Novel : Bertahan di Atas Luka Part 36

- Penulis

Sabtu, 23 November 2024 - 12:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 36

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 36

Amira Dzakiya

Aku tertegun melihat Mas Bayu berdiri di teras. Wajah tampannya terlihat lelah. Kucubit lengan untuk memastikan bahwa aku tidak bermimpi. Aku meringis. Sakit. Berarti ini nyata. Lelaki terkasih itu sedang duduk dengan memegang ponsel di tangan. Ia sedang meneleponku. Koper hitam besarnya diletakkan tak jauh dari pintu ruang tamu. Jantungku berdebar kencang, sampai aku takut Mas Bayu akan mendengar detaknya.

Mas? sapaku lirih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menatapku penuh kerinduan. Dua bulan tak bertemu membuat kami saling merindukan. Sebelum aku sadar dari rasa terkejut, Pras menyusul sambil memanggilku.

Wajah Mas Bayu berubah. Matanya tajam menatapku. Senyum manisnya menghilang berganti dengan rahang yang mengeras.

Mir, tas kamu ketinggalan! Pras mengejar dan menyusul ke teras.

Kamu pulang kok nggak ngasih tahu, Mas? tanyaku tanpa memerdulikan Pras yang terpaku di sampingku.

Mas Bayu tidak menjawab. Pandangannya beralih menatap Pras.

Apa kabar, Pras? sapanya dingin menatap Pras tajam.

Eh ¦, baik, Mas. Kamu kapan datang? tanyanya serba salah. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban karena ia pasti bisa melihat koper besar Mas Bayu.

Pantas aku dari tadi ngebel nggak ada yang bukain pintu. Nggak tahunya lagi pergi berduaan.  Pantas juga nggak mau diajak pulang ke Riyadh, ternyata urusan nggak beres-beresnya tuh ini. Ya, nggak akan selesai kalau urusan ini, sih! sindir Mas Bayu tajam.

Maaf, Mas. Rumah emang kosong karena Ibu lagi nginep di rumah Tante Yeni di Bogor. Aku barusan keluar sama Pras, ada perlu soalnya, jelasku takut-takut.  Aku benar-benar merasa sangat berdosa.

Cepat buka pintunya, biar aku bisa masuk. Kalau kalian masih ada urusan, silakan! Aku nggak akan ganggu. Mas Bayu mengambil tas tangannya dengan kasar dan menghadap pintu.

Tergesa aku meraih kunci dan berusaha membuka pintu ruang tamu dengan tangan gemetar.

Mir, aku pulang, ya? ujar Pras serba salah.  Saya permisi dulu, Mas. Nanti kapan-kapan jalan bareng, yuk, sambil ngobrol-ngobrol.

Mas Bayu melengos dan langsung masuk tanpa menghiraukan Pras.

Iya, Pras. Hati-hati di jalan! Aku membalas ucapan Pras dan mengambil tasku.

Pras segera pergi dengan tergesa-gesa.

Kenapa pulang nggak ngasih kabar, Mas? Aku mengikuti Mas Bayu ke kamar.

Kenapa? Biar kamu bisa menghindar terus dan nggak ketahuan kalau pergi sama Pras? jawabnya ketus.

Aku membisu. Kuempaskan tubuh di tempat tidur sambil terus memandangnya.

Maafin aku, kamu harus ngeliat aku jalan sama Pras, ujarku mencoba bersikap tenang.

Aku mau mandi terus istirahat, Mir! Capek baru sampai. Mas Bayu tidak mengindahkanku.  Ia membuka koper, mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.

Aku melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman. Ketika masuk sambil membawa teh manis hangat, Mas Bayu sudah duduk di tempat tidur dan mengecek ponselnya. Rambut pendeknya masih terlihat basah, aroma harum sabun menguar dari tubuhnya yang terbalut kaus putih dan celana training biru.

Mas, kalau kamu mau marah, marah aja. Aku siap. Aku meletakkan cangkir teh di meja dan duduk di sampingnya.

Mas Bayu menoleh sejenak, lalu kembali asyik dengan ponselnya.

Mas! Jangan diam kayak gini, dong! Aku tak tahan. Kuguncang tangannya supaya ia berhenti bermain HP dan bicara padaku.

