Redaksiku.com – Aksi unjuk rasa kembali terlihat di depan gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (3/9/2025). Kali ini, barisan perempuan yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia (API) turun ke jalan dengan membawa pesan tegas: hentikan segala bentuk kekerasan negara.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 11.42 WIB, para peserta aksi kompak memakai pakaian serba pink. Warna ini dipilih bukan sekadar gaya, tapi juga simbol keberanian dan solidaritas. Mereka membawa sejumlah flyer berisi tuntutan dan suara perlawanan yang mencerminkan keresahan masyarakat terhadap situasi politik dan keamanan akhir-akhir ini.
Menariknya, aksi ini berlangsung cukup tertib meski penuh semangat. Polisi juga turut menjaga jalannya demo, dan mayoritas personel yang dikerahkan adalah Polwan, menyesuaikan dengan massa aksi yang didominasi perempuan.
Lalu Lintas Tetap Normal, Aksi Berlangsung Damai
Berbeda dengan demo lain yang biasanya membuat arus lalu lintas tersendat, kali ini suasana Jalan Gatot Subroto masih normal. Tidak ada penutupan jalan besar-besaran, sehingga kendaraan bisa melintas tanpa hambatan berarti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Walau demikian, suara lantang dari massa tetap terdengar jelas. Seorang orator naik ke mobil komando dan menyampaikan seruan tegas soal perlawanan terhadap kekerasan aparat.
Mereka minta ada ruang demokrasi. Seharusnya penguasa di negeri inibaik Presiden, eksekutif, yudikatif, hingga legislatifmau mendengar aspirasi rakyat, ujar sang orator di hadapan peserta aksi.
Ia juga menekankan pentingnya menghormati mereka yang gugur di medan perjuangan. Sekali lagi, mari kita tunduk sejenak untuk para pejuang yang mati di medan juang. Kita juga mendesak agar demonstran yang ditangkap segera dibebaskan, tambahnya.
Orasi Disertai Bahasa Isyarat, Semua Suara Harus Didengar
Hal unik lain dalam aksi kali ini adalah penggunaan bahasa isyarat. Di atas mobil komando, seorang peraga bahasa isyarat menerjemahkan orasi, memastikan bahwa pesan perjuangan bisa diterima semua kalangan, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan pendengaran.
Banner dan flyer juga jadi alat penting dalam menyampaikan tuntutan. Salah satunya bertuliskan, Prabowo, hentikan kekerasan negara! Sebuah kalimat singkat namun tegas yang mencerminkan inti keresahan para perempuan di lapangan.
6 Tuntutan API kepada Pemerintah
Dalam keterangan resmi yang diterima media, Aliansi Perempuan Indonesia menyuarakan enam tuntutan utama yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto, jajaran kabinet, hingga kepolisian. Berikut poin-poinnya:
-
Presiden Prabowo diminta menghentikan segala bentuk kekerasan negara, termasuk menarik mundur keterlibatan TNI dan Polri dalam penanganan aksi masyarakat.
-
Presiden Prabowo, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Panglima TNI Agus Subiyanto didesak segera menarik pasukan tentara dari keterlibatan urusan sipil.
-
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diminta mundur dari jabatannya, serta kepolisian wajib membebaskan semua masyarakat yang ditangkap tanpa syarat.
-
Pemerintah harus menghentikan kriminalisasi terhadap rakyat, aktivis, jurnalis, maupun pendamping hukum, serta membebaskan semua tahanan politik tanpa syarat.
-
Presiden diminta mengembalikan militer ke barak, sesuai fungsi dasarnya, dan menghentikan segala bentuk intervensi TNI dalam ranah sipil.
-
Pemerintah wajib menjamin sepenuhnya hak konstitusional warga negara untuk berkumpul, berserikat, dan menyampaikan pendapat di muka umum tanpa intimidasi maupun kekerasan.
Aksi Pink, Simbol Solidaritas dan Harapan
Penggunaan warna pink dalam aksi kali ini punya makna khusus. Warna yang biasanya identik dengan kelembutan justru ditransformasikan jadi simbol keberanian. Lewat pink, para perempuan ingin menunjukkan kalau perjuangan mereka bukan sekadar hadir di jalan, tapi juga mewakili suara banyak orang yang selama ini terpinggirkan.
Selain itu, pemilihan warna juga mengikuti tren Brave Pink yang sebelumnya viral di media sosial. Pink dianggap sebagai simbol keberanian rakyat biasa untuk bersuara, terutama kaum perempuan yang kerap berada di barisan depan dalam perjuangan menuntut keadilan.
Respons Publik di Media Sosial
Tak butuh waktu lama, aksi ini langsung jadi bahan perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Tagar terkait Aliansi Perempuan Indonesia dan Pink di DPR ramai digunakan. Banyak netizen memberikan dukungan, menyebut aksi ini sebagai bentuk keberanian perempuan Indonesia yang patut diapresiasi.
Beberapa warganet bahkan mengunggah foto mereka mengenakan atribut pink sebagai bentuk solidaritas virtual. Fenomena ini menunjukkan bagaimana aksi di dunia nyata bisa terhubung langsung dengan dukungan di ranah digital.
Suara Perempuan dalam Gerakan Sosial
Aksi ini juga menegaskan peran penting perempuan dalam gerakan sosial di Indonesia. Bukan hanya sebagai peserta pasif, perempuan kini aktif memimpin, mengorganisasi, dan menyuarakan tuntutan.
Melalui API, suara perempuan dikonsolidasikan dalam bentuk yang lebih terstruktur, sehingga tuntutan mereka tidak hanya terdengar di jalanan, tapi juga sampai ke ruang-ruang pengambilan keputusan.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






