Novel : Choose Happiness (Part 20)

- Penulis

Jumat, 15 November 2024 - 19:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 20)

Novel : Choose Happiness (Part 20)

Bab. 20 Terus Mengindar

Di sebuah malam terlihat Amora yang baru saja keluar dari kamar mandi kamarnya dengan memakai baju tidur, dia baru saja selesai bersih-bersih setelah pulang dari rumah mertuanya.

Sesudahnya keluar dari kamar mandi itu, Amora pun berjalan menuju kasurnya. Dan ternyata di atas ranjang itu sudah terdapat Daren yang masih membuka matanya sembari melihat ke langit-langit kamar itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan canggung Amora mulai menaiki kasur itu dan berbaring di samping Daren. Setelah itu dirinya langsung menarik selimut dan menutup matanya berharap bisa langsung tidur.

“Kamu kenapa terus-terusan menghindari saya?” tanya Daren kepada Amora.

Mendengar itu Amora langsung menelan ludahnya, tetapi pada akhirnya Amora lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu dan berpura-pura bahwa dia sudah tidur.

Mengetahui pertanyaannya tidak dijawab oleh Amora, Daren pun memiringkan badannya untuk melihat ke arah istrinya itu. Daren menghela nafasnya ketika melihat Amora yang sudah menutup matanya dengan tenang.

Tangan Daren mulai terangkat untuk menyingkirkan beberapa helai rambut Amora yang menutupi wajah cantik itu, “Saya mohon jangan menghindari saya lagi, Ra.”

Keesokan harinya terlihat Amora yang tengah makan siang bersama ke-3 sahabatnya di sebuah cafe, “Ra, ada apa sih?, cerita dong.”

“Ihh, ngga ada apa-apa lohh” jawab Amora atas ucapan Indira.

“Ngga mungkin, lo ngga akan mungkin pulang secepat ini kecuali ada apa-apa atau ada sesuatu yang terjadi” ujar Sherly membantah ucapan Amora.

“Kenapa?, lo di-KDRT ya sama Daren?” kata-kata Indira barusan berhasil membuat lengannya sendiri dipukul oleh Fara.

Plak!

“Mulut lo” ucap Fara setelah memukul Indira.

“Ishh!, sakit Faraa” rengek Indira sembari mengusap-usap lembut lengannya yang telah dipukul oleh Fara.

Melihat pertengkaran kecil itu membuat Amora sedikit terkekeh hingga mengeluarkan senyum cantiknya, “Lo ngga usah senyum kayak gitu, cepet ceritain apa yang terjadi” ucap Indira ketika melihat Amora yang mentertawakannya.

Mendengar itu Amora pun langsung diam, sungguh dia bingung harus menceritakan masalahnya atau tidak kepada para sahabatnya itu, “Gue ngga ada apa-apa, guys. Udah, kalian tenang aja, jangan overthinking kayak gitu dong.”

“Ya kita ngga akan overthinking kalau lo jawab alasan kenapa lo bisa pulang secepatnya ini ke Indonesia. Kan seharusnya lo sampai di Indo hari Minggu, bukan kemarin” ujar Sherly memberikan perlawanan.

“Nah, bener itu” timpal Indira yang juga penasaran alasan kenapa Amora pulang lebih awal.

“Ini itu masalah rumah tangga, kalian ngga boleh ikut campur. Dah, byee gue ada kelas” ucap Amora yang meminum minumannya terlebih dahulu sebelum berjalan pergi dari cafe itu meninggalkan para sahabatnya.

“Heeii, kurang ajar tu anak” ucap Sherly ketika melihat Amora yang berlari pergi meninggalkannya dengan lainnya.

“Udahlah, kalau Amora bilang ini masalah rumah tangganya berarti memang ngga bisa disebarluaskan. Cukup dia sama Daren aja yang tau” ujar Fara yang lalu meraih gelas tempat minumannya berada.

Mendengar penuturan dari Fara barusan membuat Sherly dan Indira pun tersadar dan berakhir mengangguk-anggukkan kepala mereka secara bersamaan.

Di kampus terlihat Amora yang celingak-celinguk seperti mencari keberadaan seseorang, “Woy!, cari siapa?” seorang mahasiswi dengan mengejutkan menepuk bahu Amora dari belakang.

Amora benar-benar sangat terkejut, “Fu*k, kaget gue, Laa.”

Perempuan itu adalah Lala, teman se-fakultas Amora serta teman yang cukup dekat dengan Amora di fakultas itu. Mendengar penuturan Amora barusan membuat Lala tertawa dengan puas.

“Awas kena karma lo ngagetin gue mulu dari kemarin, La” ucap Amora yang sangat geram dengan temannya itu.

“Santaii, gue udah siap kalau emang harus kena karma. Lo celingak-celinguk cari siapa sih?” tanya Lala yang masih penasaran karena pertanyaannya tadi belum dijawab oleh Amora.

