Redaksiku.com – Terik mentari tak menyurutkan langkah Krisensia Naben menyusuri pematang sawah di pinggiran Sungai Noel Besi. Bersama Remigius, suaminya, dia menekuri lumpur, menyemai benih padi satu demi satu di sawah keluarga seluas 15 are. Lahan ini menjadi urat nadi bagi keluarganya yang hidup berdampingan dengan Gunung Mutis, yang baru jadi taman nasional pada 2024. Krisensia mengingat banjir dan longsor akibat Siklon Tropis Seroja pada 2020 menimbun enam are lahan sawahnya.
Sebelumnya, mereka mengelola 21 are, kini hanya bisa mengusahakan sawah yang tersisa yang berada di Desa Noepesu, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dia juga menanam sayur-sayuran seperti kacang panjang, bawang, tomat, wortel, pakcoy, dan sawi. Dalam setahun, masa tanam sayur-sayuran hanya berlangsung 2-3 kali, tergantung pada kondisi iklim. Sekali panen, petani mendapat keuntungan Rp1-2 juta, sedangkan padi hanya panen sekali dalam setahun. Biasanya hasil sawah tidak mereka jual, tetapi untuk konsumsi keluarga.
Sebagai masyarakat adat Atoni Pah Meto yang menetap di sekitar Mutis, Krisensia menjadikan alam adalah kehidupan sehari-harinya. Pepohonan, binatang liar, mata air dan batuan menjadi satu kesatuan dalam pengetahuan dan aturan adat. Mereka mengenal kepercayaan oe kanaf, hau kanaf, dan fatu kanaf yang mengatur bagaimana hubungan spiritual dan pemanfaatan sumber daya alam harus dijaga secara turun-temurun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehidupan Masyarakat Adat di Kawasan Hutan
Kehidupan sehari-hari masyarakat adat di kawasan ini sangat bergantung pada ketersediaan air yang mengalir dari pegunungan. Hutan bukan sekadar hamparan pepohonan hijau, melainkan ruang hidup yang menyediakan kebutuhan dasar pangan, obat-obatan tradisional, hingga identitas kultural. Tanpa adanya perlindungan terhadap kearifan lokal, keberlangsungan hidup komunitas adat ini dikhawatirkan akan tergerus oleh kebijakan konservasi modern yang kerap mengabaikan aspek sosial budaya setempat.
Perubahan status kawasan menjadi taman nasional membawa angin perubahan yang dirasakan secara langsung oleh warga. Di satu sisi, status baru ini bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati yang kaya di kawasan tersebut dari ancaman kerusakan lingkungan yang lebih luas. Di sisi lain, kekhawatiran muncul mengenai ruang kelola tradisional yang selama ini dipegang teguh oleh masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Sumber air dari Mutis menjadi harapan satu-satunya bagi warga untuk berkebun dan merasakan hasil panen.
Pengalaman pahit akibat bencana alam di masa lalu juga meninggalkan trauma tersendiri bagi para petani lokal. Bencana ekologis seperti Siklon Tropis Seroja telah mengubah lanskap pertanian secara drastis, mempersempit area garapan yang produktif. Kondisi ini membuat ketahanan pangan keluarga petani sangat rentan terhadap dinamika cuaca ekstrem yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global.
Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Kebijakan
Eksistensi masyarakat adat Atoni Pah Meto di sekitar kawasan konservasi membuktikan bahwa manusia dan alam dapat hidup dalam harmoni yang berkelanjutan. Pengetahuan lokal yang diwariskan oleh leluhur mereka terbukti efektif dalam menjaga kelestarian hutan selama bergenerasi-generasi tanpa merusak fungsi ekologisnya. Oleh karena itu, pelibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan kawasan menjadi kunci utama keberhasilan konservasi jangka panjang.
Dialog yang terbuka antara pemerintah, lembaga pengelola taman nasional, dan masyarakat adat sangat dibutuhkan untuk merumuskan kebijakan yang adil. Pengakuan terhadap hak-hak tradisional tidak boleh diabaikan demi tercapainya tujuan perlindungan lingkungan yang komprehensif dan inklusif. Dengan demikian, kelestarian alam Gunung Mutis dapat terjaga seiring dengan kesejahteraan masyarakat yang bergantung hidup di sekitarnya.
Pertanyaan Umum
Bagaimana kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Mutis?
Masyarakat adat Atoni Pah Meto di sekitar Gunung Mutis sangat bergantung pada alam untuk pertanian, perkebunan sayur, dan sumber air utama dari hutan.
Apa dampak perubahan status kawasan bagi warga?
Perubahan status menjadi taman nasional menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat adat terkait ruang kelola tradisional dan akses mereka terhadap sumber daya alam.
Tanaman apa saja yang dibudidayakan oleh petani lokal?
Petani lokal menanam padi, serta berbagai jenis sayuran seperti kacang panjang, bawang, tomat, wortel, pakcoy, dan sawi tergantung pada kondisi iklim.
Ringkasan
Perubahan status Gunung Mutis menjadi taman nasional pada tahun 2024 menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat adat Atoni Pah Meto terkait pembatasan ruang kelola tradisional dan akses mereka terhadap sumber daya alam. Di tengah ketergantungan hidup pada pertanian dan sumber air hutan, warga berharap adanya dialog terbuka agar hak-hak tradisional tetap diakui dalam kebijakan konservasi.






