Yusril Bantah Menulis Buku Islam ala Prabowo

- Penulis

Rabu, 9 September 2026 - 13:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yusril Bantah Menulis Buku — Menteri Yusril Ihza Mahendra memberikan keterangan pers di Jakarta membantah keterlibatan dalam buku Islam ala Prabowo

Menteri Yusril Ihza Mahendra menegaskan dirinya tidak terlibat dalam penentuan judul buku Islam ala Prabowo.

Redaksiku.com – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, dengan tegas membantah keterlibatannya dalam penentuan judul buku berjudul Islam ala Prabowo yang sempat menuai perdebatan hangat di tengah masyarakat. Perbincangan publik yang luas ini mencuat setelah buku tersebut diterbitkan dan menjadi sorotan karena pilihan diksi judulnya yang dianggap memancing beragam interpretasi politik maupun keagamaan.

Dalam keterangan tertulis yang dirilis di Jakarta pada hari Rabu, 9 September 2026, Yusril menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak ikut ambil bagian dalam proses kreatif penyusunan naskah secara keseluruhan. Posisi utamanya dalam proyek literatur tersebut murni sebatas sebagai salah satu narasumber yang dimintai pandangan dan pengalaman melalui sesi wawancara mendalam oleh tim penyusun buku.

“Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya. Setelah wawancara selesai, saya tidak pernah melihat transkrip maupun naskah hasil wawancara sampai buku tersebut diterbitkan.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

— Yusril Ihza Mahendra

Meskipun demikian, setelah menyempatkan diri membaca karya cetak yang sudah beredar di tangan publik tersebut, ia menilai bahwa sebagian besar gagasan serta substansi yang disampaikannya dalam sesi wawancara telah dituangkan dengan cukup baik oleh tim penulis. Ia merasa tidak ada distorsi makna yang substansial pada bagian materi wawancara yang memuat pandangan pribadinya.

Dinamika Pemilihan Judul Buku

Persoalan utama yang kemudian memicu polemik di ruang publik, menurut analisis Yusril, berakar dari pemilihan judul yang tidak pernah dikomunikasikan kepadanya sejak awal. Sebagai tokoh yang namanya turut diasosiasikan dengan isi buku, ia mengaku sama sekali tidak pernah diajak berdiskusi, dimintai pertimbangan, ataupun diajak patungan ide mengenai penggunaan frasa judul yang kontroversial tersebut.

Ia menduga bahwa pemilihan judul yang terkesan provokatif itu merupakan inisiatif internal dari pihak tim editor atau penerbit untuk menarik perhatian pembaca secara instan. Seandainya sejak awal dirinya diajak berembuk mengenai penamaan sampul buku, ia tentu akan mengusulkan alternatif judul yang jauh lebih netral dan minim multitafsir bagi khalayak luas.

Yusril menyarankan penggunaan judul alternatif seperti Prabowo dan Islam agar pembahasannya lebih mudah dipahami sebagai relasi kenegaraan.

Melalui usulan judul alternatif tersebut, fokus pembahasan di dalam buku seharusnya bisa lebih objektif mengupas bagaimana relasi antara kebijakan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dengan nilai-nilai Islam, alih-alih terjebak pada diksi yang memancing perdebatan sektoral yang tidak perlu di tengah masyarakat.

Fenomena Penilaian Publik Berdasarkan Kulit Luar

Kritik tajam turut dilayangkan oleh Yusril terhadap pola konsumsi informasi masyarakat modern yang cenderung instan. Ia mengamati bahwa sebagian besar perdebatan panas yang terjadi di media sosial maupun ruang publik sama sekali tidak mencerminkan isi keseluruhan buku, melainkan hanya berhenti pada pemaknaan harfiah dari judul sampulnya saja.

Kebiasaan membaca yang terlampau singkat ini membuat banyak pihak langsung melompat pada kesimpulan subjektif. Tanpa membaca bab demi bab secara utuh, para pengkritik kerap memberikan vonis moral maupun politis berdasarkan sudut pandang dan kepentingan kelompok masing-masing.

  • Masyarakat kerap menilai buku hanya dari judul sampul tanpa membaca isinya secara tuntas.
  • Kritik sering kali didorong oleh kepentingan kelompok tertentu daripada substansi karya.
  • Pemahaman komprehensif menuntut pembaca untuk menelaah argumen secara menyeluruh.

Fenomena semacam ini, lanjutnya, menunjukkan betapa rentannya ruang diskursus publik di era digital terhadap disinformasi akibat malas membaca lembar-lembar argumentasi yang komprehensif. Padahal, buku ilmiah atau semi-ilmiah dirancang untuk menjelaskan suatu fenomena secara utuh, bukan untuk dirangkum sekadar dari judul yang bombastis.

Klarifikasi Status Pendanaan dan Sponsor

Selain meluruskan posisinya terkait kepenulisan dan pemilihan judul, Yusril juga memberikan penegasan penting untuk mematahkan berbagai spekulasi liar yang beredar luas di tengah masyarakat. Ia memastikan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki keterlibatan finansial, baik sebagai pihak penyandang dana, sponsor, maupun inisiator di balik penerbitan buku tersebut.

Keterlibatan fisik maupun intelektualnya secara tegas dibatasi hanya pada kapasitas profesional sebagai narasumber wawancara. Oleh karena itu, segala bentuk tudingan yang mengaitkan dirinya sebagai dalang di balik proyek penerbitan buku itu adalah informasi yang keliru dan sama sekali tidak berdasar.

Keterlibatan Yusril Ihza Mahendra dalam buku ini murni sebagai narasumber wawancara tanpa peran sebagai sponsor maupun penulis.

Meskipun menolak disebut sebagai penulis maupun penyandang dana, pandangan-pandangan yang tercetak dari hasil wawancaranya merupakan refleksi dari pemikiran pribadinya. Ia menyatakan kesiapan penuh untuk mempertanggungjawabkan setiap argumen akademik yang disampaikannya di dalam buku tersebut secara terbuka.

Latar Belakang Peluncuran Buku

Buku yang memicu perdebatan ini memiliki tajuk lengkap Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Karya tulis tersebut pertama kali diperkenalkan ke hadapan publik dalam rangkaian acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2025 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 26 Agustus 2025.

Berdasarkan catatan resmi dari pihak Badan Amil Zakat Nasional serta berbagai laporan media massa arus utama, proses inisiasi penulisan buku ini digagas oleh tokoh-tokoh penting nasional. Beberapa figur utama di balik proyek literatur ini meliputi:

  • Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang turut membidani lahirnya gagasan penulisan buku.
  • Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar sebagai penggagas utama.
  • Tim penyusun dan lembaga terkait yang mengawal proses riset serta wawancara narasumber.

Pihak BAZNAS sebelumnya juga telah memberikan klarifikasi resmi guna meredam kekhawatiran publik perihal pembiayaan proyek buku tersebut. Lembaga pengelola zakat nasional itu memastikan bahwa proses pembuatan dan pencetakan buku tidak sepeser pun menggunakan dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) dari masyarakat.

Peluncuran buku kontroversial ini dilakukan bertepatan dengan ajang Rakornas BAZNAS yang dihadiri ratusan tokoh penting pada 26 Agustus 2025 lalu.

Dengan adanya klarifikasi berlapis ini, polemik seputar buku tersebut diharapkan dapat didudukkan secara proporsional. Publik diimbau untuk kembali membaca substansi gagasan secara jernih tanpa harus terkecoh oleh narasi permukaan yang kerap dipolitisasi oleh pihak-pihak tertentu demi kepentingan sesaat.

Pertanyaan Umum

Apakah Yusril Ihza Mahendra menulis buku Islam ala Prabowo?

Tidak. Yusril menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak menulis buku tersebut dan hanya bertindak sebagai salah satu narasumber yang diwawancarai oleh tim penyusun.

Kapan buku Islam ala Prabowo pertama kali diluncurkan?

Buku tersebut resmi diluncurkan di Jakarta pada tanggal 26 Agustus 2025 dalam rangkaian acara Rapat Koordinasi Nasional BAZNAS 2025.

Apakah dana ZIS digunakan untuk membiayai penerbitan buku ini?

Tidak. Pihak BAZNAS telah memastikan bahwa proses pembuatan buku tidak menggunakan dana Zakat, Infak, dan Sedekah dari masyarakat sama sekali.Yusril Bantah Menulis Buku Islam ala Prabowo

Ringkasan

Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa ia bukan penulis maupun sponsor buku “Islam ala Prabowo”, melainkan hanya sebatas narasumber wawancara. Ia juga tidak pernah diajak berdiskusi terkait pemilihan judul buku tersebut yang sempat menuai polemik di masyarakat.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tuntutan Buruh Terhadap RUU Ketenagakerjaan: Isu Upah dan Outsourcing
Ganjar Pranowo Minta Politisi Fokus Urus Bencana Ketimbang Pilpres 2029
Sidang Korupsi Kuota Haji: Nama BIN, DPR, dan NU Disebut di Ruang Sidang
Daftar 27 Brigjen Polisi yang Dimutasi dan Dipromosikan Kapolri
FPPMG Kecam Pernyataan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid soal LPRA
Musda Golkar Garut 2026: Dua Kandidat Mulai Muncul
Musda Golkar Garut Memanas, Kang Ahe Soroti Celah Diskresi Bacalon
KPK Yakini DPR Tutup Celah Hukum di RUU Perampasan Aset

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 13:30 WIB

Tuntutan Buruh Terhadap RUU Ketenagakerjaan: Isu Upah dan Outsourcing

Rabu, 9 September 2026 - 13:04 WIB

Yusril Bantah Menulis Buku Islam ala Prabowo

Rabu, 9 September 2026 - 09:14 WIB

Ganjar Pranowo Minta Politisi Fokus Urus Bencana Ketimbang Pilpres 2029

Rabu, 9 September 2026 - 01:51 WIB

Sidang Korupsi Kuota Haji: Nama BIN, DPR, dan NU Disebut di Ruang Sidang

Rabu, 9 September 2026 - 00:55 WIB

Daftar 27 Brigjen Polisi yang Dimutasi dan Dipromosikan Kapolri

Berita Terbaru

Menteri Yusril Ihza Mahendra menegaskan dirinya tidak terlibat dalam penentuan judul buku Islam ala Prabowo.

Politik

Yusril Bantah Menulis Buku Islam ala Prabowo

Rabu, 9 Sep 2026 - 13:04 WIB