“Kepo lo” jawab Amora.

“Dihh, awas ya loo. Bilang aja cari Marvell, gengsi amat” ujar Lala dengan suaranya yang memang terkenal seperti toa.

Plak!!

“Auuu!!”

Lala meringis kesakitan saat lengannya dipukul cukup keras oleh Amora, “Mulut lo ceplas-ceplos banget sih, La. Mana suaranya udah kayak pake mic lagi” ujar Amora dengan sedikit bergumam di akhir.

Dengan tangan kanan yang masih mengelus-elus lengan kirinya, Lala menjawab, “Tapi benerkan ucapan guee?”

“Diem loo” jawab Amora yang semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan yang akan menjadi kelasnya terakhir di hari itu.

Melihat itu Lala tersenyum dengan kekehan kecil, dia tau betul bahwa jawabannya itu benar, hanya saja Amora yang gengsi untuk mengucapkannya.

“Kenapa gue rasanya udah lama banget ya ngga ngelihat Marvell sejak kita mutusin buat berhenti, apa karena gue di Paris?. Tapi seharian ini gue ngga lihat dia sama sekali, biasanya gue pasti lihat dia, walaupun sekilas. Tapi hari ini sama sekali engga, gue rasa dia ngejauhin gue.”

Di malam harinya terlihat Amora yang tengah mengambil air putih di dalam kulkas. Setelah berhasil mengambil sebotol air putih yang dia inginkan, Amora pun hendak menutup pintu kulkas itu.

Tapi tiba-tiba sebuah tangan besar menempel pada pintu kulkas itu dan mulai mendorongnya hingga pintu kulkas itu pun tertutup. Melihat tangan yang masih saja menempel di pintu itu, Amora pun memutuskan untuk membalikkan badannya, karena dia tahu ada seseorang yang kini berdiri di belakangnya.

Dan sesuai dengan dugaan Amora, kini terlihat Daren yang tengah menatap kedua mata Amora yang juga menatapnya dengan tangan kanan yang masih menempel pada pintu kulkas.

Melihat itu Amora menelan salivanya sejenak sebelum menghindar dari Daren dengan berjalan ke sebelah kanannya karena tidak ada sesuatu yang menghalanginya.

Tapi dengan cepat Daren langsung menaruh tangan kirinya di kulkas itu saat melihat pergerakan Amora, dan tindakannya itu membuat Amora kini berada di dalam kurungannya.

Melihat tindakan Daren barusan membuat Amora menghela nafasnya sebelum mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah dua mata tajam yang kini menatapnya, setelah itu Amora pun menyenderkan tubuhnya di kulkas.

“Kamu kenapa selalu menghindar dari saya?, saya hanya ingin menjelaskan kejadian siang hari itu” ucap Daren.

“Aku ngga ngehindarin kamu, aku cuma mau ngebiasain diri aku biar ngga selalu bergantungan sama kamu” jawab Amora sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan tangan kanan yang masih memegang sebotol air putih.

“Kenapa?, saya Suami kamu, Ra. Sudah seharusnya saya menggantikan posisi Papa kamu di hidup kamu. Saya rela kamu repotkan, saya rela kamu bergantungan sama saya. Karena memang itu sudah menjadi tanggung jawab saya.”

Mendengar segala penuturan itu membuat Amora terdiam sejenak dengan kedua mata yang masih menatap Daren, “Karena aku ngga mau nanti harus ngebenci kamu di saat aku udah jatuh sama kamu, Kak.”

Ucapan Amora barusan hanya bisa Amora ucapkan di dalam hatinya, karena dia tidak mungkin mengatakan itu semua langsung kepada Daren.

Karena tidak ingin memancing dirinya sendiri untuk berkata hal yang selalu dia pendam, Amora pun memutuskan untuk pergi dari kurungan Daren dengan cara menundukkan kepalanya hingga dia bisa melewati tangan Daren yang tadinya sejajar dengan kepalanya.

“Jawab saya, Ra” ucap Daren yang lalu menurunkan kedua tangannya dari kulkas.

Dengan emosi yang terus ditahannya, Amora menuangkan air putih dari botol itu ke sebuah gelas yang baru saja dia ambil, setelah Amora pun meminum air dingin itu, “Ngga ada yang perlu dijawab, Kak. Semua udah jelas kan?”

“Tidak, tidak ada yang jelas sedikit pun. Saya bingung dengan sikap kamu semenjak kita pulang dari Paris. Oke, oke kalau memang saya salah Siang itu.”

“Tapi itu benar-benar di luar dugaan saya, saya tidak pernah membayangkan bahwa Syla akan menyusul kita ke Paris. Setelah beberapa menit kamu pergi ke toilet, tiba-tiba Syla datang.”

“Saya awalnya menyuruh Syla untuk pergi secara baik-baik, tapi dia tidak mau karena dia tidak terima saya putuskan begitu saja. Dia marah-marah kepada saya dan entah kenapa dia langsung memeluk saya.”

