Redaksiku.com – Delapan hari sudah para korban kebakaran di Kelurahan Mandala bertahan hidup di posko pengungsian darurat, sementara masa tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah setempat kini hanya tinggal menghitung hari. Di tengah terik matahari Kota Jayapura, denyut kehidupan perlahan mulai kembali di atas abu sisa bencana, memunculkan pertanyaan besar mengenai ke mana para penyintas akan bernaung setelah masa bantuan awal resmi ditutup.
Terik matahari menyengat kawasan pesisir tersebut pada Selasa (8/9), menyinari tumpukan arang dan kerangka bangunan yang tak lagi berbentuk. Di antara puing-puing sisa kebakaran di kawasan Mandala, sebagian warga mulai kembali beraktivitas dengan sisa tenaga yang ada. Ada yang sibuk memilah dan mengumpulkan besi tua dari reruntuhan rumah untuk dijual kembali, sementara sebagian lainnya tampak membersihkan arang dan sisa-sisa material yang masih bisa diselamatkan.
Kendati sebagian kecil mulai berinisiatif meninjau lokasi, mayoritas warga korban kebakaran masih memilih bertahan di posko pengungsian karena ketiadaan tempat alternatif. Suasana prihatin ini menyelimuti keseharian para pengungsi yang harus berbagi ruang sempit dengan puluhan kepala keluarga lainnya. Keterbatasan fasilitas dasar di pengungsian membuat hari-hari terasa semakin berat seiring berjalannya waktu tanggap darurat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 20 anggota keluarga besar dari berbagai generasi sempat tinggal bersama di satu rumah kayu berukuran 8 x 20 meter sebelum musnah dilalap si jago merah.
Kisah Yusuf Gahal dan Rumah Kenangan Sejak 1990
Di tengah suasana penuh debu dan keterbatasan tersebut, seorang pria paruh baya tampak duduk termenung di atas sisa fondasi bangunan. Tatapannya kosong tertuju pada sebidang lahan kosong di tepi laut yang dulunya menjadi tempat ia dan keluarganya menopang hidup. Pria tersebut adalah Yusuf Gahal, warga RT 07/RW 02 Kelurahan Mandala, yang kehilangan segalanya dalam peristiwa nahas pada Senin (31/8).
Sesekali Yusuf menatap sisa-sisa tiang kayu yang kini telah menjadi arang hitam legam. Wajahnya jelas menyiratkan kelelahan fisik maupun mental, namun keramahannya tidak luntur saat menyambut kedatangan orang yang menghampirinya. Dengan senyum tipis, ia mengajak berbincang di bawah terik matahari yang menyengat kulit.
Bagi Yusuf, petak tanah dan bangunan di tepi laut tersebut menyimpan sejarah hidup yang sangat panjang. Rumah kayu berukuran sekitar 8 x 20 meter itu dibangunnya dengan keringat sendiri sejak tahun 1990 silam. Selama puluhan tahun, bangunan sederhana itu menjadi pusat kehangatan keluarga besar yang menaungi anak, menantu, hingga cucu-cucunya.
Detik-Detik Mencekam Saat Kebakaran Melanda
Tragedi yang menghancurkan puluhan tahun kerja keras Yusuf terjadi begitu cepat tanpa memberi banyak ruang untuk evakuasi barang. Dalam satu atap rumah besar tersebut, tidak kurang dari 20 jiwa menggantungkan hidup dan tinggal bersama secara berdampingan. Anggota keluarga besar ini terdiri atas lima orang anak, tiga orang menantu, serta sepuluh orang cucu yang masih berusia muda.
Nahas, dalam hitungan menit seluruh kenangan dan harta benda yang dikumpulkan selama puluhan tahun musnah tak tersisa. Saat api pertama kali berkobar dan melahap pemukiman padat penduduk tersebut, Yusuf sedang beristirahat dan tidur siang di dalam rumah. Suara teriakan panik dari para tetangga seketika membangunkannya dari tidur.
Kondisi angin kencang di kawasan pesisir membuat api merambat sangat cepat dan menghanguskan bangunan hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Kobaran api menjilat dengan sangat cepat, didorong oleh embusan angin laut yang bertiup kencang di siang hari bolong. Dalam situasi penuh kepanikan yang mencekam itu, Yusuf sama sekali tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga maupun dokumen penting milik keluarganya. Prioritas utamanya saat itu hanyalah memastikan keselamatan jiwa anak-anak dan cucu-cucu tercinta dari kepungan api.
“Saya lari bersama cucu-cucu. Yang penting nyawa selamat,” tutur Yusuf mengenang kembali detik-detik penyelamatan diri yang dramatis tersebut.
Pertanyaan Umum
Bagaimana kondisi warga korban kebakaran Mandala saat ini?
Sebagian besar warga masih bertahan di posko pengungsian sambil menunggu kejelasan tempat tinggal, sementara beberapa di antaranya mulai membersihkan puing-puing rumah dan mengumpulkan besi sisa kebakaran.
Kapan peristiwa kebakaran tersebut terjadi?
Musibah kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah warga di Kelurahan Mandala ini terjadi pada hari Senin, 31 Agustus.
Berapa banyak jiwa yang terdampak dalam satu rumah milik Yusuf Gahal?
Terdapat 20 orang anggota keluarga yang tinggal di dalam satu rumah berukuran 8 x 20 meter, yang terdiri dari Yusuf, lima anak, tiga menantu, dan sepuluh orang cucu.
Ringkasan
Puluhan korban kebakaran di Kelurahan Mandala, Jayapura, masih bertahan di posko pengungsian darurat karena kehilangan tempat tinggal dan menanti kepastian bantuan pemerintah. Salah satu korban, Yusuf Gahal, kehilangan rumah kayu yang telah ditinggalinya bersama 20 anggota keluarga sejak tahun 1990 akibat musibah yang terjadi pada Senin, 31 Agustus.