Kenapa aku harus marah? Memang kamu bikin salah apa? tanyanya dingin.

Aku tadi jalan sama Pras abis dari katering, buat urusan pernikahan Sasha. Aku mencoba menjelaskan.

Kenapa bukan Sasha yang ngurus sendiri? Sama calon suaminya? Kenapa harus kamu? Kenapa juga harus berdua Pras? cecar Mas Bayu.

Aku tak kuasa menjawab. Lidahku kelu.

Kamu tahu aturannya seorang istri yang jauh dari suami? Pernah belajar agama, kan? Apa pantas seorang istri jalan berduaan sama laki-laki lain? Pertanyaan Mas Bayu benar-benar menohokku. Apa itu alasannya kenapa kamu nggak mau pulang? lanjutnya dengan nada keras.

Aku terdiam. Rasanya aku belum siap untuk berdebat sekarang. Aku masih kaget dan belum menemukan alasan yang tepat. Dadaku mulai sesak oleh rasa bersalah. Kutahan air mata agar tidak menetes.

Iya, aku salah. Memang nggak pantas seorang istri pergi berduaan dengan laki-laki lain di saat suaminya nggak ada. Aku memang istri yang nggak tahu diri! Suaminya berjuang mencari nafkah, istrinya malah bersenang-senang sendiri, aku berhenti untuk mengambil napas sambil menahan air mata, tapi aku tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama, Mas. Pras juga sangat menjaga diri, nggak pernah berbuat kurang ajar.

Mas Bayu seperti tidak mendengar kata-kataku. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

Sasha yang minta tolong aku untuk bertemu katering karena ia masih sibuk di kantor.  Nanti kalau sudah dapat menu dan harganya, ia dan Bintang akan ngurus sendiri, imbuhku pelan.

Amira ¦ Amira! Bukan soal kamu nggak berbuat macam-macam. Jalan bareng lelaki yang bukan mahram saja itu nggak benar. Masa gitu aja masih dikasih tahu? Atau kamu memang mencari pembenaran aja supaya bisa pergi berduaan? sentak Mas Bayu.

Aku tak kuat lagi mendengar nada sinis suamiku.

Memang aku istri nggak benar, Mas! Kalau kamu sudah tahu itu, kenapa masih nggak mau ngelepas aku? Kenapa masih nyusul pulang ke sini? Kalau aku merasa nyaman ngobrol dan curhat sama Pras, gimana? Aku kan udah kasih kesempatan kamu supaya kita bisa saling terbuka. Aku udah bilang semua keluh kesahku, semua rasa kecewaku.  Aku juga udah ajak kamu untuk minta tolong orang ketiga. Tapi semua kamu tolak! jawabku tak kalah keras. Aku tak sanggup lagi membendung air mata yang mengalir deras. Rasanya dada ini mau pecah. Semua luka kembali berdarah.

Kamu nggak pernah mau ngerti perasaanku! Aku capek, Mas! Aku merasa berjuang sendirian, aku merasa kamu nggak pernah benar-benar cinta dan sayang padaku! jeritku putus asa. Memang aku salah karena cerita ke laki-laki lain, tapi aku butuh orang untuk mengeluarkan semua rasa kecewaku. Dan Pras mau mendengarkan tanpa menghakimi, tanpa mengatakan kalau aku terlalu sensitif dan berlebihan.

Mas Bayu akhirnya meletakkan ponselnya di nakas. Wajahnya mengeras.

Jadi sekarang kamu nyalahin aku? Semua salahku? Kamu lupa gimana kerasnya aku berusaha untuk berubah demi kamu? Demi pernikahan kita? Kamu lupa? sentak Mas Bayu keras. Terus karena kecewa, kamu boleh pergi dan curhat ke lelaki lain? Kenapa nggak cerita semuanya ke aku? cecarnya sambil menatapku tajam.

Aku masih terisak. Entah kenapa, aku merasa menjadi manusia yang paling kotor dan hina.

Jangan-jangan kamu gencar banget minta pisah karena ada Pras? Kamu udah lama menjalin hubungan sama dia? Iya, Amira? Jawab!

