Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 1)

- Penulis

Selasa, 27 Agustus 2024 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 1)

Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 1)

Cinta tidak pernah sempurna, tapi dua insan yang menjalaninya yang akan membuatnya sempurna. Rumah tangga impian Attala dan Kirei yang baru saja dibangun diguncang dari segala penjuru. Tak hanya itu, kehadiran sosok dari masa lalu membuat masalah semakin rumit. Siapakah sebenarnya sosok dari masa lalu itu? Akankah Attala kembali pada kisah masa lalunya? Ataukah bertahan dalam biduk rumah tangga yang penuh prahara?

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bab 1

“Aku nikahkan dan kawinkan engkau, Attala Atma Prasetyo dengan anak perempuanku Kirei Anastasya Gumilar dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan berlian 0,9 karat dibayar tunai.” Gumilar mengucapkan akad dengan suara gemetar.

“Saya terima nikah dan kawinnya Kirei Anastasya Gumilar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” suara lantang Attala membalas lafadz akad Gumilar membuat semuanya lega.

 

“Bagaimana saksi? Sah?” Penghulu menatap sekeliling ruangan diiringi ucapan sah dari para saksi dan binar bahagia keluarga.

Rangkaian doa terlantun syahdu menyambut kehadiran bahtera baru yang akan mengarungi samudera hidup agar senantiasa tenang dan bahagia.
Tanpa terasa air mata Gumilar menetes. Gadis kecil yang selalu digendongnya ke mana-mana sampai tumbuh menjadi sosok perempuan yang cantik dan mandiri, kini akan melanjutkan hidup bersama pria yang menjadi pelabuhan terakhirnya. Kewajibannya sebagai ayah, otomatis berpindah pada pria yang bernama Attala Atma Prasetyo.

Di ruangan lain, Kirei yang mendengarkan ijab-kabul berusaha menahan agar air matanya tidak menetes dan merusak riasannya. Pertemuan singkat itu, ternyata berhasil membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya, setelah dulu ia pernah ditolak mentah-mentah oleh seorang pria di masa putih abu-abu. Pemilik perusahaan kontraktor yang terkenal dan juga turut andil dalam pembangunan gedung-gedung pencakar langit di negeri ini adalah putra dari sahabat ayahnyaPrasetyo. Sementara dirinya, pemilik sebuah bridal dan jasa penyelenggaraan pernikahan yang telah dipercaya untuk mengatur dan mengurus berbagai acara pernikahan dengan berbagai wilayah. Rata-rata konsumen yang menggunakan jasanya sangat puas. Biasanya, mereka akan memberitahu kerabat atau sahabat untuk menggunakan jasa bridal sekaligus WO darinya. Perlahan, usaha yang dia bangun dari nol. Kini sudah semakin terkenal dan bisa merekrut banyak karyawan yang handal dan terlatih.

Kirei dan Attala adalah perpaduan yang sempurna. Kirei yang memiliki wajah baby face, tubuh yang langsing dengan rambut hitam panjang sepunggung serta tinggi badan 150 cm yang kadang membuatnya tidak percaya diri. Ia selalu menggunakan high heels ketika keluar rumah. Begitu juga dengan Attala, pesona pria itu mampu menarik perhatian perempuan. Meskipun terkesan dingin dan cuek, tetapi wajahnya yang seperti oppa-oppa Korea bisa menutupi sikapnya itu.

Perjodohan Kirei dan Attala bermula saat Mayaibu Attalamenghadiri resepsi Naziha, selebgram sekaligus influencer yang juga sahabat Kirei. Maya begitu antusias dengan konsep resepsi yang diselenggarakan Naziha. Ia memiliki jiwa sosial yang tinggi melihat konsep pernikahan yang mengundang para pedagang kaki lima sebagai penyedia hidangan dan mengajak ratusan penghafal Al Quran untuk meramaikan acara sakralnya itu.

Di sela-sela kesibukan Naziha menyambut tamu undangan, Maya menanyakan jasa WO yang Naziha gunakan. Naziha pun memperkenalkan Kirei pada Maya. Sejak saat itulah, Maya semakin akrab dan berusaha mengenal Kirei lebih dekat. Karakter Kirei yang ramah, sopan, mandiri dan tidak macam-macam, membuatnya jatuh hati. Hanya satu yang tidak disukainya dari perempuan itu adalah sikap manjanya yang terkadang berlebihan. Namun, itu tidak jadi masalah.

