Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 20)

- Penulis

Selasa, 5 November 2024 - 22:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 20)

Menggapai cita-cita semula, itulah mimpi Ratih terakhir untuk mengentaskan diri dari keterpurukan. Jerman, negara impian masa kecil yang seolah mengiang-ngiang memanggilnya. Yang telah terjadi tak bisa dihindari, biarlah waktu menghapusnya. Masa depan harus disongsong dengan penuh harap. Bodensee, warte auf meine Ankunft!” bisiknya lirih penuh semangat. Tangannya mengepal, kedua netranya berbinar.

 

Ratih sedang bersiap-siap mau ke kampus. Dia janjian mau ketemuan sama sahabatnya Uut. Bersama sahabatnya, Ratih seharusnya sudah berangkat ke Jerman. Gara-gara malam jahanam itu Ratih batal pergi. Ternyata Uut ikut membatalkan keberangkatannya. Uut dibantu oleh Dekan fakultas mengurus penundaan semester berikutnya. Untuk urusan itulah keduanya menghadap Dekan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Selesai urusan penundaan keberangkatan, keduanya ngobrol di resto baru dekat kampus. Resto ikan dan ayam bakar lesehan. Tempatnya nyaman sekali. Mereka sangat menikmati tiupan angin segar dan pemandangan hamparan padi yang masih menghijau. Saung mereka berada di bawah pohon sengon tua. Batangnya yang besar tertutup rambatan sirih belanda.

 

Rat, maaf ya, ini bukan selentingan. Waktu kapan itu bapakku sedang rapat tutup buku di vila milik perusahaan. Vìlanya tetanggaan dengan vila suamimu. Pas lagi rehat ngopi di teras, Bapak melihat suamimu pulang entah dari mana bersama perempuan. Mereka mesra sekali. Sudah hampir dua bulan, lho, mereka tinggal di situ.

 

Ratih terdiam, netranya merebak merah berkaca-kaca. Uut menggenggam kedua tangannya. Aku merasa perlu mengatakan padamu, karena takut kau mendengar berita yang telah digoreng dan nggak jelas sumbernya.

 

Aku tau Ut, kau benar. Lalu, apa status mereka?

 

Kata penjaga vila kantor ayahku, mereka menikah siri di masjid daerah situ.

 

Ratih menangis, Uut memeluknya. Semua usaha untuk menerima dan memaafkan perlakuan Toni ternyata sia-sia. Untuk seketika Ratih tidak tahu harus bagaimana. Pikirannya buntu, seperti menghadapi tembok beton yang kokoh.

 

Akhirnya Ratih berterus terang kepada Uut, bahwa pernikahan mereka statusnya adalah pernikahan kontrak selama tiga tahun. Perjanjian nikah ini sama sekali tidak diketahui oleh kedua orang tua dari kedua belah pihak. Suaminya memang sudah tunangan dengan wanita itu tanpa sepengetahuan orang tuanya.

 

Tapi ¦. Ratih sesenggukan lagi tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Pesanan mereka datang. Ratih menahan tangisnya. Setelah pramusaji pergi, Ratih memeluk Uut, menangis sepuasnya.

 

Sebenernya, kalau tidak ditunda, waktunya pas banget. Aku mengambil master empat semester, artinya akan berakhir pas tiga tahun pernikahan. Kami bercerai! Tapi, aku mau minta cerai sekarang aja karena Toni sudah melanggar semua item perjanjian yang kami sepakati. Ayah mendukung.

 

Tapi, Rat kau tau akibat dari perceraian, kan? Bukan sekedar perpisahan! Statusmu Ratih, statusmu. Makanya banyak perempuan mempertahankan penderitaannya, karena status itu. Mereka tidak menginginkan status janda.

 

Ratih terkesima, diingatkan akan konsekuensi dari perceraian. Waktu itu dia tidak memikirkan status itu. Andai saja Toni menghormati perjanjian itu, meskipun menjadi janda, dia tidak masalah, karena dia masih gadis utuh. Ratih mendesah dalam keluhan, sekarang, jika kami bercerai aku jadi janda bolong beneran! gumamnya dalam hati.

 

Ratih menatap sendu, entah apa yang dilihatnya, dan pikirannya pun kosong. Hatinya sakit sekali, tidak bisa dipungkiri Toni sudah bersemayam di hatinya. Cinta yang sudah tumbuh subur kini menyakitinya.

 

Ut, apakah cinta sangat menyakitkan? Kenapa tidak seperti yang kubaca di novel-novel?

 

Ratih, kamu telah merasakannya, kan? Ratih mengangguk. Itulah cinta. Sekarang cintamu sedang diuji, lanjut Uut.

 

Tapi dia menikah lagi, biarpun nikah siri! Yang pasti, mas Toni ¦ dia meninggalkanku! Ini menyakitkan, Ut ¦ sangat menyakitkan!