Kamu jahat, Mas! Tega banget nuduh aku kayak gitu! Selama ini kan aku sama kamu di Riyadh, baru pulang saat menjelang puasa.  Aku baru ketemu Pras saat di rumah Marisa, lebaran kemarin. Gimana bisa kamu nuduh aku kayak gitu?

Aku tersedu. Sakit sekali rasanya dituduh oleh suami sendiri. Salahku memang, kenapa harus ada rasa cinta terhadap Pras, seperti cintaku pada Mas Bayu.  Bagaimana bisa aku mencintai dua orang lelaki sekaligus?

Sudah, Mir! Aku mau salat Magrib dulu. Kamu juga salat, deh! Minta ampun sama Allah kalau hati kamu udah ada niat-niat yang nggak benar.  Kita masih suami istri. Kamu masih istriku. Jadi tolong jaga diri kamu sebagai seorang istri. Kamu kan yang selalu gencar ingin saling terbuka dan bicara? Kamu yang minta aku berubah?

Aku menyeka air mata dengan kasar.

Aku nggak akan kayak gini kalau Mas lebih peka sebagai suami! kataku geram.

Setelah itu aku berlalu untuk berwudu dan salat di kamar Ibu.

Tangisku berlanjut saat aku bersujud dan mengadukan semuanya pada Allah. Kulantunkan doa dalam isakan lirih. Aku memang salah. Harusnya aku bisa menjaga diri, menolak pesona seorang Prasetya. Aku lemah. Ya Allah, ampuni aku. Tolong bantu aku keluar dari masalah ini.

Pikiranku mengembara, teringat saat aku mulai tertarik lagi pada Pras, saat aku memutuskan untuk tidak pulang ke Riyadh dan  mendengar suara kecewa Mas Bayu di telepon.  Semuanya terekam dalam ingatan seperti sebuah adegan film yang diputar kembali.

Kamu kenapa, Mir? Kok kayak gelisah gitu? Pras menegurku ketika kami jalan berdua untuk yang kesekian kalinya.

Kali ini kami berada di sebuah bookcafe di daerah Tebet. Kami sengaja memilih tempat ini karena suasana kafe yang nyaman, perpaduan restoran dan perpustakaan. Jadi pengunjung dan pecinta buku bisa menikmati hidangan sambil membaca berbagai novel maupun buku-buku pengetahuan yang lain. Kursi dan meja dari kayu disusun dengan rapi. Beberapa lemari penuh dengan aneka buku berdiri di setiap ruangan.

Kami memilih duduk dekat sebuah rak buku besar berisi koleksi novel karya penulis-penulis dalam dan luar negeri.

Mir? Pras kembali menegurku.

Aku mengangkat wajah dan menatap wajah tampan di depanku.

Aku nggak apa-apa, kok. Cuman bingung aja, Mas Bayu udah nanyain terus kapan aku pulang ke Riyadh, jawabku pelan.

Lho, ya wajar Bayu nanyain kamu. Dia pasti bingung sendirian di sana. Kok bingung? tanyanya heran.

Aku tak menjawab. Hatiku sedang menimbang apakah pantas aku menceritakan masalah rumah tangga pada lelaki lain? Aku ingin sekali membagi beban di hati ini pada orang yang mau mendengarkan tanpa harus menghakimi. Aku butuh teman yang bisa mengerti. Sebetulnya Marisa sangat baik, tapi aku kadang tidak terima kalau ia menyalahkan sikapku. Sementara itu, aku juga tidak mungkin cerita ke Ibu atau si kembar karena pasti mereka juga akan menyalahkanku.

Aku ingin sekali berbagi dengan Pras, akan tetapi hatiku masih ragu. Namun, akhirnya kuputuskan untuk bercerita sedikit tentang masalahku dan Mas Bayu. Aku berharap, Pras bisa memberikan pandangan lain karena sebagai lelaki ia bisa merasakan berada di sisi Mas Bayu.

Aku mau cerita sama kamu, tapi malu, Pras. Aku malu, soalnya ini masalah rumah tanggaku, ujarku ragu-ragu.

Pras memandangku dengan serius, siap mendengarkan apa yang akan kusampaikan.

Sebetulnya, rumah tanggaku dan Mas Bayu sedang tidak baik-baik saja. Hubungan kami sedang diuji. Meskipun terlihat harmonis, aku sudah lama memendam rasa kecewa. Ada sesuatu yang membuat kami selalu bertengkar. Sifat Mas Bayu yang tertutup dan kurang peka terhadapku merupakan salah satu sebab renggangnya hubungan kami.

Aku mulai bercerita sambil mengambil sebuah novel dari lemari kaca. Novel yang bercerita tentang sepasang suami istri yang memilih berpisah setelah menikah selama duapuluh tahun. Aku tersentak karean merasa isi novel itu hampir sama dengan apa yang kualami.

Bukannya dalam sebuah pernikahan, pertengkaran itu wajar dan biasa terjadi? tanya Pras sambil melihat menu di meja.

Memang, tapi kalau masalahnya nggak selesai-selesai karena gengsi untuk mengaku salah, gimana?

Harus ada yang ngalah, Mir! Kalau ego lelaki itu biasanya memang selalu merasa benar. Karena kalau mengaku salah, ia akan dianggap lemah. Dan lelaki nggak akan mau dianggap lemah, ujar Pras. Entah kenapa, mendengar kalimat Pras darahku seperti naik sampai ke ubun-ubun.

Jadi maksud kamu, aku harus ngalah? tanyaku sewot.

Ngalah belum tentu salah, tapi demi menjaga keutuhan rumah tangga. Kamu masih cinta, kan sama Bayu? Tiba-tiba Pras menanyakan sesuatu yang sangat sensitif.

Aku tak kuasa menjawab.

Pras memandangku dengan tatapan aneh.

Aku segera menunduk, pura-pura membuka lembaran demi lembaran novel di tangan. Untunglah saat itu pelayan datang untuk mencatat pesanan kami, sehingga untuk sementara aku bisa mengatur napas dan mencari jawaban.

Aku masih mencintai Mas Bayu. Kuteguk jus jeruk di depanku.  Rasa segar jeruk asli dingin mengalir di kerongkongan menimbulkan suasana sejuk dan tenang.

Nah, apalagi kamu masih mencintai suamimu. Ngalah aja, Mir! Jangan sampai kamu nyesal kalau orang yang kamu cintai pergi meninggalkanmu, kata Pras lirih.

Aku memandangnya dengan iba. Pasti ia teringat Safira.

Kamu sangat mencintai Safira, ya? tanyaku lembut.

Pras mengangguk. Sama seperti saat aku mencintaimu dulu, sebelum menikah dengan Safira.

Rasa hangat menjalar di wajahku.

Jangan mulai, Pras. Aku udah cukup pusing mikirin masalah rumah tanggaku, gerutuku pelan.

Lho, aku berkata yang sebenarnya. Kalau saja bukan karena memikirkan baktiku pada Bunda, aku sudah menikahimu, ucap Pras serius. Kecantikanmu nggak akan pernah luntur di mataku, Mir!

Kata-kata Pras membuatku terasa melayang ke langit ketujuh. Seumur hidup, aku belum pernah mendapatkan pujian seperti ini dari Mas Bayu, padahal aku sudah berusaha keras untuk tampil cantik di hadapannya. Kalau aku tanya, ia selalu menjawab, ˜Kalau kamu nggak cantik, aku nggak akan menikahimu.™

Aku memandang sosok lelaki di depanku yang terlihat serius membuka sebuah buku tebal berbahasa Inggris. Kemeja putih bergaris hitam dengan celana hitam tampak serasi di tubuhnya yang tegap. Rambut pendeknya tersisir rapi. Alis yang indah melindungi mata sipitnya. Sungguh, sebuah pemandangan yang indah. Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya dan memandangku. Melihat aku salah tingkah, Pras tersenyum lebar.

Kenapa, Mir? tanyanya lembut, tapi sanggup membuat jantungku berdebar lebih kencang. Apakah aku jatuh cinta?

-bersambung-

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Polres Barru bersama Badan Pangan Nasional, Bulog, pemerintah daerah, TNI, dan stakeholder terkait mengecek kualitas serta kuantitas.

Internasional

Beras Bantuan di Gudang Bulog Dicek, Ini yang Dipastikan Polisi

Selasa, 18 Agu 2026 - 15:14 WIB