Kirei tidak menyangka Attala menerima perjodohan ini. Pria yang baru saja menyelesaikan pendidikan magisternya di Korea itu pasti memiliki banyak relasi perempuan cantik dengan previllage tinggi. Apalagi, posisi calon mertuanya, Prasetyo adalah pemilik saham PT Agung Sinarmas yang bergerak di bidang properti papan atas. Tentu banyak rekan kerjanya yang menawarkan anak perempuan mereka untuk dijadikan menantu di keluarga konglomerat itu.

Suara ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Kirei. Gayatriibunda Kireimasuk ke kamar rias diikuti Maya. Keduanya tersenyum melihat Kirei yang begitu cantik hari ini.

“Kamu cantik sekali, Rei.” Gayatri menghampiri Kirei yang duduk di depan cermin dengan mata berkaca-kaca.

“Iya, cantik sekali menantuku ini,” puji Maya dengan senyum merekah. Teman-teman arisannya pasti akan iri melihat kecantikan menantunya itu.

“Terima kasih, Ma, Tante.” Kirei menatap mama dan mertuanya bergantian.

“Sekarang kamu tidak boleh panggil Tante lagi, ya. Panggil Mama saja karena sekarang kamu sudah menjadi bagian Keluarga Prasetyo.” Maya mengusap pundak Kirei sambil tersenyum bahagia.

“Kita ke ruang resepsi sekarang, yuk. Attala pasti terpesona melihat kecantikan istrinya yang seperti bidadari turun dari langit.” Gayatri menyudahi perbincangan karena penghulu pasti sudah menanti kehadiran mempelai wanita.

Kirei berdiri, lalu merapikan baju kebaya putih hasil rancangannya sendiri. Butuh waktu satu bulan untuk menyelesaikannya. Bahan brukatnya ia pesan dari luar negeri yang kualitas dan harganya lumayan. Namun, ia sangat puas dengan hasilnya. Kebaya dengan kerah model queen Anne yang digabung dengan kerah jantung hati yang memperlihatkan belahan dadanya. Ditambah payet mutiara yang terbuat dari plastik, resin, atau kaca yang dapat memberikan tampilan yang elegan dan mewah di setiap bordiran bunganya. Apalagi, dipadukan dengan payet Jepang yang memiliki ukuran kecil dan memiliki ciri khas berkilau yang membuat semakin glamour. Untuk dalamnya kebaya, ia mengenakan kemben yang pas dengan bentuk dadanya.

Semua baju pernikahan yang Kirei kenakan adalah rancangannya sendiri. Ia ingin memberikan reward untuk dirinya karena sudah terlepas dari belenggu cinta masa lalu. Tak hanya itu, ia juga ingin membuat calon suami , yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya itu bangga memiliki istri sepertinya. Ia menyediakan tiga gaun selama acara resepsi berlangsung, gaun pertama berwarna pink baby dengan bagian roknya mengembang ala-ala princess dengan taburan payet kristal dan payet kombinasi di bagian pinggangnya. Ketiga gaun itu semua tertutup dan berlengan panjang sesuai keinginan Attala. Hanya kebaya yang dikenakannya sekarang saja yang lumayan terbuka.

Kirei berjalan menuju cermin yang memperlihatkan dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Siger Sunda menjadi pilihan untuk dikenakan di kepalanya. Padahal, ibu mertuanya memintanya mengenakan Paes Ageng. Namun, ia menolak karena siger Sunda adalah mahkota yang simpel dan elegan yang berwarna perak. Walaupun ukurannya terlihat kecil, ternyata berat singer ini ada yang mencapai dua kilogram.

Siger Sunda ini memiliki banyak makna, selain bahannya yang terbuat dari logam. Singer ini juga memiliki bunga melati di sisi kanan dan kiri yang merupakan lambang kemurnian dan kesucian. Ada juga kembang tanjung yang berbentuk hati yang menunjukkan kesetiaan dan kembang goyang yang memberikan arti rezeki. Bukan hanya itu, siger juga merupakan simbol harapan bagi seorang istri untuk menjadi lebih arif dan bijaksana. Bentuk mahkotanya yang memuncak memberi arti bahwa harus ingat dan kembali kepada Tuhan ketika mendapatkan ujian dan rintangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Maya mengapit lengan kanan Kirei, sedangkan Gayatri merapikan kebaya putrinya yang menjuntai hingga lantai agar tidak terinjak. Mereka bertiga pun keluar dari ruang rias. Semua orang pasti sudah menanti mempelai wanita.

