Novel : Bertahan di Atas Luka Part 34
Bayu Ramadhan.
Aku merasa bahagia karena hubunganku dengan Amira semakin membaik. Ternyata mengalah sedikit untuk kebaikan tidaklah sulit, hanya membutuhkan kesabaran dan hati yang lapang untuk mengakui kesalahan. Aku belajar menjadi suami yang lebih perhatian. Meskipun terkadang masih sukar untuk menahan emosi, aku tetap berusaha demi kelangsungan rumah tangga kami.
Aku semakin rajin hadir di kajian Ustaz Faruq, juga banyak belajar dari Pak Farhan bagaimana cara membahagiakan istri. Menurut lelaki paruh baya itu, lelaki yang baik adalah yang sayang kepada istrinya dan Rasulullah adalah sebaik-baik lelaki. Rasul begitu lembut dan sangat penyabar terhadap istri-istrinya. Beliau bahkan selalu membantu pekerjaan rumah tangga dan menjahit sendiri bajunya yang sobek. (HR. Ahmad 23756).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rasanya tidak sabar menunggu Amira kembali ke Riyadh. Aku akan mengajaknya berlibur ke kota-kota di sekitar Riyadh, sesuatu yang tidak pernah kulakukan selama ini dengan alasan sibuk. Aku juga telah menghubungi beberapa teman untuk melihat apakah mungkin bagi Amira untuk memberikan les Bahasa Inggris kepada anak-anak di sekitar tempat tinggal kami. Aku ingin mengisi tangki-tangki cinta Amira supaya ia mau membatalkan permintaan cerai.
Semuanya berjalan sesuai rencana, hingga aku mendapat kabar kalau Amira belum bisa pulang karena masih harus mengurus masalah Sasha. Jujur, aku tak habis pikir dengan alasan Amira. Sasha bukan anak kecil lagi yang harus ditemani dan diurusi kehidupannya. Amira juga sudah lama di sana, kenapa masih harus menunda kepulangannya?
Apa Amira membohongiku? Mengapa saat menelepon kemarin ia seperti menyembunyikan sesuatu? Apa sebenarnya yang terjadi? Berbagai pikiran buruk memenuhi kepalaku. Rasa curiga membuatku gelisah dan tidak tenang. Andai saja jarak Jakarta-Riyadh itu dekat, aku pasti sudah memutuskan untuk kembali pulang. Ah, ini hanya perasaanku saja karena kami sudah cukup lama berpisah, aku mencoba menepis semua pikiran buruk.
Aku harus menghubungi Amira dan kembali membujuknya untuk segera pulang agar masalah kami segera selesai. Semoga ia mau mendengarkanku. Akhirnya Jumat siang setelah melaksanakan salat Jumat, aku meneleponnya.
Mir! Gimana? Kamu udah tahu kapan mau pulang? Pesan tiket itu nggak bisa mendadak, nanti jadi mahal. Ingat juga, visa kamu sebentar lagi habis. Aku langsung menyapa begitu suaranya terdengar di seberang.
Kenapa, Mas? Udah kangen banget, ya? tanya Amira menggoda.
Visa ¦ Mir! Bukan apa-apa, kalau visanya habis, kamu nggak bisa balik ke sini, sahutku balik menggoda.
Ya udah, kan aku udah bilang, nggak usah balik ke sana kalau visaku habis. Hayo ¦, Mas sendiri yang bilang barusan kalau visa habis, aku nggak bisa balik ke sana. Ya sekalian aja nggak usah balik. Selesai, kan?
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Gemas mendengar kata-kata istriku. Amira berubah. Ia menjadi lebih periang. Kecurigaanku semakin besar.
Kamu kenapa sih, nggak mau kembali ke sini? tanyaku mencoba menekan rasa jengkel.
Hening.
Mir? panggilku berusaha lembut.
Iya, Mas.
Kamu pulang, ya? Kasih kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi suami yang baik. Kalau nanti ternyata kamu masih kecewa dengan sikapku, aku akan bebaskan kamu, ujarku mantap.
Amira membisu.
