Novel : Cinta di Penghujung Jalan

- Penulis

Kamis, 29 Agustus 2024 - 11:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Cinta di Penghujung Jalan

Aku merasa Ika sudah mulai menyadari bahwa aku sangat tergila-gila kepadanya. Dia pasti bisa merasakan perhatianku yang begitu besar dan tidak ragu-ragu memenuhi semua keinginannya. Aku tahu betul kalau Ika sudah terbiasa dengan pria yang jatuh cinta kepadanya, tetapi aku berhasil meyakinkannya kalau aku berbeda dengan kebanyakan lelaki yang dikenalnya selama ini. Aku tidak ingin kehilangan Ika karena hanya dia yang mampu melayani dan membuatku merasa istimewa.

“Juragan Adi, apa istri Juragan enggak marah kalau sering menginap di kos Ika?” tanya Ika suatu malam saat kami pulang ke tempat kosnya yang baru setelah selesai tampil. Rumah kos yang aku kontrak dua tahun khusus untuk kami bertemu melepas rindu itu, terletak di sebuah perumahan kalangan menengah atas di kotaku. Hanya saudagar dan juragan serta pejabat yang bisa menyewa atau membeli rumah di tempat itu.

Kutatap bola matanya yang masih dihiasi warna warni eyeshadow.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dia tidak berani marah apalagi melawanku karena istriku tidak akan mau kembali ke kampungnya yang miskin. Kami tertawa terbahak.

Kenapa Juragan enggak cerai saja? ucap Ika sambil melepas satu per satu pakaiannya di depanku. Mataku tidak berkedip melihat tubuh mulus Ika yang tidak lagi tertutup sehelai benang pun. Lidahku mendadak kelu padahal aku tadi sudah hampir menjawab pertanyaan Ika.

Juragan, ditanya malah bengong. Ika pura-pura merajuk seraya menjatuhkan tubuhnya di pangkuanku yang sedang duduk di ranjang.

Sudah jangan bahas istriku yang kampungan itu. Kita nikmati saja waktu kita sekarang.

Tanpa ragu aku mulai memagut bibir seksi Ika yang sedari tadi menggodaku. Seperti biasa, Ika akan pura-pura menolak dengan manja. Meski aku tahu aktingnya itu hanya untuk memancingku agar lebih beringas menyerangnya.

Seperti malam-malam sebelumnya jika kami bertemu, Ika akan memberikan semua yang aku minta tanpa menolak. Sepanjang malam yang penuh gairah, aku tenggelam dalam lautan kenikmatan bersama Ika. Suara desahan manja Ika sepanjang pertempuran kami, membuatku makin bersemangat layaknya prajurit yang siap bertempur di medan perang. Tidak peduli apa pun, seorang prajurit tidak akan surut langkahnya sampai pertempuran diakhiri dengan kemenangan.

Aku semakin terjebak dalam pesona Ika. Aku tidak peduli berapa banyak uang yang aku habiskan untuk menyenangkan hati Ika. Memberikan hadiah-hadiah mahal dan  memberinya uang tunai berapa pun yang dia minta tanpa bertanya untuk apa. Semua itu aku lakukan hanya demi mendapatkan Ika, sang primadona. Aku sangat yakin  hubungan kami telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius, meskipun banyak orang yang meragukan niat Ika mendekatiku.

“Ini buat kamu, Sayang. Kamu pantas dapat yang terbaik.” Kusodorkan sebuah kotak panjang berlapis bludru warna merah tua kepada Ika sebelum aku pulang ke rumah.

“Terima kasih banyak, Juragan Adi!” Ika sangat bahagia menerima hadiah dariku dan segera membuka kotaknya. Mata Ika berbinar saat melihat gelang emas besar yang berkilau di dalam kotak tersebut.

Ini untuk Ika, Juragan? Hampir tidak berkedip Ika memandang gelang emas pemberianku.

Aku mengangguk dengan senyum bangga melihat kebahagiaan pujaan hatiku itu.

Itu hadiah karena semalaman kamu sudah membuatku menikmati surga. Kucubit hidung mancung Ika dengan lembut dan mengecup bibirnya berkali-kali sampai Ika mengingatkanku sudah waktunya pulang.

Suara ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunanku.

Pak, ini minumnya. Nana masuk kamar sambil membawa baki. Dia meletakkan mug khusus untukku di nakas kecil sebelah ranjang.

Aku berpura-pura tertidur dan berharap perempuan kumal itu segera keluar kamar. Sejujurnya, Nana dulu sangat cantik dan menarik. Aku tidak tahu kapan tepatnya dia berubah menjadi kumal dan bau. Kecantikan Nana yang pernah membuatku nekad melamarnya walau ibu dan keluargaku tidak setuju, kini sudah hilang dan nyaris tidak berbekas. Sekarang hanya tinggal perempuan kampung yang kumal dan bau pesing hingga membuatku kehilangan gairah jika berada di dekatnya.

Aku semakin menjauh dari istri dan anak-anakku. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Hubungan kami yang dulu hangat dan penuh cinta kini menjadi dingin dan hambar.  Anak-anak sudah tidak menjadi prioritasku lagi. Bagiku kini, semua hanya untuk Ika Zuleha.

Meskipun untuk memenuhi semua keinginan primadonaku itu aku harus menguras tabungan pribadi dan juga keuangan pabrik. Peringatan Nana tentang keuangan pabrik yang defisit sama sekali tidak aku hiraukan. Bagiku saat ini hanya bagaimana membuat si cantik mungil dan seksi, Ika Zuleha tunduk kepadaku.

Pak … Pak … Kemarin Juragan Pisang nagih tunggakan kalau kita enggak segera bayar ….

Bisa enggak kamu biarkan aku istirahat sebentar? potongku dengan suara keras sambil melempar bantal ke arah Nana dengan kuat.

Aku melihat tubuh istriku itu limbung dan hampir jatuh saat bantal mengenai tubuhnya.

Tapi, stok pisang sudah habis dan banyak pesanan yang belum dikirm, Pak. Nana berusaha memberitahu tentang kondisi pabrik yang sudah kosong sama sekali.

Aku bangkit dan menghampiri Nana yang menatapku agak takut. Tubuh kurus dan matanya yang cekung tidak membuatku merasa iba. Dengan kasar, kutarik lengannya dan mendorongnya keluar kamar.

Aku mau istirahat! Dasar perempuan bodoh! Tolol! Bilang sama Tarjo untuk membereskan semuanya, bentakku sambil menendang bokongnya yang sama sekali tidak berisi dan tipis seperti papan.

Pintu kamar kubanting hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan. Tidak lama, kudengar suara anak lelakiku menangis. Sedikitpun aku tidak peduli dengan tangisan anakku itu. Hatiku sudah benar-benar tidak dapat merasakan kasih sayang kepada anak-anakku sendiri. Yang aku rasakan justru kehadiran mereka adalah beban yang sangat berat yang harus kutanggung. Memberi makan, biaya sekolah, belum lagi keadaan Andi yang sering sakit dan harus periksa ke bidan.

Andai dulu aku menuruti kata Ibu agar tidak menikahi perempuan miskin itu, tentu hidupku jauh lebih baik dari sekarang. Mungkin aku akan lebih bahagia mempunyai istri seperti Ika yang cantik, seksi, dan pandai memuaskan hasratku.

Sedang asyik aku membayangkan Ika Zuleha, tiba-tiba ….

Pak … Pak … Andi, Pak. Pak …, teriak Nana panik sambil menggedor pintu kamarku.

 

 

 

Novel : Cinta di Penghujung Jalan Part 2

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru