Redaksiku.com – Publik kembali dihebohkan oleh sosok Yudo Sadewa, Putra Menteri Keuangan atau Anak Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, setelah unggahan terbarunya di TikTok menjadi bahan perbincangan luas.
Yudo yang sebelumnya dikenal karena komentarnya soal potensi krisis ekonomi, kali ini mencuri perhatian lewat pernyataannya yang menyinggung fenomena mabok agama di Indonesia dan kaitannya dengan maraknya perilaku korupsi serta kemerosotan moral di masyarakat.
Unggahan video tersebut pertama kali muncul di akun TikTok @yudosadewa pada Minggu (2/11/2025) dan langsung menjadi viral, ditonton jutaan kali serta dibanjiri komentar pro dan kontra.
Mabok Agama Sekaligus Tidak Beragama
Dalam video berdurasi sekitar satu menit itu, Yudo tampil santai dengan kaus hitam dan masker putih, namun isi pesannya dianggap sangat tajam.
Ia membuka pernyataannya dengan kalimat yang memancing perhatian:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Guys, orang Indonesia itu mabok agama sekaligus tidak beragama.
Kalimat tersebut langsung memicu gelombang reaksi di dunia maya. Banyak yang menilai ucapannya sebagai bentuk sindiran terhadap sikap keberagamaan masyarakat Indonesia yang cenderung seremonial dan dangkal.
Menurut Yudo, istilah mabok agama bukan bermakna menolak nilai-nilai spiritual, tetapi menggambarkan kecenderungan sebagian masyarakat yang terlalu terobsesi dengan simbol dan ritual keagamaan tanpa diiringi pemahaman rasional maupun pengetahuan ilmiah.
Kalau mau memperkuat keimanan, ya harus belajar ilmu pengetahuan juga. Jangan cuma ikut-ikutan ritual tanpa tahu maknanya, ujarnya dalam video tersebut.
Agama dan Ilmu Seharusnya Seimbang
Dalam penjelasannya, Yudo menekankan bahwa agama dan ilmu pengetahuan bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan harus saling melengkapi.
Ia menilai, jika seseorang hanya fokus pada ibadah tanpa memahami konteks ilmiah atau sosialnya, maka nilai-nilai moral dari ajaran agama justru tidak akan termanifestasi dalam tindakan sehari-hari.
Masalahnya, banyak yang merasa sudah religius karena ikut pengajian, tapi dalam keseharian masih berbohong, menipu, atau bahkan korupsi, ujarnya dengan nada kritis.
Pernyataan itu dianggap sebagian warganet sebagai refleksi keras atas kondisi masyarakat yang tampak saleh di permukaan, namun masih menghadapi krisis etika dalam praktik sosial dan politik.
Paradoks Religiusitas dan Moralitas
Lebih lanjut, Yudo menyoroti paradoks antara tingginya tingkat religiusitas masyarakat Indonesia dengan meningkatnya angka korupsi dan pelanggaran moral.
Ia mempertanyakan bagaimana mungkin negara yang dikenal religius justru masih dibayangi praktik korupsi, kolusi, hingga kemaksiatan di berbagai lini.
Lo yang Islam palingan cuma salat Jumat, nggak salat lima waktu. Lo yang Kristen, kapan terakhir kali ke gereja? Tapi kok korupsi dan maksiat tetap banyak? tegasnya.
Ungkapan ini, yang disampaikan secara blak-blakan, langsung menyulut perdebatan panas.
Bagi banyak netizen, Yudo berhasil menggambarkan realitas ironis masyarakat Indonesia yang gemar menonjolkan identitas agama namun belum sepenuhnya menginternalisasi nilai moral yang terkandung di dalamnya.
Reaksi Publik: Antara Dukungan dan Kritik
Tak butuh waktu lama, unggahan tersebut menuai beragam reaksi dari warganet.
Sebagian besar memberi dukungan dan menyebut Yudo berani menyuarakan hal yang jarang diungkap secara terbuka.
Dia cuma ngomong fakta. Agama diajarkan supaya orang jujur, tapi lihat pejabat-pejabat yang korupsi semua pakai atribut agama, tulis salah satu pengguna TikTok di kolom komentar.
Namun, tak sedikit pula yang menyatakan keberatan dengan cara penyampaiannya yang dinilai terlalu general dan menyinggung urusan pribadi keagamaan seseorang.
Beberapa menganggap pernyataan itu kurang sensitif terhadap keragaman cara beragama di Indonesia.
Kalimatnya terlalu menuduh, seolah semua orang Indonesia munafik. Padahal banyak yang ibadah dan tetap jujur, tulis pengguna lain.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.