Redaksiku.com – Kabar mengejutkan datang dari dunia hiburan Indonesia. Aktor Ammar Zoni disebut alami krisis mental usai menjalani masa hukumannya di Lapas Nusakambangan.
Keluarga dan orang terdekat mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap kondisi fisik dan psikologisnya yang disebut kian memburuk.
Ibu angkat Ammar, Titik Haryanti, dan kekasihnya, Dokter Kamelia, menyuarakan keresahan mereka terkait perlakuan ketat di dalam lapas yang dinilai berpotensi mengancam kesehatan mental sang aktor.
Menurut mereka, tekanan yang dialami Ammar bukan hanya soal fisik, tetapi juga emosi yang bisa berujung pada depresi berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ungkapan mereka langsung menjadi viral di media sosial, setelah video wawancara keduanya beredar luas. Publik ramai membahas bagaimana Ammar Zoni disebut alami krisis mental dan menyerukan agar pihak berwenang segera turun tangan memberikan perhatian.
Keluarga Ungkap Kondisi Terkini Ammar Zoni
Pernyataan Ammar Zoni disebut alami krisis mental pertama kali diungkap oleh Titik Haryanti. Dalam wawancara di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, ia menilai tekanan psikologis yang dialami Ammar tidak bisa dianggap sepele.
Dia akan mengalami stres, kecemasan, sampai kepada depresi, dan nanti meningkat sampai kepada gangguan jiwa. Itu yang tidak diharapkan oleh kami semuanya, kata Titik dengan nada cemas. Ia menilai kondisi Ammar membutuhkan perhatian serius sebelum situasi menjadi semakin parah.
Menurut keluarga, perubahan perilaku Ammar terlihat dari cara bicaranya yang mulai tidak stabil dan emosional saat melakukan panggilan video.
Hal itu makin memperkuat dugaan Ammar Zoni disebut alami krisis mental yang dipicu oleh tekanan lingkungan di dalam lapas.
Perlakuan Ketat di Lapas Nusakambangan Jadi Sorotan
Kondisi Ammar Zoni disebut alami krisis mental juga dikaitkan dengan perlakuan ketat di Lapas Nusakambangan. Menurut keterangan keluarga, Ammar hanya diizinkan keluar sel selama satu jam per hari dan diwajibkan mengenakan penutup mata di luar jam tersebut.
Titik Haryanti menyebut prosedur itu sudah berdampak pada kesehatan fisik anak angkatnya. Kakinya mulai kebas karena untuk keluar itu hanya satu jam, jelasnya. Ia khawatir pembatasan ekstrem seperti ini justru memperburuk kesehatan mental dan fisik Ammar.
Pernyataan tersebut langsung memantik diskusi publik mengenai standar kemanusiaan dalam sistem pemasyarakatan Indonesia.
Banyak pihak mulai menilai perlu ada evaluasi terhadap cara penanganan tahanan agar lebih memperhatikan aspek psikologis.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






