Seperti malam-malam sebelumnya jika kami bertemu, Ika akan memberikan semua yang aku minta tanpa menolak. Sepanjang malam yang penuh gairah, aku tenggelam dalam lautan kenikmatan bersama Ika. Suara desahan manja Ika sepanjang pertempuran kami, membuatku makin bersemangat layaknya prajurit yang siap bertempur di medan perang. Tidak peduli apa pun, seorang prajurit tidak akan surut langkahnya sampai pertempuran diakhiri dengan kemenangan.
Aku semakin terjebak dalam pesona Ika. Aku tidak peduli berapa banyak uang yang aku habiskan untuk menyenangkan hati Ika. Memberikan hadiah-hadiah mahal dan memberinya uang tunai berapa pun yang dia minta tanpa bertanya untuk apa. Semua itu aku lakukan hanya demi mendapatkan Ika, sang primadona. Aku sangat yakin hubungan kami telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius, meskipun banyak orang yang meragukan niat Ika mendekatiku.
“Ini buat kamu, Sayang. Kamu pantas dapat yang terbaik.” Kusodorkan sebuah kotak panjang berlapis bludru warna merah tua kepada Ika sebelum aku pulang ke rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Terima kasih banyak, Juragan Adi!” Ika sangat bahagia menerima hadiah dariku dan segera membuka kotaknya. Mata Ika berbinar saat melihat gelang emas besar yang berkilau di dalam kotak tersebut.
Ini untuk Ika, Juragan? Hampir tidak berkedip Ika memandang gelang emas pemberianku.
Aku mengangguk dengan senyum bangga melihat kebahagiaan pujaan hatiku itu.
Itu hadiah karena semalaman kamu sudah membuatku menikmati surga. Kucubit hidung mancung Ika dengan lembut dan mengecup bibirnya berkali-kali sampai Ika mengingatkanku sudah waktunya pulang.
Suara ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunanku.
Pak, ini minumnya. Nana masuk kamar sambil membawa baki. Dia meletakkan mug khusus untukku di nakas kecil sebelah ranjang.
Aku berpura-pura tertidur dan berharap perempuan kumal itu segera keluar kamar. Sejujurnya, Nana dulu sangat cantik dan menarik. Aku tidak tahu kapan tepatnya dia berubah menjadi kumal dan bau. Kecantikan Nana yang pernah membuatku nekad melamarnya walau ibu dan keluargaku tidak setuju, kini sudah hilang dan nyaris tidak berbekas. Sekarang hanya tinggal perempuan kampung yang kumal dan bau pesing hingga membuatku kehilangan gairah jika berada di dekatnya.
Aku semakin menjauh dari istri dan anak-anakku. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Hubungan kami yang dulu hangat dan penuh cinta kini menjadi dingin dan hambar. Anak-anak sudah tidak menjadi prioritasku lagi. Bagiku kini, semua hanya untuk Ika Zuleha.
Meskipun untuk memenuhi semua keinginan primadonaku itu aku harus menguras tabungan pribadi dan juga keuangan pabrik. Peringatan Nana tentang keuangan pabrik yang defisit sama sekali tidak aku hiraukan. Bagiku saat ini hanya bagaimana membuat si cantik mungil dan seksi, Ika Zuleha tunduk kepadaku.
Pak … Pak … Kemarin Juragan Pisang nagih tunggakan kalau kita enggak segera bayar ….
Bisa enggak kamu biarkan aku istirahat sebentar? potongku dengan suara keras sambil melempar bantal ke arah Nana dengan kuat.
Aku melihat tubuh istriku itu limbung dan hampir jatuh saat bantal mengenai tubuhnya.
Tapi, stok pisang sudah habis dan banyak pesanan yang belum dikirm, Pak. Nana berusaha memberitahu tentang kondisi pabrik yang sudah kosong sama sekali.
Aku bangkit dan menghampiri Nana yang menatapku agak takut. Tubuh kurus dan matanya yang cekung tidak membuatku merasa iba. Dengan kasar, kutarik lengannya dan mendorongnya keluar kamar.
Aku mau istirahat! Dasar perempuan bodoh! Tolol! Bilang sama Tarjo untuk membereskan semuanya, bentakku sambil menendang bokongnya yang sama sekali tidak berisi dan tipis seperti papan.
Pintu kamar kubanting hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan. Tidak lama, kudengar suara anak lelakiku menangis. Sedikitpun aku tidak peduli dengan tangisan anakku itu. Hatiku sudah benar-benar tidak dapat merasakan kasih sayang kepada anak-anakku sendiri. Yang aku rasakan justru kehadiran mereka adalah beban yang sangat berat yang harus kutanggung. Memberi makan, biaya sekolah, belum lagi keadaan Andi yang sering sakit dan harus periksa ke bidan.
Andai dulu aku menuruti kata Ibu agar tidak menikahi perempuan miskin itu, tentu hidupku jauh lebih baik dari sekarang. Mungkin aku akan lebih bahagia mempunyai istri seperti Ika yang cantik, seksi, dan pandai memuaskan hasratku.
Sedang asyik aku membayangkan Ika Zuleha, tiba-tiba ….
Pak … Pak … Andi, Pak. Pak …, teriak Nana panik sambil menggedor pintu kamarku.






