Silakan duduk, Pak Bayu. Maaf, suami saya kebetulan masih ada kelas, jadi belum pulang. Ustazah bergamis coklat tua dengan jilbab coklat susu itu menyapa ramah. Ia meletakkan sepoci teh panas dengan tiga cangkir kecil di meja.
Mas Bayu mengatupkan tangannya di depan dada lalu duduk di sofa. Aku duduk di sampingnya. Ustazah Maryam mengambil tempat di ujung, agak jauh dari kami berdua.
Baiklah. Ada yang ingin diceritakan? tanya perempuan itu sambil memandang kami bergantian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku melirik Mas Bayu.
Lelaki itu terlihat tegang. Wajahnya memerah.
Tiba-tiba ia menegakkan punggung. Saya nggak ada masalah apa-apa. Nggak ada yang perlu diceritakan, sahutnya dingin.
Mas. Kita udah sepakat untuk saling terbuka.
Kamu yang merasa ada masalah. Aku nggak!
Serba salah aku memandang Ustazah Maryam. Perempuan itu tersenyum.
Gimana kalau Mbak Amira duluan yang cerita? tanyanya memecah suasana kaku.
Selama ini aku merasa Mas Bayu nggak pernah mau mendengarkan dan mengerti aku, aku mulai bicara.
Cukup Amira Dzakiya! Kita pulang! Suamiku berdiri dengan wajah merah padam. Tanpa menunggu jawabanku, ia bergegas ke luar.
Aku bergegas mengejarnya. Lari aja terus, Mas. Lari terus dari masalah! jeritku dengan suara parau. Sampai kapan kamu mau ngakuin kalau kamu juga punya masalah? ujarku sambil terengah-engah mencoba menjejeri langkahnya.
Aku nggak bisa, Amira. Jangan paksa aku!
-bersambung-
https://redaksiku.com/tag/bertahandiataslukayasmira/
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






