Redaksiku.com Productivity guilt merupakan salah satu gejala dalam psikologi yang dimana seseorang merasa bersalah saat tidak melakukan hal produktif, meskipun pada waktu istirahat dan hari libur. Mereka seperti merasa tidak tenang, karena merasa telah menyia-nyiakan waktu.
Siapa saja yang bisa mengalami gejala productivity guilt?
Gejala productivity guilt bisa dialami oleh siapapun dan salah satunya gen z, hal ini bisa disebabkan karena gen z hidup di era media sosial bahkan pengguna media sosial terbesar rata-rata adalah gen z.
Di media sosial gen z banyak menemukan content creator yang sukses di usia muda mempunyai penghasilan besar, rumah, mobil bahkan beberapa usaha. Hal tersebutlah yang membuat gen z memaksa dirinya untuk usaha lebih keras, agar bisa hidup sukses seperti orang-orang yang mereka lihat di medsos.
Beberapa Gejala Productivity Guilt Pada Gen Z
1. Memikirkan Pekerjaan 24 Jam
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seseorang yang mempunyai gejala productivity guilt mereka tidak bisa berhenti, untuk tidak memikirkan pekerjaannya. Meskipun sudah selesai bekerja, sesampainya di rumah mereka tetap memikirkan pekerjaan untuk hari berikutnya.
Bahkan dalam tidurnya terkadang mereka sering bermimpi berada di tempat kerja dan sedang bekerja, seperti over produktif. Terlalu over produktif bisa mengakibatkan perubahan mood cepat, burnout dan penurunan kesehatan.
2. Tidak Bisa Menikmati Hidup
Terlalu keras menuntut diri untuk tetap produktif setiap hari dan setiap waktu, dapat menjadikan seseorang tidak bisa menikmati kehidupannya. Bagaimana bisa demikian? Karena orang productivity guilt tidak bisa membiarkan dirinya bersantai sedikit.
Saat dipaksa untuk bersantai karena keadaan seperti sakit, mereka merasa cemas dan bersalah karena terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya. Bahkan mereka sering berpikir bahwa bersantai atau istirahat sejenak, merupakan beban.
3. Mengutamakan Pekerjaan
Gen z yang terkena gejala productivity guilt mereka seringkali mengutamakan urusan pekerjaannya, sehingga hal ini dapat membuat hubungannya dengan keluarga, pasangan dan teman seperti berjarak. Bahkan mereka tidak segan-segan membatalkan janji yang telah dibuat dari jauh hari, apabila tiba-tiba ada urusan pekerjaan yang sebenarnya bisa ditunda terlebih dahulu.
Bagi productivity guilt pekerjaan merupakan hal yang harus diutamakan dan tidak boleh ditunda meskipun belum date line, mereka takut mengecewakan pimpinan maupun klien dan tidak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena mereka menunda demi melakukan urusan pribadinya. Bisa dibilang sebenarnya productivity guilt sangat bertanggung jawab pada pekerjaan, tetapi kurang memperhatikan kesejahteraan diri.
4. Iri Melihat Orang Lain Sibuk
Biasanya banyak orang yang merasa happy karena sudah bisa bersantai, di saat rekan kerjanya masih sibuk melakukan pekerjaan. Berbeda sekali dengan orang productivity guilt, mereka justru iri melihat orang lain masih sibuk bekerja sedangkan dirinya sudah bisa bersantai karena pekerjaan sudah terselesaikan.
Tak jarang meski saat pekerjaan sudah selesai mereka mendatangi atasan untuk meminta pekerjaan yang bisa dia kerjakan, karena tidak betah melihat orang lain produktif sedangkan dirinya hanya bersantai. Mereka tidak ingin waktu luangnya digunakan hanya untuk bersantai, tidak melakukan apa-apa.
Agar bisa terlepas dari gejala productivity guild, sadarilah bahwa produktif ada waktunya tersendiri. Menikmati istirahat, bersantai, waktu luang dan hari libur bukanlah suatu tindakan yang buang-buang waktu tetapi bentuk menyayangi diri karena fisik telah bekerja keras.
Tubuh kita ini bukan robot yang tahan 24 jam untuk bekerja, jadi jangan terlalu over produktif. Ada masanya tubuh kita harus istirahat sejenak agar tetap sehat dan bisa terus bekerja, istirahat sejenak tidak akan membuat kita menjadi tertinggal dari orang lain.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






