Novel: A Way to Find You (Part 32)

- Penulis

Senin, 2 Desember 2024 - 09:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Novel: A Way to Find You (Part 22)

Sebelumnya: A Way to Find You (Part 31)

***

Novel: A Way to Find You (Part 32)

BAB 32

Mana, Bun? Coba lihat! Giska langsung mengubah mode panggilan menjadi video call.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hesti memperlihatkan gelang merah di tangannya. Ini, kan?

Begitu melihat wujud gelang tersebut, satu ingatan menghantam kepala Giska. Ia pernah melihat gelang merah itu, bahkan memegangnya! Ia sempat mengembalikannya saat benda itu terjatuh di depan toilet basecamp. Mungkin, saat itulah Putri Sriwati menaruh gelang tadi ke dalam carrier Bima. Bima sendiri pasti tidak sadar.

Iya, bener, Bun. Tolong bawain ke sini sekarang, ya, mumpung masih ada Jeng Asih. Aku pesenin ojek mobil abis ini.

Setelah telepon ditutup, Giska bertanya pada Asih, Harus kita apakan gelang itu, Jeng?

Tali jiwo itu harus kita hancurkan agar ikatan antara Putri Sriwati dan Mas Bima terputus. Tapi, sebelumnya, kita akan manfaatkan momen penghancuran itu sebagai pengalih perhatian.

Asih perlahan menjelaskan rencana dari Ki Suko. Namun, untuk melaksanakan rencana tersebut, Giska harus kembali ke Sumbing. Sebenarnya, bisa aja kita bawa Mbak Giska dari sini. Tapi, terlalu jauh. Energi Mbak bisa habis duluan begitu sampai di sana. Lebih baik, Mbak datang ke Sumbing lagi biar lebih deket. Nggak harus naik, cukup sampai di kaki gunungnya aja.

Sampai di basecamp, gitu, ya?

Iya, betul. Nanti dari sana, Mbak ketemuan lagi sama Ki Suko di alam gaib.

Giska tidak perlu berpikir dua kali. Ia langsung mencari tiket transportasi yang bisa membawanya sampai ke Wonosobo lagi. Padahal, baru tadi pagi ia sampai di rumah. Namun, Giska tidak peduli. Ia ingin secepatnya membereskan semua ini.

Masalahnya, tidak banyak pilihan yang bisa ia akses untuk menuju kabupaten tersebut. Opsinya hanya bus atau travel. Kalau kereta, Giska harus turun di kota sebelah karena di Wonosobo belum tersedia stasiun. Begitu pula dengan pesawat.

Akhirnya, Giska mencoba menghubungi beberapa agen travel dan menanyakan ketersediaan tiket paling cepat. Ia beruntung. Ada satu agen yang bersedia menjual tiket dadakan padanya. Giska bisa berangkat malam ini juga. Kali ini, ia harus berhasil membawa Bima pulang!

***

Ki Suko berdiri menunggu kedatangan Giska. Pertemuannya dengan Putri Indrawati tempo hari telah membukakan jalan bagi mereka untuk menyelamatkan Bima. Mungkin, ini adalah salah satu bentuk pertolongan dari Sang Maha Kuasa bagi para hambanya yang tengah berputus asa.

Mbah Wiro berjalan mengelilingi lelaki tua itu dengan sikap waspada. Ki Suko tahu, para penghuni di gunung ini sedang dalam kondisi gelisah. Sang putri yang berkuasa di sini seolah sudah memberi mereka komando. Setiap makhluk itu mengawasi gerak-gerik Ki Suko dari jarak yang terjaga. Mereka seperti siap menyerang kapan saja.

Mereka tahu kita akan datang, ucap Mbah Wiro dengan geraman rendah. Kalau berani macam-macam, akan kumakan mereka semua.

Jangan khawatir, sahut Ki Suko tenang. Kita punya bala bantuan.