“Bertepatan dengan itu, kamu datang. Itu semua terjadi begitu saja tanpa bisa saya cerna dengan cepat. Maaf, saya menyadari bahwa memang saya yang salah di sini, tapi saya mohon, berhenti bersikap seperti ini, Ra.”

Mendengar segala penuturan dari Daren membuat Amora semakin mencengkram erat gelas yang kini ada di genggamannya, “Maaf.”

Setelah mengucapkan itu Amora langsung berjalan pergi meninggalkan Daren sendirian di dapur, dengan sedikit berlari Amora menaiki tangga di dalam rumahnya itu dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Melihat itu semua, Daren hanya bisa menghela nafasnya kemudian sedikit menundukkan kepalanya, “Saya harus bagaimana lagi, Ra?”

“Jika dari awal saya tahu bahwa bukan kamu pelakunya, mungkin saya tidak akan pernah menyewa Nasyla. Saya akan membiarkan perasaan ini terus tumbuh, tanpa harus berusaha saya hilangkan.”

Setelah itu Daren kembali mengangkat kepalanya dan berjalan menuju salah satu lemari gantung yang ada di sana, lalu dia membuka pintu lemari itu dan mengambil salah satu botol berisikan minuman keras.

Di sebuah taman bermain terlihat seorang gadis kecil yang sepertinya masih berumur sekitar 5 tahun tengah bermain bersama seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya.

Mereka berdua sangat gembira saat memainkan mainan-mainan yang ada di taman bermain itu, “Ian.”

“Apa, Ara?”

“Tadi aku mendengar kamu akan pergi ke Australia, apakah kamu akan pergi liburan lagi?” tanya gadis manis yang dipanggil ‘Ara’ itu.

Seorang laki-laki yang terlihat sangat tampan dan putih itu mulai berjalan menghampiri gadis itu, “Maaf, Ara. Aku akan pergi ke Australia.”

“Tidak apa-apa, Ian. Kamu akan kembalikan?, jadi kamu tidak perlu meminta maaf” jawab Gadis itu.

Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan kembali.”

“Apa maksudmu?” tanya Ara yang tidak paham dengan apa yang dikatakan Ian.

“Kata Papa, aku akan menetap di sana, dan katanya aku akan sangat lama di sana dan kemungkinan tidak akan kembali lagi ke Indonesia” jawab Ian dengan raut wajah sedih.

“Tidak, Ian. Kamu pasti berbohong kepadaku, kamu pasti ingin membuatku menangis lagi seperti kemarin” ujar Ara yang lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada yang mengartikan bahwa dia tengah marah.

Tapi anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya, “Tidak, Ara. Aku bersungguh-sungguh, aku akan pergi ke Australia untuk waktu yang lama.”

Ara yang mendengar itu langsung sedih, “Tidak, Iaan. Kamu tidak boleh pergi, kamu tidak boleh meninggalkan aku sendirian di sini, nanti aku akan bermain dengan siapa?, nanti siapa yang akan selalu menemaniku?” ucap Ara dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

Anak laki-laki itu langsung memeluk Ara, “Jangan menangis, Ara. Jika nanti aku sudah kembali ke Indonesia, aku akan langsung menghampirimu.”

Mendengar itu Ara semakin menangis, dia tidak rela jika harus kehilangan sahabatnya itu, “Tidaakk, Ara mohon jangan tinggalkan Ara sendirian, Ara nanti tidak punya teman.”

“Tenanglah, Ara. Aku akan meyakinkan Papaku untuk kembali ke Indonesia dengan cepat” ujar Ian yang terus menenangkan Ara agar tidak terus menangis.

“Berjanjilah kepadaku untuk kembali ke Indonesia, berjanjilah, Ian” ucap Ara setelah melepaskan pelukan hangat itu.

“Aku berjanji, Ara. Aku berjanji untuk kembali lagi ke Indonesia, dan aku juga berjanji akan menikahimu, kita akan terus bermain bersama jika kita sudah menikah” ucap Ian yang kini membuat Ara mulai mengembangkan senyumnya.

“Aku akan selalu menunggumu, Ian. Aku berjanji itu” lanjut Ara, setelah itu mereka saling menautkan jari kelingking mereka dengan senyum lebar.

“Iya, teruslah tersenyum seperti ini ya, Ara. Kamu tidak perlu sedih, aku pasti akan kembali” ucap Ian yang diangguki oleh Ara yang masih tersenyum lebar.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Polres Barru menggelar Serah Terima Jabatan (Sertijab) delapan pejabat utama dan kapolsek jajaran. Rotasi ini menjadi bagian dari penyegaran organisasi untuk memperkuat profesionalisme serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Internasional

Sertijab Polres Barru, Kapolres Dorong Pelayanan kepada Masyarakat

Kamis, 6 Agu 2026 - 21:17 WIB