Daripada Aku Berbuat Dosa
Keesokan harinya, Ayyara terlihat sangat berseri-seri. Meskipun Abyan tidak membalas pesan terakhir yang Ayyara kirim, tapi peristiwa semalam membuatnya berpikir bahwa sang suami menyetujui permintaan tersebut.
“Bunda lagi happy, ya?” tanya Zayyan yang sudah duduk rapi di ruang makan dengan seragam sekolahnya.
Ayyara yang baru saja datang bersama Tsabita, sedikit mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum. “Kok, Abang bisa berpikir begitu?” tanyanya sembari melirik sang suami yang sedang menghidangkan nasi goreng buatannya pagi itu.
Kalau ada waktu, Abyan sangat menikmati aktivitas paginya di dapur. Dia merasakan sensasi yang berbeda ketika bisa menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya itu. Seperti kali ini, dia membuat nasi goreng kunyit-kencur favorit anak-anaknya. Resep warisan keluarga yang secara kebetulan turun temurun baik di keluarga Abyan maupun Ayyara, sama-sama menyukainya.
Hanya saja, untuk memperkaya rasa, Abyan menambahkan beberapa bahan lain, di luar bumbu utamanya agar lebih menggugah selera anak-anak. Seperti, potongan daging ayam, telur, bakso, sosis dan juga pokcoy sebagai tambahan sayurannya.
Setelah menyelesaikan masakannya, Abyan baru mandi dan berganti baju. Sekarang, dia sudah berpakaian rapi dengan mengenakan kemeja abu-abu muda berlengan panjang. Berdasi abu-abu tua dengan corak garis melintangmembentuk kotak-kotak besar dan kecil tak beraturan dipadukan celana bahan warna senada. Habis itu, barulah menghidangkan masakannya di atas meja.
“Itu, kelihatan wajahnya Bunda ceria gitu, iya kan, Yah?” Zayyan minta persetujuan ayahnya.
Ayyara kembali menoleh pada Abyan. “Memang, iya?”
Abyan tersenyum menggoda dengan sebelah alisnya terangkat. “Banget.”
“Iyakah?” Ayyara duduk di depan kedua buah hatinya sambil memegang-megang pipi.
“Iya, Tsa juga lihat, kok. Wajah Bunda cerah,” celetuk Tsabita ikut-ikutan.
Abyan yang sudah menyelesaikan penyajian masakannya pun ikut duduk di samping Ayyara. Tangannya mengusap lembut punggung sang istri. Sambil tersenyum, dia memandang Ayyara dengan sorot mata penuh cinta. “Iya, tambah cantik.”
Wajahnya yang putih bersih langsung bersemu merah. Rona di pipinya makin membuat dia memesona. Abyan pun tidak tahan dan dengan refleks melayangkan kecupan di rambut Ayyara.
Zayyan senyum-senyum, sementara Tsabita sedikit memiringkan kepala dan menopang dagunya dengan kedua telapak tangan. “Iih, Ayah sama Bunda lagi pacaran, ya?” ujarnya sambil mesem-mesem.
Abyan dan Ayyara langsung saling berpandangan, lalu berbarengan melihat ke arah Tsabita. “Eh, Adik Tsa tahu soal pacaran dari mana?” selidik Ayyara dengan dahi berkerut. Dia cukup kaget mendengar ucapan putrinya yang baru duduk di bangku TK.
“Teman-teman di sekolah aku suka bilang begitu,” jawabnya.
Abyan mengangguk-anggukan kepala. “Memang, menurut Tsa pacaran itu seperti apa?”
Tsabita terlihat sedang berpikir. “Hmm, kalau ada anak laki-laki yang duduk berdua dengan anak perempuan, dekat-dekatan kayak Ayah sama Bunda. Gitu, ya?” jawabnya tak yakin.
Abyan tersenyum. “Kalau menurut Abang Zay, pacaran itu apa?”
Zayyan yang hendak menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, jadi berhenti sejenak. Dia memanyunkan mulut sambil mengernyitkan kening, menunjukkan dirinya sedang berpikir. “Pacaran itu, laki-laki dan perempuan yang suka berdua-duaan terus,” jawabnya cukup lantang.
Abyan terkekeh mendengar jawaban putranya yang baru duduk di bangku kelas 1 SD. Ayyara pun ikut senyum-senyum. “Jadi, menurut Abang Zay, pacaran itu boleh, nggak?”
Zayyan terlihat kembali berpikir. “Aku di sekolah, nggak boleh terlalu dekat dengan teman perempuan. Kata Ibu Guru, harus ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Main bareng boleh, tapi harus bisa jaga sikap, gitu.”
“Masyaallah pintar sekali anak salihnya Bunda. Betul sekali, Abang Zay sama Adik Tsa boleh berteman dengan siapapun, tapi harus tetap menjaga sikap dan batasan antara laki-laki dan perempuan. Begitu juga dengan pacaran, boleh dilakukan asal sudah menikah seperti Ayah sama Bunda.”
