Novel : Choose Happiness (Part 20)

- Penulis

Jumat, 15 November 2024 - 19:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 20)

Tapi kenyataannya, Ara terus menangis dan sedih ketika Ian benar-benar pergi ke Australia meninggalkannya. Dia terus mencari-cari Ian hingga dia jatuh sakit karena terus memikirkan Ian.

“IAANN!!”

“Hah!”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini terlihat Amora yang terbangun dengan beberapa keringat di wajahnya, “Amora. Kamu kenapa?” tanya Daren yang saat itu baru saja selesai mandi.

Amora langsung memegang kepalanya, “Kenapa?, apakah sakit?” tanya Daren dengan raut wajah khawatir.

“Engga, engga papa kok. Aku hanya bermimpi” jawab Amora sembari menggelengkan kepalanya.

“Benarkah?, tapi tadi kamu berteriak dengan memanggil nama seseorang. Kamu memanggil siapa?” tanya Daren yang membuat Amora seketika terdiam.

“Aku juga tidak tahu, aku tidak mengenal siapa anak laki-laki yang ada di mimpiku barusan” jawab Amora yang terus mengingat wajah anak laki-laki yang ada di mimpinya barusan.

Melihat Amora yang terus berkeringat membuat Daren mengambil beberapa tisu untuk menghilangkan keringat Amora yang terus menetes.

Di hari itu, tepatnya di hari Minggu terlihat Amora yang sudah terlihat sangat rapi dan segar, kini perempuan itu turun untuk makan siang dengan makanan yang telah dia masak tadi sebelum mandi.

Saat itu Amora makan siang sendiri karena Daren masih mengerjakan pekerjaan di ruang kerjanya di lantai 2. Amora menikmati makan siangnya sembari menonton film di laptopnya, sungguh menyenangkan.

Tapi setelah makan siangnya itu selesai, tiba-tiba Amora kembali teringat dengan mimpinya tadi pagi. Amora pun mulai memikirkan siapa sebenarnya anak laki-laki yang ada di mimpinya tadi.

“Kira-kira anak itu siapa ya?, gue tau kalau anak perempuan itu gue, tapi gue ngga ingat sama sekali anak laki-laki itu siapa. Bahkan kejadian di mimpi tadi rasanya ngga pernah gue alami di dunia nyata” gumam Amora yang terus bertanya-tanya.

“Ian?, gue rasa gue ngga pernah punya teman namanya Ian. Apa jangan-jangan tadi itu cuma bunga tidur?, tapi kenapa rasanya nyata banget ya?”

Semua pikiran itu seketika terhenti saat suara bel rumah itu tiba-tiba berbunyi, Amora pun menghentikan laju filmnya terlebih dahulu untuk membukakan pintu bagi orang yang datang ke rumahnya itu.

Setelah Amora membuka pintu besar dan tinggi itu, tanpa permisi seorang perempuan yang sangat Amora kenal langsung masuk begitu saja melewati Amora yang belum sempat melihat wajahnya dengan jelas.

“Hehh!!, ngga sopan banget lo jadi orang” marah Amora yang langsung menyusul langkah perempuan bernama Nasyla itu.

“Lo ada hak apa tiba-tiba masuk ke rumah gue kayak gini?!” bentak Amora setelah berhasil menghentikan Nasyla di dekat tangga.

“Gue punya hak masuk di rumah ini, karena gue adalah pacarnya Daren Swan Akraryan kalau lo lupa” jawab Nasyla dengan beraninya kepada Amora.

Mendengar Amora seketika tertawa, “Pacar?, ngga ada harga dirinya banget lo jadi perempuan. Lo itu udah jadi mantan kalau lo lupa” balas Amora.

“Gue ngga peduli, yang penting sekarang gue mau nemuin pacar gue” ujar Nasyla yang lalu kembali melanjutkan untuk melangkahkan kakinya menaiki tangga rumah Daren dan Amora.

Tapi dengan cepat Amora kembali menyusul perempuan itu dan lagi-lagi menghentikannya di tengah-tengah tangga itu, “Keluar lo dari rumah gue. Rumah ini, itu atas nama gue, jadi hak gue ngatur siapa yang boleh bertamu di rumah ini.”

“Heh murahan!. Rumah ini, itu dibeli pakai uangnya Daren dan dikasih ke elo, jadi lo itu cuma dikasih pemberian bukan lo sendiri yang beli” sentak Nasyla.

