Kinan menggigit bibirnya, berusaha menahan kemarahan yang semakin membuncah.
“Jadi itu yang selama ini kamu pikirkan tentang saya?” suaranya rendah, tetapi ada kilatan emosi di dalamnya. “Saya bukan anak Anda. Saya hanya beban yang Anda tanggung dengan terpaksa, bukan?”
Tawa kecil yang sinis terdengar dari seberang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Setidaknya kamu cukup pintar untuk menyadarinya. Kamu hanya ada di hidup saya karena kekhilafan saya. Jika saya bisa mengulang waktu, saya tidak akan membuat kamu lahir ke dunia ini.”
Kinan menelan ludah, mencoba mengusir kepedihan yang tiba-tiba menghantam dadanya. Seharusnya ia sudah kebal. Seharusnya kata-kata itu tidak lagi menyakitinya.
“Sayangnya, Anda tidak bisa mengulang waktu,” balas Kinan dengan suara bergetar, tetapi matanya dipenuhi a p i perlawanan. “Dan juga jika saya bisa memilih saya tidak ingin terlahir dari darah seorang laki-laki pengecut dan juga dari rahim seorang ibu yang tak bertanggung jawab atas saya seperti kalian.” Teriak Kinan dengan keras.
Mendengar itu, tak ada jawaban lagi dari Ayahnya. Kinan hanya mendengar suara tarikan nafas panjang di seberang sana.
“Datang ke rumah besok pagi. Jika kamu tidak datang, maka…” suara ayahnya terdengar dingin, penuh ancaman yang belum terselesaikan.
Kinan menggenggam ponselnya erat, rahangnya mengeras. Ia tahu, apapun kelanjutan dari ancaman itu tidak akan membawa kabar baik.
“Maka apa?” tantangnya, meski jauh di dalam hati, ada ketakutan yang menggelayuti pikirannya.
Suara napas berat terdengar dari seberang sebelum ayahnya akhirnya melanjutkan, “Maka saya akan pastikan kamu kehilangan semuanya, Kinan. Saya akan membuat rumah sakit itu tidak lagi menerima kamu sebagai dokter, saya akan menghancurkan reputasi kamu, dan saya akan memastikan lisensi kamu sebagai seorang dokter dicabut.”
Kinan membeku. Ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong. Ayahnya memiliki koneksi luas, kenalan dari berbagai kalangan, termasuk di dunia medis. Jika ia benar-benar menginginkannya, maka karier Kinan bisa runtuh dalam hitungan hari.
“Kamu tahu saya bisa melakukannya,” lanjut ayahnya. “Jangan berpikir bahwa hanya karena sekarang kamu punya gelar dokter, kamu bisa hidup mandiri tanpa hambatan. Dunia ini kejam, Kinan. Dan tanpa perlindungan saya, kamu akan tenggelam.”
Kinan menutup matanya erat. Amarah, sakit hati, dan ketakutan bercampur menjadi satu. Ia ingin berteriak, ingin melempar ponselnya, ingin menolak semua ini mentah-mentah.
Tapi ia juga tahu, ayahnya tidak akan main-main.
Jika ia menolak datang besok, maka seluruh kerja kerasnya selama ini bisa musnah begitu saja.
“Anda benar-benar akan melakukan ini pada saya, Bapak Gemilang Handoko Wijaya?” tanyanya dengan suara serak.
“Tidak ada pilihan lain,” balas ayahnya singkat. “Jika kamu menolak permintaan saya ini, maka reputasi saya hancur dan juga karier mu juga akan tamat. Kita satu sama, jadi alangkah baiknya kamu menurut saja.”
“Ayah!” Teriak Kinan dengan frustasi.
“Saya tunggu kamu di rumah besok pagi. Atau hadapi konsekuensinya.” Jedanya sebentar, “Hidup tanpa memiliki apa-apa itu menyedihkan, tidak lebih dari seonggok sampah yang dikucilkan.”
Klik.
Panggilan terputus begitu saja, meninggalkan Kinan dalam kebisuan yang menyakitkan.
Ia menatap ponselnya dengan tatapan kosong, jari-jarinya gemetar. Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang menghimpit paru-parunya.
Ia ingin menangis. Ingin berteriak.
Tapi ia juga tahu, air mata tidak akan mengubah apapun.
Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Menyerah dan menerima pernikahan ini?
Atau melawan dengan konsekuensi kehilangan semua yang telah ia bangun?
Kinan menghela napas panjang, menatap bayangannya sendiri di cermin apartemen. Matanya memerah, sorotnya kosong seperti orang yang kehilangan nyawa.
****
Judul: Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Penulis: Istri_V
Baca cerita lengkapnya hanya di aplikasi KBM App!
Penulis : Istri_V
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Istri_V
Halaman : 1 2






