Novel : Choose Happiness (Part 18)

- Penulis

Selasa, 29 Oktober 2024 - 10:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 18)

Bab. 18 Trocadero Gardens

Di malam hari yang sejuk, terlihat Amora dan Daren yang memasuki sebuah gedung yang sangat besar dan mewah berwarna emas, gedung ini adalah salah satu tempat yang memuat sejarah dan simbol bagi bangsa Prancis.

Ya, Museum Louvre.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Museum Louvre adalah salah satu museum seni terbesar dan paling terkenal di dunia, terletak di Paris, Prancis. Di dalam musuem ini terdapat puluhan ribu karya seni lukisan, patung dan artefak dari berbagai budaya dan periode sejarah.

Salah satunya adalah lukisan Mona Lisa yang kini dilihat oleh Daren dan Amora setelah berkeliling untuk melihat-lihat benda-benda bersejarah yang ada di museum itu.

Kedua orang itu berjalan dari ujung ke ujung hingga akhirnya mereka keluar dari gedung itu setelah semua benda yang ada di sana mereka lihat. Kini di luar Daren dan Amora berjalan menuju titik yang cukup ramai dikerumuni oleh orang-orang, yaitu Piramida Louvre.

Ini yang sangat ingin Amora lihat sedari kemarin, “Indah bangeet” ujar Amora ketika dirinya kini sudah berdiri tepat di depan bangunan yang sangat cantik itu.

“Suka nggak?”

Amora menganggukkan kepalanya, “Suka banget.”

Melihat Amora yang terlihat sangat kagum dengan pemandangan yang ada di depannya membuat Daren mengusap lembut pucuk rambut Amora, mendengar sentuhan tak terduga itu membuat Amora semakin terpaku.

Daren yang tahu bahwa Amora terdiam karena tindakannya barusan langsung menjauhkan tangannya dari kepala Amora. Merasakan sentuhan yang sudah tidak terasa itu membuat Amora mendongakkan kepalanya ke sebelah kanannya, tepatnya ke arah Suaminya itu.

“Kenapa berhenti?”

“Hah?” Daren bingung dengan pertanyaan Amora barusan, apakah dia tidak salah dengar dengan apa yang dikatakan Istrinya itu?

Mengetahui Daren yang tidak paham dengan maksudnya itu membuat Amora menghembuskan nafasnya, lalu dia mulai mengambil tangan kiri Daren dan membawa tangan itu ke bahu sebelah kirinya.

“Udah kayak gini aja” ucap Amora yang lalu semakin mendekatkan dirinya dengan Daren.

Daren yang melihat itu benar-benar terkejut, dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Amora barusan. Tapi tak lama kemudian Daren ikut terbawa suasana yang sangat indah itu dan terus merangkul Amora.

Keesokan harinya Daren terbangun dari tidurnya dan langsung disambut dengan wajah tenang milik Amora yang tengah menghadap ke arahnya, perempuan itu sepertinya masih berada di alam bawah sadarnya.

Melihat pemandangan itu membuat Daren menyunggingkan bibirnya, “Cantik.”

Setelah mengucapkan kata itu seraya tersenyum tipis, dengan pelan tanpa mengusik tidur Amora, Daren mulai beranjak dari kasur itu menuju kopernya untuk mengambil pakaian yang akan dia kenakan setelah mandi.

Dan setelah Daren masuk ke dalam kamar mandi, terlihat Amora yang langsung membuka matanya dan tersenyum seperti orang yang salah tingkah, setelah itu dia kembali membenarkan posisi tidurnya dan menutup matanya lagi.

Di sekitar pukul 8.30 pagi terlihat Amora dan Daren yang tengah sarapan di hotel yang mereka tempati, “Kak, aku mau nanya.”

“Nanya apa?” tanya Daren yang langsung menghentikan pergerakan sendoknya yang menampung makanan yang akan dia makan.

“Sebenarnya aku mau nanya ini dari dulu, tapi akunya ngga enak sama kamu” ucap Amora yang juga menghentikan acara makannya.

“Ngga papa, kalau emang mau nanya, nanya aja” jawab Daren yang setelah itu memakan makanan yang tadinya sempat tertunda.

Mendengar itu Amora pun menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum bertanya, “Dulu kamu pernah bilang ke aku kalau kamu nerima perjodohan kita karena Oma kamu yang sakit parah. Tapi kenapa waktu aku ngelihat Oma, Oma kayak sehat-sehat aja?”

“Aku bukan bermaksud berharap dan do’ain Oma yang buruk, tapi-”

“Iya ngga papa. Wajar kok kalau kamu nanya kayak gitu. Jadi, Oma punya penyakit jantung. Dari dulu hal yang dinantikan sama Oma adalah pernikahanku, dan akhirnya waktu Papa sama Mama berencana untuk jodohin aku sama kamu, Oma bener-bener senang banget dan ngga sabar.”

“Tapi waktu denger kalau kamu nolak perjodohan itu, penyakit Oma langsung kambuh dan Oma pingsan. Itu semua ngebuat Oma harus di-opname 2 hari, dan Dokter pribadi Oma bilang kalau Oma terus-terusan kayak gini, mungkin umur Oma ngga panjang lagi.”

“Makanya malam itu aku nyuruh kamu buat nemuin aku besoknya, buat bahas masalah itu. Aku ngga mau kehilangan Oma” jawab Daren panjang lebar menceritakan kejadian di hari itu yang membuatnya memaksa Amora untuk menerima perjodohan yang disiapkan oleh orang tua mereka.

Mendengar penjelasan Daren yang sungguh sangat panjang membuat Amora sedikit tertegun. Jujur, baru kali ini Amora mendengar Daren berbicara sangat panjang seperti pagi itu.

Tapi tak lama setelah itu Amora pun mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku paham kok. Maaf ya udah ngebuat penyakit Oma semakin parah” ucap Amora yang lalu mengulurkan tangan kanannya dengan mulut yang masih mengunyah makanan.

Daren menggelengkan kepalanya sembari memegang tangan Amora, “Ngga papa, bukan salah kamu kok” jawab Daren dengan senyum tipis andalannya.

“Apa kamu udah mulai nerima perjodohan kita ini?” tanya Daren yang membuat Amora terdiam sejenak.

Tapi tiba-tiba Amora tersendak makanannya sendiri hingga membuat Daren panik dan langsung memberikan minuman milik Amora kepada perempuan itu. Melihat tindakan Daren itu membuat Amora segera mengambil minumannya dan meminumnya hingga batuknya menghilang.

“Kamu ngga papa?” tanya Daren yang masih panik.

Amora menggelengkan kepalanya, “Engga, engga papa kok” jawab Amora yang lalu menaruh kembali minumannya di atas meja.

“Beneran kan, Ra?”

“Iya, Kak. Ngga papaa” jawab Amora yang masih berusaha untuk meyakinkan Daren bahwa dia baik-baik saja.

“Ya udah lanjutin aja makannya, ngga usah ngomong lagi” ucap Daren yang diangguki oleh Amora. Setelah melihat Amora yang kembali memakan makanannya membuat Daren juga melakukan hal yang sama.

Setelah itu mereka berdua pun melanjutkan acara sarapan mereka hingga selesai. Lalu mereka kembali ke kamar hotel untuk bersiap-siap pergi ke salah satu tempat bersejarah serta dinamis di kota Paris, yaitu Le Marais.

Sesampainya di tempat yang tidak jauh dari Museum Louvre ini, Daren dan Amora yang masih di dalam mobil cukup kagum saat melihat bangunan-bangunan yang berdiri di kawasan Le Marais ini.

Lalu mereka pun memutuskan untuk berhenti di salah satu bangunan yang ada di sana, yaitu Museum Carnavalet. Mereka berhenti sebentar untuk melihat kisah perjalanan kota ini sejak masa Romawi hingga era modern.

Setelah dari musuem itu, mereka pun memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju Place des Vosges. Ini adalah alun-alun tertua yang ada di Paris dan di sekelilingnya terdapat bangunan bergaya klasik.

Mereka mengelilingi alun-alun itu seraya bergandengan tangan dan melihat tempat-tempat apa saja yang ada di sana, dan mereka juga mencari tempat yang menghidangkan makanan untuk mereka makan siang nanti. Karena mereka juga malas jika harus mencari lagi restoran yang ada di luar kawasan itu.