Zayyan dan Tsabita mengangguk-anggukan kepala mendengar nasihat ibunya. Ayyara sendiri tahu, mungkin anak-anaknya belum sepenuhnya memahami apa yang dia sampaikan. Namun, setidaknya pemahaman itu harus ditanamkan sedini mungkin, sedikit demi sedikit. Apalagi kecepatan arus informasi di era digital sekarang ini, menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua seperti dirinya dalam membersamai tumbuh kembang sang buah hati.
Abyan tersenyum, matanya berbinar melihat dialog anak-anak dan istrinya pagi itu. Kebahagiaan tersendiri bisa menyaksikan kehangatan keluarga seperti ini. Momen yang nyaris tidak pernah dia dapatkan di masa kecilnya dulu. Sayangnya, belakangan ini, dia sering melewatkan kesempatan tersebut karena alasan pekerjaan.
Setelah selesai sarapan, Zayyan dan Tsabita memakai sepatu dan menunggu di teras depan. Sementara Ayyara, kembali ke kamar untuk mengenakan jilbab instannya. Pagi itu, Abyan tidak bisa mengantar ke sekolah, jadi dirinyalah yang harus menggantikan.
Saat Ayyara mengenakan jilbabnya, ternyata Abyan ikut menyusulnya ke kamar. “Sayang, aku jalan duluan, ya!”
Ayyara yang sedang mematut diri di depan cermin bisa melihat pantulan bayangan suaminya yang datang menghampiri. Abyan tersenyum, lalu memeluknya dari belakang.
“Iya, sudah sana, berangkat!” ujar Ayyara. Tapi, bukannya cepat berangkat, Abyan malah berlama-lama memeluknya. “Eh, entar kesiangan, lho.”
Lelaki itu seolah menulikan telinga, dia malah mengeratkan tangannya yang melingkar di perut Ayyara. “Sebentar saja, biarkan aku memelukmu.”
Ayyara sedikit heran melihat tingkah sang suami seperti ini, tapi jujur dalam hatinya sangat berbunga-bunga. Debaran jantungnya pun kembali berdetak kencang melebihi atlet pelari sprint. Apalagi saat Abyan membalikkan badannya dan fokus lelaki itu langsung pada bibir Ayyara.
Peristiwa selanjutnya sangat mudah tertebak. Ayyara sampai terpaksa harus mendorong tubuh Abyan karena dirinya nyaris kehabisan napas. Bibirnya semakin merah dan terasa panas.
“Maaf ….” Abyan mengusap lembut bibir Ayyara dengan jempolnya.
Keinginan Abyan untuk melanjutkan kesenangannya itu harus berakhir karena teriakan Zayyan dari ujung tangga terdengar begitu nyaring.
“Buun, cepetan … nanti aku kesiangan, nih!”
“Iya, Sayang … sudah, kok. Bentar lagi Bunda turun,” sahut Ayyara sembari memutar tubuhnya ke arah cermin dan menata kembali jilbabnya yang sedikit berantakan.
Abyan masih berdiri di belakangnya. “Aku nggak rela biarin kamu pergi,” ucapnya dengan mata menatap lekat wajah perempuan yang menjadi cinta pertamanya itu.
Ayyara tersenyum. “Katanya buru-buru, nggak bisa nganter anak-anak karena mau langsung ketemu klien,” sindirnya.
Abyan malah berjalan ke arah sofa di kamar tersebut. Dia duduk, lalu melonggarkan ikatan dasinya, membuka kancing kemeja bagian atas dan merebahkan kepala pada sandaran sofa. “Nggak jadi pergi, biarin aja. Aku tunggu kamu dulu, pulang nganter sekolah anak-anak.” Abyan mengatakan itu dengan mata terpejam.
Ayyara memiringkan kepala sambil menyipitkan mata memperhatikan tingkah suaminya. ‘Kenapa, dia?’ tanyanya dalam hati.
“Bunda, cepetan …!” Zayyan kembali berteriak.
“Iya, iya, Bunda turun sekarang.” Ayyara menghentikan dulu rasa penasarannya. Dia lalu meraih tangan Abyan, salam takzim padanya. “Aku berangkat dulu, Mas. Assalamualaikum …!”
Setengah berlari Ayyara keluar dari kamar. Dia bergegas menuruni tangga menuju garasi.
“Wa’alaikumsalam …!” Abyan menjawab salam sambil membuka mata dan sedikit mengangkat kepalanya mengikuti arah gerak tubuh sang istri.
Saat ini dirinya tengah meredam gejolak di dalam dada dan menghapus bayang-bayang Lidya. Semakin hari, kian menjadi saja dan membuatnya terus memikirkan perempuan itu.
Abyan pernah mendengar ceramah dari seorang ustadz yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda dalam salah satu haditsnya Imam Tirmidzi, Jika engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki oleh wanita itu.
Karena itulah, hari ini dia sengaja membatalkan janjinya untuk bertemu dengan Lidya. ‘Maafkan aku, Ay … yang terkesan memanfaatkanmu. Semoga suatu hari nanti kamu bisa mengerti, daripada aku berbuat dosa.’
Dibaca: 465
Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow