Redaksiku.com – Isu kerugian proyek kereta cepat Whoosh kembali mencuat dan jadi sorotan publik.
Kali ini, Presiden RI Prabowo Subianto akhirnya buka suara menanggapi kabar bahwa proyek transportasi modern tersebut mencatat kerugian hingga Rp1,6 triliun hanya dalam setengah tahun pertama 2025.
Pernyataan ini muncul setelah laporan keuangan terbaru PT KAI dan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI)induk konsorsium Indonesia dalam proyek kereta cepatdipublikasikan di situs resmi perusahaan.
PSBI Catat Kerugian Fantastis
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025 (unaudited), PSBI mencatat kerugian Rp1,625 triliun hanya dalam waktu enam bulan pertama tahun ini. Angka tersebut menambah beban setelah perusahaan juga merugi Rp4,195 triliun sepanjang 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski sempat optimistis bahwa Whoosh akan menjadi proyek strategis yang membawa efisiensi transportasi nasional, realita di lapangan ternyata tak semulus harapan. Biaya operasional tinggi, beban bunga, serta keterbatasan penumpang di luar jam sibuk disebut sebagai faktor utama yang membuat neraca keuangan proyek ini masih berdarah.
Pemerintah Belum Akan Gunakan APBN
Terkait hal tersebut, Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bagaimana sikap Presiden Prabowo terhadap kondisi keuangan Whoosh. Menurutnya, Presiden belum berencana menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menutup kerugian proyek tersebut.
Presiden sudah pernah menegaskan bahwa pemerintah tidak terpikir untuk menanggung kerugian Whoosh dengan dana APBN, ujar Prasetyo dalam keterangannya, Minggu (12/10/2025).
Artinya, tanggung jawab untuk memperbaiki kondisi keuangan tetap berada di tangan PT KAI selaku pengelola, bersama mitra dan konsorsium yang tergabung di PSBI.
Prasetyo menambahkan, pemerintah saat ini sedang mendorong KAI mencari skema bisnis baru untuk memperbaiki arus pendapatan dan menutup beban finansial tanpa mengandalkan uang negara.
Prabowo: Cari Solusi, Bukan Alasan
Meskipun isu kerugian ini cukup besar, Prasetyo menegaskan bahwa Presiden Prabowo tidak membahasnya secara langsung dalam rapat kabinet pekan lalu. Namun, arahan terkait langkah penanganan sudah pernah disampaikan sebelumnya.
Presiden fokus pada solusi, bukan mencari siapa yang salah. Beliau minta agar dicarikan jalan keluar agar beban keuangannya tidak terus menumpuk, tutur Prasetyo.
Menurutnya, Prabowo melihat proyek kereta cepat Whoosh dari dua sisi: sebagai investasi jangka panjang yang sangat penting untuk konektivitas nasional, sekaligus sebagai tantangan untuk menemukan model bisnis yang lebih efisien dan realistis.
Faktanya, Whoosh sangat membantu mobilitas masyarakat antara Jakarta dan Bandung. Banyak pekerja, wisatawan, dan pelaku bisnis yang sudah terbantu, tambahnya.
Si Cepat yang Belum Cepat Balik Modal
Kereta cepat JakartaBandung (Whoosh) memang menjadi proyek transportasi paling ambisius dalam sejarah Indonesia. Dengan kecepatan mencapai 350 km/jam, perjalanan antara dua kota besar itu kini bisa ditempuh hanya dalam 45 menit.
Namun di sisi bisnis, proyek ini masih menghadapi masa sulit. Setelah resmi beroperasi sejak Oktober 2023, jumlah penumpang memang meningkat, tapi belum cukup untuk menutupi beban operasional yang sangat besar.
Menurut laporan keuangan, biaya perawatan jalur, pembayaran bunga pinjaman, serta kebutuhan subsidi tiket untuk menjaga harga tetap terjangkau menjadi penyebab utama defisit.
Meski demikian, pemerintah menilai kerugian ini bersifat wajar untuk proyek transportasi besar di masa awal operasional. Semua proyek infrastruktur butuh waktu untuk mencapai titik impas. Whoosh juga sedang menuju ke arah sana, jelas salah satu sumber dari Kementerian BUMN.
Rencana Jangka Panjang: Menuju Surabaya
Di balik tantangan keuangan yang dihadapi Whoosh, Presiden Prabowo justru melihat peluang jangka panjang. Menurut Prasetyo Hadi, Presiden berharap proyek ini tidak berhenti di Bandung saja, tetapi bisa diperluas hingga ke Surabaya.
Justru Presiden ingin Whoosh terus dikembangkan. Kalau nanti pengelolaan dan keuangannya sudah sehat, bukan tidak mungkin jalur JakartaSurabaya akan menjadi tahap berikutnya, ungkap Prasetyo.
Rencana perluasan jalur ini sejalan dengan visi jangka panjang pemerintah dalam membangun koridor ekonomi Jawa yang terintegrasi lewat sistem transportasi cepat dan efisien.
Namun, tentu proyek ekspansi tersebut baru bisa dilaksanakan setelah Whoosh JakartaBandung benar-benar stabil secara finansial dan operasional.
Tanggung Jawab Ada di Danantara
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga memberikan penjelasan terkait struktur keuangan proyek Whoosh. Menurutnya, tanggung jawab atas beban utang bukan berada di tangan pemerintah, melainkan pada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
KCIC itu kan anak usaha KAI, tapi di bawah Danantara. Mereka sudah punya manajemen dan tanggung jawab sendiri, kata Purbaya dalam media briefing di Sentul, Bogor, Sabtu (11/10/2025).
Dengan kata lain, posisi pemerintah saat ini hanya sebagai pengawas dan pemberi arahan, bukan sebagai penanggung utang. Kita tidak menutup kemungkinan memberi dukungan regulasi atau kebijakan, tapi bukan dalam bentuk menutup kerugian dengan APBN, tegasnya.
Publik Terbelah: Antara Harapan dan Kekhawatiran
Kabar kerugian Rp1,6 triliun ini langsung menuai reaksi beragam dari publik. Di media sosial, sebagian netizen menyayangkan kondisi keuangan proyek yang belum membaik, sementara sebagian lainnya menilai kerugian itu masih wajar untuk proyek baru berskala besar.
Wajar rugi dulu, ini investasi jangka panjang, tulis salah satu pengguna X (Twitter).
Tapi jangan sampai jadi beban rakyat. Harus dikelola transparan, sahut akun lain.
Ekonom juga menilai hal serupa. Menurut pengamat transportasi, proyek seperti Whoosh membutuhkan 510 tahun untuk mencapai titik impas, tergantung dari strategi bisnis dan pertumbuhan jumlah penumpang.
Potensi Pengembangan dan Inovasi Bisnis
Untuk menekan kerugian, sejumlah opsi kini sedang dikaji oleh KAI dan Danantara. Salah satunya adalah mengembangkan kawasan TOD (Transit Oriented Development) di sekitar stasiun-stasiun utama seperti Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar.
Konsep TOD memungkinkan pengelola memperoleh pendapatan tambahan dari sewa properti, hotel, pusat bisnis, hingga fasilitas wisata. Selain itu, integrasi tiket lintas moda dengan KRL, MRT, dan Transjakarta juga diyakini bisa meningkatkan okupansi penumpang.
Kalau integrasi transportasi bisa maksimal, Whoosh bisa jadi tulang punggung konektivitas Jawa Barat, ungkap salah satu pejabat KAI.
Antara Tantangan dan Capaian
Meski menghadapi tekanan finansial, tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Whoosh telah membawa banyak manfaat bagi masyarakat. Mobilitas antara Jakarta dan Bandung kini jauh lebih cepat dan efisien, sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas di jalur tol Cipularang.
Data internal PSBI menunjukkan, rata-rata penumpang Whoosh mencapai 17.000 orang per hari di akhir pekan, dengan tren terus meningkat menjelang akhir tahun.
Pemerintah menilai, hal ini menunjukkan bahwa proyek tersebut memiliki nilai sosial tinggi dan berpotensi menguntungkan di masa depan jika dikelola dengan tepat.
Penutup: Optimisme di Tengah Kerugian
Meski laporan keuangan menunjukkan kerugian besar, arah kebijakan Presiden Prabowo jelas: tidak akan menggunakan APBN untuk menutup defisit Whoosh, tetapi mendorong inovasi bisnis agar proyek tetap berlanjut secara mandiri.
Pemerintah percaya, dengan strategi yang tepat dan dukungan publik, Whoosh bisa menjadi simbol kemajuan transportasi modern Indonesia, sekaligus inspirasi bahwa pembangunan besar selalu dimulai dari tantangan besar pula.
Seperti kata Prasetyo Hadi, Whoosh bukan sekadar kereta cepat, tapi simbol keberanian Indonesia untuk melangkah ke masa depan. Sekarang tugas kita memastikan langkah itu terus berjalan tanpa membebani rakyat. 🚄🇮🇩
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber






