“Lalu, kenapa kamu pakai pakaian rumah sakit seperti itu? Atau itu baju tidur barumu?”
“bukan, aku memang baru keluar dari rumah sakit”
“Ohh begitu”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Arman lantas berjalan melewati istirnya begitu saja. Maya pun merasa geram, suaminya itu bahkan tak peduli saat ia mengatakan bahwa ia baru saja keluar dari rumah sakit. Maya mengepalkan tangannya dengan amat kencang, ia berusaha menahan emosinya agar tidak meledak begitu saja.
“Apa kau tidak penasaran dengan kondisiku setelah pulang dari rumah sakit?” tanya Maya sambil menghampiri Arman yang sedang meneguk air putih di dapur.
“Hmm memangnya kau kenapa? kelelahan? Sudah kubilang untuk tidak terlalu memaksakan diri saat bekerja bukan?” balas Arman.
“Kau benar-benar tidak khawatir dengan kondisiku?”
“Ada apa denganmu? biasanya kau tidak suka diperhatikan berlebihan seperti ini bukan?”
“Memang benar, tapi setidaknya kau harus lebih peduli dengan menanyakan kondisiku bukan? bagaimana bila ternyata aku sakit parah?” Maya semakin meninggikan nada bicaranya.
“Aku tidak mengerti, kenapa kau bersikap aneh seperti ini?” Arman masih tidak peduli dan tak mengerti maksud dari perkataan istrinya tersebut.
“Aku tidak bersikap aneh, kau yang bersikap aneh! kau benar-benar tidak peduli dengan apapun yang terjadi padaku? Aku benar-benar mengalami hari yang berat. Sementara kau bahkan tidak peduli saat melihatku pulang dengan pakaian rumah sakit ini”
Arman hanya menghela nafas panjang. Ia benar-benar tak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya tersebut. Selama ini, istrinya itu sangat tidak menyukai perhatian berlebihan darinya. Itu sebabnya, Arman merasa tak perlu lagi untuk banyak bertanya kepada istrinya. Namun, malam ini istrinya benar-benar bersikap aneh dan menuntut perhatian darinya. Arman merasa istrinya itu hanya mencari-acri kesalahan dari dirinya tersebut.
“Kita bicara besok saja, kau sepertinya lelah dan tak bisa mengontrol emosimu. Untuk saat ini, aku minta maaf atas apapun yang dimatamu menjadi kesalahanku. Tidurlah, selamat malam” ujar Arman yang mulai berjalan melewati istrinya kembali.
Maya pun tak kuasa menahan emosinya. Saat itulah, ia memutuskan untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Sebuah pikiran yang terlintas setelah ia hampir melompat bunuh diri dari atap gedung kantornya sendiri.
“Aku menderita tumor otak stadium akhir. Sisa hidupku hanya tersisa enam bulan lagi” ujar Maya.
Arman pun kembali berbalik badan. Wajahnya terlihat sangat terkejut mendengar berita yang disampaikan Maya tersebut.
“Apa? Tumor Otak? Kau sedang bercanda bukan?” tanya Arman yang kini mulai berdiri berhadapan dengan istrinya secara dekat.
“Tidak, aku tidak bercanda. Aku sekarat dan usiaku tersisa enam bulan lagi. Oleh karena itu, bisakah kau kembali menjadi suami yang mencintaiku lagi untuk sisa enam bulan hidupku ini?” tanya Maya dengan wajah datar.
Baca part lainnya dari cerita ini:
https://www.redaksiku.com/tag/love-me-one-more-time-sanji-kun/
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






