menghibur saat kamu sedih. Maafkan, aku baru menyadarinya ketika melihat Bayu begitu marah, imbuhnya sambil memandangku, seperti bisa membaca pikiranku.
Kami makan dalam diam. Aku kehilangan selera makan. Hatiku terlanjur sakit. Aku benci lelaki di depanku ini, tapi aku tidak mau meneteskan air mata sia-sia untuk orang seperti Pras. Apalagi setelah mendengarkan ceritanya mengenai uang. Meski sakit, tapi aku percaya ini jalan terbaik yang Allah pilihkan.
Kamu mau kerja di mana? tanyaku tenang setelah berhasil menguasai diri.
Di Jerman.
Selesai makan siang, kami bergegas pulang. Aku sengaja tidak mau membayar makanan hari itu karena setiap kali pergi bersama, Pras tidak pernah mau mengeluarkan uang. Selalu aku yang membayar. Oleh sebab itu, siang ini aku pura-pura tidak tahu dan bergegas ke luar dari restoran. Kulihat Pras berjalan ke kasir sambil melirikku.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