 

Uut hanya bisa memeluk sahabatnya, dia sangat prihatin atas apa yang Ratih alami. Dia tidak pernah curhat apapun masalahnya. Kehidupannya sepertinya baik-baik saja. Sampai dia kabur dari rumah. Biasanya, Ratih hanya menggeleng jika ditanya.

 

Rat, lupakan sejenak masalah ini, oke? Makanlah mumpung masih panas, ajak Uut melepas pelukannya, lalu menyuap makanannya, masakannya enak, nggak rugi kita ke sini. Jangan buang-buang air matamu untuk laki-laki seperti itu. Abaikan saja, dan makanlah, nanti masuk angin!

 

Walaupun tidak selera, Ratih mencoba makan, dengan polosnya dia membenarkan enaknya rasa menu yang dimakannya. Iya bener Ut, masakannya enak. Tapi sambelnya kurang pedes!

 

Sementara jangan pedes-pedes dulu! Baru sembuh. Nanti kalau dah sehat beneran, balik asal, kata Uut sambil tertawa. Ratih terpaksa ikut tertawa meskipun sedikit kecut.

 

Tapi, Ut ¦ rasanya satu-satunya jalan adalah bercerai. Sesudah itu aku akan tetap ke Jerman. Baru dipikirkan bagaimana ke depannya. Uut melebarkan mata tidak percaya.

 

Sepulang makan siang Ratih minta pak Min putar-putar kota lewat kampung-kampung yang dia belum pernah ke daerah itu. Air matanya seolah tak henti mengucur dari mata indahnya yang kini tampak sendu. Menjelang asar dia pulang. Beruntung mamahnya sedang di kamar. Dengan berjingkat Ratih langsung naik ke kamarnya di lantai dua.

 

Setelah mandi dan menjalankan kewajibannya Ratih istirahat. Menjelang senja dia bangkit lalu berdiri di balkon kamarnya, menatap langit senja yang mulai memerah. Bias sinar matahari sore yang menerpa tubuhnya, tak mampu menghangatkan hatinya yang beku. Hatinya terluka saat kabar itu sampai di telinganya, kabar yang mengguncang seluruh dunianya. Toni, suaminya, telah menikah lagi.

 

Pernikahan mereka bukanlah pernikahan sempurna, hanya pernikahan kontrak. Bagaimanapun cinta mereka akhir-akhir ini mulai menguat dan cukup kuat untuk melewati segala cobaan. Setidaknya, sampai dua tahun lagi sesuai kontrak. Harapannya dengan cinta ini Ratih yakin, kontrak akan diakhiri oleh cinta mereka. Kini, segalanya terasa rapuh, seolah-olah pondasi rumah tangganya hancur dalam semalam.

 

Nama wanita itu, Erlika, terus terngiang di kepalanya. Wanita tunangan Toni yang telah dibatalkan sendiri oleh Toni. Tak ada yang aneh pada awalnya, hingga Toni berubah menjadi sosok asing tak ia kenali lagi. Dingin, tak peduli, matanya menyiratkan kebencian, lalu menghilang hingga hampir dua bulan. Puncaknya adalah kabar pernikahan kedua orang itu.

 

Toni menikahi Erlika secara siri dan dilakukan diam-diam. Namun, lebih mengejutkan lagi, desas-desus tentang guna-guna yang digunakan Erlika untuk mengikat Toni semakin mengganggu pikiran Ratih. Apakah ini benar guna-guna? Apakah Toni tidak sadar apa yang telah ia lakukan? Ratih menghela napas panjang, menenangkan diri sebelum akhirnya memutuskan untuk meminta Toni pulang.

 

***

 

Toni duduk di sofa ruang kerjanya, wajahnya lelah dan matanya tampak kosong. Ada kebingungan di matanya yang tak pernah Ratih lihat sebelumnya. Dulu, matanya tajam penuh percaya diri, dan sejak di Turki, matanya selalu bersinar saat menatapnya. Kini, seakan kebingungan seperti kehilangan pegangan, dan seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka.

 

“Ratih, aku tahu kau dengar tentang aku dan Erlika.” Akhirnya Toni membuka percakapan, suaranya serak penuh keraguan. “Aku bisa jelaskan.”

 

“Jelaskan apa? Bahwa kau menikah lagi di belakangku? Mas, kamu sudah melanggar perjanjian kita!” Ratih mencoba menahan amarahnya, tetapi suaranya tetap gemetar.

 

“Itu bukan aku, Ratih. Aku tak tahu bagaimana aku bisa sampai sejauh ini … Aku mencintaimu, sungguh,” kata Toni, sambil menunduk. “Tapi ada sesuatu … sesuatu yang tak bisa aku kendalikan.”

 

Ratih terdiam. Kata-kata Toni terdengar tak masuk akal, tetapi bagian lain dari dirinya ingin percaya. Toni mulai mencintainya, selalu mengutamakan dirinya di atas segalanya. Bagaimana bisa berubah?

 

“Apa maksudmu ‘tak bisa dikendalikan’?” tanyanya dengan suara lebih lembut, mencoba memahami.

 

Toni menggigit bibirnya. Ia menatap lurus ke depan, seolah mencari jawaban yang sulit diungkapkan. “Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tidak lama setelah pulang dari Turki, aku merasakan kangen yang tak terkendali. Pertemuan tidak cukup bagiku. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Ada tarikan yang kuat, semacam pengaruh ¦. Toni menutup wajah, lalu menggaruk-garuk kepala dengan kasar.

 

Aaah, aku tidak tahu. Semakin aku mencoba menjauh, semakin aku merasa terjebak, dan akhirnya aku benar-benar tidak bisa berpisah. Akhirnya kami menikah siri,” lanjutnya sambil mengempaskan punggung ke sandaran sofa.

 

Ratih merasa hatinya mencelos. Desas-desus tentang guna-guna bukan lagi sekadar cerita kosong. Toni benar-benar berada di bawah pengaruh Erlika.

 

“Kalau begitu, kita bercerai saja, Mas,” kata Ratih tiba-tiba. Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa ia rencanakan sebelumnya. Tapi saat itu, hanya itulah satu-satunya solusi yang terlihat. Aku tau, masih dua tahun lagi menurut perjanjian yang telah kau langgar itu! Ratih memperbaiki duduknya.

 

Susah payah aku belajar mencintai dan menjadi istri yang baik. Juga menyembuhkan trauma yang kau torehkan di hati dan tubuhku. Aku pun berhasil memaafkan dan mencintaimu. Kini cinta yang kupupuk semakin subur, tega-teganya kau hancurkan! lanjutnya dengan suara makin bergetar. Deraian air mata menderas disusul isak tangis laranya.

 

Toni terkejut. “Apa? Tidak, Ratih! Jangan … aku mencintaimu. Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi aku sedang mencoba keluar dari ini semua. Aku ingin bersamamu, bukan Erlika, sambil berdiri memeluk istrinya, tapi Ratih menolak pelukannya.

 

Tetap di situ, Mas! tolaknya lugas sambil menatap dengan perasaan jijik.

 

Air mata Ratih kembali mengalir. “Kau sudah menikah dengannya, Mas. Bagaimana aku bisa hidup dengan itu? Aku tidak bisa terus hidup dalam kebohongan ini. Aku lelah, Mas. Kebohongan untuk menjaga perasaan Mamah! Tapi siapa yang peduli dengan perasaanku?”

 

Toni menggapai tangan Ratih, seketika Ratih menepisnya. Toni berusaha memberi penjelasan dengan suara bergetar. “Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan Erlika. Aku mencoba untuk melawan … apapun ini. Tolong beri aku waktu, Ratih. Aku ingin memperbaiki semuanya.”

 

Ratih menggeleng lagi, lebih kuat kali ini. “Tidak ada yang bisa diperbaiki. Kau sudah menghancurkannya. Ingat perjanjian kita!”

 

Namun, Toni tidak menyerah. Da tidak mau melepaskan Ratih, meski dalam hatinya ada ketakutan yang tumbuh. Bagian dari dirinya tahu bahwa Erlika tidak akan diam saja. Pengaruhnya terhadap Toni semakin kuat. Setiap kali Toni mencoba mengakhiri hubungan dengan Erlika, dia merasa seolah-olah ada yang meremas pikirannya, membuatnya tak mampu berpikir jernih. Itu bukan hanya perasaan bersalah; itu sesuatu yang lebih gelap.

 

***

 

Malam-malam berikutnya menjadi waktu yang makin aneh sekaligus menakutkan bagi Ratih. Di rumah mereka, dia mulai merasa ada yang tidak beres. Suhu ruangan terasa dingin secara tiba-tiba, dan suara-suara yang tidak jelas mulai terdengar di kamar tidurnya. Bayangan-bayangan melintas di pinggir penglihatannya, dan setiap kali ia mencoba menoleh, bayangan itu hilang begitu saja.

 

Pada malam ketiga setelah pertemuannya dengan Toni, mimpi buruk mulai menghantuinya. Dalam mimpi itu, dia melihat Erlika berdiri di ujung ranjangnya, matanya menatap tajam, seolah menembus jiwanya. Tubuhnya kurus dan pucat, dengan senyum sinis yang tak pernah Ratih lupakan. Erlika tidak bicara, tetapi tatapannya cukup membuat tubuh Ratih membeku. Di belakang Erlika, Toni berdiri linglung dan tak berdaya, seperti boneka yang tak memiliki kendali atas dirinya sendiri.