“Dan lagi, lo ngga usah sok belagu di sini. Lo itu cuma dinikahin supaya Daren bisa makin bebas pacaran sama gue, lo cuma dijadiin pajangan di hidupnya Daren” ucap Nasyla dengan melotot hingga matanya seperti hampir keluar dari tempatnya.

Di lantai 2, tepatnya di ruang kerja milik Daren, terlihat Daren yang terganggu karena mendengar keributan yang seperti ada tak jauh dari ruangannya. Karena geram, Daren pun beranjak dari kursinya dan keluar dari ruangan itu.

Dengan langkah lebar Daren berjalan menuju tangga rumahnya, karena dia mendengar bahwa keributan itu berasal dari sana. Baru saja sampai di puncak anak tangga, Daren melihat Nasyla yang mendorong Amora hingga gadis itu terbentur railing tangga atau pegangan tangga.

Awalnya mereka hanya beradu mulut, tapi entah kenapa Nasyla langsung mendorong Amora hingga dahi perempuan itu terbentur pegangan tangga kemudian kakinya terkilir, Amora pun terjatuh dari tengah-tengah tangga dan berakhir tergeletak di bawah sana.

“Amora!”

Melihat kejadian yang benar-benar sangat cepat itu membuat Daren langsung berjalan dengan cepat menuruni anak tangga untuk menghampiri Amora yang tergeletak di lantai dengan dahi yang mengeluarkan darah.

Dari wajahnya sudah terlihat jelas bahwa Daren tengah sangat panik dan khawatir, dia pun menyenderkan kepala Amora di lengan tangannya. Saat itu Amora masih bisa membuka kedua matanya, namun dia tidak bisa mengeluarkan suaranya, “Ra, Amora, bertahan saya mohon.”

Dengan panik dan nada khawatir Daren terus berusaha untuk membuat Amora tetap tersadar, tapi usahanya sia-sia karena Amora kini sudah pingsan sepenuhnya. Melihat itu Daren semakin panik, dia pun langsung menggendong Amora untuk dia bawa ke rumah sakit.

Melihat Daren yang hendak pergi membuat Nasyla yang masih mematung di tengah-tengah tangga langsung menghampirinya, “Ren.”

“Jika terjadi hal yang buruk dengan Amora setelah ini, saya tidak akan pernah membiarkan kamu hidup dengan tenang” ucap Daren dengan menekan beberapa katanya, setelah itu dia berjalan pergi dari rumahnya itu.

Di sore harinya terlihat Amora yang terbaring di atas kasur rumah sakit dengan kedua matanya yang masih tertutup serta perban yang melingkar di dahi kepalanya, wajah perempuan itu terlihat sangat tenang.

Di sana juga terdapat Daren yang duduk di sofa satu orang yang memang disediakan di samping kasur yang ditiduri oleh Amora, laki-laki itu terlihat sangat frustasi.

Beberapa menit setelah itu, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah Darpa yang masih rapi dengan jas kerjanya, “Amora” laki-laki itu semakin mempercepat langkahnya ketika dari ambang pintu ruangan VVIP itu dia melihat wajah Amora.

Melihat Darpa yang datang membuat Daren langsung berdiri dari duduknya dan memberikan celah untuk Darpa melihat kondisi Amora lebih detail lagi.

“Apa yang sudah terjadi kepada putri saya?” ucap Darpa dengan suara yang sedikit bergetar seraya terus mendekatkan dirinya ke Amora.

“Maaf, ini salah saya, saya sangat memohon maaf, Tuan” jawab Daren yang berusaha terlihat tegar di depan Ayah mertuanya itu.

Tiba-tiba tanpa ada aba-aba Darpa menarik tangan Daren dan membawa laki-laki itu ke ruangan sebelah yang hanya dipisah oleh sebuah sekat tembok, di ruangan itu terdapat kasur yang dapat digunakan untuk tidur bagi orang yang menjaga pasien di ruangan VVIP itu.

Plak!

Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun Daren memalingkan wajahnya ke sebelah kanan karena tamparan dari Darpa, “Apa yang sudah kamu lakukan kepada putri saya?”

“Saya sungguh meminta maaf, saya tidak pernah membayangkan bahwa ini semua akan terjadi. Saya benar-benar menyesal karena tidak segera datang ketika Amora berdebat dengan mantan saya” jawab Daren dengan sejujur-jujurnya.

