Redaksiku.com – Kasus Viral Guru Subang Gampar Siswa kembali mengguncang dunia pendidikan tanah air. Sebuah video memperlihatkan perselisihan antara wali murid dan seorang guru bernama Rana Setiaputra di salah satu sekolah di Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Rekaman berdurasi singkat itu menampilkan perdebatan sengit di lingkungan sekolah yang kemudian menyebar cepat di berbagai platform media sosial.
Insiden Viral Guru Subang Gampar Siswa ini bermula ketika seorang wali murid mendatangi sekolah dengan emosi tinggi. Ia menuntut penjelasan karena anaknya diduga menjadi korban kekerasan fisik digampar oleh guru di depan teman-temannya.
Tidak hanya satu, kabarnya ada delapan siswa lain yang mengalami perlakuan serupa. Peristiwa ini sontak memantik perdebatan publik mengenai batas antara disiplin dan kekerasan dalam dunia pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kejadian Viral Guru Subang Gampar Siswa bukan sekadar konflik antara guru dan wali murid, melainkan cerminan persoalan sistemik yang terjadi di ruang pendidikan.
Tekanan psikologis guru, perilaku murid yang semakin sulit dikontrol, serta minimnya komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua menjadi bom waktu yang akhirnya meledak di depan publik.
Viral Guru Subang Gampar Siswa Karena Tembok Sekolah Roboh
Insiden Viral Guru Subang Gampar Siswa bermula dari kasus sederhana yang kemudian membesar. Beberapa murid kedapatan memanjat tembok belakang sekolah hingga menyebabkan tembok tersebut roboh.
Guru Rana Setiaputra, yang menjadi pengajar di sekolah tersebut, mengaku telah berulang kali memberikan peringatan secara lisan. Namun, murid-murid tersebut disebut tidak mengindahkan teguran yang diberikan.
Dalam wawancaranya, Rana menjelaskan bahwa tindakannya merupakan “jalan terakhir” setelah berbagai upaya mendidik dengan pendekatan lembut tidak berhasil.
Ia menyebut murid-murid mulai melawan, bahkan menantang otoritas guru di kelas. Kalau diomongkan sudah tidak nurut, anak-anak sekarang sudah ngelunjak, ujarnya dalam video yang beredar.
Pernyataan ini memperlihatkan sisi emosional seorang guru yang kelelahan menghadapi murid-murid yang sulit dikendalikan.
Namun demikian, tindakan fisik dalam konteks Viral Guru Subang Gampar Siswa tetap memunculkan pertanyaan serius: sejauh mana seorang guru berhak menegakkan disiplin tanpa melanggar hak anak?
Reaksi Wali Murid dalam Kasus Viral Guru Subang Gampar Siswa
Tidak butuh waktu lama, video Viral Guru Subang Gampar Siswa mengundang reaksi keras dari para orang tua. Akun Instagram @mangdans_ yang mengaku sebagai ayah dari salah satu siswa korban, menuliskan protes terbuka terhadap tindakan sang guru.
Ia mengakui anaknya bersalah karena memanjat tembok sekolah, namun menolak keras bentuk kekerasan fisik sebagai metode mendidik.
Dalam unggahannya, ia menulis: Saya akui anak saya salah gara-gara manjat tembok sampai roboh, tapi saya tidak suka cara guru sudah pakai kekerasan. Dan bukan anak saya saja yang kena gampar, delapan anak kena.
Pernyataan ini menjadi titik panas dari Viral Guru Subang Gampar Siswa, memperluas diskusi publik tentang batas profesionalitas seorang pendidik di tengah tekanan moral dan sosial.
Perselisihan ini kemudian meluas ke ruang publik digital, memunculkan perdebatan antara dua kubu: mereka yang membela ketegasan guru dan mereka yang menolak segala bentuk kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah.
Halaman : 1 2 Selanjutnya







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.