Novel : Love Me, One More Time (Part 2)

- Penulis

Rabu, 7 Agustus 2024 - 18:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Love Me, One More Time (Part 2)

Novel : Love Me, One More Time (Part 2) : Permintaan Sekali Seumur Hidup

Maya berjalan dengan langkah yang terhuyung-huyung. Untuk berdiri saja, ia sudah cukup kesulitan. Menghadapi berita buruk yang baru saja ia dengar itu benar-benar sangat sulit baginya. Seluruh hidup yang ia jalankan untuk mengejar ambisi dan cita-citanya itu terasa hancur begitu saja. Penyakit mematikan yang diderita olehnya membuat Maya harus mengubur cita-citanya dalam-dalam. Bahkan, ia harus menghadapi kenyataan bahwa usia nya di dunia ini hanya tersisa enam bulan lagi.

Di tengah rasa putus asa nya tersebut, entah bagaimana ceritanya, ia kini berakhir tepat di depan gedung kantornya sendiri. Maya yang masih mengenakan pakaian rumah sakit itu kini memilih masuk ke dalam kantornya hingga naik menggunakan lift untuk mencapai lantai tempat ruangannya berada. Sesampainya di ruangan pribadinya, Maya segera menyalakan lampu untuk menerangi ruangan tersebut. Bola matanya mengedarkan pandangan mengelilingi ruangan kerja dimana hampir seluruh hidupnya ia habiskan diruangan tersebut.

Datang ke ruangan kerjanya rupanya tak membuat perasaannya membaik. Ia justru merasa semakin tertekan hingga lututnya tak mampu lagi menahan berat tubuhnya sendiri. Maya jatuh ke lantai dalam posisi duduk. Kelopak matanya sudah tak lagi mampu menahan air mata yang pada akhirnya mulai mengalir dengan deras membanjiri pipinya tersebut. Cukup lama tangisan Maya mengisi keheningan pada ruangan tersebut. Hingga pada akhirnya, matanya beralih ke sebuah map cokelat yang berada di atas mejanya tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Maya mencoba berhenti menangis sejenak, ia kembali bangkit lalu mulai mengambil map cokelat tersebut dan membukanya. Terlihat beberapa lembar kertas berada di dalam map tersebut lengkap dengan beberapa cetakan foto.

“Detektif itu, karena Audi batal menemuinya, ia pasti mengirim laporannya kesini” gumam Maya.

Maya pun mulai membaca beberapa kalimat pada laporan tersebut. Namun, yang menjadi pusat perhatiannya adalah foto-foto yang turut dilampirkan pada berkas yang sedang ia baca. Mata Maya kembali dibuat terbuka lebar, tangannya pun turut gemetar tatkala ia melihat isi foto yang menampilkan seorang pria yang sedang menggandeng sosok wanita dengan tangannya. Tak hanya itu, foto lain juga menunjukkan pria tersebut makan malam dan sempat saling merangkul satu sama lain. Sosok pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang Maya rangkul pada bingkai foto pernikahan yang Maya pajang di mejanya tersebut. Ya, foto itu adalah bukti tentang perselingkuhan suaminya yang sedang Maya selidiki dengan jasa detektif bayaran.

Tangan Maya mulai memperoleh kekuatannya kembali. Ia kini mulai meremas foto-foto tersebut lalu berteriak histeris. Air matanya yang semula berhenti mengalir, kini kembali keluar dari kelopak matanya. Maya mulai kalut, ia mengacak-acak mejanya hingga beberapa dokumen berterbangan ke lantai. Teriakan histerisnya semakin membuat kondisi Maya kian memprihatinkan. Setelah mendapat kabar penyakitnya yang sudah membuatnya merasa frustasi, kini ia mengetahui bahwa suami yang ia nikahi dan ia cintai dengan sepenuh hatinya itu serta telah menemaninya selama kurang lebih lima tahun dalam pernikahan, kini berselingkuh darinya bersama dengan wanita lain yang tak ia kenali.

Situasi tersebut mampu membawa Maya berada dalam kondisi terendahnya. Akal sehat Maya mulai hilang, kegilaan seakan menguasai dirinya. Fatalnya, terlintas sebuah pikiran ekstrem dalam kepala Maya. Keinginan untuk menyerah dan mengakhiri semua penderitaannya sekarang juga. Untuk mewujudkannya, Maya mulai bangkit berdiri dan berjalan keluar dengan tatapan kosong. Ia pergi menuju tangga darurat yang terhubung pada atap gedung kantornya tersebut.

Hembusan angin malam membuat suasaan atap gedung tersebut terasa cukup dingin. Maya yang memakai pakaian rumah sakit dengan bahan tipis itu tentu saja akan merasa kedinginan. Akan tetapi, rasa dingin tersebut sama sekali tidak ia rasakan. Tatapan matanya benar-benar kosong, ia berjalan layaknya mayat hidup tanpa pikiran. Hanya ada satu tujuan dalam diri Maya saat ini, yaitu berjalan menuju tepi atap gedung dan melompat ke bawah untuk mengakhiri penderitaannya sekarang juga.

Semakin dekat dengan tepi atap, Maya mulai kembali menangis. Ia menangisi nasib buruknya dan semua perjuangan yang hanya berakhir dengan keputusasaan yang membuat dirinya berakhir di tepi atap gedung tersebut. Ia mulai memejamkan mata, tangannya mengepal dengan kuat dan hanya butuh satu dorongan bagi Maya untuk melompat terjun ke bawah. Di tengah kondisi hidup dan mati tersebut, terlintas sebuah ingatan yang membuatnya kembali mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidup dengan tragis.

“Menikahlah denganku, akan ku bantu wujudkan semua cita-citamu itu. Aku berjanji padamu”

Sebuah kata-kata dari masa lampau yang entah mengapa kembali berputar dalam benak Maya. Kata-kata dari seorang laki-laki yang berlutut padanya sambil memegang cincin emas yang sampai saat ini masih Maya kenakan. Kenangan saat suami nya melamar dirinya itu membuat Maya tersadar atas apa yang baru saja ia inginkan. Maya melangkah mundur, ia mulai mencoba mengumpulkan kesadarannya untuk kembali berpikir logis.

“Tenanglah Maya, hampir saja kau berakhir di media dengan foto kepalamu yang pecah” gumam Maya sambil mencoba mengatur nafasnya dengan normal.

Cukup lama Maya mengatur nafasnya sekaligus menenangkan dirinya kembali. Setelah ia kembali tenang, Maya pun mencoba memikirkan apa yang hendak ia lakukan dengan penyakit serta masalah pernikahannya tersebut. Saat Maya sedang berpikir, ia kembali diingatkan dengan kenangan yang baru saja terlintas di benaknya saat ia hendak mengakhiri hidupnya tersebut. Kenangan itu kini membuatnya kesal, ia benar-benar muak dengan kata-kata manis yang memang selalu terngiang dalam benaknya tersebut.

“Cih, pembohong. Kamu bilang mau menemaniku mewujudkan cita-citaku, sekarang kau malah asyik dengan wanita lain? Siapa dia? Akan kupastikan dia menderita karena telah mengganggu kehidupanku!!”gumam Maya menggerutu.

Di tengah kekesalannya tersebut, Maya mulai terpikirkan sebuah ide yang ia rasa cukup bagus untuk ia lakukan. Setelah mendapat ide tersebut, Maya lantas mulai menghapus air mata yang ada di pipinya dan kembali bangkit lalu pergi meninggalkan atap kantornya tersebut. Ia turun ke lantai dasar dan kembali ke jalan raya untuk memesan taksi. Tujuannya kini hanya satu, rumah tempat ia tinggal. Tempat sang suami yang kini ia benci itu tengah berada.

***

Maya menekan kode pada kenop pintu depan yang dirancang dengan sebuah kata sandi untuk membukanya. Ia berjalan masuk ke dalam rumahnya yang cukup luas untuk dihuni oleh dua orang. Bagian dalam rumahnya itu terlihat gelap dengan lampu yang telah padam hampir di seluruh ruangan. Hanya ada cahaya lampu dari bagian luar yang menembus masuk melalui kaca jendela yang tertutup tirai.  Ia masuk tanpa menyalakan satu pun lampu yang ada di ruang tamu. Sudah menjadi kebiasaanya untuk tidak menyalakan lampu saat pulang larut malam agar tidak mengganggu suaminya yang biasanya lebih dahulu terlelap.

Maya hanya berdiri didepan pintu kamar suaminya yang entah sejak kapan lebih sering tidur di kamar tamu dibandingkan tidur bersamanya di kamar mereka berdua. Ia ragu untuk mengetuk pintu kamar tersebut, Maya masih mempertimbangkan apakah ia harus membicarakan masalah yang ia alami kepada suaminya malam ini atau esok hari. Di tengah keraguan Maya, pintu yang hendak ia buka rupanya terbuka dan menampilkan sosok suami Maya yang keluar sambil menguap.

Arman Pratama, ia adalah suami dari Maya yang menikahi Maya sejak lima tahun lalu. Arman dan Maya pertama kali bertemu saat mereka masih duduk di bangku kuliah. Saat itu, mereka berdua sama-sama mengambil fakultas ekonomi dan bisnis di perguruan tinggi yang sama. Di tahun keempat mereka berkuliah, Arman pun menyatakan perasaannya kepada Maya. Setelah melalui beberapa kali penolakan, Maya pun akhirnya menerima pernyataan cinta Arman dan mereka mulai berpacaran. Lima tahun kemudian, Arman memberanikan diri untuk melamar Maya sehingga kini, mereka sudah menjalin hubungan asmara selama sepuluh tahun.

Tidak seperti Maya, karir Arman tidak begitu cemerlang. Di usianya yang sudah mencapai kepala tiga itu, Arman masih berkutat sebagai Team Leader dan hampir tidak mendapat kesempatan naik jabatan. Hal ini yang membuat Maya lebih dominan dibandingkan Arman dalam urusan rumah tangga mereka berdua. Berbagai hal telah terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka, hingga pada malam ini, sang istri berdiri didepan suaminya yang baru saja terbangun dari kamar yang terpisah darinya.

“kenapa kamu berdiri didepan pintu?” tanya Arman yang masih menguap.

“A-aku hanya sedang melamun” balas Maya.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Polres Barru menggelar Serah Terima Jabatan (Sertijab) delapan pejabat utama dan kapolsek jajaran. Rotasi ini menjadi bagian dari penyegaran organisasi untuk memperkuat profesionalisme serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Internasional

Sertijab Polres Barru, Kapolres Dorong Pelayanan kepada Masyarakat

Kamis, 6 Agu 2026 - 21:17 WIB