
Jam menunjukkan pukul 23.45 WIB, Kirei mengubah posisi berbaring dari terlentang menjadi miring ke sebelah kiri. Begitu juga dengan tangannya yang ikut bergerak menggapai sosok suaminya. Namun, ia tak menemukan keberadaan sang suami. Ia membuka mata, lalu duduk dan menyalakan lampu tidur yang ada di meja samping kasur. Ternyata, suaminya tidak ada di sebelahnya.
“Mas Attala ke mana, ya?” Kirei bertanya pada dirinya sendiri. Kemudian, ia menyibak selimut dan beranjak dari tempat tidur untuk mencari Attala.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kirei keluar dari kamar dengan perasaan campur aduk. Antara takut dan berusaha untuk berani. Ia tak pernah keluar kamar hampir tengah malam seperti ini. Semua kebutuhan yang diperlukan selalu dipersiapkan sebelum tidur. Namun kali ini, ia terpaksa keluar kamar untuk mencari suaminya.
Tempat pertama yang Kirei periksa adalah dapur. Mungkin Attala lapar atau ingin makan sesuatu. Semua lampu dipadamkan semua, kecuali dapur, teras rumah dan halaman. Ia pun menggunakan senter ponsel untuk membantunya mencari keberadaan sang suami. Namun, aroma dupa dan kemenyan masih tercium dari kamar pribadinya. Bukan hanya itu, telinganya mendengar suara grasak-grusuk dari dalam sana. Detak jantungnya seketika berdebar tak karuan. Antara takut dan penasaran bercampur menjadi satu.
“Suara apa itu, ya? Mas Attala pake hilang segala lagi? Mana enggak tahu perginya ke mana?” Kirei ngomel-ngomel sendirian. Dengan langkah gemetar, ia mendekati kamarnya untuk mengobati rasa penasarannya.
Perlahan, tangan kanan Kirei, memegang gagang pintu dan membukanya pelan-pelan. Di sana nampak, seseorang yang mengenakan piyama senada dengannya sedang asyik makan buah apel yang ada dalam persembahan sesajen.
“Ya ampun, Mas. Apa yang kamu lakukan? Aku hampir saja mati ketakutan.” Kirei masuk ke dalam sambil menutup hidung, lalu menutup pintu dan melangkah mendekati Attala. “Mas makan dari persembahan sesajen?”
“Maaf, Sayang. Mas pengen makan sesuatu yang segar-segar. Tapi, pas buka kulkas, ternyata buah-buahan habis. Mas teringat dengan sesajen yang menyertakan buah-buahan di dalam ritualnya. Ya udah, Mas, makan saja buah-buahannya,” jelas Attala sambil nyengir. Di tangan kanannya, ada buah apel merah. “Lagian makanan sesajen ini, siapa yang mau makan? Mubazir kalau dibuang.”
“Ya, sih. Tapi, bisa bangunin aku kalau lapar, aku bisa masakin buat Mas. Eh, ini malah makan buah-buahan untuk sesajen. Kalau Mama tahu, sesajennya habis, gimana? Ntar Mama nyangkanya memang ada orang yang ingin berbuat jahat sama kita.” Kirei naik ke atas kasur. Ia masih menutupi hidungnya dengan tangan kanan, lalu duduk di samping Attala.
“Bau kemenyan sama dupanya masih tercium, ya? Sebentar, Mas nyalakan pewangi ruangan. Attala beranjak dari tempatnya untuk menyalakan pewangi ruangan yang terpasang di tembok sebelah kanan dekat lemari pakaian. Kemudian, ia kembali duduk di kasur dan melihat istrinya yang sudah bisa bernapas dengan lega.
“Kamu mau?” Attala menyodorkan buah jeruk. Bukannya menerima jeruk itu, Kirei hanya menggelengkan kepala sambil menatap Attala yang sedang menikmati buah-buahan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






