
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 14)
Hasil pemeriksaan menyatakan Kirei positif hamil. Di dalam rahimnya tumbuh buah cintanya bersama Attala yang diharapkan akan berkembang dengan baik dan sempurna. Dokter Lova memprediksi usia kandungannya memasuki bulan ketiga. Awalnya Kirei terkejut mendengar penuturan dokter kandungan terbaik di Bekasi itu. Namun, ia paham setelah mendengarkan pemaparan dari dokter. Usia kandungan dihitung berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) yang dianggap sebagai hari pertama usia kehamilan. Metode ini dikenal dengan nama rumus Naegele, yang merupakan metode penghitungan terbaik bagi wanita yang memiliki siklus haid normal 28 hari. Stimulasi perhitungannya dengan menentukan HPHT, tambahkan satu tahun, tambahkan tujuh hari, kemudian mundurkan tiga bulan. Dari hasil perhitungan tersebut akan didapatkan perkiraan usia kandungan dan juga Hari Perkiraan Lahir (HPL).
Selain melalui rumus Naegele, usia kandungan bisa dilihat melalui USG transvaginal yang dilakukan pada awal kehamilan. Hal ini dilakukan karena dalam beberapa pekan pertama janin cenderung berkembang dengan kecepatan yang sama. Kemudian seiring bertambahnya usia
kehamilan, tingkat pertumbuhan janin akan berbeda-beda. Pertumbuhan janin akan cepat di bulan tertentu dan melambat di bulan berikutnya. Jika USG dilakukan pada trimester akhir, sudah bukan lagi untuk menentukan usia janin tapi untuk memantau apakah janin tumbuh dengan baik dan sudah dalam posisi yang tepat untuk mempersiapkan proses kelahiran.
Kirei yang didampingi Gayatri menuruti saran Dokter Lova untuk menghitung usia kehamilan dengan metode Naegele dan juga melalui USG 4 dimensi. Terlihat jelas janin berkembang dengan baik sesuai dengan usia kandungan dari layar mesin USG. Namun, dokter memperingatkan agar Kirei selalu menjaga agar pikirannya tidak terlalu stress, sebab akan memicu mual muntah dengan intensitas yang tinggi. Mual muntah yang dialami Kirei adalah hal yang wajar karena 90% wanita hamil trimester pertama mengalaminya. Hanya saja penyebab dan intensitas mual muntahnya yang membedakan jenis penanganan yang akan diberikan oleh dokter kandungan. Mual muntah pada kehamilan disebut Nausea and vomiting in pregnancy (NVP). Namun, kebanyakan dikenal dengan istilah morning sickness karena intensitas mual dan muntah lebih sering terjadi di pagi hari.
Ada beberapa penyebab munculnya mual dan muntah di awal kehamilan, yakni melonjaknya beberapa hormon sekaligus dan perubahan fisik seperti rahim yang membesar, peningkatan aliran darah ke organ reproduksi, dan peningkatan detak jantung. Munculnya hormon human Chorionic Gonadotropin (hCG) sebagai efek pertemuan sperma dan ovum, ditambah dengan meningkatnya hormon estrogen mempengaruhi sistem pencernaan dan pusat mual di otak. Keberadaan hormon progesteron ternyata juga memicu terbukanya otot sfingter esofagus, yaitu saluran pencernaan yang menghubungkan mulut dan lambung sehingga menyebabkan makanan lebih mudah keluar dari lambung jika mencium bau dan rasa tertentu yang menyengat.
Atas permintaan Kirei, dokter memberikan obat anti mual dan vitamin B6 agar penyerapan makanan berlangsung dengan baik selama satu bulan ke depan. Ia tidak ingin merasakan morning sickness lebih lama karena banyak pekerjaan yang membutuhkan kehadirannya. Satu bulan ini ia merasakan kinerjanya menurun drastis karena pusing yang tiba-tiba muncul. Namun, ia berusaha mengabaikan dan tidak memeriksakan kondisi tubuhnya ke dokter. Bahkan, beberapa pelanggan mulai ada yang mengeluhkan gaun pengantin yang dibuat tidak sesuai pesanan karena jahitannya jelek dan gaunnya kurang mengembang. Tak hanya itu, beberapa keluhan muncul karena orderan masakan yang tidak memuaskan. Ia harus tetap sehat karena tidak ingin usaha yang dibangun dari nol harus mengalami kemunduran karena kehamilannya.
Karena alasan itu juga, Kirei terpaksa menerima Samirah, asisten rumah tangga pilihan Mama Maya. Kata mertuanya, Samirah adalah orang kampung yang bersuamikan tukang ojek. Dia memiliki seorang anak berusia 2 tahun yang menderita penyakit hydrocepallus, yaitu pembengkakan otak yang membuat anaknya tidak bisa berkembang dengan baik. Karena penghasilan suaminya sebagai tukang ojek sangat tidak menentu sementara biaya berobat anaknya sangat besar, Samirah memutuskan untuk merantau dan bekerja menjadi pembantu rumah tangga melalui agen.
Meskipun Kirei dan Attala merasa kurang nyaman dengan keberadaan pembantu rumah tangga baru itu, tapi diakui bahwa Samirah adalah perempuan cekatan yang bisa meringankan banyak pekerjaan rumah tangga. Apalagi, Samirah pintar memasak sehingga Kirei dan Attala tidak sibuk memesan makanan di luar. Ditambah, setiap hari Ibu dan mertuanya mengirimkan aneka makanan, buah-buahan, sayur, ikan, serta daging. Dengan harapan Kirei bisa makan dengan baik. Meskipun, efeknya ia harus membeli satu kulkas lagi karena bahan makanan yang melimpah.
Sudah lebih sepekan Kirei tidak melihat kehadiran ibu dan mertuanya. Obat anti mual yang diberikan Dokter Lova membuat kondisinya lebih baik. Mual dan muntah mulai berkurang. Makanan dengan aneka bumbu yang menyengat sudah mulai bisa dinikmati sedikit demi sedikit. Aktifitas ke kantor mulai normal kembali meski beberapa pekerjaan ia limpahkan pada partner kepercayaannya demi menjaga agar tubuh dan pikirannya tidak terlalu stress. Jadi, tanpa kehadiran dua perempuan hebatnya, ia bisa melalui semua dengan lancar dan baik.
Sore hari sepulang dari kantor, Kirei mendapati mobil Attala sudah terparkir di halaman. Pintu ruang tamu terbuka lebar. Sebuah koper berdiri di teras dan satu travel bag tergeletak di sampingnya. Kirei meminta Martono untuk menghentikan mobilnya dan segera turun untuk mencari Attala. Setelah mengucapkan salam, ia melihat Samirah tergopoh-gopoh berlari dari dapur untuk menyambutnya.
“Samirah, kamu melihat Bapak?” Kirei memandangi pembantu yang seusia dengan dirinya itu. Meskipun, penampilannya sederhana. Ia sebenarnya cantik jika tubuhnya dirawat dengan baik.
“Ada di kamar, Bu.” Samirah menjawab dengan sopan.
Kirei berlari ke kamar tanpa mengetuk pintu. Ia langsung membuka pintu dan melihat suaminya sedang mematut diri di cermin.
“Mas, tolong jelaskan mengapa koper dan travel bag Mas ada di pintu depan?” Kirei terengah-engah. Selain karena tadi tergesa-gesa, emosinya juga melonjak tak terkendali. “Bukankah tidak ada pembicaraan apa pun sebelumnya? Kenapa, Mas? Ada apa?”
Attala terkejut melihat istrinya, tiba-tiba datang dan berteriak padanya. Tetapi, dia memaklumi karena istrinya baru saja pulang kerja dalam keadaan yang lelah. Ditambah kehamilannya yang membuat dia mudah marah.
“Kirei sayang, duduk dulu, ya. Mas jelaskan semuanya.” Attala memegang pundak Kirei yang langsung ditepis istrinya itu.
“Aku tidak butuh penjelasan, Mas. Kamu hanya perlu menjawab, kenapa ada koper dan travel bag di teras.” Wajah Kirei memerah.
Attala menatap istrinya. Baru kali ini, ia melihat kemarahan yang meluap-luap pada Kirei. Selama dua bulan menikah Kirei adalah sosok yang begitu patuh, tidak banyak meminta penjelasan tentang keputusan yang dibuatnya, terutama soal pekerjaan kantor. Jika mereka makan di luar pun Kirei lebih suka mengikuti menu yang dipesannya. Meskipun, sikap manja istrinya itu, kadang membuatnya sungkan saat berada di tempat umum, tapi itu bukanlah hal yang sangat menggangu. Memang begitulah cara Kirei memperlihatkan perhatian dan kasih sayang padanya.
Segera dia memeluk Kirei. Perempuan bertubuh ramping itu terisak di dadanya. Attala menunggu sampai tangis istrinya reda, lalu didudukkan di tepi ranjang. Digenggamnya tangan sang istri, ditatapnya mata yang berair itu dengan teduh.
“Aku minta maaf, sayang. Tadi aku berniat untuk menjemputmu dan mengajakmu makan malam di luar untuk menjelaskan semuanya. Namun ternyata, kamu pulang lebih cepat tanpa mengabari Mas.” Attala bergegas mengusap air mata yang tersisa di mata istrinya.
Attala menjelaskan pada istrinya bahwa sore ini ia harus bertolak ke Korea. Ada undangan mendadak dari kampusnya dahulu untuk mengisi seminar di sana. Tidak lama, hanya satu pekan karena setelah seminar ada kegiatan reuni antar angkatan yang hanya dilaksanakan lima tahun sekali. Kebetulan ini reuni pertama setelah pandemi Covid-19 melanda dunia dan menyebabkan acara reuni terpaksa dilakukan secara online.
“Tapi, kenapa harus mendadak, Mas?” Kirei merasakan sesak yang begitu menyiksa. Tubuhnya masih lemah. Mual dan muntah yang menyerang belum lagi mereda sepenuhnya. Fisiknya belum sepenuhnya pulih. Hanya karena semangatlah Kirei tidak tumbang dengan kehamilan yang membuat fisik dan emosinya lelah luar biasa.
“Sebenarnya ini sudah diagendakan sepekan lalu, Sayang. Hanya saja Mas tunda karena kondisimu kemarin sangat lemah. Akhirnya kampus mengundurkan kegiatan itu pekan ini. Jadi, Mas tidak bisa menolak lagi. Masa, hanya karena menunggu Mas, acara kampus harus batal?” Attala mengelus pipi Kirei perlahan.
“Tapi, Mas….” Kirei mencoba mencari alasan agar Attala tidak pergi. Tapi apalah daya, dia tidak ingin mengekang suaminya untuk tumbuh dan berkembang dalam pekerjaan yang digelutinya.
“Tidak apa-apa, sayang. Mas janji selesai semua kegiatan nanti Mas langsung pulang. Ada Mbak Samirah yang menemani kamu sekarang, kan. Nanti aku telpon Mama dan Ibu supaya sering mengunjungimu. Oke, Cantikku.” Attala memeluk istrinya. Setelah itu, ia segera turun menghampiri Martono. Sopir pribadi bapak mertuanya yang kini menjadi sopir pribadi Kirei karena mertuanya ingin Kirei tidak boleh lagi menyetir mobil sendiri semenjak dinyatakan hamil.
Melihat kepergian Attala, Kirei merasa ada getaran aneh yang menelusup hatinya. Entah apa yang dirasakannya kini. Ia tidak paham.
Samirah membantu Attala membawakan barang-barang dibantu Martono. Pertama kali, melihat majikannya itu, ia terpesona. Bagaimana tidak, Oppa Korea yang sering ditontonnya di televisi kini menjelma secara nyata di hadapannya. Sampai-sampai, Kirei menegur dirinya.
Semua barang sudah masuk semua. Mobil berwarna silver pun melaju meninggalkan rumah berlantai dua yang baru ditempati 2 bulan. Setelah Attala pergi, Kirei masuk ke rumah diikuti Samirah dari belakang. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar dan merebahkan badan, sedangkan Samirah pergi ke dapur. Diam-diam, pembantunya itu mengirim pesan singkat kepada seseorang sambil tersenyum misterius.