Saat berkeliling di Place des Vosges itu, tiba-tiba salju kembali turun. Melihat itu Daren pun segera menelfon sopirnya untuk menjemput mereka di sana. Seraya menunggu sopir mereka datang, Daren pun melindungi kepala Amora dari salju-salju yang berjatuhan menggunakan lengan tangannya.

“Ngga papa, Kak. Salju doang” ucap Amora ketika melihat tindakan Daren.

“Biar nanti bersihinnya ngga susah, Ra” jawab Daren.

“Okee.”

Setelah menunggu beberapa menit, sopir mereka pun datang. Melihat itu Amora dan Daren pun langsung masuk ke dalam mobil itu, melihat Daren dan Amora yang sudah masuk, sopir itu kembali menancap gas mobilnya.

Mobil berwarna hitam itu berkeliling di kawasan Le Marais dan berhenti ketika Daren memintanya untuk berhenti. Dan kini mereka berhenti di Le BHV Marais.

Tempat ini adalah toko serba ada mewah yang menjual berbagai barang dari fashion hingga dekorasi rumah dan ini juga salah satu tempat yang cocok untuk membeli oleh-oleh atau produk khas Paris.

Baru saja masuk, Amora sudah langsung tertarik dengan beberapa barang-barang yang ada di sana, Daren yang tau bahwa Amora sangat suka dengan benda-benda yang lucu pun menyuruhnya untuk membeli barang itu.

“Udah beli aja, jangan dilihatin kayak gitu” ucap Daren yang sedari tadi membuntuti di mana pun Amora melangkah.

“Emm, beli ngga yaa?” gumam Amora setelah mendengar ucapan dari Daren.

“Udah beli aja, Ra. Uang saya ngga akan habis kalau cuma buat beli barang-barang kayak gitu” ujar Daren.

“Widiii, emang boleh sekaya itu, Pak?. Oke Bapak Daren, saya beli yaa” jawab Amora dengan senyum lebarnya yang lalu mengambil barang-barang yang ingin dia beli itu.

Melihat tingkah Amora yang sangat lucu membuat Daren gemas dan mengusap lembut pucuk rambut Amora beberapa kali, tapi kali ini perempuan itu tidak terkejut seperti kemarin.

Setelah puas berbelanja, Daren dan Amora pun keluar dari sana dan masuk kembali ke dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan yang aman.

“Where else do you want to go, sir?” tanya sopir itu setelah Daren dan Amora masuk ke dalam mobil.

“Please take us to a restaurant you know here” jawab Daren.

Terlihat sopir itu yang mulai berpikir, “How about we go to the Marche des Enfants Rouges?. There’s a lot of food here from various countries, including French, Italian, Moroccan, Japanese and many more.”

Mendengar jawaban itu Daren pun melihat ke arah Amora, “Gimana?, kamu mau?” tanya Daren.

“Boleh” jawab Amora seraya menganggukkan kepalanya.

“Okay, Sir. We’re going there” ucap Daren kepada sopir itu.

“Yes, Sir” jawab sopir itu yang lalu menancap gasnya untuk menuju tempat yang dia maksud.

Di sepanjang jalan Amora terus melihat ke arah jendela, pemandangan di luar sana sungguh sangat indah. Kota itu sudah cukup indah, tetapi kini ditambah salju yang berjatuhan semakin menambah kesan indah dan romantis yang ada di kota itu.

Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tempat yang dimaksud oleh sopir itu, sesampainya di sana mereka pun turun dari mobil itu dan kembali berjalan kaki memasuki tempat yang ternyata sebuah pasar.

Ternyata Marche des Enfants Rouges adalah pasar tertua yang ada di Paris, tempat ini menawarkan berbagai pilihan makanan dari seluruh dunia, termasuk masakan khas Paris, Italia, Maroko dan Jepang. Tepat seperti yang dikatakan oleh Sopir tadi.

Setelah puas berkeliling seraya melihat makanan apa saja yang ada di dalam sana, mereka berdua pun memutuskan untuk berhenti di tempat makan dengan masakan khas Italia.

Mereka berdua memesan makanan yang sangat khas dengan Italia, yang tak lain tak bukan adalah Pizza. Tak hanya Pizza, mereka juga memesan Lasagna. Lalu untuk minumannya mereka memilih minuman yang hangat, yaitu hot cappucino. 