“Mantan?”

“Iya, jadi sebenarnya…”

Daren mulai menceritakan siapa orang yang dia maksud, perempuan itu adalah Nasyla. Dia memberitahukan semuanya tentang perempuan itu bahkan hal yang sampai sekarang belum diketahui oleh Amora.

“Mulai sekarang kamu tidak perlu menyembunyikan itu lagi, karena itu juga salah satu alasan kenapa saya menjodohkan kamu dengan Amora. Karena saya tahu bahwa kamu pasti bisa menjaga putri saya.”

“Dan jangan sampai perempuan itu melukai Amora untuk kedua kalinya. Saya saja tidak pernah membuat Amora terluka sampai seperti itu” ucap Darpa setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Daren.

Mendengar segala penuturan itu membuat Daren terus menganggukkan kepalanya, “Sekali lagi saya sungguh meminta maaf, Tuan.”

“Panggil saya, seperti kamu memanggil Nata. Dan saya akan memaafkan kamu jika Amora juga memaafkan kelalaianmu” jawab Darpa.

“Pa.”

Seketika Daren dan Darpa langsung melihat ke arah sumber suara yang mereka sangat tau siapa pemilik suara itu, “Amora.”

Darpa dan Daren pun langsung menghampiri Amora yang kini berdiri seraya memegang tiang infusnya di ambang pintu yang menjadi tempat untuk menyambungkan antara ruangan tempat Daren dan Darpa kini berada dengan ruangan yang ada tempat tidur rumah sakitnya.

“Sejak kapan kamu di sini?” tanya Darpa.

“Ketika Papa bilang bahwa Papa akan memaafkan Kak Daren jika aku memaafkannya juga” jawab Amora dengan jujur.

“Udah-udah, ayo kita kembali ke tempat tidur” ucap Darpa yang lalu menuntun Amora untuk membawa putrinya itu kembali berbaring di kasur rumah sakit.

Setelah Amora berbaring, Darpa pun mendekatkan dirinya kepada putrinya itu, “Sayang, masih sakit ngga?” tanya Darpa.

Amora menggelengkan kepalanya, “Engga, Pa. Cuma agak pusing dikit aja” jawab Amora.

“Baiklah, kamu istirahat dulu ya?. Papa mau pulang dulu, habis ini Papa pasti balik lagi ke sini sama Ma Ras, ya?”

Dengan pelan Amora menganggukkan kepalanya, “Iya, Pa. Papa bersih-bersih dulu aja.”

“Oke, putri Papa. Ya sudah, kamu di sini sama Daren dulu ya?. Papa pulang sebentar” ucap Darpa yang lagi-lagi dianggukki oleh Amora.

Lalu Darpa pun membalikkan badannya dan berjalan ke arah Daren terlebih dahulu, “Jaga Amora” ucapnya seraya menepuk-nepuk bahu Daren beberapa kali.

“Siap, Pa.”

Setelah itu Darpa pun berjalan pergi dari ruangan itu meninggalkan Daren dan Amora, “Ra” Daren langsung menghampiri Amora saat Darpa sudah pergi dari ruangan itu.

“Apa yang sudah terjadi sampai Syla mendorongmu?” tanya Daren setelah dia sudah mendekat ke tempat Amora berada.

“Dia cuma marah karena aku ngelarang dia buat masuk ke rumah, terus dia dorong aku deh” jawab Amora dengan santainya.

Mendengar itu Daren pun menghela nafasnya, “Saya minta maaf ya?. Saya tau saya salah, setelah ini kamu tidak perlu membukakan pintu untuk perempuan itu lagi.”

“Aku maafin kamu, karena memang kamu ngga salah. Tapi aku ngga akan pernah maafin Syla. Aku bukan tipe orang yang suka maafin orang gitu aja, aku orangnya pendendam. Jadi apa yang udah dilakuin Syla ke aku, dia juga harus ngerasain” jawab Amora.

Daren tidak menjawab apapun, dia hanya diam. Karena dia tidak bisa menahan Amora untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan setelah ini. Daren sungguh tahu apa yang akan terjadi jika dia melarang Amora untuk balas dendam kepada Nasyla.

 

 

 

Bersambung……….

 

 

 

https://www.redaksiku.com/novel-choose-happiness-part-19/

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru