Pengentasan kemiskinan kembali menjadi fokus utama pemerintah seiring data terbaru Badan Pusat Statistik yang mencatat tren penurunan jumlah penduduk miskin.
Pemerintah menyatakan komitmennya untuk menurunkan angka kemiskinan ekstrem hingga nol persen pada tahun 2026 mendatang.
Langkah-langkah strategis disiapkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) dengan menggandeng banyak pihak.
Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menegaskan bahwa model pengentasan kemiskinan akan diperkuat dengan pendekatan berbasis data dan pemberdayaan nyata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui orkestrasi lintas kementerian, pengentasan kemiskinan diharapkan tak hanya menurunkan angka statistik tetapi juga memperbaiki kualitas hidup masyarakat.
Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Diperkuat dengan Pendekatan Data dan Kolaborasi

Pemerintah menekankan bahwa pengentasan kemiskinan tak boleh hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi harus didorong dengan strategi jangka panjang yang terukur.
Cak Imin menjelaskan bahwa seluruh kebijakan pengentasan kemiskinan ke depan akan merujuk pada data resmi dari Badan Pusat Statistik sebagai pijakan kebijakan.
Data per Maret 2025 menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 23,85 juta jiwa atau setara 8,47 persen dari populasi.
Angka ini menurun 0,21 juta dibandingkan September 2024 dan menunjukkan tren yang positif meski tantangan masih besar.
Sementara itu, jumlah penduduk miskin ekstrem, yakni yang hidup di bawah 2,15 dolar AS PPP 2017 per kapita per hari, menyusut menjadi 2,38 juta orang.
Pendekatan pengentasan angka kemiskinan akan diperkuat dengan pemberdayaan berbasis komunitas serta pengembangan potensi lokal.
Kemenko PM juga menggandeng lembaga-lembaga filantropi seperti Baznas dan Forum Zakat dalam mengoptimalkan dana umat untuk mendukung program-program penguatan ekonomi warga.
Tak hanya itu, perusahaan swasta pun dilibatkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menyentuh lebih banyak masyarakat miskin secara langsung.
Kebijakan lintas sektor ini memungkinkan pengentasan kemiskinan dijalankan secara sistemik tanpa tumpang tindih antarinstansi.
Pemerintah juga membentuk sistem monitoring digital untuk memastikan bahwa setiap program dapat dievaluasi dampaknya secara real time.
Selain soal kebijakan, pemerintah berfokus pada transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran pengentasan kemiskinan.
Cak Imin menyebut bahwa dengan pengawasan yang ketat dan data yang akurat, alokasi bantuan sosial dan program pemberdayaan akan lebih tepat sasaran.
Ia menyampaikan bahwa tujuan utama bukan hanya menurunkan angka kemiskinan, tapi juga membentuk masyarakat yang benar-benar berdaya dan mandiri secara ekonomi.
Untuk itulah dibutuhkan peran aktif dari semua elemen bangsa, termasuk pemerintah daerah, lembaga swadaya, dan sektor swasta.
Ke depan, strategi pengentasan kemiskinan akan diarahkan pada percepatan pembangunan ekonomi mikro dan penguatan perlindungan sosial.
Pemberdayaan Desa dan Kota Jadi Fokus Pengentasan Kemiskinan Tahun Ini
Salah satu prioritas utama dalam pengentasan kemiskinan saat ini adalah penguatan ekonomi warga desa dan masyarakat miskin kota.
Di kawasan pedesaan, program difokuskan pada pembangunan kapasitas melalui pelatihan keterampilan kerja, bantuan modal usaha, dan penguatan koperasi desa.
Langkah ini diyakini dapat mendorong munculnya wirausaha baru serta mengurangi ketergantungan warga terhadap bantuan tunai.
Sementara itu, pengentasan kemiskinan di wilayah perkotaan menghadapi tantangan tersendiri, seperti keterbatasan lapangan kerja dan ketimpangan pendapatan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah meluncurkan program-program padat karya, pelatihan vokasi, dan pendampingan bagi warga usia produktif.
Cak Imin juga menekankan pentingnya optimalisasi dana desa dan anggaran kelurahan untuk mendukung pengentasan kemiskinan berbasis wilayah.
Ia menyebut bahwa setiap kepala desa maupun lurah perlu memahami data kemiskinan di wilayahnya agar bisa mengambil kebijakan yang tepat dan efektif.
Dengan dukungan regulasi dan sumber daya yang memadai, pemerintah berharap akar kemiskinan dapat diberantas secara permanen, bukan sekadar ditutup sementara.
Pengentasan kemiskinan di perkotaan juga difokuskan pada pengendalian harga pangan, penyediaan hunian layak, dan akses pendidikan serta kesehatan yang merata.
Seluruh pendekatan ini dijalankan dengan prinsip inklusivitas agar tidak ada kelompok yang tertinggal dalam proses pembangunan nasional.
Progres Pengentasan Kemiskinan dan Harapan Menuju 2026
Hasil rilis BPS per Maret 2025 menunjukkan bahwa strategi pengentasan kemiskinan yang dijalankan mulai menunjukkan dampak positif.
Penurunan angka kemiskinan sebesar 0,10 persen poin dan penurunan kemiskinan ekstrem hingga 400 ribu jiwa menjadi catatan penting keberhasilan awal.
Namun pemerintah tidak ingin berpuas diri dan terus menggenjot kinerja lintas sektor untuk mencapai target nol persen pada tahun 2026.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






