Redaksiku.com – Nama peretas misterius Bjorka kembali mencuat ke permukaan dan membuat jagat maya heboh.
Setelah beberapa waktu lalu pihak kepolisian menangkap seorang pemuda berinisial WFT yang diduga berada di balik identitas Bjorka, kini muncul klaim mengejutkan. Hacker dengan nama samaran yang sama itu justru muncul kembali dan mengaku telah membocorkan data pribadi lebih dari 341 ribu anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Peristiwa ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah kabar penangkapan WFT ramai diberitakan. Melalui kanal pribadinya di internet, Bjorka mempublikasikan kumpulan data besar yang berisi informasi detail personel Polri. Aksi ini sontak menjadi topik panas di dunia maya dan memunculkan kembali perdebatan soal keamanan siber di Indonesia.
Teguh Aprianto, pendiri komunitas Ethical Hacker Indonesia sekaligus pakar keamanan siber, menjadi salah satu yang pertama kali menyoroti kebocoran tersebut. Dalam unggahan di akun X (Twitter) miliknya, Teguh menyebut data yang diunggah Bjorka berisi informasi lengkap para personel Polri, termasuk nama, pangkat, satuan tugas, lokasi penugasan, nomor ponsel, hingga alamat email pribadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal yang ditangkap itu cuma peniru, tulis Teguh di media sosialnya pada Minggu (5/10/2025).
Bjorka lalu merespons dengan merilis 341 ribu data pribadi anggota Polri, termasuk nama lengkap, pangkat, tempat bertugas, nomor HP, dan email, tambahnya.
Data Lama, Tapi Tetap Berbahaya
Meski kebocoran ini ramai dibicarakan publik, Teguh menjelaskan bahwa data yang dirilis bukanlah data baru. Menurut analisis awal, informasi yang diunggah Bjorka merupakan data lama yang dikumpulkan sekitar tahun 2016. Bahkan, sebagian besar nama dalam daftar tersebut dikabarkan sudah tidak lagi aktif sebagai anggota Polri, karena telah pensiun.
Kendati demikian, fakta bahwa data internal kepolisian bisa bocor ke publik tetap memunculkan pertanyaan besar. Banyak pihak menilai, apa yang dilakukan Bjorka bukan sekadar serangan acak, melainkan bentuk kritik terhadap lemahnya sistem keamanan digital institusi pemerintahan.
Dugaan Motif dan Pesan di Balik Aksi Bjorka
Sejak kemunculannya beberapa tahun lalu, Bjorka dikenal sering membocorkan data penting milik lembaga-lembaga negara. Ia kerap memposisikan dirinya sebagai sosok pengingat bagi pemerintah agar lebih serius melindungi data publik. Namun, motif sebenarnya masih menjadi misteri.
Aksi terbarunya terhadap Polri diduga menjadi bentuk reaksi terhadap penangkapan WFT. Publik menduga, peretas ini ingin menegaskan bahwa dirinya masih bebas dan bukanlah orang yang telah ditangkap polisi. Dengan membocorkan data dalam skala besar, Bjorka seolah ingin menunjukkan eksistensinya sekaligus membalas tindakan aparat.
Sejumlah pengamat keamanan siber menyebut aksi seperti ini sebagai bentuk hacktivism peretasan yang dilakukan untuk menyampaikan pesan politik atau sosial. Dalam kasus Bjorka, pesannya tampak jelas: sistem keamanan data pemerintah dinilai terlalu mudah ditembus.
Dampak dan Kekhawatiran yang Muncul
Kebocoran data ini tentu menimbulkan kekhawatiran besar, terutama di kalangan aparat kepolisian. Informasi pribadi seperti nomor ponsel, alamat email, dan lokasi tugas bisa disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Pakar hukum siber menilai, data seperti ini bisa berpotensi digunakan untuk penipuan, pemerasan, atau bahkan ancaman keamanan terhadap individu yang tercantum di dalamnya. Meskipun sebagian data disebut sudah usang, publik tetap menilai pemerintah harus bergerak cepat memperkuat sistem perlindungan data nasional.
Selain itu, kebocoran ini juga menyoroti lemahnya koordinasi antar lembaga dalam menjaga kerahasiaan data sensitif. Jika benar data yang bocor berasal dari sistem internal lama, berarti masih ada celah yang belum tertutup, dan kemungkinan peretasan ulang di masa depan tetap terbuka.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.