Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 8)

- Penulis

Tuesday, 22 October 2024 - 22:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

IMG 20240813 WA0016 1

Jam menunjukkan pukul 23.45 WIB, Kirei mengubah posisi berbaring dari terlentang menjadi miring ke sebelah kiri. Begitu juga dengan tangannya yang ikut bergerak menggapai sosok suaminya. Namun, ia tak menemukan keberadaan sang suami. Ia membuka mata, lalu duduk dan menyalakan lampu tidur yang ada di meja samping kasur. Ternyata, suaminya tidak ada di sebelahnya.

“Mas Attala ke mana, ya?” Kirei bertanya pada dirinya sendiri. Kemudian, ia menyibak selimut dan beranjak dari tempat tidur untuk mencari Attala.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kirei keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk. Antara takut dan berusaha untuk berani. Ia tak pernah keluar kamar hampir tengah malam seperti ini. Semua kebutuhan yang diperlukan selalu dipersiapkan sebelum tidur. Namun kali ini, ia terpaksa keluar kamar untuk mencari suaminya.

Tempat pertama yang Kirei periksa adalah dapur. Mungkin Attala lapar atau ingin makan sesuatu. Semua lampu dipadamkan semua, kecuali dapur, teras rumah dan halaman. Ia pun menggunakan senter ponsel untuk membantunya mencari keberadaan sang suami. Namun, aroma dupa dan kemenyan masih tercium dari kamar pribadinya. Bukan hanya itu, telinganya mendengar suara grasak-grusuk dari dalam sana. Detak jantungnya seketika berdebar tak karuan. Antara takut dan penasaran bercampur menjadi satu.

“Suara apa itu, ya? Mas Attala pake hilang segala lagi? Mana enggak tahu perginya ke mana?” Kirei ngomel-ngomel sendirian. Dengan langkah gemetar, ia mendekati kamarnya untuk mengobati rasa penasarannya.

Perlahan, tangan kanan Kirei, memegang gagang pintu dan membukanya pelan-pelan. Di sana nampak, seseorang yang mengenakan piyama senada dengannya sedang asyik makan buah apel yang ada dalam persembahan sesajen.

“Ya ampun, Mas. Apa yang kamu lakukan? Aku hampir saja mati ketakutan.” Kirei masuk ke dalam sambil menutup hidung, lalu menutup pintu dan melangkah mendekati Attala. “Mas makan dari persembahan sesajen?”

“Maaf, Sayang. Mas pengen makan sesuatu yang segar-segar. Tapi, pas buka kulkas, ternyata buah-buahan habis. Mas teringat dengan sesajen yang menyertakan buah-buahan di dalam ritualnya. Ya udah, Mas, makan saja buah-buahannya,” jelas Attala sambil nyengir. Di tangan kanannya, ada buah apel merah. “Lagian makanan sesajen ini, siapa yang mau makan? Mubazir kalau dibuang.”

“Ya, sih. Tapi, bisa bangunin aku kalau lapar, aku bisa masakin buat Mas. Eh, ini malah makan buah-buahan untuk sesajen. Kalau Mama tahu, sesajennya habis, gimana? Ntar Mama nyangkanya memang ada orang yang ingin berbuat jahat sama kita.” Kirei naik ke atas kasur. Ia masih menutupi hidungnya dengan tangan kanan, lalu duduk di samping Attala.

“Bau kemenyan sama dupanya masih tercium, ya? Sebentar, Mas nyalakan pewangi ruangan. Attala beranjak dari tempatnya untuk menyalakan pewangi ruangan yang terpasang di tembok sebelah kanan dekat lemari pakaian. Kemudian, ia kembali duduk di kasur dan melihat istrinya yang sudah bisa bernapas dengan lega.

“Kamu mau?” Attala menyodorkan buah jeruk. Bukannya menerima jeruk itu, Kirei hanya menggelengkan kepala sambil menatap Attala yang sedang menikmati buah-buahan.

“Mas mau makan ayamnya juga?” tanya Kirei. Matanya langsung tertuju pada ayam bakakak yang masih utuh. Ia tidak paham, kenapa sesajen harus ada bermacam-macam makanan. Menurut logikanya, semua itu tidak masuk akal. Siapa yang akan memakan sesajen itu? Pada akhirnya, makanan-makanan itu akan berakhir di tempat sampah. Bisa juga, kalau dukungnya ada, paling dimakan sama para dukun itu. Mereka bisa makan enak tanpa meminta istri mereka untuk masak yang membutuhkan waktu lama.