Maaf, Mas, tapi aku belum bisa. Ada sesuatu yang harus aku lakukan lebih dulu. Mas jangan khawatir, aku nggak akan lama, kok. Aku tahu kalau visa udah mau habis. Boleh, ya, Mas? Kalau semua sudah beres, aku janji akan pulang. Amira memohon dengan sangat.
Aku berusaha menahan diri untuk tidak membentaknya. Bagaimana bisa ia minta waktu lagi? Katanya mau cepat menyelesaikan masalah, tapi ini selalu mengulur waktu untuk pulang.
Belum selesai juga urusannya? tanyaku tegas.
Eh ¦, belum, jawab Amira tergagap.
Urusan apa sih sampai lama sekali nggak selesai-selesai? Kamu yang bilang mau segera menyelesaikan masalah kita, sekarang kamu malah malas pulang. Mau kamu gimana, sih, Mir? tanyaku keras. Aku tak bisa lagi menahan diri.
Amira membisu, hanya terdengar helaan napas panjangnya.
Aku sudah berusaha untuk ngalah, lho! Aku mencoba untuk mengerti kamu, untuk membuatmu bahagia. Kamu minta pulang belakangan aku kabulkan, terus sekarang kamu belum juga mau pulang. Aku harus gimana, Mir?
Maaf, Mas. Aku juga pingin pulang, tapi untuk saat ini aku belum bisa. Tolong ngerti aku, jawabnya lirih.
Kurang ngerti gimana lagi aku, Mir? jawabku dingin.
Makanya, kan aku bilang, mending aku nggak usah pulang sekalian ke Riyadh. Kamu ceraikan aja aku sekarang. Gampang, kan?
Kamu mulai lagi! Berapa kali sih aku harus bilang kalau aku nggak akan ceraikan kamu sebelum kita bicara, benar-benar bicara. Bicara serius dan sampai tuntas! Aku berusaha mengatur napas yang memburu.
Lalu aku melanjutkan, Urusan apa sih, sebenarnya? Kok sekarang malah kamu yang nggak terbuka gini. Kamu ada rahasia apa? Apa ada lelaki lain? tembakku.
Kok Mas nuduh sembarangan gitu? tanya Amira keras. Suaranya mulai bergetar.
Aku nggak nuduh, tapi kamunya yang nggak mau terbuka. Jadi jangan salahkan aku kalau punya pikiran buruk ke kamu, sahutku ketus.
Aku nggak serendah itu, Mas. Aku tahu, meskipun kita punya masalah, aku masih istri kamu! Tega banget kamu nuduh kayak gitu! sahutnya mulai terisak.
Aku bergeming.
Sesungguhnya, ada rasa menyesal mendengarnya menangis, tapi rasa gengsi melarangku untuk mengalah. Aku sudah cukup mengalah dan mengakui semua kesalahanku. Prasangka buruk mulai menguasai hatiku, berusaha menebak kenapa Amira belum mau pulang.
Namun, setelah terdiam beberapa saat, akhirnya aku kembali mengalah. Dengan berat hati, aku mengizinkan Amira untuk tetap di sana sampai ia siap untuk kembali. Biarlah, ia menghabiskan waktu sepuasnya di Jakarta karena setelah ini ia harus siap untuk menghadapi kembali masalah kami. Semoga dengan kukabulkan permintaannya, bisa membuat perempuan tercinta itu menyadari betapa aku menyayanginya dan tak ingin berpisah.
Baiklah, Mir. Kamu boleh di sana sampai siap untuk pulang. Aku nggak akan ngelarang. Selesaikan dulu urusan kamu, urusan Sasha, atau pun Ibu. Nanti setelah semua selesai, kamu kasih tahu aku, kataku datar, masih menyimpan rasa kesal di dada.
Lama tak terdengar jawaban Amira. Namun, akhirnya ia berkata, Baik, Mas. Aku akan pulang minggu depan. Nanti aku kirim tiketnya supaya kamu bisa jemput.
Aku terkesima, tak percaya mendengar kata-katanya. Rasanya aku ingin melompat saking senangnya mendengar keputusan Amira. Alhamdulillah, Allah kabulkan doaku. Akhirnya istriku memutuskan untuk kembali ke Riyadh. Namun, karena masih jengkel, aku berusaha untuk tidak terdengar terlalu senang.
