Novel : Langit Tanpa Bintang Bab 2 Harapan

- Penulis

Kamis, 5 September 2024 - 11:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Langit Tanpa Bintang Bab 2 Harapan

Bab 2 Harapan

Saat, Shima dan suaminya masuk ke rumah utama yang pintunya selalu terbuka. Shima menatap kagum rumah itu. Ada foto keluarga Kiai Muflih menempel di dinding. Kaligrafi dan gambar kabah mengapit di sisi kanan dan kirinya foto keluarga. Jam kayu ukir berdiri gagah dengan angka tulisan arab, Shima terpikir untuk mendekorasi rumahnya yang masih polos seperti rumah mertuanya. Fa™al pun kemudian mengucapkan salam kepada penghuni rumah yang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Assalamu™alaikum ¦, ucap Fa™al dan Shima yang disambut dengan tatapan ramah. Faiz kakaknya Fa™al yang sedang berbincang dengan istrinya di sofa langsung bangkit sambil menjawab salam.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah, masyaallah pengantin baru sudah datang. Sarapan bersama sudah bisa di mulai, nih,” jawab Faiz antusias, bahkan sampai memeluk Fa™al. “Ayo, silakan duduk dulu,” sambung Faiz sekaliguas mempersilakan adik iparnya duduk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masyaallah, Kak Risti, sedang hamil? tanya Fa™al kaget karena ia melihat buku pemeriksaan kandungan yang di pegang kakak iparnya. Sudah satu tahun lebih sang kakak ingin memiliki anak dan tahun ini bertepatan dengan beberapa hari ia menikah kakak iparnya juga mengandung.

Iya, alhamdulillah. Risti menjawab dengan melirik sebentar ke arah adik iparnya. Ia lalu menyapa istri Fa™al dengan saling cipika cipiki.

Selamat ya, Kak, Bang. Barakallah untuk antum semoga janinnya senantiasa diberikan kesehatan. Setelah mengatan itu, Fa™al lalu duduk di samping istrinya.

Terima kasih, kata Risti sembari tersenyum tanpa melihat wajah Fa™al.

Masyaallah, selamat ya, Kak. Semoga lancar selama proses kehamilannya, barakallah, Kak. Shima pun ikut memberi selamat.

Terima kasih, semoga anti juga segera menyusul, ya, ucap Risti tersenyum lembut menatap Shima.

Amin, ucap Shima sembari tersenyum menatap Risti meski hatinya terasa ada yang sakit.

Melihat raut wajah istrinya berubah murung, Fa™al buru-buru menggenggam tangan Shima dengan erat seakan memberi kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Masyaallah ¦ Adik ipar, apa kabar? Pertanyaan itu mengalihkan fokus Shima yang mendadak murung. Itu adalah Amirah, Kakak perempuan Fa™al. Ia baru menenangkan bayinya yang menangis. Bayi perempuan gembul yang baru dua bulan itu terlihat menggemaskan, Shima langsung menghampiri Amirah sembari menjawab pertanyaan kakak iparnya, alhamdulillah, Shima baik, Kak.

Kak, boleh Shima gendong? tanya Shima berharap bisa menggendong bayi gembul itu.

Boleh, dong, jawab Amirah sembari memberikan bayi perempuannya, sedangkan Shima mengulurkan tangan meraih bayi itu untuk digendongya.

Shima memerhatikan bayi gembul nan menggemaskan itu. Ia mengajaknya berbicara dan bayi itu merespon dengan celotehan ala bayi yang tidak di mengerti Shima, tetapi tetap saja Shima dan bayi itu tertawa.

Tiba-tiba, Shima terbersit jika suatu hari dirinya masih belum mampu melayani suaminya. Bagaimana kalau sang suami menikah lagi, sedangkan dirinya merawat bayi suaminya dengan wanita lain. Shima tertegun, lalu menghampiri suaminya dan menitipkan bayi keponakannya itu.