Ketika pintu ruang ijab kabul sekaligus resepsi dibuka, semua mata para tamu undangan yang menghadiri acara sakral itu langsung terarah pada Kirei. Kirei benar-benar terlihat bak bidadari. Dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, Kirei yang diapit oleh mama dan ibu mertuanya dengan buket bunga yang digenggamnya. Kemudian, ia duduk bersanding dengan Attala. Petugas KUA langsung memintanya untuk menandatangani surat penting untuk pengesahan secara negara.

Dokumen sudah ditandatangani, MC langsung melanjutkan susunan acaranya yaitu pemberian mahar dari mempelai pria ke mempelai wanita. Attala membuka kotak beludru merah berukuran kecil yang berisi cincin dengan berlian di tengah-tengahnya. Ia sengaja memesan khusus dari luar negeri. Ia mengulurkan tangan kanan kepada Kirei untuk mengajaknya berdiri. Dengan disaksikan oleh para tamu undangan, ia pun menyematkan cincin berlian di jari manis tangan kiri Kirei.
Prosesi penyematan cincin ini sudah menjadi hal yang lumrah ketika menikah. Pemberian cincin juga memiliki arti tersendiri yaitu sebagai tanda pengikat cinta antara dua insan. Cincin nikah bisa disematkan di jari mana pun, asalkan nyaman bagi yang memakainya. Namun, kebanyakan cincin ini dipasang di jari manis.

Tradisi memasangkan cincin di jari manis tangan kiri sudah ada sejak zaman Romawi dan Mesir kuno. Ada kepercayaan bahwa jari manis tangan kiri memiliki pembuluh darah yang terhubung dengan jantung hingga dua insan yang saling mencintai terikat hingga ke sumber kehidupan mereka. Namun, faktanya tidak seperti itu, tidak ada pembuluh darah atau darag di jari manis tangan kiri yang menyambung langsung dengan jantung. Hanya saja, banyak yang beranggapan cincin di jari manis merupakan simbol ikatan cinta abadi.

Gayatri yang melihat putri tunggalnya begitu terlihat bahagia meneteskan airmata. Ia merasa waktu begitu cepat berlalu. Rumah yang ditempatinya pasti akan terasa sepi karena putri kecil akan memiliki keluarga sendiri. Ia dan sang suami akan kembali menjalani hidup berdua saja. Paling, hanya ada Pak Martono dan Bi Munah yang merawat serta menjaga rumah.
Cincin berlian tersemat dengan cantik di jari Kirei, lalu Attala mencium kening Kirei diiringi suara tepuk tangan dari para tamu undangan. Setelah itu, mereka berdua melakukan sesi pemotretan dengan masing-masing memegang buku nikah sambil tersenyum. Bahkan, Attala yang wajahnya sedingin es dan jarang tersenyum. Spesial untuk hari ini, ia akan full senyum dan berhasil membuat para tamu wanita di sana meleleh.

Kini tibalah pada prosesi selanjutnya yaitu sungkeman. Orangtua kedua mempelai dan mempelai naik ke pelaminan. Mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan. Tak ada satu pun dari tamu undangan yang mengeluarkan suara. Semua mengikuti acara dengan khidmat. Hanya orang tua mempelai dan mempelai, serta pembawa acara saja yang bicara.

Attala berjongkok dan menundukkan kepala di hadapan Gumilar. Dalam hati, ia berjanji akan berusaha membahagiakan Kirei dan tidak akan membuatnya menangis dan terluka selama hidup bersamanya. Baik buruknya Kirei nanti, sepenuhnya akan menjadi tanggungjawabnya sebagai pemimpin keluarga.

“Attala, mulai saat ini tanggung jawab Papa atas Kirei sudah berpindah padamu. Jika suatu saat nanti kamu sudah tidak suka atau ada sikap putri papa yang tidak kamu sukai, kembalikanlah Kirei pada Papa dengan baik-baik, seperti kamu memintanya. Jangan pernah sakiti hati Kirei, ya. Papa, titip Kirei.” Gumilar mengusap kepala Attala sambil berurai air mata. Tak ayal, semua tamu undangan ikut menangis mendengar perkataan Gumilar.

“Papa, tak usah khawatir. Attala akan menjaga, melindungi, dan membimbing Kirei,” ujar Attala sambil menahan tangis.
Tak hanya Attala yang mendapat petuah dari Gumilar. Kirei juga mendapat wejangan dari Mama Maya.

“Kirei, Mama berterimakasih sekali, kamu sudah mau menerima Attala sebagai pendamping hidup. Maaf, jika Attala terkesan dingin dan bicara seperlunya karena dari dulu Attala memang seperti itu. Semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.” Maya membungkukan badan sambil memeluk Kirei yang menangis sesenggukan di atas pangkuannya.