Tak lama kemudian, Ki Suko merasakan kehadiran Giska. Perempuan muda itu muncul tidak jauh di depannya. Giska sejenak terlihat linglung, tapi begitu melihat Ki Suko, ia langsung berlari menghampiri.

Kamu bawa gelangnya, Nduk? tanya Ki Suko.

Giska menyerahkan benda dalam genggamannya. Ini, Ki. Ia lalu melihat ke sekeliling. Saat ini, mereka berdiri di sebuah lapangan yang cukup luas dan terbuka. Basecamp dan juga pedesaan yang seharusnya ada di tempat ini sekarang tidak tampak sama sekali.

Asih udah jelasin ke kamu soal rencana nanti?

Udah, Ki. Giska mengangguk.

Tepat saat itu, terdengar suara gemerincing lonceng dari kejauhan dan juga tapak sepatu kuda. Sebuah kereta kencana berwarna putih berkilau muncul entah dari mana, kemudian berhenti di depan mereka. Putri Indrawati turun dari dalam kereta.

Giska terkejut melihat betapa miripnya putri tersebut dengan Putri Sriwati. Yang membedakan hanya kedua matanya yang lebih sipit dari sang adik, dan ada tahi lalat kecil di ujung hidungnya. Ki Suko menyapa sang putri dengan sikap hormat.

Jadi ini, istri dari lelaki yang dibawa oleh adikku? Tatapan Putri Indrawati jatuh pada Giska. Sikap dan tutur katanya penuh wibawa.

Giska dan Ki Suko mengangguk bersamaan. Tolong, bantu saya melepaskan Mas Bima dari Putri Sriwati, pinta Giska lirih.

Aku akan membantumu. Sriwati tidak berhak mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Dia juga tidak seharusnya mengganggu keseimbangan hidup antara manusia dan kaum kami, ujar Putri Indrawati.

Ki Suko berbalik menghadap ke arah Giska. Nduk, sesuai rencana, kamu pergi ke istana bersama Kanjeng Putri. Jemput suamimu. Kalian akan aman selama bersama beliau. Aki dan Mbah Wiro akan mancing Putri Sriwati pakai ini. Si kakek mengacungkan gelang merah di tangannya.

Giska mengangguk. Ki Suko menepuk sebelah pundaknya dan berkata pelan, Jangan putus berdoa sama Yang Kuasa. Tanpa pertolongan-Nya, usaha kita akan sia-sia.

Setelah itu, Ki Suko berjalan mundur agak menjauh. Dalam satu tarikan keras, ia memutuskan gelang tadi, kemudian mengumpulkan butiran-butiran batu delima dalam genggamannya. Pergi, perintahnya pada Giska.

Masuklah. Sriwati akan datang ke sini tidak lama lagi. Putri Indrawati mempersilakan Giska naik ke kereta kencananya.

Giska membaca doa dalam hati sebelum naik. Tidak lupa, ia juga mendoakan keselamatan Ki Suko. Kereta mulai berjalan dengan sendirinya setelah Putri Indrawati naik. Keduanya kini duduk berhadapan. Giska tidak tahu harus bersikap bagaimana. Kehadiran Putri Indrawati begitu mendominasi. Ia merasakan pancaran aura yang kuat dari wanita yang duduk di depannya itu.

Kamu tahu kenapa Sriwati mengincar suamimu? tanya Putri Indrawati tiba-tiba.

Giska mendongak kaget, tidak menyangka Putri Indrawati akan menanyakan hal tersebut. Kemarin, Putri Sriwati sempat menyinggung soal Mas Bima yang merasa kesepian, jawab Giska.

Benar. Suamimu waktu itu datang ke Sumbing dalam keadaan kosong. Sriwati melihatnya sebagai kesempatan. Dia memang mudah tertarik pada manusia, khususnya lelaki, yang datang ke wilayah kekuasaannya, tutur Putri Indrawati. Manusia yang sedang merasa sedih, kesepian, kecewa, atau perasaan-perasaan negatif lainnya akan lebih mudah terserap energinya oleh bangsa kami. Mereka akan lebih mudah kami pengaruhi. Mungkin, itu yang terjadi pada suamimu waktu itu.

Giska membisu. Perasaan bersalah kembali mendera hatinya. Jadi, memang benar semua ini adalah kesalahannya. Andai ia tidak membiarkan Bima mendaki tanpa dirinya, andai ia mau ikut menemani lelaki itu sekali saja, permasalahan ini tidak akan terjadi. Semuanya menjadi kacau gara-gara keegoisannya.

Kita akan segera sampai. Bersiaplah, kata Putri Indrawati setelah beberapa detik mereka terdiam.

Giska melongok keluar jendela. Istana Putri Sriwati sudah terlihat di depan. Kereta yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu gerbang. Kedua pengawal yang berjaga di sana menundukkan kepala dengan hormat begitu melihat siapa pemilik kereta kencana tersebut. Pintu gerbang langsung terbuka tanpa banyak kata.

Kenapa Putri tidak membawa pengawal satu pun? tanya Giska penasaran saat kereta bergerak memasuki gerbang.

Putri Indrawati tersenyum. Untuk apa? Aku datang ke sini bukan untuk memerangi adikku sendiri.

Kereta kembali berhenti, kali ini tepat di depan istana. Keduanya pun turun. Masuklah, jemput suamimu. Dia ada di menara tertinggi di ujung langit utara. Melihat Giska yang sedikit ragu, Putri Indrawati melanjutkan, Jangan takut. Semua pengawal di istana ikut bersama adikku ke tempat Ki Suko. Aku akan menuntunmu dari sini.

Giska mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Ia pun segera berlari masuk ke dalam istana. Lewat bisikan-bisikan Putri Indrawati yang seolah muncul dalam kepalanya, Giska menyusuri lorong-lorong di dalam bangunan tersebut. Anak tangga demi anak tangga ia daki tanpa lelah. Hingga akhirnya, tibalah ia di atas sebuah menara.

Pintu kayu raksasa membatasi satu-satunya ruangan yang ada di puncak menara tersebut. Giska mencoba membukanya, dan ternyata tidak terkunci. Sekuat tenaga, ia mendorong daun pintu itu.

Giska? Bima, yang tengah duduk di tepi tempat tidur, tersentak kaget melihat kemunculan sang istri.

Mas! Giska menangis penuh rasa syukur melihat suaminya baik-baik saja. Sama seperti kemarin, ia berlari dan langsung memeluk lelaki itu.

Tapi, kamu ¦ kamu ngapain balik ke sini, Gis? Bahaya! Bima melepaskan pelukan mereka dan menahan kedua bahu Giska. Gis, dengerin aku. Kalau sampai Putri Sriwati

Putri Sriwati lagi pergi, Mas. Pengawal-pengawalnya juga nggak ada. Kita harus segera keluar dari sini. Ayo! Tanpa sempat menjelaskan lebih lanjut, Giska menarik tangan Bima. Bima yang kebingungan pun mengikuti istrinya berlari menuruni menara.

Rupanya, benar kata Giska. Istana sedang dalam keadaan sepi. Tidak ada penjaga-penjaga bertubuh raksasa yang biasanya Bima lihat berkeliaran ke sana kemari. Sesampainya di pintu utama, Bima terlonjak kaget.

Tenang, Mas. Beliau bukan Putri Sriwati. Giska menahan tangan Bima yang sudah akan berlari. Ia lalu mengenalkan Putri Indrawati pada sang suami.

Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Tapi, sekarang, kita harus cepat. Aku merasakan energi Ki Suko semakin lemah, kata Putri Indrawati.

Giska terkesiap. Ia sejenak lupa soal Ki Suko yang tengah berjuang mati-matian mengalihkan Putri Sriwati. Ketiganya pun naik ke kereta kencana milik sang putri. Kereta melaju cepat seperti terbang di udara. Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan. Giska hanya menggenggam erat tangan sang suami sambil berdoa agar semuanya baik-baik saja.

Suara ledakan mengagetkan mereka. Bima dan Giska spontan menoleh keluar jendela. Kereta mulai melambat dan berhenti di sebuah area yang cukup terbuka. Putri Indrawati turun terlebih dahulu, disusul oleh pasangan suami istri itu.

Apa ini? desis Bima tak percaya.

Di tengah lapangan berumput tempat mereka berkumpul tadi, Ki Suko duduk bersila sambil memejamkan mata. Kedua tangannya bersatu di depan dada. Tubuhnya diselimuti oleh sebuah lingkaran putih tipis seperti perisai. Sementara itu, Mbah Wiro bergerak liar ke sana kemari menyerang siapa saja yang mendekati Ki Suko. Harimau putih itu tampak lebih besar dari yang Giska ingat terakhir kali.

Di tepi lapangan, Putri Sriwati mengerahkan pasukannya tanpa henti. Tatapannya bengis. Begitu ia menyadari kedatangan Putri Indrawati, kedua matanya membelalak. Mbakyu, bisiknya kaget.

Hentikan ini semua Sriwati! perintah Putri Indrawati tegas. Jangan menyalahi apa yang Sang Penguasa berikan untukmu! Elingo (ingatlah), kita ada di sini untuk menjaga, bukan merusak.

Tatapan Putri Sriwati kembali berubah saat ia melihat Bima berdiri di sebelah Giska. Kamu! geramnya seketika. Ia tidak mengindahkan peringatan dari kakaknya. Berani-beraninya kamu mengambil lelaki itu dariku!

Giska menarik mundur sang suami ke belakang tubuhnya. Dia bukan milikmu! seru Giska tanpa takut. Kamu yang mengambilnya dariku!

Tepat saat itu, terdengar suara ledakan, persis seperti tadi. Sumber suaranya berasal dari Ki Suko. Semua yang ada di sana kontan menoleh ke arah si kakek. Ki Suko jatuh tersungkur di atas tanah.

Aki! jerit Giska. Mengikuti instingnya, perempuan itu berlari ke tengah lapangan. Ia bahkan tidak mendengar teriakan Bima.

Dengan perlindungan dari Mbah Wiro, Giska berhasil mencapai Ki Suko yang tergeletak tak berdaya. Bima menyusul tepat di belakangnya. Kurang satu, ucap si kakek sambil menunjukkan batu delima terakhir di tangannya. Ia terbatuk-batuk sebentar. Semua harus dihancurkan, agar ikatan antara Putri Sriwati dan suamimu bisa terputus sepenuhnya.

Apa yang harus kami lakukan, Ki? tanya Giska panik.

Sini, Nang, dengerin Aki, panggil Ki Suko pada Bima. Bima mendekatkan diri kepada si kakek. Kamu sendiri yang harus menghancurkannya. Injak batu ini kuat-kuat. Akan kuberi energi terakhir dariku untuk membantu.

Giska mengambil batu di tangan Ki Suko dan meletakkannya di tanah. Mereka tidak punya banyak waktu. Para pengawal Putri Sriwati masih menyerang dari berbagai arah. Mbah Wiro mulai kewalahan melindungi mereka bertiga.

Bima menghitung dalam hati, kemudian menginjak batu merah itu kuat-kuat menggunakan kaki kanannya. Dengan bantuan Ki Suko, butiran batu yang seharusnya keras dan kokoh itu langsung hancur lebur. Suara ledakan terdengar dari bawah kakinya. Di detik berikutnya, Ki Suko mendadak berseru, Asih!

***

Selanjutnya: A Way to Find You (Tamat)

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Penulis : Eenroos

Editor : Redaksiku

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Pendidikan

5 Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:50 WIB

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Hiburan

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:34 WIB