Redaksiku.com – Rangkaian pesta pernikahan Darma Mangkuluhur dan DJ Patricia Schuldtz yang digelar pada Minggu, 11 Januari 2026, memang telah usai.
Namun, sorotan publik belum sepenuhnya bergeser dari momen sakral tersebut. Salah satu aspek yang terus menarik perhatian adalah penampilan Patricia Schuldtz saat resepsi, khususnya busana yang dikenakannya, yang dinilai berhasil memadukan nilai tradisi dan estetika modern secara harmonis.
Busana resepsi pengantin perempuan itu dirancang oleh duo desainer Andika Pramudya dan Satria Soewiryo dari label byAnsoe. Keduanya dikenal sebagai perancang yang kerap mengeksplorasi busana berbasis budaya Indonesia dengan pendekatan kontemporer. Kepada Redaksiku, Senin, 12 Januari 2026, pihak byAnsoe mengungkapkan bahwa mereka telah dihubungi oleh tim Patricia beberapa bulan sebelum hari pernikahan untuk menggarap busana istimewa tersebut.
Konsep Simpel, Elegan, dan Tetap Berakar Tradisi

Berbeda dengan sebagian besar pengantin yang memilih tampilan megah dan sarat ornamen, Patricia justru mengusung konsep yang lebih minimalis. Ia menginginkan busana resepsi yang sederhana secara visual, namun tetap memancarkan kesan anggun, modern, dan tidak meninggalkan identitas adat Solo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Patricia menginginkan sesuatu yang simpel dan elegan, tetapi tetap terasa modern. Yang paling penting, nuansa adat Solo harus tetap hadir tanpa melanggar pakem tradisi, ujar Andika Pramudya atau yang akrab disapa Ansoe dalam keterangan tertulisnya.
Sebagai rujukan utama, tim desainer mengambil inspirasi dari kebaya pengantin Solo yang dikenal dengan siluet tegas dan warna-warna berkarakter kuat. Pemilihan warna hitam pun bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Jawa, hitam kerap dimaknai sebagai simbol keanggunan, kewibawaan, dan kedalaman makna.
Proses Kolaboratif dengan Pakar Budaya
Proses perancangan busana resepsi ini tidak dilakukan secara sepihak. Ansoe menjelaskan bahwa pengerjaan desain berlangsung sangat kolaboratif, melibatkan berbagai pihak yang memahami secara mendalam adat Jawa, khususnya gaya Solo.
Selain Patricia yang aktif memberikan masukan, tim byAnsoe juga berdiskusi dengan desainer Didiet Hedi Prasetyo, yang merupakan sepupu dari Darma Mangkuluhur. Nama Didiet dikenal luas sebagai perancang yang konsisten mengangkat warisan budaya Nusantara dalam karya-karyanya. Tak hanya itu, pakar rias adat Jawa Mamie Hardo turut dilibatkan untuk memastikan setiap detail busana selaras dengan kaidah tradisi.
Semua pihak yang terlibat benar-benar memahami pakem kebudayaan Jawa dan Solo. Itu yang membuat prosesnya berjalan lancar meskipun tantangannya cukup besar, kata Ansoe.
Menyatukan visi dari berbagai perspektif menjadi tantangan tersendiri. Namun, kesamaan pandangan antara desainer dan pengantin membuat busana ini akhirnya tampil sebagai perwujudan impian Patricia, menggabungkan tradisi, modernitas, dan keanggunan dalam satu kesatuan utuh.

Material Premium dari Italia
Setelah konsep matang, proses pengerjaan busana pun dimulai. Tim byAnsoe memilih material premium untuk mewujudkan tampilan yang diinginkan. French lace, beludru, dan jacquard dikombinasikan secara cermat, lalu dipadukan dengan batik tulis sebagai bawahan untuk menegaskan akar budaya Jawa.
Menurut Ansoe, keseluruhan proses pengerjaan memakan waktu sekitar tiga bulan. Salah satu faktor yang memengaruhi durasi tersebut adalah pemilihan kain, di mana beberapa material utama didatangkan langsung dari Roma, Italia.
Kami memang membeli beberapa fabric langsung dari Rome, Italy, sehingga prosesnya memerlukan waktu lebih panjang, jelasnya.
Sebagai sentuhan akhir, busana tersebut diperkaya dengan aksesori khas rancangan byAnsoe. Aksesori berbahan kuningan dirancang khusus, mulai dari pending, hiasan kepala, hingga detail di bagian pinggang.
Semua aksesori dibuat mengikuti pola batik dan lace pada busana, sehingga setiap elemen terasa menyatu dan harmonis, ujar Ansoe.
Meski tidak merinci motif batik yang digunakan, Ansoe mengungkapkan bahwa kain tersebut berbahan prada, yang memberikan kesan mewah dan glamor tanpa terlihat berlebihan. Dengan tambahan ekor busana sepanjang sekitar 1,5 meter, Patricia tampil bak putri bangsawan Jawa di malam resepsi.
Busana Pengantin Pria yang Serasi
Tak hanya Patricia, penampilan Darma Mangkuluhur juga mencerminkan keselarasan konsep. Ia mengenakan beskap hitam dengan detail benang emas pada bagian kerah dan pergelangan tangan. Busana tersebut merupakan rancangan Auguste Soesastro, desainer di balik label Kraton, yang dikenal dengan kepiawaiannya merancang busana adat Jawa klasik.
Kombinasi busana kedua mempelai menghadirkan kesan serasi dan berkelas, sekaligus memperkuat nuansa adat Solo yang menjadi benang merah keseluruhan acara.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