“Sedikit saja. Biar tidak terlalu mubazir.” Attala tersenyum. “Kamu mau bantu ngabisin makanan ini?”

Kirei menimbang-nimbang. Setelah bergelut dengan pikirannya, ia pun memutuskan untuk membantu Attala menghabiskan makanan sesajen itu.

“Besok pagi, rumah ini bakalan dibuat heboh.” Kirei membuka mulut ketika Attala menyuapi satu suwir ayam bakakak.

Attala tersenyum sambil membayangkan, reaksi Mama Gayatri saat tahu kalau makanan dalam nampan sesajen tinggal sedikit. Akan ada dua kemungkinan yang mama mertuanya itu pikirkan. Satu, pernikahan putrinya sudah aman dari hal-hal buruk. Dua, jin atau setan yang bersemayam di kamar Kirei sudah menerima persembahan, lalu pergi meninggalkan rumah keluarga Gumilar.

Attala sudah merasa kenyang. Begitu juga dengan Kirei. Mereka berdua meletakkan kembali nampan sesajen di bawah kasur, lalu mencuci tangan dan membersihkan gigi di kamar mandi yang ada di sana. Kemudian, kembali ke kamar tamu untuk melanjutkan tidur lagi.

“Mas, besok jadi lihat rumah kita?” Kirei bertanya sambil membenarkan posisinya, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Oh, iya, Mas lupa ngasih tahu kamu. Tadi, Mama Maya ngirim pesan, kalau rumah kita sudah selesai dan bisa langsung ditempati,” ujar Attala.

“Rumah kita, ada di daerah Menteng, kan, Mas?” Kirei tak sabar ingin segera besok dan melihat rumah impiannya.

“Iya, kenapa? Kamu enggak suka?” tanya Attala khawatir.

“Bukan enggak suka, Mas. Tapi, daerah Menteng itu rumah-rumahnya elit semua. Aku takut Mas jadi terbebani.” Kirei tak pernah meminta dibelikan rumah mewah, berlian atau barang-barang yang mahal. Hanya satu yang diinginkannya yaitu suami yang pekerja keras, perhatian sama keluarga, enggak doyan selingkuh, dan bertanggungjawab serta taat beribadah.

“Tidak apa-apa, Sayang. Memberikan tempat tinggal yang nyaman adalah salah satu kewajibanku sebagai suami dan kepala keluarga. Mas akan berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga kita.” Attala menatap Kirei dengan tatapan penuh cinta. “Sudah, sekarang kita tidur lagi. Kita siap-siap mendengar berita heboh nanti pagi dari Mama Gayatri.”

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Read Novel: My Husband, the Cold Soldier! [FINISHED]
Novel: Choose Happiness (Part 26) There's news from Blue
Here are the Champions of Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Sunset Brought You Back (Part 13)
Novel Twilight Brings You Back (Part 31)
Black and White Marriage Novel (Chapter 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Berita Terkait

Tuesday, 16 December 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Saturday, 16 August 2025 - 18:44 WIB

Read Novel: My Husband, the Cold Soldier! [FINISHED]

Sunday, 3 August 2025 - 16:11 WIB

Novel: Choose Happiness (Part 26) There's news from Blue

Tuesday, 4 February 2025 - 17:40 WIB

Here are the Champions of Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Monday, 20 January 2025 - 10:32 WIB

Novel Sunset Brought You Back (Part 13)

Berita Terbaru

Barakallah Fii Umrik Artinya, Wajib Tahu 7 Makna dan Balasan

Lifestyle

Barakallah Fii Umrik Artinya, Wajib Tahu 7 Makna dan Balasan

Wednesday, 1 Jul 2026 - 16:10 WIB

Doa Setelah Sholat, Wajib Tahu 7 Bacaan Dzikir dan Artinya

Religion

Doa Setelah Sholat, Wajib Tahu 7 Bacaan Dzikir dan Artinya

Wednesday, 1 Jul 2026 - 16:06 WIB

Tebak Tebakan Lucu, Wajib Tahu 50 Ide Bikin Ngakak

Entertainment

Tebak Tebakan Lucu, Wajib Tahu 50 Ide Bikin Ngakak

Wednesday, 1 Jul 2026 - 16:01 WIB

Cara Marah Tanpa Melukai Perasaan Orang Lain

Lifestyle

4 Cara Marah Tanpa Melukai Perasaan Orang Lain

Wednesday, 1 Jul 2026 - 13:24 WIB

Tips Anti Mabuk Saat Perjalanan Jauh

Lifestyle

5 Tips Anti Mabuk Saat Perjalanan Jauh

Wednesday, 1 Jul 2026 - 13:14 WIB