“Bu, saya mohon tetap pertahankan Bridal dan WO Rei’s. Hidup kami semua bergantung dari penghasilan di sini. Jika WO tutup, bagaimana kami bisa menghidupi keluarga, Bu. Kami bersedia menjaga Ibu jika Ibu harus turun tangan mengurusi semuanya.” Perempuan berambut pendek sebahu naik ke podium, lalu berlutut di depan Kirei.
Kirei terkejut dengan reaksi perempuan itu. Ia langsung menyuruh perempuan itu untuk berdiri. Rasanya tak pantas, manusia berlutut di hadapan manusia lainnya. Manusia hanya berlutut di hadapan Tuhan. Tak hanya berlutut, tetapi bersujud di hadapan Tuhan.
“Iya, Bu. Kami sudah bertahun-tahun kerja di sini. Ibu sudah sangat baik pada kami. Sekarang saatnya, kami membalas semua kebaikan Ibu. Masalah Ibu adalah masalah kami juga. Kamu tidak mungkin meninggalkan Ibu sendirian menghadapi masalah ini.” Pria yang mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam kain berteriak lantang. Bahkan, semua karyawan menyetujui perkataan pria itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mendengar semangat dan kepedulian para karyawannya, Kirei merasa terharu. Ia kembali mempertimbangkan keputusannya. Tidak ada salahnya, ia meminta izin pada Attala dan semua keluarganya.
“Saya ucapkan terima kasih pada kalian semua. Saya akan mencari jalan keluar yang terbaik untuk masalah ini. Sekali lagi, terima kasih.” Kirei tak mampu menahan air mata. Ia menangis dengan tubuh bergetar.
Hanny yang berada di samping Kirei langsung memeluk sahabatnya itu. Mungkin, sahabatnya itu tidak menyangka kalau buah dari kebaikan selama ini. Membuat para karyawannya ingin tetap mempertahankan usaha yang dibangun dari nol itu. Roda kehidupan memang terus berputar. Kadang di atas, kadang pula di bawah. Sekarang, WO dan Bridal Rei’s sedang mengalami fase berada di bawah setelah lima tahun mengalami masa kejayaannya.
Hanny mengambil alih microphone, lalu memerintah semua karyawan untuk kembali ke pekerjaan masing-masing. Satu per satu, karyawan meninggalkan aula. Sekarang, tinggal ia dan Kirei saja.
“Ki, kita kembali ke ruang kerja, ya?” tanya Hanny.
“Han, aku mau pulang saja.” Kirei ingin menenangkan diri.
“Oke. Aku antar ke depan kantor.” Hanny paham sahabatnya itu butuh istirahat karena kehamilannya.
Kirei pergi ke ruang kerja untuk mengambil tas, lalu berjalan ke luar kantor. Sepanjang jalan, semua karyawan yang dilewatinya memberikan semangat. Ia hanya bisa tersenyum. Hanny dengan setia memapah Kirei. Sepertinya, sahabatnya itu merasa khawatir.
Martono membukakan pintu mobil saat melihat majikannya keluar dari kantor. Sebelumnya, majikannya itu memang menyuruhnya bersiap untuk pulang. Setelah majikannya masuk mobil, ia duduk di balik kemudi. Dari balik kaca spion depan, ia melihat majikannya menyandarkan sambil memejamkan mata. Ia ingin sekali bertanya, tetapi tidak jadi karena kondisinya tidak tepat. Ia menyalakan mesin, lalu mobil pun melaju meninggalkan kantor WO dan Bridal Rei’s.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, Kirei pun sampai di rumah. Ia melihat pintu rumah terbuka, sepertinya ada tamu yang berkunjung. Ia melangkah masuk ke rumah dan melihat Mama Maya sedang ngomel-ngomel pada Samirah.
“Mah,” panggil Kirei sambil mengulurkan tangan.
“Rei, kamu harusnya istirahat.” Maya tidak menerima uluran tangan Kirei. Ia malah memperhatikan wajah menantunya itu. “Kenapa wajahmu pucat? Apa ada masalah di kantor?”
Kirei belum sempat menjawab pertanyaan Maya. Ia merasa pusing dan matanya berkunang-kunang. Tubuhnya tiba-tiba lemas. Beruntung, mertuanya dengan sigap menopang tubuhnya.
“Ya ampun, Kirei. Martono!” panggil Maya dengan suara keras. Ia panik.
Martono datang tergopoh-gopoh. Ia terkejut melihat majikannya tak sadarkan diri.
“Martono, tolong bawa Kirei ke kamar!”
“Baik, Bu.” Martono mengendong Kirei, lalu berjalan menuju kamar majikannya yang ada di lantai 2.
Sumirah diam-diam memotret kejadian itu, lalu mengirim hasilnya pada seseorang yang sedari tadi menunggu kabar darinya.
Halaman : 1 2






