Mendengar penuturan dari Nasyla barusan membuat Amora kini sangat marah, hingga kini telapak tangannya sudah terkepal dengan sempurna, “Lo tau sekarang Naresh di mana?”
Nasyla mengangkat bahunya, “Mana gue tau. Eh, tapi denger-denger sihh, dia kabur ke luar negeri, negeri mananya gue ngga tau.”
“Bangs*t” gumam Amora saat mendengar ucapan Nasyla barusan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nasyla tersenyum ketika melihat ekspresi Amora yang terlihat sangat amat marah, “Amora-Amora, lo bodoh tau. Dengan tol*lnya lo malah nikah sama Daren, itu sama aja kayak lo nyerahin diri ke dia.”
“Karena apa?, karena dia udah mulai ngicar lo, Mora. Ya kata gue lo hati-hati aja sih, jangan sampai nasib lo sama kayak Kakak lo. Mati di tangan keluarga Akraryan” ucap Nasyla dengan membisikkan kalimat terakhirnya.
Mendengar itu Amora langsung berjalan keluar dari rumah Nasyla dan masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu mobil itu pun bergerak untuk keluar dari perumahan elit itu.
Melihat Amora yang pergi dari rumahnya dengan emosi mengebu-gebu membuat Nasyla tertawa terbahak-bahak, dia terlihat sangat amat puas.
Di dalam mobil yang kini bergerak di jalan raya terlihat Amora yang di dalamnya seperti tengah menahan amarah yang sangat memuncak di kepalanya, dia mengenggam erat setir mobilnya.
Dan ketika mobil itu berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah, Amora langsung memukulkan tangannya di setir mobilnya itu, “Arghh!!”
“Seharusnya lo udah siap denger ini semua, Raa. Bukannya lo udah siapin hati lo buat denger ini semua?, kenapa lo masih aja sakit dengernyaa!” marah Amora.
Setelah itu sebuah kejadian kembali terputar di benak Amora di saat lampu lalu lintas itu masih berwarna merah.
Flashback on.
Saat itu terlihat Amora yang sepertinya masih duduk di bangku SMP sedang berjalan menuruni tangga rumahnya dengan wajah yang pucat. Lalu tidak sengaja dirinya mendengar percakapan beberapa pembantunya yang tengah berkumpul, “Eh iya loh, mbaak. Aku juga ngga nyangka kalau pelakunya pacarnya sendiri.”
Amora seketika menghentikan langkahnya di dekat tangga untuk mendengar lebih lanjut percakapan dari para pembantunya itu.
“Tapi aku agak ngga percaya sih, Mbak, kalau pelakunya pacarnya Non Rena sendiri. Secara kan Den Naresh sayang banget ke Non Rena, jadi kayak ngga mungkin gitu.”
“Apa sih, mbak, di dunia ini yang ngga mungkin?. Buktinya aja Non Rena terakhir keluar sama siapa?, pacarnya itu kan?. Dan anehnya ya, Mbak. Di saat pemakanan Non Rena kemarin, yang datang itu cuma keluarganya Den Naresh, Den Nareshnya sendiri ngga ada.”
“Iya, udah fiks itu kalau pembunuhnya Den Naresh. Apa lagi tiba-tiba Tuan Darpa langsung nutup kasus Non Rena setelah Tuan Nata hari itu datang, apa lagi yang ngga mungkin?”
“Hemm, bener juga. Pasti Tuan Nata nyuruh Tuan Darpa nutup kasus itu biar hubungan di antara keluarga Sapphire dan Akraryan masih terjalin dengan baik. Dan Den Naresh ngga ditangkap polisi.”
“Suut, diem-diem, ada Non Mora” ucap salah satu pembantu yang tersadar ada Amora yang mendengarkan percakapan mereka barusan.
Karena para pembantu itu tersadar atas keberadaan Amora, mereka pun seketika langsung bubar dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Tapi itu semua sudah berhasil Amora dengar, dan kini terlihat Amora yang mengepalkan tangannya dengan sempurna seraya memunculkan tatapan marah, seakan-akan ingin membunuh seseorang.
Flashback off.
“Kalau emang sekarang giliran gue, gue rela. Tapi biarin gue nemuin bukti kalau emang Naresh yang bunuh Kak Rena ke Papa” ujar Amora yang lalu kembali menancap gas mobilnya ketika warna lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau.
Di jalan Amora mengambil earphone yang sudah tersambung dengan handphone-Nya, lalu dia mengutak-atik handphone-Nya sejenak untuk menelfon salah satu sahabatnya, yaitu Fara.
Setelah berhasil memencet nomor tersebut, Amora kembali menaruh handphone-Nya dan fokus melihat ke depan seraya menunggu telfonnya itu di jawab oleh Fara.
“Halo, Ra. Gimana?”
Mendengar suara Fara barusan membuat Amora sedikit terkejut, “Eee, Far. Lo sekarang lagi di mana?” tanya Amora.
“Di apart. Kenapa?” tanya Fara balik setelah menjawab pertanyaan dari Amora.
“Gue boleh tinggal di apart lo untuk sementara waktu ngga?” tanya Amora dengan nada ragu-ragu, takut kehadirannya akan merepotkan sahabatnya itu.
“Boleh, boleh banget, Mor. Lo kapan mau ke sini?” tanya Fara lagi.
Seketika Amora langsung melihat ke arah jam tangannya yang terpasang di dekat pergelangan tangannya kirinya itu, “Mungkin 10 menit lagi gue sampai” jawab Amora.
“Oke, gue tunggu, Mor.”
“Iya, makasih, Far.”
Selesai mengucapkan itu percakapan antara kedua sahabat itu pun selesai, dan Amora kembali menaruh earphone-Nya ke tempatnya semula. Setelah itu terlihat mobil Amora yang kembali melintas dengan kecepatan di atas rata-rata.
Bersambung……..
https://www.redaksiku.com/novel-choose-happiness-part-20/
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.