 

Saat Ratih terbangun dari mimpinya, keringat dingin membasahi tubuhnya. Nafasnya terengah-engah, seolah dia baru saja berlari jauh. Namun, sensasi dingin itu tidak hilang. Di kamar dengan minim penerangan, Ratih merasakan kehadiran sesuatu yang tak kasatmata, sesuatu yang mengintainya dari sudut ruangan. Tubuhnya gemetar, tetapi dia tidak berani bergerak.

 

Seiring berjalannya waktu, keanehan-keanehan itu semakin menjadi. Setiap kali Ratih mencoba berkomunikasi dengan Toni, ada sesuatu yang menghalanginya. Ponselnya sering mati mendadak, pesan-pesan tak terkirim, dan Toni semakin sulit dihubungi. Hubungan mereka kini terasa seperti ikatan tali yang terurai perlahan, digerogoti oleh kekuatan yang tak terlihat.

 

Erlika semakin menunjukkan pengaruhnya. Ratih mulai merasakan sakit kepala yang tak tertahankan. Diserang rasa pusing yang datang tiba-tiba, dan tubuhnya semakin lemah. Dokter tak bisa menemukan apa yang salah dengan dirinya. Namun, dalam hatinya, Ratih tahu ini adalah ulah Erlika. Dia merasakan kehadiran wanita itu semakin kuat, seolah-olah Erlika ada di dekatnya, hanya bisa dirasakan, tapi tidak tampak wujudnya.

 

Suatu malam, saat Ratih duduk di ruang tengah bersama kedua mertuanya, terdengar gemuruh hujan di luar, ia merasa lehernya tiba-tiba tercekat. Nafasnya terasa sesak, dan penglihatannya mulai kabur. Saat itu, ia mendengar suara pelan di telinganya, suara yang tak asing, suara Erlika.

 

“Kau tak bisa lari, Ratih,” bisik suara itu. “Aku akan mengambil semua yang kau miliki. Kau akan terus menderita, jika terus menggenggamnya!”

 

Ratih terkejut, mencoba menoleh, tapi tak ada siapa pun di belakangnya. Jantungnya berdebar kencang, dan dia merasa tubuhnya kaku. Perlahan-lahan, Ratih merasa kehilangan kendali atas tubuhnya, seperti ada yang merasuki dirinya. Kepalanya berputar, dan bayangan-bayangan mulai berdansa di sekelilingnya. Akhirnya Ratih nyungsep. Beruntung Barman sigap memegangnya hingga Ratih tidak membentur meja. Tubuh mungilnya langsung diangkat Barman dibawa ke kamarnya.

 

***

 

Sementara itu di vila, Toni mencoba menyelesaikan apa yang dia mulai. Dengan tekad kuat, dia akan mengakhiri semuanya. Dia tak mau hidup di bawah kendali Erlika lagi. Tapi saat Toni membuka pintu masuk vila, kepalanya mendadak pening. Seolah-olah ada kekuatan yang menariknya kembali ke dalam perangkap.

 

Erlika menyambut dengan senyum penuh kemenangan. “Kau tak bisa lari dariku, Mas,” gumamnya lirih. “Kau adalah milikku.”

 

“Aku mencintai Ratih, Lika kata Toni, sambil berusaha keras melawan pengaruh yang dia rasakan. “Kita akhiri pernikahan ini. Ini salah, Lika, lanjutnya sambil sempoyongan menuju sofa lalu mengempaskan tubuh, menyandarkan tubuh dan kepalanya.

 

Erlika tertawa kecil, berdiri di samping sofa, tangannya bersedekap, matanya bersinar tajam. “Kau pikir begitu mudah meninggalkanku? Aku telah mengikatmu, Mas. Seperti yang kau rasakan, semakin kau melawan, semakin kuat ikatanku padamu. Bukankah layananku setiap malam memuaskanmu?”

 

Toni merasa tubuhnya mulai lemas, sama seperti yang sering dia rasakan setiap kali berniat melepas Erlika. Namun, dia tak mau menyerah. Dia harus melawan, demi Ratih, demi pernikahan mereka.

 

“Aku tidak bisa terus begini, Erlika. Aku akan menghancurkan ikatan ini,” guman Toni sambil menggertakkan giginya.

 

Namun, sebelum Toni bisa bergerak lebih jauh, tiba-tiba saja bayangan gelap menyelimuti pandangannya. Suara Erlika bergema di kepalanya.

 

“Jika kau meninggalkanku, Ratih akan menderita. Aku akan melenyapkannya perlahan-lahan, dan kau akan menyesal!.

 

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Tanda Seseorang Sudah Menyia-nyiakan Masa Muda

Life Style

5 Tanda Seseorang Sudah Menyia-nyiakan Masa Muda

Kamis, 27 Agu 2026 - 13:21 WIB