Amira Dzakiya
Pesawat mendarat dengan selamat dan tepat waktu di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, pukul 15.00 waktu setempat. Setelah pesawat berhenti, aku langsung membuka sabuk pengaman dan berdiri untuk mengambil koper. Sambil menunggu pintu terbuka, aku kembali duduk dan merapikan jilbab coklat susu yang kupadu dengan gamis coklat tua. Kububuhkan sedikit bedak untuk menyamarkan mata pandaku dan memoles bibir dengan lipstik berwarna coklat natural.
Begitu ponsel kuaktifkan, beberapa notifikasi langsung masuk. Salah satunya dari Marisa. Sahabatku itu mengabarkan kalau ia sudah sampai dan menunggu di ruang penjemputan. Aku tersenyum simpul. Anak itu sejak dulu memang selalu tepat waktu. Penumpang bergerak pelan keluar dari pesawat. Hawa panas dan lembap langsung menyergap begitu aku berjalan menyusuri ruangan demi ruangan di bandara. Pendingin udara tampaknya tidak terlalu berpengaruh akibat banyaknya manusia dan cuaca panas di luar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aku tiba di tempat pengambilan bagasi setelah melalui jalur imigrasi. Dengan bersusah payah, aku berhasil mengangkat dua koper besar ke atas troli dan lanjut menuju pintu keluar. Harap-harap cemas aku mencari seorang perempuan cantik berwajah Timur Tengah di antara para penjemput. Tak lama, tampak seorang gadis berhidung mancung, mengenakan jilbab ungu muda dan gamis putih dengan motif bunga ungu kecil berteriak memanggil namaku.
Mir! Amira! Suara nyaringnya bergema bersamaan dengan lambaian tangan.
Aku tertawa dan bergegas menghampirinya. Dua tahun tidak bertemu, gadis itu tidak banyak berubah. Saat akan memeluknya, aku tertegun. Marisa tidak sendirian.
Lo makin cantik aja, Mir! Gila, kangen banget gue! pekik gadis itu sembari memelukku erat.
Aku balas memeluk tubuh langsing itu. Gue juga kangen, Sa! Makasih ya, udah mau susah-susah jemput gue, ujarku dengan air mata berlinang.
Lho, kok nangis? Udah ah, nanti aja sedih-sedihannya. Eh lupa … tadi gue ketemu Pras di sini. Kebetulan dia ada tugas dari kantor untuk jemput tamu.” Ia lalu menarik tangan seorang pemuda tinggi tegap dengan tatapan mata teduh agar berdiri pas di hadapanku. Pemuda itu memandangku lekat.
Assalamualaikum, Amira! Suara lembut itu membawaku ke masa beberapa belas tahun silam.
Apa kabar, Pras? tanyaku setelah menjawab salamnya.
Prasetya mengangguk. Baik, jawabnya sambil memperlihatkan senyum manis.
Entah kenapa, ada debar-debar halus di dadaku. Cepat-cepat kutepiskan rasa aneh yang hadir.
Tadi waktu gue lagi nunggu lo, tiba-tiba si jelek ini nongol. Pas dia tahu gue mau jemput lo, dia pingin ketemu juga. Nggak apa-apa, ya, Mir? Marisa menatapku tanpa rasa bersalah.
Ya nggak apa-apa,” jawabku canggung sambil mendorong troli.
Sini, gue bantu, Mir! Pras mengambil alih troli dan mendorongnya.
“Lho, bukannya lo harus jemput tamu?” tanyaku seraya mengikutinya dari belakang.
“Pesawatnya belum mendarat,” jawabnya singkat sambil berjalan menuju lift.
Kenapa juga harus ketemu dia di sini, sih? Dasar trouble maker, lo! umpatku berbisik.
Miranda terbahak.
Bukan salah gue, dong! Dia tiba-tiba muncul. Emang kenapa? Jangan bilang lo masih ada rasa, ujarnya mengedipkan mata.
Gila, lo! Nggak mungkin, Sa. Kondisi gue lagi kayak gini, dia juga kan udah nikah. Semuanya cerita lama, udah selesai. Nggak ada apa-apa lagi, tegasku.
Marisa mengangguk. Kami lalu melangkah dalam diam.
Lo mau langsung gue anter pulang? Pertanyaan Marisa memecah kebisuan kami.
Iya. Biar nggak repot sama barang bawaan.
Oleh-oleh buat gue, ada, dong? Awas aja kalau lupa!
Ada nggak, ya? Ntar lo lihat aja, deh! Gue kan pulang karena situasi darurat, Neng. Mana kepikiran sama oleh-oleh. Tapi kalau cuman kurma sama coklat sih, ada. Jangan khawatir. Aku menekan tombol lift.
Sip, ntar gue bongkar di rumah lo! Gadis itu lalu menoleh pada Pras, Kita duluan ya, Pras?
Silakan. Nanti aja kita atur waktu, ya, Mir? Lo lama nggak di sini? Pras memandangku.
Belum tahu, juga. Iya, gampang deh, nanti kita janjian lagi, jawabku.
Siap! Salam buat Ibu dan si kembar, ya? Pras memasukkan koper-koperku ke bagasi mobil Marisa. Setelah itu ia beranjak pergi.
Makasih, ya, Pras! ujarku. Sampai ketemu lagi.
Marisa segera menyalakan mesin saat aku sudah duduk di dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman. Sepuluh menit kemudian, Nissan Livina metalik keluaran terbaru itu melesat membelah sore kota Jakarta.
Lo baik-baik, aja, kan? tanya Marisa sambil fokus menyetir dan melihat lalu lintas.
Aku membisu. Rasanya dada ini seperti akan meledak. Sekuat tenaga kutahan air mata yang mendesak keluar.
Mira! Aku menoleh. Marisa menatapku dengan iba.
Gue nggak apa-apa, Sa! Lo nyetir aja yang benar. Gue masih pengin hidup, lho, selorohku menutupi kegundahan hati.
Hm ¦ jangan bohong, deh! Gue kenal lo bukan cuman setahun dua tahun, Mir. Gue tahu lo luar dalam. Kalau sekarang lo mau cerita, keluarin aja semua! Lo mau nangis, nangis aja, nggak usah ditahan-tahan. Keluarin, biar lega!
Kata-kata Marisa membuat pertahananku bobol. Tubuhku bergetar kuat karena isakan yang akhirnya tak kuasa kutahan. Bahuku turun naik dan air mata mengalir deras membasahi pipi. Dengan tangan kiri, Marisa menyodorkan sekotak tisu untukku. Aku segera mengambil beberapa lembar dan menyeka air mata dan hidungku.
Marisa menunggu aku bersuara. Namun, bibirku terkunci, hanya sisa-sisa tangis yang masih terdengar.
Kalau lo nggak kuat cerita sekarang, nggak apa-apa. Lo bisa cerita kapan aja kalau udah siap. Gue cuman mau tanya, Bayu nggak selingkuh, kan?
Aku tersentak, lalu menggeleng kuat.
Kenapa lo sampai mikir jauh ke sana, Sa?
Ya, sekarang kan zamannya suami pada selingkuh, padahal istrinya cantik dan nggak punya masalah. Nah, gue denger cerita lo cuman sepintas. Tahu-tahu lo minta pisah, bingung kan, gue? Bukannya lo cinta mati sama Bayu? Dia juga kan tipe suami teladan dan sayang istri?
Terus kenapa lo minta cerai? Masalahnya apa, Mir? Yakin udah nggak bisa diomongin lagi? Lo udah siap dengan predikat janda? Pertanyaan-pertanyaan Marisa yang bertubi-tubi membuatku makin terpojok. Aku tidak bisa menyalahkan Marisa karena apa yang dia katakan itu ada benarnya.
Masalahnya nggak hanya satu, Sa. Semuanya udah numpuk, udah nggak bisa gue hadapin. Selama nikah, gue selalu berusaha meyakinkan diri kalau semua yang gue alamin itu wajar dalam rumah tangga. Gue nggak pernah ambil pusing kalau ada masalah dalam rumah tangga karena tahu kalau semuanya akan baik-baik aja. Gue nggak boleh cengeng dan banyak nuntut, nggak boleh manja. Aku menjelaskan dengan napas memburu.
Marisa kembali menoleh dan menatapku dengan pandangan prihatin.
Terus, lo udah coba ngomong sama Bayu? Udah kasih tahu dia isi hati lo?
Nah, itu juga masalah. Sebelum pulang, gue udah ngajak dia ngomong. Gue mau dia terbuka, ungkapin perasaan dia juga. Jadi kita saling bicara supaya jelas semuanya. Tapi dia nolak. Terus gue ajak ke ustazah kita berdua, tapi dia tetap nolak. Kalau udah gini gue mesti gimana lagi?
Mir, lo masih cinta kan sama Bayu?
Pertanyaan Marisa membuatku terhenyak.
Benarkah aku masih cinta pada Mas Bayu? Kalau aku nggak cinta lagi, lalu kenapa selalu ada rasa sakit di dada setiap kali mengingatnya? Kenapa baru berpisah sehari saja aku sudah merasa rindu? tanyaku dalam hati.
Amira?
Eh, iya, sahutku, gue masih cinta banget, Sa. Aku berpaling, memandang suasana Jakarta yang mulai gelap dari balik kaca jendela.
Nah. Kalau menurut gue, lo tenangin diri dulu, deh. Lo itu lagi emosi, nggak bisa berpikir jernih. Hati lo ketutup sama semua hal negatif tentang Bayu. Marisa menoleh saat mobil berhenti karena lampu merah.
Coba ingat-ingat lagi saat pertama lo jatuh cinta sama dia, saat lo akhirnya bisa menikah. Gimana bahagianya lo waktu bulan madu. Kalau perlu catat di buku supaya lo ingat gimana baik dan sabarnya Bayu.
Aku memandangnya tidak percaya.
Lo kerasukan apa, Sa? Jadi bijak banget. Mau tak mau aku terkekeh mendengar kata-kata Marisa. Sahabatku ini jarang sekali bicara banyak dan bijaksana seperti ini. Ia lebih suka bergurau untuk menghilangkan gundah. Bagi Marisa, hidup ini harus dinikmati. Kalau ada masalah, ia lebih senang menyimpannya sendiri.
Jika ada teman yang sedang kesusahan, ia mengajak untuk bersenang-senang agar teman tadi lupa akan masalahnya. Makanya mendengar Marisa bicara seperti ini, aku terhenyak dan tidak menyangka ia bisa sebijaksana itu.
Gadis itu cemberut mendengar kata-kataku.
Kan, giliran gue ngomong benar, lo nggak percaya. Gini-gini kan gue juga punya suami, Mir. Itu kata-kata gue ambil dari pengalaman gue sama Reza. Kalau kita lagi berantem, gue berusaha ingat gimana baik dan sayangnya Reza ke gue. Lama-lama gue bisa lebih sabar.
Senyumku mengembang.
Iya, lo benar. Makanya saat jauh kayak gini, gue mau intropeksi hubungan gue sama dia. Tolong jangan kasih tahu nyokap sama adik gue, ya, Sa. Biar gue usaha selesain masalah ini sendiri. Gue nggak mau mereka kepikiran, kataku lirih.
Marisa mengangguk. Mobil terus melaju menuju rumahku. Suara merdu Laura Pausini dengan It™s Not Goodbye, mengalun lembut menemani kami di sepanjang sisa perjalanan.
-bersambung-







Lanjutttt …..❤️❤️❤️
Makasih, Mbaaak
keren, lanjut …
💖
Makasih, Maaa ….