Khatib akan mengingatkan sabda yang diberikan oleh sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, seperti ini bunyinya: Ø§ÙØ¬Ù’ØªÙŽÙ†ÙØ¨Ùوْا أَعْدَاءَ الله٠ÙÙÙŠ أَعْيَادÙÙ‡Ùمْ Artinya: “Jauhilah musuh-musuh Allah di perayaan mereka.
” (Ahkam Ahl Adz-Dzimmah) Sebenarnya orang Islam turut beri tambahan ucapan selamat Natal sebagai tanda apresiasi sekaligus menghargai kepercayaan umat agama lain.
Meski mereka miliki akidah yang bertentangan dengan agama Islam. Orang Islam yang mengucapkan selamat Natal seakan-akan ada bentuk dukungan dari mereka tentang anak Tuhan adalah sosok Nabi Isa AS. Orang yang menopang kepercayaan agama lain sudah diperingatkan lewat Surat Maryam Ayat 88-90, Allah SWT berfirman:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
وَقَالÙوا اتَّخَذَ الرَّØÙ’مٰن٠وَلَدًا Û—, لَقَدْ Ø¬ÙØ¦Ù’تÙمْ شَيْÙًٔا Ø§ÙØ¯Ù‘ًا Û™, تَكَاد٠السَّمٰوٰت٠يَتَÙَطَّرْنَ Ù…ÙÙ†Ù’Ù‡Ù ÙˆÙŽØªÙŽÙ†Ù’Ø´ÙŽÙ‚Ù‘Ù Ø§Ù„Ù’Ø§ÙŽØ±Ù’Ø¶Ù ÙˆÙŽØªÙŽØ®ÙØ±Ù‘Ù Ø§Ù„Ù’Ø¬ÙØ¨ÙŽØ§Ù„٠هَدًّا Û™
Artinya: Mereka berkata, “(Allah) Yang Maha Pengasih sudah mengangkat anak. Sungguh, anda terlalu sudah membawa sesuatu yang terlalu mungkar. Karena ucapan itu, hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping.” (QS. Maryam, 19:88-90)
Namun, sikap ucapan selanjutnya mengingatkan sebuah dalil dari Surat Al Kafirun Ayat 6 terkait masing-masing urusan agama, Allah SWT berfirman:
Ù„ÙŽÙƒÙمْ دÙيْنÙÙƒÙمْ ÙˆÙŽÙ„ÙÙŠÙŽ دÙيْن٠ࣖ
Artinya: “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (QS. Al Kafirun, 109:6)
Ibadallah,
Kemudian, khatib akan merincikan bahwa agama Islam tidak merekomendasikan turut memeriahkan perubahan tahun sebagaimana orang-orang merayakan formalitas malam Tahun Baru Masehi.
Bahwasanya Tahun Baru Masehi tidak punya kandungan ada teristimewa dan miliki kesamaan malam-malam seperti biasanya. Penetapan hari raya paling teristimewa dari Rasulullah SAW cuma berbentuk Idul Adha dan Idul Fitri.
Perihal perayaan tahun baru untuk isikan amalan doa dan zikir juga tidak disarankan oleh agama Islam mengingat Tahun Baru Masehi bukan jadi bagian dalam syariat kita. Ada enam efek mengundang rusaknya selagi turut merayakan kedua momentum tersebut.
Dampak pertama punya kandungan tasyabbuh yang berarti tidak ada kedisiplinan diri sebab selamanya merayakan formalitas umat agama lain. Bagian ini menyatakan formalitas seperti terompet yang ditiup dari kalangan Yahudi, pakai lonceng merupakan simbol dari umat Nasrani, sebabkan kobaran api ibarat ikuti formalitas Majusi.
Dampak kedua menyatakan orang Islam sudah lalai ibadahnya sebagaimana didapatkan dari pengalaman sehabis merayakan Tahun Baru Masehi dan Natal akan jadi kelelahan.
Kelelahan ini jadi pemantik mereka meninggalkan shalat Subuh cuma demi memeriahkan hari raya dari umat agama lain. Dampak ketiga berarti ada rusaknya moral. Khususnya perayaan Tahun Baru Masehi repot membentuk bermacam kesibukan di luar syariat agama Islam.
Kebanyakan mereka menggelar acara musik, melaksanakan pergaulan bebas, mengumbar-umbar aurat, sengaja melaksanakan pelecehan seksual dan zina terang-terangan, mengkonsumsi minuman keras dan hal-hal negatif lainnya.
Dampak keempat berarti harta jadi boros sebab dalam memeriahkan dua perayaan ini kudu menghabiskan banyak duit demi mendapat kesenangan sementara selagi pesta pora. Dampak kelima seperti membuang-buang selagi ibadah sebab tiap-tiap momentum digunakan untuk hal-hal tidak berfaedah.
Dampak paling akhir berarti mampu mengundang bahaya dan mengganggu ketenangan orang lain yang berusaha istirahat perayaan mereka.
Sidang Jumat yang berbahagia Demikianlah khatib menyampaikan khutbah Jumat pertama ini secara singkat, saya meminta kami semua sudah bijak dalam bersikap perayaan Tahun Baru Masehi dan Natal untuk melindungi keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
بَارَكَ الله٠لÙÙŠ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙمْ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’آن٠الْعَظÙÙŠÙ’Ù…ÙØŒ ÙˆÙŽÙ†ÙŽÙَعَنÙÙŠ وَاÙÙŠÙ‘ÙØ§ÙƒÙمْ بÙمَا ÙÙيْه٠مÙÙ†ÙŽ الآيَات٠وَالذّÙكْر٠الْØÙŽÙƒÙÙŠÙ’Ù…ÙØŒ وَتَقَبَّلَ الله Ù…ÙنّÙÙŠ ÙˆÙŽÙ…ÙنْكÙمْ تÙلاوَتَه٠اÙنَّه٠هÙÙˆÙŽ السَّمÙيْع٠الْعَلÙيْمÙ
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Redaksiku
Halaman : 1 2