Daren dan Amora berbincang-bincang kecil sembari menunggu makanan yang mereka pesan datang, “Ra, maaf ya kalau aku tiba-tiba keceplosan pakai ‘saya’. Soalnya aku memang sudah terbiasa berbicara menggunakan kata ‘saya’ dari dulu” ucap Daren.

“Iya, Kak, ngga papa. Aku paham kok. Mulai sekarang kalau kamu mau pake saya juga ngga papa, soalnya aku dengernya kamu agak kaku kalau ngomong pakai aku” jawab Amora dengan senyum manisnya.

“Beneran?”

“Iya, Kaak” jawab Amora seraya menganggukkan pelan kepalanya.

Lagi-lagi Daren mengusap lembut pucuk rambut Amora dengan senyum tipis yang masih bisa dilihat oleh perempuan itu, “Makasih ya” ujar Daren yang untuk kedua kalinya diangguki oleh Amora yang sama-sama tersenyum.

Di sekitar pukul 3 sore terlihat Daren dan Amora yang tengah duduk di sebuah kursi yang ada di Trocadero Gardens. Ya mereka pergi ke taman ini lagi untuk melihat matahari terbenam.

Walaupun akan cukup sulit jika dilihat di musim salju seperti ini, apalagi sekarang salju tengah turun menjatuhi kota Paris. Tapi mereka tetap mengunjungi taman itu karena mereka juga tidak ada aktivitas lain yang harus dilakukan, jadi mereka pun memutuskan untuk pergi ke taman yang dekat dengan hotel mereka ini.

Saat duduk bersender di bahu lebar milik Daren, Amora merasa haus, “Kak, aku beli minum di sana bentar ya” ucap Amora seraya menunjuk tempat yang tidak jauh dari sana, namun tempat itu tertutup oleh pohon cemara yang membuatnya tidak terlihat jika dilihat dari tempat Daren duduk.

“Saya saja” ucap Daren yang hendak berdiri, namun langsung ditahan oleh Amora.

“Ngga usah, aku juga mau ke toilet. Bentar ya” ujar Amora yang lalu berdiri dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban dari Daren.

Melihat itu Daren hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan senyum tipis sembari terus melihat ke arah Amora yang berjalan hingga kini perempuan itu tak lagi terlihat dari pandangan Daren.

Selang beberapa menit kemudian, terlihat Amora yang sudah selesai membeli minuman botol yang dia inginkan. Setelah itu Amora pun pergi dari tempat dia membeli minuman dan kembali berjalan menuju ke tempat duduknya tadi.

Dengan bersemangat serta senyum cantiknya Amora berjalan menuju tempat duduknya tadi. Tapi ketika sampai di tempat duduknya dan Daren tadi, kedua minuman yang tadinya ada di tangan Amora seketika terjatuh dari kedua tangan mungil itu.

Amora mematung di tempat yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat duduknya tadi, karena melihat pemandangan yang benar-benar tidak bisa dia cerna dengan mudah saat itu juga.

Senyuman yang tadinya mengembangkan kini mulai menghilang dari wajah cantik Amora, dan akhirnya dia tersadar dengan apa yang dia lihat saat itu.

Amora melihat dengan jelas seorang perempuan yang tidak terlihat wajahnya karena tertutup jaket milik Daren, perempuan itu memeluk Daren dengan sangat erat di dekat tempat duduk yang tadinya diduduki oleh Amora dan Daren.

Walaupun semua itu sudah berhasil Amora cerna, tapi dirinya masih mematung di atas tanah yang berlapis salju. Perasaannya benar-benar campur aduk melihat keadaan di depannya saat itu, ditambah salju yang senantiasa berjatuhan mengenai tubuhnya.

“Kak.”

Daren dan perempuan itu seketika menoleh ketika mendengar suara lirih dari Amora, “Amora.”

 

 

 

Bersambung……

 

 

 

https://www.redaksiku.com/novel-choose-happiness-part-17/

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Polres Barru bersama Badan Pangan Nasional, Bulog, pemerintah daerah, TNI, dan stakeholder terkait mengecek kualitas serta kuantitas.

Internasional

Beras Bantuan di Gudang Bulog Dicek, Ini yang Dipastikan Polisi

Selasa, 18 Agu 2026 - 15:14 WIB