Dampak Gunung Mutis Jadi Taman Nasional bagi Masyarakat Adat

- Penulis

Sabtu, 12 September 2026 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dampak Gunung Mutis — Krisensia Naben bersama suaminya menanam padi di sawah dekat Gunung Mutis yang kini jadi taman nasional

Krisensia Naben dan suaminya menyemai benih padi di sawah keluarga mereka di Desa Noepesu dekat Gunung Mutis.

Redaksiku.com – Terik mentari tak menyurutkan langkah Krisensia Naben menyusuri pematang sawah di pinggiran Sungai Noel Besi. Bersama Remigius, suaminya, dia menekuri lumpur, menyemai benih padi satu demi satu di sawah keluarga seluas 15 are. Lahan ini menjadi urat nadi bagi keluarganya yang hidup berdampingan dengan Gunung Mutis, yang baru jadi taman nasional pada 2024. Krisensia mengingat banjir dan longsor akibat Siklon Tropis Seroja pada 2020 menimbun enam are lahan sawahnya.

Sebelumnya, mereka mengelola 21 are, kini hanya bisa mengusahakan sawah yang tersisa yang berada di Desa Noepesu, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dia juga menanam sayur-sayuran seperti kacang panjang, bawang, tomat, wortel, pakcoy, dan sawi. Dalam setahun, masa tanam sayur-sayuran hanya berlangsung 2-3 kali, tergantung pada kondisi iklim. Sekali panen, petani mendapat keuntungan Rp1-2 juta, sedangkan padi hanya panen sekali dalam setahun. Biasanya hasil sawah tidak mereka jual, tetapi untuk konsumsi keluarga.

Sebagai masyarakat adat Atoni Pah Meto yang menetap di sekitar Mutis, Krisensia menjadikan alam adalah kehidupan sehari-harinya. Pepohonan, binatang liar, mata air dan batuan menjadi satu kesatuan dalam pengetahuan dan aturan adat. Mereka mengenal kepercayaan oe kanaf, hau kanaf, dan fatu kanaf yang mengatur bagaimana hubungan spiritual dan pemanfaatan sumber daya alam harus dijaga secara turun-temurun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kehidupan Masyarakat Adat di Kawasan Hutan

Kehidupan sehari-hari masyarakat adat di kawasan ini sangat bergantung pada ketersediaan air yang mengalir dari pegunungan. Hutan bukan sekadar hamparan pepohonan hijau, melainkan ruang hidup yang menyediakan kebutuhan dasar pangan, obat-obatan tradisional, hingga identitas kultural. Tanpa adanya perlindungan terhadap kearifan lokal, keberlangsungan hidup komunitas adat ini dikhawatirkan akan tergerus oleh kebijakan konservasi modern yang kerap mengabaikan aspek sosial budaya setempat.

Perubahan status kawasan menjadi taman nasional membawa angin perubahan yang dirasakan secara langsung oleh warga. Di satu sisi, status baru ini bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati yang kaya di kawasan tersebut dari ancaman kerusakan lingkungan yang lebih luas. Di sisi lain, kekhawatiran muncul mengenai ruang kelola tradisional yang selama ini dipegang teguh oleh masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Sumber air dari Mutis menjadi harapan satu-satunya bagi warga untuk berkebun dan merasakan hasil panen.

Pengalaman pahit akibat bencana alam di masa lalu juga meninggalkan trauma tersendiri bagi para petani lokal. Bencana ekologis seperti Siklon Tropis Seroja telah mengubah lanskap pertanian secara drastis, mempersempit area garapan yang produktif. Kondisi ini membuat ketahanan pangan keluarga petani sangat rentan terhadap dinamika cuaca ekstrem yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global.

Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Kebijakan

Eksistensi masyarakat adat Atoni Pah Meto di sekitar kawasan konservasi membuktikan bahwa manusia dan alam dapat hidup dalam harmoni yang berkelanjutan. Pengetahuan lokal yang diwariskan oleh leluhur mereka terbukti efektif dalam menjaga kelestarian hutan selama bergenerasi-generasi tanpa merusak fungsi ekologisnya. Oleh karena itu, pelibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan kawasan menjadi kunci utama keberhasilan konservasi jangka panjang.

Dialog yang terbuka antara pemerintah, lembaga pengelola taman nasional, dan masyarakat adat sangat dibutuhkan untuk merumuskan kebijakan yang adil. Pengakuan terhadap hak-hak tradisional tidak boleh diabaikan demi tercapainya tujuan perlindungan lingkungan yang komprehensif dan inklusif. Dengan demikian, kelestarian alam Gunung Mutis dapat terjaga seiring dengan kesejahteraan masyarakat yang bergantung hidup di sekitarnya.

Pertanyaan Umum

Bagaimana kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Mutis?

Masyarakat adat Atoni Pah Meto di sekitar Gunung Mutis sangat bergantung pada alam untuk pertanian, perkebunan sayur, dan sumber air utama dari hutan.

Apa dampak perubahan status kawasan bagi warga?

Perubahan status menjadi taman nasional menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat adat terkait ruang kelola tradisional dan akses mereka terhadap sumber daya alam.

Tanaman apa saja yang dibudidayakan oleh petani lokal?

Petani lokal menanam padi, serta berbagai jenis sayuran seperti kacang panjang, bawang, tomat, wortel, pakcoy, dan sawi tergantung pada kondisi iklim.

Ringkasan

Perubahan status Gunung Mutis menjadi taman nasional pada tahun 2024 menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat adat Atoni Pah Meto terkait pembatasan ruang kelola tradisional dan akses mereka terhadap sumber daya alam. Di tengah ketergantungan hidup pada pertanian dan sumber air hutan, warga berharap adanya dialog terbuka agar hak-hak tradisional tetap diakui dalam kebijakan konservasi.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Belajar Pengelolaan Grand Egyptian Museum Senilai 1,2 Miliar Dolar AS
Petani Aceh Budidayakan Kacang Koro Pedang Alternatif Kedelai Tahan Iklim
Veterannya AS Jalankan Pabrik Bayi Pengganti untuk WN China di California
Tanggapan Pengamat soal Wacana Ambang Batas Pilpres 2029 dan Anies Baswedan
PLN Sekayu Tegas Tertibkan Kabel Internet Ilegal di Tiang Listrik
Kolaborasi Immoderma dan Dinkes Semarang Edukasi Kesehatan Remaja
Timnas Voli Putri Indonesia Lolos ke Perempat Final Usai Kalahkan Nepal
PBSA Dapat Restu Stock Split 1:2 untuk Incar Investor Ritel

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 13:39 WIB

Indonesia Belajar Pengelolaan Grand Egyptian Museum Senilai 1,2 Miliar Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 - 13:34 WIB

Petani Aceh Budidayakan Kacang Koro Pedang Alternatif Kedelai Tahan Iklim

Selasa, 22 September 2026 - 13:29 WIB

Veterannya AS Jalankan Pabrik Bayi Pengganti untuk WN China di California

Selasa, 22 September 2026 - 13:26 WIB

Tanggapan Pengamat soal Wacana Ambang Batas Pilpres 2029 dan Anies Baswedan

Selasa, 22 September 2026 - 13:23 WIB

PLN Sekayu Tegas Tertibkan Kabel Internet Ilegal di Tiang Listrik

Berita Terbaru

Samsung Electronics Indonesia resmi meluncurkan AC Neo WindFree Ultra pada 22 September 2026.

Home Appliances

Samsung AC Neo WindFree Ultra Rilis di Indonesia: Spesifikasi dan Harga

Selasa, 22 Sep 2026 - 13:32 WIB

error: Content is protected !!