“Mas mau makan ayamnya juga?” tanya Kirei. Matanya langsung tertuju pada ayam bakakak yang masih utuh. Ia tidak paham, kenapa sesajen harus ada bermacam-macam makanan. Menurut logikanya, semua itu tidak masuk akal. Siapa yang akan memakan sesajen itu? Pada akhirnya, makanan-makanan itu akan berakhir di tempat sampah. Bisa juga, kalau dukungnya ada, paling dimakan sama para dukun itu. Mereka bisa makan enak tanpa meminta istri mereka untuk masak yang membutuhkan waktu lama.
“Sedikit saja. Biar tidak terlalu mubazir.” Attala tersenyum. “Kamu mau bantu ngabisin makanan ini?”
Kirei menimbang-nimbang. Setelah bergelut dengan pikirannya, ia pun memutuskan untuk membantu Attala menghabiskan makanan sesajen itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Besok pagi, rumah ini bakalan dibuat heboh.” Kirei membuka mulut ketika Attala menyuapi satu suwir ayam bakakak.
Attala tersenyum sambil membayangkan, reaksi Mama Gayatri saat tahu kalau makanan dalam nampan sesajen tinggal sedikit. Akan ada dua kemungkinan yang mama mertuanya itu pikirkan. Satu, pernikahan putrinya sudah aman dari hal-hal buruk. Dua, jin atau setan yang bersemayam di kamar Kirei sudah menerima persembahan, lalu pergi meninggalkan rumah keluarga Gumilar.
Attala sudah merasa kenyang. Begitu juga dengan Kirei. Mereka berdua meletakkan kembali nampan sesajen di bawah kasur, lalu mencuci tangan dan membersihkan gigi di kamar mandi yang ada di sana. Kemudian, kembali ke kamar tamu untuk melanjutkan tidur lagi.
“Mas, besok jadi lihat rumah kita?” Kirei bertanya sambil membenarkan posisinya, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Oh, iya, Mas lupa ngasih tahu kamu. Tadi, Mama Maya ngirim pesan, kalau rumah kita sudah selesai dan bisa langsung ditempati,” ujar Attala.
“Rumah kita, ada di daerah Menteng, kan, Mas?” Kirei tak sabar ingin segera besok dan melihat rumah impiannya.
“Iya, kenapa? Kamu enggak suka?” tanya Attala khawatir.
“Bukan enggak suka, Mas. Tapi, daerah Menteng itu rumah-rumahnya elit semua. Aku takut Mas jadi terbebani.” Kirei tak pernah meminta dibelikan rumah mewah, berlian atau barang-barang yang mahal. Hanya satu yang diinginkannya yaitu suami yang pekerja keras, perhatian sama keluarga, enggak doyan selingkuh, dan bertanggungjawab serta taat beribadah.
“Tidak apa-apa, Sayang. Memberikan tempat tinggal yang nyaman adalah salah satu kewajibanku sebagai suami dan kepala keluarga. Mas akan berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga kita.” Attala menatap Kirei dengan tatapan penuh cinta. “Sudah, sekarang kita tidur lagi. Kita siap-siap mendengar berita heboh nanti pagi dari Mama Gayatri.”
Halaman : 1 2






