Bab. 5 Kontrak Nikah
“Pa, Mora selalu turutin kemauan Papa dari dulu, mulai dari Papa nikah lagi sama Ma Ras, Papa ngelarang aku buat kuliah di Harvard, semua aku turuti itu, Pa.”
“Tapi kenapa kali ini Papa juga ngga mau nurutin kemauan aku sih, Pa?!” marah Amora yang sudah tidak dia tahan lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ya memang benar, Claras adalah Mama tiri Amora yang menikah dengan Darpa ketika Amora kelas 1 SMP dan Kaysi adalah anak yang Claras bawa dari pernikahan sebelumnya.
Umur Kaysi dan Amora hanya berjarak setahun, Kaysi 25 tahun dan Amora 24 tahun. Tapi kedua saudara tiri itu sangat tidak akrab dan terus-terusan beradu mulut ketika bertemu.
Mama kandung Amora adalah Tirna. Tirna meninggal ketika dia berusia 30 tahun, tepatnya ketika Amora kelas 1 SD, usianya yang masih sangat kecil mengharuskannya harus mengikhlaskan kepergian Mamanya yang meninggal karena sakit.
“Karena ini untuk kebaikan kamu, Mora. Suatu saat nanti kamu akan tau kenapa Papa ngelakuin ini” jawab Darpa.
“Kasih tau aku alasannya sekarang, Pa. Kalau alasan Papa bener-bener masuk akal, aku setuju sama perjodohan ini” ucap Amora.
Mendengar itu Darpa seketika langsung menggelengkan kepalanya, “Ngga bisa, Mora. Papa ngga bisa ngasih tau sekarang, tapi pasti suatu saat nanti kamu akan tau.”
“Kasih Mora waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan itu semua, Pa. 2 hari lagi Mora bakal ngasih tau jawabannya” final Amora yang lalu berdiri dan berjalan pergi dari ruang keluarga itu menuju kamarnya.
Setelah Amora pergi terlihat Kaysi yang mengucapkan sesuatu kepada Darpa, “Kay yakin Mora akan setuju, Pa. Papa tenang saja.”
“Iya, sayang. Dia hanya belum memikirkan perjodohan itu secara matang-matang, pikirannya masih sangat kekanak-kanakan” lanjut Claras.
Darpa hanya diam atas ucapan Kaysi dan Claras, tapi setelah itu tiba-tiba dia mulai menganggukkan kepalanya dan pergi dari sana menuju kamarnya.
Claras dan Kaysi sama-sama melihat tindakan Darpa, dan setelah laki-laki itu pergi, mereka berdua mulai berbincang sesuatu, “Kamu jangan mudah terpancing dengan Mora, sayang.”
“Abaikan saja dia, mulutnya memang susah untuk dikontrol, anaknya juga tidak punya sopan santun” ucap Claras seraya membelai lembut rambut serta kepala putrinya itu.
“Iya, Ma. Mama tenang aja, aku bisa kontrol diri kok” ucap Kaysi. Setelah itu mereka mulai melanjutkan perbincangan mereka lebih mendalam.
Di balkon kamarnya terlihat Amora yang sudah mengenakan baju tidur tengah melamun dengan duduk di sofa yang ada di sana seraya menatap bulan yang saat itu tidak bulat sempurna, atau lebih dikenal dengan nama bulan sabit.
Mata Amora lama kelamaan sayu dan mulai terbayangkan sesuatu yang tiba-tiba melintas di benaknya, “Ma, Mama setuju ngga tentang perjodohan yang Papa buat ini?”
“Mora bingung, Ma. Mora tau kalau Papa pengen yang terbaik buat Mora, tapi Mora ngga mau juga kalau Papa ambil keputusan besar tanpa persetujuan dari Mora” ujar Amora yang seolah-olah tengah berbicara dengan Mama kandungnya, Tirna.
Amora yang saat itu menyenderkan tubuhnya di punggung sofa mulai menutup matanya erat, “Ma, Mora kangen. Mora belum sempat ngerasain kasih sayang Mama dengan puas, tapi Mama udah pergi ninggalin Mora.”
Mata Mora mulai mengeluarkan air bening yang langsung mengalir di pipi Amora dan jatuh di leher mulusnya hingga hilang karena diresap oleh baju tidurnya.
Amora menangis tanpa mengeluarkan suara dengan ekspresi datar, tapi air matanya benar-benar keluar banyak, karena dia paling tidak bisa jika harus mengingat Mamanya, karena pasti dia akan sangat sedih dan berujung menangis.
Tetapi berbicara dengan bulan dan bintang seperti ini dapat membuat Amora merasa bahwa dia benar-benar tengah berbicara dengan Mamanya yang sudah berbeda alam dengannya.
Keesokan harinya terlihat Kaysi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Amora yang kebetulan tidak dikunci, saat itu Amora yang tengah menyiapkan buku-buku untuk kuliah sedikit terkejut, “Ngapain lo?”
“Mora, Mora. Gue akui lo tol*l banget sih kalau sampai nolak Daren” ucap Kaysi tiba-tiba seraya berjalan menuju kasur Amora.
“Ngga usah ikut campur lo, kalau emang lo mau, ambil aja, gue ngga butuh” jawab Amora yang lanjut menyiapkan barang-barangnya tanpa memperdulikan Kaysi yang mulai duduk di kasurnya.
“Gue sih cuma bilangin yaa, dan lagi. Ada sebuah rahasia yang nantinya bakal lo tau setelah lo nikah sama Daren” ucapan Kaysi kali ini langsung membuat Amora membalikkan badan ke arahnya.
Melihat Amora yang melihatnya membuat Kaysi seketika menyunggingkan bibir kirinya, “Rahasia?, rahasia apa yang lo maksud?”
Kaysi mengangkat kedua bahunya, lalu dia beranjak dari kasur Amora dan hendak berjalan pergi, “Gue udah bilangkan, lo akan tau setelah lo nikah sama Daren.”
“Jadi kalau emang lo mau tau, terima aja perjodohan itu” lanjut Kaysi yang lalu berjalan seraya menaruh kedua tangannya di depan dada.
Setelah 2 langkah, tiba-tiba Kaysi berhenti, “Oh iya, gue kayak gini bukan karena disuruh Papa ataupun Mama. Emang dari kemauan gue sendiri. Dan lagi, ini tentang Kak Rena.”
Amora semakin terkejut saat Kaysi berkata seperti itu, tapi sebelum dia sempat bertanya lagi, Kaysi sudah berjalan pergi dari kamarnya.
“Bocah sialan.”
Di dalam sebuah mobil terlihat Amora dan Marvell yang saat itu tengah menyetir, keduanya berbincang-bincang sampai tiba di kampus mereka.
“Nanti mau makan siang bareng lagi ngga?” tanya Marvell di sela-sela perbincangan mereka.
“Maaf, Vel. Nanti siang aku ada acara, soalnya setelah itu aku juga ngga ada kelas lagi” jawab Amora yang merasa sedikit tidak enak.
Mendengar itu Marvell mengangguk-anggukkan kepalanya, “Oh gitu, iya ngga papa, ngga usah minta maaf.”
Amora yang mendengar jawaban Marvell hanya tersenyum serta terkekeh kecil, setelah itu mereka pun lanjut membicarakan hal yang lain.
Di siang harinya terlihat Amora yang keluar dari mobil taxi dan masuk ke sebuah restoran, Amora terus berjalan hingga menemukan hal yang dia cari, yaitu Daren.
Laki-laki itu seperti tengah menunggu seseorang di meja makan yang hanya memiliki 2 kursi sembari mengutak-atik handphone-Nya, Amora pun menghampiri Daren dan menarik kursi yang ada di depan laki-laki itu kemudian duduk di sana.
“Sorry lama, tadi macet” ucap Amora setelah duduk.
Daren menganggukkan kepalanya, “Ngga papa, kita makan dulu aja, baru bahas masalahnya” jawab Daren.
Karena memang sudah ada makanan di meja mereka beserta minumannya, itu semua sudah Daren atur ketika mereservasi tempat tersebut.
Mendengar itu Amora pun menganggukkan kepalanya dan menaruh tasnya agar tidak mengganggu dirinya ketika makan, mereka berdua menyantap makanan mereka tanpa mengeluarkan sepatah katapun, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang berbenturan.
Setelah keduanya selesai makan, Daren menyuruh seorang pelayan di sana untuk membersihkan meja mereka dan hanya menyisakan minuman mereka yang masih ada.
“Jadi, mau bahas mulai mana?” tanya Daren memulai perbincangan di antara dirinya dan Amora.
“Gue mau tanya alasan kenapa lo nerima perjodohan yang bokap lo sama bokap gue rencanain?” tanya Amora yang memulai topik yang memang ingin dia bahas.
“Karena nenek saya yang mau melihat saya menikah sebelum dia pergi, nenek saya sedang sakit parah. Hanya itu, tidak ada alasan lainnya” jawab Daren dengan sangat formal.
Amora menghela nafasnya kasar saat mendengar jawaban dari Daren, “Kalau gue ngga mau, apa yang akan lo lakuin?” tanyanya.
“Memaksa, karena Papa dan Mama saya maunya kamu” jawab Daren dengan sangat singkat.
“Gue ngga mau nikah sama orang yang sama sekali ngga gue cintai, bahkan ngga gue kenal lebih dalam” ujar Amora.
Mendengar itu Daren terdiam sejenak, “Saya juga tidak ingin menikah dengan orang yang sama sekali tidak saya cintai, apalagi saya sudah memiliki pacar.”
Seketika Amora terkejut saat mendengar itu, “Hah?, lo udah punya pacar?, terus kenapa lo ngga nikah sama pacar lo itu aja?”
“Saya sudah bilang bukan, Papa dan Mama saya itu setujunya saya menikah dengan kamu, bukan pacar saya” jawab Daren lagi dan lagi.
“Oke, kita buat kontrak nikah aja gimana?” tanya Amora memberikan solusi.
“Kontrak nikah?”
Amora menganggukkan kepalanya beberapa kali, “Iya, jadi selama kita nikah, ada aturan dan hal yang harus kita patuhi menurut kontrak itu tadi.”
Daren terdiam sejenak memikirkan lebih dalam tentang ide Amora, “Lalu kapan kontrak itu akan berakhir?”
“Kita jalani dulu aja, nanti kalau kita ngerasa ngga cocok juga bakal cerai, simpel bukan?” jawab Amora yang lalu meraih minumannya.
“Oke, besok kita bertemu lagi, tempatnya akan saya kabari lagi besok” ucap Daren yang lalu mengancing kancing jasnya.
“Oke, deal. Lo kirim pesan aja ke gue, terus nanti gue masukin ke aturan kontrak nikahnya” ujar Amora yang diangguki oleh Daren.
Setelah itu mereka pun pergi dari restoran itu, dan Daren memaksa untuk mengantarkan Amora karena perempuan itu tadi datang menggunakan taxi, dan sekarang tidak ada kendaraan untuk mengantarkannya pulang.
“Udah ikut saya aja, rumah kita searah dari sini” ujar Daren yang akhirnya membuat Amora mau.
Dia pun naik ke mobil Daren, dan mereka hanya diam sepanjang jalan hingga mobil Daren berhenti di depan mansion Darpa, lalu Amora pun mengucapkan terima kasih sebelum turun dari mobil Daren dan masuk ke mansion besar yang menjadi tempat tinggalnya itu.
Bersambung…..
https://www.redaksiku.com/choose-happiness-part-4/






