Seluruh tubuh Amora terus saja bergetar dengan dada yang semakin terasa sesak, ditambah bunyi gedoran pintu rumahnya yang masih saja berbunyi hingga menambah ketakutan Amora.
Dengan cepat Amora meraih handphone-Nya yang ada di atas meja makan, setelah itu dia langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan memilih untuk bersender di kaki meja makan.
Amora benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dia berusaha untuk meminta bantuan kepada seseorang yang bisa dia hubungi sekarang. Dan jari tangannya menekan tombol telfon di nomor Daren.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa menit kemudian telfon dari Amora dijawab oleh Daren yang saat itu juga sedang sarapan, “Iya, Ra. Kenapa?”
“Kak, Kak Daren, Kak Daren tolong” ucap Amora dengan suara yang bergetar serta nafas yang memburu.
“Ra, ada apa?, kamu kenapa?. Jawab saya, Ra” ujar Daren yang terdengar sangat panik ketika mendengar ucapan Amora di telfon barusan.
“Di depan ada badut, Kak. Dia sekarang mukul-mukul pintuu, aku takutt” jawab Amora yang hampir saja menangis.
Mendengar jawaban Amora membuat Daren yang awalnya duduk di kursi langsung berdiri dengan mata yang sedikit melotot karena terkejut, “Saya telfon Varo, Ra. Kamu tenang dulu ya, habis ini kalau ada suara Varo, kamu langsung buka, oke?”
“I-iya.”
Setelah itu Daren pun dengan terpaksa memutus telfon antara dirinya dan Amora, lalu dengan langkah panjang menuju pinggiran ruang apartemennya itu, Daren menelfon Varo.
Tanpa menunggu lama Varo langsung menjawab telfon dari Daren itu, “Why, Ren?”
“Varo, saya minta tolong. Kamu ke rumah saya sekarang, badut sialan itu ada di depan rumah saya dan sedang menakuti Amora” ucap Daren dengan menekan beberapa kata yang dia ucapkan.
“Oke, gue ke sana sekarang” ucap Varo yang lalu menutup telfon itu dan langsung meraih kunci mobilnya.
Setelah itu Daren kembali menelfon Amora, tapi ternyata panggilan pertamanya itu tidak dijawab oleh Amora. Mengetahui itu Daren semakin panik, dia takut Amora kenapa-napa karena ulah badut itu.
Daren mondar-mandir di pinggiran apartemennya yang langsung memperlihatkan pemandangan kota Singapore dari kaca besar yang menjadi tembok ruangan apartemennya itu seraya menunggu telfonnya dijawab oleh Amora.
Akhirnya setelah beberapa menit menelfon, telfon Daren pun dijawab oleh Amora, “Ra, kamu ngga papa kan?” tanya Daren.
“Kak, dada aku sesak banget” jawab Amora sembari memukul-mukul dadanya.
“Ra, terima panggilan video saya” ujar Daren yang dipatuhi oleh Amora.
Namun panggilan video itu hanya dijawab oleh Amora, sedangkan handphone-Nya masih tergeletak di lantai karena dia sibuk memukul-mukul dadanya agar sesak itu menghilang.
“Ra, tenang, Ra. Kamu jangan panik, nanti kamu semakin ngga bisa nafas” ujar Daren yang hanya bisa melihat separuh wajah Amora.
Ucapan Daren barusan tidak membuat Amora semakin tenang, justru perempuan itu semakin menguatkan pukulannya dan mulai mengerang kesakitan, samar-samar juga terdengar isakan tangis.
Mendengar suara isakan yang menandakan bahwa Amora menangis membuat Daren semakin panik, “Ra, lihat saya, Amora perlihatkan wajah kamu ke saya. Amora!”
“Apaa?!” tanya Amora setelah meraih handphone-Nya dan mengarahkan ke wajahnya sehingga Daren bisa melihat kondisinya sekarang.
“Kamu sekarang tenang, jangan nangis, nanti kamu semakin sesak. Tenang, tarik nafas perlahan. Kalau udah cukup tenang, kamu ambil minum yang ada di atas meja makan” ucap Daren dengan sangat lembut.
Melihat wajah Daren serta mendengarkan ucapan lembutnya barusan membuat Amora cukup tenang, lalu Amora pun mulai menarik nafasnya dengan pelan. Dan setelah merasa cukup tenang, Amora menghapus air matanya sebelum berdiri untuk minum agar merasa semakin tenang.
Setelah minum, Amora merasa semakin tenang. Dia pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “Udah tenang, Ra?”
Amora mengambil handphone-Nya yang tadi sempat dia letaknya di meja makan, “Udah, Kak. Makasih ya, dan maaf karena tadi ngga sengaja bentak Kak Daren.”
“Iya, Ra. Saya juga minta maaf karena tadi udah bentak kamu, saya ngga bermaksud” jawab Daren.
“Iya, Kak, ngga papa.”
“Kamu udah beneran ngga papa ‘kan?. Masih terasa sesak ngga?, atau saya suruh Varo untuk bawa kamu ke rumah sakit?” tanya Daren yang masih terlihat cukup khawatir.
Mendengar pertanyaan Daren barusan membuat Amora tersenyum, “Ngga papa, Kak. Tadi aku panik aja, makanya jadi sesak.”
Daren menghembuskan nafasnya lega ketika mendengar jawaban itu. Setelah itu terdengar suara bel yang sangat tidak asing bagi Daren dan Amora, “Varo udah datang?”
“Ngga tau, aku takut kalau badut itu lagi yang berdiri di depan pintu, Kak” jawab Amora yang kini melihat ke arah tembok yang jika tidak ada sudah memperlihatkan pintu utamanya.
“Ra, ini Varo kirim pesan ke saya. Katanya dia udah di depan, kamu buka aja ngga papa” ucap Daren yang membuat Amora semakin tenang dan lega.
Lalu dia pun beranjak dari kursi itu menuju pintu utama rumahnya, dan ternyata setelah pintu itu terbuka terlihat Varo yang berdiri dengan gagah bersama Kalvin yang juga berdiri di sampingnya.
“Halo, Kakak Ipaar, selamat pagii” ucap Kalvin yang terdengar sedikit heboh.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