Kamu serius? Nanti kalau ada apa-apa di sini kamu ngambek lagi terus nyalahin aku. Udahlah, kalau kamu masih mau lama di sana, ya silakan.
Nggak, Mas. Aku janji seminggu ini aku akan selesaikan urusanku. Setelah itu, aku akan balik ke Riyadh. Kalau pun nanti kita bertengkar lagi dan nggak nemu kata damai, aku harap kamu ikhlas melepasku. Suara Amira terdengar lebih tenang.
Baik kalau gitu. Nanti aku jemput. Aku juga udah punya rencana untuk kita berdua. Nanti aja kalau kamu udah di sini. Aku janji akan bikin kamu bahagia.
Selesai menghubungi Amira, aku segera bersiap-siap untuk menghadiri acara kajian Ustaz Faruq. Pak Farhan mengajakku kemarin. Kebetulan, pikirku. Aku memang ingin ngobrol dengannya.
Gimana kabarnya Mbak Amira, Mas Bayu? Kapan pulang? tanya lelaki dengan rambut yang sudah mulai memutih itu. Aku yang sedang mengemudi tersentak dan menoleh sekilas pada Pak Farhan.
Oh, baik, Pak. Iya, Amira belum bisa pulang karena masih ada keperluan keluarga yang belum selesai, tapi insyaallah minggu depan pulang.
Oh, syukurlah. Kasihan Nak Bayu kalau ditinggal sendiri kelamaan. Waktu puasa udah pulang duluan, kan ya? tanyanya sambil tersenyum.
Iya, Pak. Kangen katanya sama ibunya, jawabku singkat. Boleh saya tanya, Pak?
Pak Farhan memandangku lalu mengangguk.
Monggo, Nak. Mau tanya apa?
Aku berdehem, mencoba membasahi kerongkongan.
Bagaimana kalau seorang istri tidak menurut apa kata suaminya? Apakah si suami patut menegur?
Nggak nurutnya gimana? Kalau hanya masalah sepele dan bukan soal akidah, bisa dibicarakan baik-baik. Tapi kalau sudah menyangkut akidahseperti sang suami menyuruh pakai jilbab, tapi istrinya menolakmaka suami harus dengan tegas menegurnya.
Kalau pergi tanpa izin suaminya? tanyaku lagi.
Ya sebetulnya nggak boleh, Mas. Selama suaminya adalah laki-laki saleh, istri wajib patuh pada suaminya. Kalau suami melarang, istri harus menurut, jelas Pak Farhan. Saya lihat, zaman sekarang banyak perempuan yang tidak mendengarkan kata suaminya, padahal semua larangan itu untuk menjaga keamanan si perempuan juga.
Aku menyimak sambil konsentrasi mengemudi.
Lalu kita sebagai suami harus gimana, Pak?
Pak Farhan tidak langsung menjawab.
Menurut Mas Bayu gimana? Lelaki itu balik bertanya.
Kalau kata hati kecil saya, ya harus kasih tahu istrinya, tapi bilang juga alasan ngelarang kenapa? Tanya juga sang istri, kenapa harus pergi? Kalau memang urusannya penting dan nggak melanggar agama, saya cenderung izinkan. Yang penting suami dan istri saling bicara terus terang. Benar nggak, Pak?
Pak Farhan tersenyum.
Dengan selalu mengikuti kajian Ustaz Faruq dan berbincang dengan Pak Farhan, aku menjadi semakin mengerti masalah antara suami dan istri. Aku semakin menyadari kalau mengarungi rumah tangga itu memang membutuhkan kesiapan dan ilmu yang benar, bukan sekedar rasa cinta. Berdebat atau bahkan bertengkar dengan pasangan itu juga untuk mengutarakan semua beban dalam hati, selama suami dan istri melakukannya dengan baik.
Aku semakin yakin untuk mempertahankan rumah tanggaku, apalagi Amira juga berjanji untuk segera pulang. Waktu seminggu terasa sangat lama, aku tidak sabar untuk segera menjemput Amira. Tiga hari setelah pembicaraanku terakhir dengan Amira, ia mengirimkan pesan tentang kepulangannya.
-bersambung-
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






