Redaksiku.com – Bank Indonesia (BI) resmi memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,25%, setelah sebelumnya tingkat deposito dan kredit fasilitas juga diturunkan masing-masing menjadi 4,5% dan 6%.
Langkah ini dilakukan pada Rabu, 16 Juli 2025, sebagai respons terhadap penurunan tarif impor AS untuk produk-produk Indonesia dari 32% menjadi 19%.
Dinamika Pasar & Data Harian
| Indikator | Pergerakan |
|---|---|
| IHSG | 7.192 (+0,72%) |
| Rupiah (USD/IDR) | 16.278 (+0,11%) |
| Minyak (Oil) | $68,5 (-0,25%) |
| Batubara (Coal) | $112,1 (-1,75%) |
| CPO | 4.188 (+1,01%) |
| Nikel | 15.146 (+0,54%) |
Dalam konteks ini, IHSG menguat +0,72% ke level 7.192 dipicu oleh lonjakan saham Blue-Chip seperti DCII (+19,99%) dan DSSA (+3,86%), sementara rupiah cenderung melemah tipis -0,11%.
Alasan BI Turunkan Suku Bunga
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan sejumlah pertimbangan utama:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
-
Inflasi terkendali: Proyeksi inflasi dan inflasi inti dua tahun ke depan tetap di bawah berdasar batas tengah target range (±¯2,5%).
-
Stabilitas rupiah: Nilai tukar rupiah terjaga meski melemah tipis terhadap dolar.
-
Dorongan ekonomi: Dengan bunga lebih rendah, diharapkan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan berada di kisaran +4,65,4% YoY sejalan pemangkasan dua kali dari sebelumnya.
Hingga semester pertama 2025, pertumbuhan kredit hanya +7,77% YoYterlemah sejak Juni 2023 dan di bawah target +811% YoY. Namun BI optimistis sisa tahun akan membaik: penurunan tarif impor AS dan kondisi moneter relaksasi akan meningkatkan keyakinan dunia usaha.
Trump Turunkan Tarif: Game Changer Bagi Ekonomi RI
Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan pengurangan tarif impor untuk produk-produk Indonesia dari 32% menjadi 19%, plus komitmen impor :
-
Energi US$ 15 miliar
-
Produk pertanian US$ 4,5 miliar
-
50 unit pesawat Boeing
AS juga menambahkan klausul preventif: tarif tambahan diberlakukan jika barang di-transshipment dari negara ber-tarif tinggi. Penurunan tarif ini memberi kepercayaan semangat bagi BI untuk menurunkan suku bunga sebagai instrumen relaksasi ekonomi.
Reaksi Market & Kendala Investor
Masyarakat investor menilai koreksi BI Rate dengan hati-hati. IHSG sempat naik karena beberapa saham spesifik, tapi pasar infrastructure/rate-sensitive belum bereaksi signifikan. Yield obligasi tenor 10 tahun flat di 6,573%, menunjukkan pasar menunggu paket lengkap kesepakatan RI-AS.
Selain itu, investor asing masih menilai perlu ada akses pasar lebih konkretterutama timeline, kuota impor, dan skema tarif jangka panjangsebagai imbal balik nyata atas penurunan tarif tersebut.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






