Redaksiku.com – Aksi kekerasan terhadap burung hantu kembali mencuat di Nusa Tenggara Timur setelah tiga pria di Manggarai Barat melakukan penganiayaan hingga membakar seekor burung yang diduga jenis celepuk flores (Otus alfredi) pada Agustus 2026. Insiden ini menambah daftar panjang perlakuan kejam terhadap satwa nokturnal tersebut, menyusul penembakan seekor burung hantu jenis Tyto alba di Kabupaten Belu pada Januari 2026.
Para pelaku kerap berdalih bahwa tindakan tersebut dilakukan karena kepercayaan takhayul yang mengaitkan burung hantu dengan pertanda buruk atau ilmu hitam. Mereka meyakini bahwa membunuh atau membakar satwa tersebut dapat menangkal ancaman sihir yang dianggap mengancam keselamatan warga setempat.
Kepala BBKSDA NTT, Adhi Nurul Hadi, secara tegas menyatakan keprihatinannya atas fenomena tersebut pada Kamis, 13 Agustus 2026. Ia menekankan bahwa tindakan kekerasan terhadap satwa liar tidak dapat dibenarkan secara hukum maupun etika konservasi, terlepas dari latar belakang kepercayaan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Adaptasi Biologis yang Kerap Disalahpahami
Penampilan burung hantu yang misterius serta kemampuan mereka beraktivitas dalam gelap sering disalahartikan sebagai kekuatan gaib. Padahal, keahlian tersebut merupakan hasil evolusi biologis yang sangat spesifik untuk mendukung kelangsungan hidup mereka di alam liar.
Studi genom terhadap 11 spesies yang diterbitkan dalam jurnal Genome Biology and Evolution pada 2020 mengungkap rahasia di balik ketajaman indra mereka. Penelitian tersebut menemukan pengemasan DNA yang unik pada sel retina yang memungkinkan mata burung hantu menyalurkan cahaya lebih efisien menuju fotoreseptor.
Selain penglihatan, struktur wajah berbentuk piringan dan posisi telinga yang tidak simetris memainkan peran krusial dalam mendeteksi mangsa. Sistem pendengaran ini mampu menangkap gemerisik suara terkecil, bahkan dalam kondisi minim cahaya sekalipun.
Burung hantu memiliki mekanisme terbang senyap berkat tiga struktur bulu khusus, yakni gerigi halus di tepi depan, permukaan serupa beludru, dan rumbai lembut di tepi belakang sayap.
Manfaat Ekologis bagi Sektor Pertanian
Di luar perdebatan mengenai takhayul, burung hantu sebenarnya memegang peran vital sebagai predator alami dalam ekosistem pertanian. Kemampuan mereka berburu tikus menjadikannya aset biologis yang berharga bagi para petani di berbagai daerah.
Upaya pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hama kini mulai diinisiasi di berbagai wilayah, seperti yang dilakukan oleh PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project di Morowali. Perusahaan tersebut menjalankan program revitalisasi Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) dengan mengintegrasikan konservasi burung hantu sebagai solusi berkelanjutan.
Kehadiran predator alami ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani pada pestisida kimia yang berbahaya. Dengan menjaga populasi burung hantu, petani secara tidak langsung melindungi lahan mereka dari serangan hama pengerat yang sering memicu gagal panen.
Kepercayaan bahwa burung hantu adalah pembawa sial tidak memiliki dasar ilmiah, namun justru merugikan ekosistem karena menghilangkan predator alami hama pertanian.
Di tengah tantangan iklim yang memicu kekeringan dan mengancam produksi pangan nasional, peran predator alami menjadi semakin relevan. Ketika sawah mengalami kekeringan dan petani dihadapkan pada ancaman gagal panen, menjaga keseimbangan rantai makanan di lahan pertanian menjadi langkah mitigasi yang penting.
Pemerintah dan lembaga konservasi terus mengimbau masyarakat untuk tidak lagi mengaitkan satwa liar dengan mitos yang merugikan. Edukasi mengenai manfaat ekologis burung hantu diharapkan dapat mengubah stigma negatif dan meningkatkan kesadaran warga untuk hidup berdampingan dengan satwa tersebut.
Pertanyaan Umum
Mengapa burung hantu sering diburu oleh masyarakat?
Banyak masyarakat masih memegang teguh kepercayaan tradisional yang mengaitkan burung hantu dengan ilmu hitam atau pertanda buruk, sehingga mereka merasa perlu membasmi satwa tersebut untuk menangkal pengaruh negatif.
Apa peran burung hantu bagi sektor pertanian?
Burung hantu bertindak sebagai predator alami yang efektif untuk mengendalikan populasi tikus di area persawahan, sehingga membantu mengurangi risiko kerusakan tanaman dan ketergantungan pada racun hama kimia.
Bagaimana cara melindungi burung hantu dari perburuan?
Perlindungan dapat dilakukan melalui edukasi berkelanjutan mengenai manfaat ekologis satwa tersebut, penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan satwa, serta kolaborasi antara komunitas petani dan pegiat konservasi untuk menjaga habitat burung hantu.
Ringkasan
Burung hantu bukan pembawa petaka, melainkan predator alami yang efektif membantu petani mengendalikan hama tikus secara berkelanjutan di lahan pertanian.