Mas, nitip dulu ya, Adek, mau ke kamar mandi. Setelah pamit, Shima langsung berlari masuk toilet setelah sebelumnya diberi tahu oleh asisten rumah tangga letak kamar mandinya. Shima baru pertama kali berkunjung ke rumah utama karena setiap anak-anak dari Kiai Muflih memiliki rumah di area pesantren dan wajib mengajar kecuali anak perempuan yang akan dibawa suaminya. Ia pun langsung menempati rumahnya di dekat asrama putri bagian utara sepulangnya dari bulan madu.

Air mata itu kembali berderai di kedua pipi Shima. Rasanya begitu menyesakkan dada, Shima menarik napas biar lebih baik. Ketukan di pintu menghentikan tangisnya yang sesenggukan, Shima sangat kaget dengan segera mencuci wajahnya dengan sabun cuci tangan.

Dek ¦, panggil Fa™al membuat Shima yang panik segera keluar sambil mengelap wajah dengan tisu. Lama banget di toiletnya, Aba sama Uma udah ngajak makan dari tadi, ucap Fa™al menatap waha Shima yang terlihat sembab.

Kamu kenapa, Dek? Fa™al segera bertanya karena khawatir melihat istrinya seperti baru selesai menangis.

Adek, nggak apa-apa, Mas. Tadi sembelitnya tiba-tiba kambuh, jawab Shima sembari tersenyum. Ia kemudian meraih tangan suaminya sambil mengajak jalan ke ruang makan yang sudah disiapkan. Ayo, Mas, tadi katanya sudah di tunggu Uma sama Aba. Shima tidak menyangka kalau dirinya sudah lama berada di kamar mandi itu.

Lagi-lagi Shima terkagum-kagum dengan dekorasi rumah utama Kiai, meskipun banyak cerita yang menarasikan bahwa pondok itu tempat di mana santriwati menjadi ART gratis. Namun, di sini di pondok pesantren mertua Shima tidak ada santriwati yang dilibatkan dalam mengurus rumah tangga Kiainya. Jika pun ada kegiatan melatih santri mandiri agar bisa segala macam, itu bagian dari Pendidikan dan dilakukan diluar rumah Kiai. Santri belajar mencuci, mengepel dan memasak sendiri itu untuk kepentingan dirinya sendiri bukan untuk Kiainya.

Ruang makan ini terlihat terang dan luas. Ada jendela besar yang membiarkan cahaya pagi masuk, menciptakan suasana hangat dan cerah. Meja kayu jati persegi panjang terletak di tengah. Kursi kayu sebanyak 12 buah mengelilingi meja itu seperti ruang rapat. Empat-empat dan dua-dua saling berhadapan.

Kiai dan Umi duduk sebelahan di kursi utama. Di sebelah kanan Uma Aminah, Faiz dan istrinya duduk sebelahan. Di sebelah kiri Kiai, ada Amirah dan anaknya. Di sebelahnya Amirah ada kakak tertua Fa™al, Ghifar dan istrinya, Hana. Di samping Hana ada anak keduanya Mumtaz.

Fa™al mengajak Shima duduk. Ia duduk di sebelah Faiz. Maaf baru gabung, Uma, Aba, ucap Shima malu karena semua keluarga kumpul kecuali suaminya Amirah.

Di atas meja terdapat berbagai hidangan, ada nasi uduk dengan taburan bawang goreng yang begitu harum. Lauk pauknya, ada telur balado manis pedas tersaji di piring-piring besar, ayam suir serta ada tempe orek yang gurih dan renyah. Di sudut meja, terdapat piring-piring kecil berisi aneka sambal, kerupuk, dan irisan mentimun segar.

Mau sarapan apa? Nasi uduk atau nasi biasa? tanya Fa™al langsung membalik piring yang sudah disediakan di depan masing-masing.

Nasi uduk sepertinya enak, aromanya bikin ngiler, kata Shima.

Fa™al langsung mengambilkan beberapa centong nasi uduk ke dalam piring. Ayam suir dan tempe orek mejadi pelengkap nasi untuk Shima. Tak lupa juga memasukan irisan timun segar dan kerupuk di samping piring.

Terima kasih, ujar Shima sembari menerima piring yang diberikan suaminya. Fa™al langsung mengambil jatah sarapannya setelah lengkap semua ada di piring, ia pun menyimpannya di hadapannya karena doa bersama belum dimulai.

Setelah berdoa semua makan dengan lahap. Tak terkecuali Shima meski masih malu-malu tapi, ia tak sungkan nambah.

Faiz, jadi ke dokter? tanya Kiai Muflih menatap anaknya setelah minum teh pahit kesukaannya.

Iya, Aba. Tadi sudah reservasi ke dokter kandungan di rumah sakit yang dekat Pasar Baru, jawab Faiz dengan senang karena Abanya ternyata perhatian dengannya dan sang istri.

Bagus kalau sudah membuat janji biar tidak mengantri lama. Jam berapa pemeriksaannya? Kiai Muflih kembali bertanya.

Masih lama. pukul 10.40, Aba.

Fa™al kaget mendengar jam yang disebutkan oleh sang kakak. Ia juga di rumah sakit yang sama dan jam yang sama janjian dengan dokter untuk pemeriksaan istrinya. Kenapa bisa barengan seperti ini? Bagimana kalau ketahuan sama Bang Faiz atau Kak Risti? Pasti dia bertanya-tanya siapa yang sakit atau pertanyaan lainnya, batin Fa™al sembari mengusap wajah.

Shima melirik suaminya. Ia mengerti suaminya berekspresi mengusap wajah karena merasa panik, tetapi entah karena apa. Ia hanya tahu kalau dirinya akan diajak ke dokter.

Aba, Uma, Fa™al pamit dulu, ya. Tadi sudah ada janji ketemu seseorang, ujar Fa™al setelah menghabiskan makanannya dan melihat piring sang istri yang sudah kosong tanpa makanan. Meski baru jam 9 kurang ia buru-buru berangkat.

Lho, kenapa buru-buru pergi? tanya Amirah yang sedari tadi menyuapi putranya yang masih ngambek.

Iya, Kak. Fa™al ada perlu sama istri, jawab Fa™al sembari tersenyum.

Uma Aminah dan Kiai Muflih tidak banyak bertanya. Mereka hanya mengangguk sembari tersenyum. Fa™al dan Shima segera keluar setelah pamit dengan orang tua dan kakak-kakaknya. Ia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan sepanik itu karena harus ketahuan oleh sang kakak. Bukan tidak mau terbuka dengan keluarga yang lainnya hanya saja, ia belum siap dengan reaksi keluarganya.

Fa™al dan Shima berjalan menuju mobil. Setelah masuk dan Fa™al menyalakan mesin, mobil itu melaju keluar area pondok pesantren. Selama di perjalanan tidak ada yang bersuara, Fa™al sibuk dengan pikirannya sendiri.

Shima memainkan ujung jilbabnya. Ia pun tidak berani bertanya ketika mimik wajah suaminya mode serius. Pria itu fokus menatap jalan. Sesekali terdengar mendesis ketika ada motor yang menyalipnya tanpa memerhatikan sekitar atau ada angkot yang tiba-tiba menepi dengan bebas di pinggir jalan untuk menaikan atau menurunkan penumpang.

Setelah 30 menit perjalanan, mobil menepi di area parkir yang luas. Fa™al tidak mengambil jalur umum ia mengambil jalur khusus sehingga padatnya area parkir tidak ia rasakan. Seorang tukang parkir membantunya memarkirkan mobil lalu memberi Fa™al kartu parkir. Terima kasih, ucap Fa™al ketika menerima kartu itu.

Shima dan Fa™al berjalan ke area loby rumah sakit. Saat masuk, mereka merasakan ruang resepsionis yang rapi dan nyaman. Mereka disambut resepsionis dengan ramah. Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu? tanyanya dengan ramah.

Selamat pagi. Saya mau betemu dengan dokter Maryam. Kami sudah membuat janji, jawab Fa™al sembari menggenggam tangan istrinya.

Baik, boleh saya tahu nama dan waktu janji temunya?

Saya, Fa™al Hasam Ismam. Janji temu saya pukul 10.40 pagi hari ini,

Terima kasih, Pak. Saya cek dulu sebentar, ya. Setelah mengatakan itu, ia langsung melihat komputer untuk memeriksa jadwal dokter Maryam.

Betul, Pak. Anda sudah memiliki janji dengan dokter Maryam, tapi ini masih Pukul 10 kurang. Apa tidak akan terlalu lama Anda menunggu, Pak? Soalnya dokter Maryam sedang ada pasien, resepsionis itu berkata dengan raut khawatir.

Tidak apa-apa, Mbak. Boleh kami menunggu di ruangan dokter Maryam? tanya Fa™al.

Mas, kenapa kita nggak jalan-jalan dulu? Di luar banyak yang menjual makanan, ujar Shima yang pasti bosan menunggu selama itu. Padahal siomay, batagor dan dimsum sudah terbayang di depan mata.

Mau beli apa? Kita pesan saja nanti, ya, ujar Fa™al tersenyum menatap Shima.

Shima pun menurut karena di sini dirinyalah yang memerlukan pemeriksaan. Ia merespon ucapan suaminya hanya dengan anggukan pelan. Setelah resepsionis mengonfirmasi ke ruang praktek dokter Maryam, Shima dan Fa™al pun di arahkan ke lantai 8. Di sana ada nama ruangan vaginal center. Dokter Maryam salah satu penggagas vaginal center Indonesia. Ia juga seorang dokter yang menangani pasien bukan hanya warga dari dalam negeri saja tapi, dari luar negeri juga, seperti Malaysia, Thailand, Australia, Singapura, Cina, jepang Switzerland, Jerman, Inggris dan Belanda.

Setelah di beritahu nama dokternya, Fa™al segera mencari tahu siapa dokter Maryam. Ternyata beliau seorang dokter yang sangat berpengalaman dalam menangani pengidap vaginismus. Rencananya setelah konsultasi dengan dokter dan tahu ada di tingkat berapa penyakit vaginismus Shima, Fa™al akan berdiskusi mengenai langkah apa yang harus, ia lakukan untuk kesembuhan istrinya.

Fa™al bernapas lega. Ia tidak khawatir lagi akan bertemu kakaknya karena sudah berada di ruang tunggu dokter Maryam. Mas, sudah banyak tahu tentang kenapa Adek selalu sakit ketika kita akan ¦, tanya Shima menggantung karena rasanya begitu malu untuk mengatakan kegiatan Rajang di depan umum walaupun tidak ada orang lain.

Hanya sedikit. Nanti kita diskusikan masalah ini dengan dokter, ya. Fa™al menggenggam tangan istrinya sembari menatap wajah lembut nan meneduhkan Shima. Semuanya akan baik-baik saja, imbuhnya tersenyum.

Amin, terima kasih, Mas. Shima membalas erat genggaman tangan suaminya sembari tersenyum juga. Ada ketenangan dalam hatinya ketika menatap sang suami, bahkan sampai tidak sadar kalau pasien Dokter Maryam sudah keluar mungkin karena tidak melewati mereka yang sedang saling tatap.

Suara deheman mengagetkan, Shima. Seketika ia melepaskan tangan suaminya. Ehem ¦, dengan Bapak Fa™al Hasam Ismam? panggilnya setelah mengatur suara dengan deheman.

Eh, maaf, Sus, ujar Shima tersyum malu, bahkan mendunduk.

Fa™al segera menjawab yang membuat suster menatap bergantian antara dirinya dan sang istri. Tadi, Fa™al tidak mendaftarkan pasien atas nama istrinya untung di ruang resesionis tidak banyak di tanya-tanya. Suster pun langsung mengajak masuk ke ruang dokter Maryam.

Selamat pagi, Ustaz Fa™al. Kata rekan sejawat saya bakal ada ustaz dan istrinya konsultasi, ternyata Anda, anak bungsunya Kiai Muflih, ya? ujar Doketr Maryam menyambut dengan ramah. Silakan-silakan ¦ duduk-duduk, ustaz dan siapa nama istrinya? tanya Dokter Maryam dengan ramah.

Selamat pagi juga, Dok. Iya, Dok saya anak bungsunya beliau, jawab Fa™al tersenyum, sedikit canggung karena ia tidak begitu mengenal siapa Dokter Maryam. Nama istri saya, Shima, Dok, sambungnya sembari melihat ke sampingnya di mana Shima duduk. Shima tersenyum mengangguk.

Kami ke sini mau konsultasi mengenai istri saya yang sering kesakitan ketika kami akan berhubungan suami istri, ujar Fa™al dengan serius.

Baik, terima kasih sudah datang dan berbicara tentang hal ini. Mbak Shima, bisa menjelaskan lebih lanjut tentang rasa sakit yang Anda rasakan? Setelah mendengar cerita dari Fa™al Dokter Maryam langsung meminta Shima menjelaskan rasa sakit yanag dialaminya.

Iya, Dok. Setiap kali kami menccoba berhubungan suami istri, saya merasa tegang, dan ketika mencoba penetrasi, rasanya sangat sakit seperti ada yang menahan. Kadang-kadang saya merasa takut karena kami mencoba hampir dua minggu, bahkan suatu malam saya menendang suami saya saking sakitnya. Setelah menceritakan itu, Shima langsung mendunduk karena malu, bahkan telapak tangannya samapai berkeringat.

Saya mengerti. Apa yang Anda rasakan bisa jadi tanda dari suatu kondisi yang disebut vaginismus. Ini adalah kondisi di mana otot-otot di sekitar area vagina berkontraksi secara tidak sadar, saat Aanda mencoba penetrasi yang bisa menyebabkan rasa sakit. Dokter Maryam menjelaskan kondisi Shima dengan tenang sembari menatap reaksi Shima setelah itu kemudian ia berkata lagi, tidak perlu khawatir, Mbak. Ini adalah kondisi yang bisa diatasi dengan perawatan yang tepat.

Apakah sakit itu akan hilang, ketika kami akan melakukan itu? Shima bertanya dengan suara pelan, tetapi masih terdengar oleh Dokter Maryam.

Tentu. Namun, harus melewati serangkaian terapi. Langkah pertama adalah melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan tidak ada masalah lain yang menyebabkan rasa sakit tersebut. Setelah itu, kita mulai dengan terapi, yang melibatkan kombinasi antar terapi fisik, latihan relaksasi dan konseling untuk membantu mengatasi faktor emosional. Saya juga akan memberikan beberapa informasi dan latihan di rumah untuk membantu. Dokter Maryam menjelaskan dengan tenang. Fa™al pun menyahut untuk bertanya, apakah saya juga harus ikut dalam terapi ini, Dok?

Tentu, peran Anda sangat penting dalam mendukung kesembuhan istri. Terapi pasangan sering kali sangat membantu karena komunikasi dan dukungan dari pasangan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan terapi, papar Dokter Maryam.

Masih ada harapan untuk bisa mejadi perempuan normal. Melayani suami, memiliki anak dan hidup bahagia. Semoga bisa berjalan sesuai rencana, batin Shima penuh harap. Hidupnya yang selama dua minggu lalu seperti awan kelabu kini mulai terlihat cerah.

Mau langsung ke langkah awal? Kita pemeriksaan fisik dulu? tanya Dokter Maryam memastikan, sayang jika hanya konsultasi bukan sekalian pemeriksaan.

Tentu, Dok. Lebih cepat pemeriksaan lebih baik, jawab Fa™al dengan antusias seakan dirinya yang akan melakukan pemeriksaan.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

SSCASN 2026 Terbaru: Cek Link Resmi Pendaftaran CPNS dan PPPK

Lowongan Kerja

SSCASN 2026 Terbaru: Cek Link Resmi Pendaftaran CPNS dan PPPK

Selasa, 18 Agu 2026 - 22:59 WIB

Polres Barru bersama Badan Pangan Nasional, Bulog, pemerintah daerah, TNI, dan stakeholder terkait mengecek kualitas serta kuantitas.

Internasional

Beras Bantuan di Gudang Bulog Dicek, Ini yang Dipastikan Polisi

Selasa, 18 Agu 2026 - 15:14 WIB