Korupsi Bantuan Kementan Diusut Kortas Tipidkor Polri

- Penulis

Sabtu, 12 September 2026 - 23:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kortas Tipidkor Polri — Gedung Bareskrim Polri tempat pelaporan dugaan korupsi dana bantuan Kementerian Pertanian oleh KOSMAK.

KOSMAK melaporkan dugaan korupsi dana bantuan pengembangan tanaman porang di Sidrap ke Kortas Tipidkor Polri.

Redaksiku.com – Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (KOSMAK) resmi melaporkan dugaan penyimpangan dana bantuan Kementerian Pertanian tahun anggaran 2020 hingga 2022 untuk pengembangan tanaman porang di Kabupaten Sidrap ke Kortas Tipidkor Polri.

Kasus ini menyoroti aliran dana APBN senilai Rp26 miliar yang diduga tidak sampai secara utuh kepada para petani penerima manfaat. Alih-alih dibagikan secara cuma-cuma sebagai subsidi, bantuan tersebut justru dikelola melalui mekanisme komersial yang membebani warga.

Laporan tersebut, yang diajukan di Gedung Bareskrim Polri pada Jumat (11/9/2026), menyeret sejumlah nama penting di daerah tersebut. Beberapa di antaranya meliputi mantan Bupati Sidrap periode 2018-2023 Dollah Mando, mantan Bupati Rusdi Masse, serta Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan Syaharuddin Alrif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dugaan Permufakatan Jahat dan Pendirian Perusahaan Khusus

Berdasarkan temuan KOSMAK, proyek pengadaan ini diduga telah dirancang sejak awal melalui pembentukan sebuah badan usaha swasta. Perusahaan bernama PT Al-Fatih Porang Indonesia (AFPI) sengaja didirikan untuk menjadi pengelola tunggal dana bantuan dari pusat.

Pendirian perusahaan tersebut melibatkan keluarga dekat dari pimpinan DPRD Sulawesi Selatan saat itu. Akta pendirian mencatat keterlibatan Hj. Haslinda Hasan sebagai komisaris serta Andre Ade Alrif sebagai direktur utama perusahaan.

Inisiatif pembentukan korporasi ini diduga kuat bermula dari koordinasi antara pejabat tingkat tinggi kementerian saat itu dengan unsur pimpinan legislatif daerah. Tujuannya adalah menyiapkan wadah formal untuk menampung dan mengeksekusi anggaran bantuan ketahanan pangan senilai puluhan miliar rupiah.

Setelah badan usaha tersebut resmi berdiri dengan akta notaris pada Juli 2020, pencairan dana dari pusat langsung mengalir deras ke wilayah Kabupaten Sidrap. Anggaran tersebut sedianya dialokasikan untuk berbagai keperluan sektor pertanian mulai dari benih hingga alat mesin penunjang.

Dana bantuan ketahanan pangan sebesar Rp26 miliar yang seharusnya menjadi hak petani justru dialihkan pengelolaannya melalui mekanisme pinjaman komersial.

Pola Penyaluran yang Membebani Petani

Alih-alih mendistribusikan bantuan secara gratis sesuai peruntukan program pemerintah, pemerintah daerah kala itu menunjuk PT AFPI sebagai penyalur tunggal. Bantuan yang diterima petani tidak diberikan dalam bentuk hibah, melainkan sarana produksi dengan sistem pembayaran pascapanen.

Praktik ini memaksa para petani untuk melunasi biaya sarana produksi setelah musim panen tiba. Padahal, nilai sarana yang mereka terima dilaporkan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan total alokasi anggaran yang dikucurkan dari APBN.

Akibat skema penyaluran yang dinilai tidak tepat dan sarat kepentingan ini, program pengembangan tanaman porang mengalami kegagalan massal. Angka kegagalan panen di lapangan bahkan dilaporkan mencapai kisaran 90 hingga 95 persen.

Selain merugikan keuangan negara hingga puluhan miliar rupiah, situasi ini memukul telak perekonomian petani kecil di Sidrap. Hak-hak mereka atas subsidi dan bantuan pemerintah tergerus oleh kewajiban finansial yang tidak sesuai ketentuan.

Perubahan Struktur Kepemilikan dan Implikasi Politik

Menjelang akhir tahun 2023, struktur kepemilikan saham PT AFPI mengalami pergeseran signifikan melalui masuknya sejumlah nama baru dari korporasi lain. Masuknya pihak-pihak luar ini dianalisis sebagai upaya perlindungan politik di tengah menguatnya sorotan publik terhadap proyek bermasalah tersebut.

Pengamat politik lokal menilai proses hukum yang sedang berjalan di kepolisian ini dapat berdampak besar pada peta kekuatan politik di Sulawesi Selatan. Kasus dugaan korupsi sektor pangan ini berpotensi menggerus tingkat kepercayaan publik terhadap partai pengusung para tokoh yang terseret.

KOSMAK sendiri menyatakan keyakinannya bahwa aparat penegak hukum akan bergerak cepat mengusut tuntas perkara ini. Mengingat sektor ketahanan pangan kini menjadi salah satu fokus utama pemberantasan korupsi, penanganan kasus di Sidrap diharapkan menjadi preseden tegas bagi penyalahgunaan anggaran di daerah.

Pertanyaan Umum

Apa yang dilaporkan oleh KOSMAK ke Kortas Tipidkor Polri?

KOSMAK melaporkan dugaan korupsi dana bantuan Kementerian Pertanian tahun 2020-2022 untuk pengembangan tanaman porang di Kabupaten Sidrap yang merugikan negara sebesar Rp26 miliar.

Siapa saja pihak yang diduga terlibat dalam kasus ini?

Laporan tersebut turut menyeret sejumlah nama seperti eks-Bupati Sidrap Rusdi Masse, Wakil Ketua DPRD Sulsel Syaharuddin Alrif, serta mantan Bupati Sidrap Dollah Mando.

Bagaimana modus operandi penyimpangan dana bantuan tersebut?

Dana bantuan yang seharusnya dibagikan gratis kepada petani justru disalurkan melalui perusahaan swasta bentukan keluarga pejabat lokal dengan sistem pinjaman bayar pascapanen yang berujung pada kegagalan massal.

Ringkasan

Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (KOSMAK) melaporkan dugaan korupsi dana bantuan Kementerian Pertanian senilai Rp26 miliar untuk pengembangan porang di Kabupaten Sidrap ke Kortas Tipidkor Polri.

Kasus ini melibatkan sejumlah pejabat daerah dan mendistribusikan dana hibah melalui mekanisme komersial yang membebani petani, yang berujung pada kegagalan panen massal dan kerugian negara.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cara Daftar Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp1 Juta/Bulan
OTT KPK di Bolmut: Bupati Sirajudin Lasena dan 13 Orang Diamankan
DPR Gelar Uji Kelayakan 25 Calon Dubes RI pada 22-23 September
DPR Desak Kemenag Bentuk Tim Independen Evaluasi Polemik UINSA
Lapangan Gas JTB Produksi 192 MMSCFD untuk Kebutuhan Jawa Timur
Kemenhaj Pertimbangkan Maskapai Alternatif untuk Tekan Biaya Haji 2027
Kontak Senjata di Nduga, TNI Pukul Mundur OPM
Imbauan Bupati Sumedang Waspadai Perubahan Musim Usai Salat Subuh

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 18:53 WIB

Cara Daftar Insentif Dosen Non-ASN Ma’had Aly Rp1 Juta/Bulan

Selasa, 22 September 2026 - 18:37 WIB

OTT KPK di Bolmut: Bupati Sirajudin Lasena dan 13 Orang Diamankan

Selasa, 22 September 2026 - 18:32 WIB

DPR Gelar Uji Kelayakan 25 Calon Dubes RI pada 22-23 September

Selasa, 22 September 2026 - 18:30 WIB

DPR Desak Kemenag Bentuk Tim Independen Evaluasi Polemik UINSA

Selasa, 22 September 2026 - 18:27 WIB

Lapangan Gas JTB Produksi 192 MMSCFD untuk Kebutuhan Jawa Timur

Berita Terbaru

Yamaha Nmax kembali menjadi pusat perhatian dan bahan diskusi hangat di berbagai platform media sosial.

Otomotif

Yamaha Nmax Kembali Ramai Dibicarakan di Media Sosial

Selasa, 22 Sep 2026 - 21:55 WIB

Life Style

Pilih RAM Besar atau Prosesor Kencang untuk HP Usia 40 Tahun?

Selasa, 22 Sep 2026 - 21:36 WIB

Life Style

Panduan Lengkap Tas Longchamp Le Pliage: Model dan Harga 2026

Selasa, 22 Sep 2026 - 19:48 WIB

Maes Atbesene Sub tetap melayani korban konflik di Yahukimo meski memiliki keterbatasan fisik.

Viral

Kisah Hamba Tuhan Difabel Bantu Korban Konflik di Yahukimo

Selasa, 22 Sep 2026 - 19:42 WIB

error: Content is protected !!