Semua larut dalam suasana sedih dalam acara sungkeman itu. Bahkan, penata rias harus kembali memeriksa riasan pengantin dan memperbaikinya jika ada yang berantakan.

Hampir dua jam, acara berjalan. Dari mulai pembukaan, ijab-kabul, sampai acara sungkeman. Sekarang saatnya mengisi perut para tamu undangan yang menjadi saksi atas bersatunya dua insan dalam ikatan suci. Satu per satu, tamu undangan naik ke pelaminan, lalu bersalaman dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Salah satu, dari tamu undangan itu nampak Nazihasahabat baik Kireibersama sang ibu.

“Ziha, kenapa enggak nemenin aku di ruang rias?” Kirei mencubit lengan Naziha.

“Aku tidak mau mengganggu momen pentingmu bersama ibu. Lagipula, morning sickness ini agak menyusahkan, aku hampir tidak bisa menghirup aroma wewangian dari parfum atau bedak. Jika tidak sengaja terhirup, aku merasa mual dan akan bolak-balik ke kamar mandi.” Naziha terkekeh sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.

“Ah, akhirnya ponakanku launching sebentar lagi.” Kirei mengelus perut Naziha.

“Eleh, kau juga sebentar lagi punya sendiri.” Naziha mencubit lengan Kirei. Keduanya tertawa geli.

“Suamimu enggak ikut?” Kirei tidak melihat keberadaan lelaki yang berhasil memikat hati sahabatnya itu.

“Mas Pram lagi banyak kerjaan. Jadi, sebagai gantinya, aku bareng ibu ke sini.” Naziha mengandeng tangan sang ibu.

“Ibu sehat? Kirei kangen sekali bolu karamel buatan ibu.” Kirei mencium punggung ibu Naziha, lalu memeluknya.

“Alhamdulillah, Nak. Nanti, kalau kamu dan suamimu ke rumah Naziha. Ibu akan buatkan bolu karamel spesial untuk kalian,” ujar ibu Naziha. “Selamat ya, Nak. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.”

“Aamiin. Terimakasih, Bu. Kita foto dulu, yuk!” ajak Kirei. “Mas Lutfi, fotoin, dong.”
Lutfi langsung mengarahkan posisi Naziha, ibu Naziha, Kirei, Attala, dan kedua orangtua mempelai agar mendapatkan hasil yang bagus dan sempurna. Ia tidak ingin kena omel Kirei jika hasil pengambilan gambarnya tidak sesuai karena sebelumnya, ia dan Kirei sudah briefing dulu.
Setelah puas berfoto dengan pengantin, Naziha dan ibunya meninggalkan pelaminan karena masih banyak tamu yang mengantri di belakangnya yang ingin menyapa pengantin juga. Ia mengapit tangan ibunya menuju jamuan parasmanan.

Seorang pria dengan tinggi badan 170 cm berwajah semi Eropa, mengenakan baju batik solo berwarna abu muda menyalami Attala. Ia menatap pengantin pria dengan tatapan tajam sambil menyunggingkan senyum misterius. Cukup lama. Tak ingin ada yang mencurigainya, ia beralih menyelami pengantin perempuan. Tanpa mengatakan satu patah kata pun, ia hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. Kemudian, ia meninggalkan pelaminan.

Setelah pria itu turun dari pelaminan, Attala membisikkan sesuatu di telinga kanan Kirei. “Rei, siapa pria itu? Kamu yang mengundangnya? Lagi pula, kenapa kerah bajumu harus serendah itu, sih? Sengaja, ya, supaya banyak pria yang melirikmu termasuk pria tadi?”

“Ih, apaan, sih, Mas. Aku juga enggak kenal siapa dia? Sudahlah. Tak usah mempermasalahkan baju. Wong cuman satu hari ini saja,” jawab Kirei dengan berbisik juga.

Attala terdiam. Ya, ini bukan waktu yang tepat untuk mendebatkan pakaian yang dikenakan Kirei. Ia hanya kesal karena Kirei tidak mengindahkan ucapannya tentang kriteria pakaian yang harus dikenakan istrinya itu di hari yang sakral ini.

Tiga shift waktu resepsi yang ditentukan pihak penyelenggara ternyata tidak cukup. Resepsi yang dijadwalkan selesai pukul empat sore, ternyata baru selesai tiga jam kemudian. Meskipun begitu, semua cara berjalan dengan lancar, hanya ada beberapa masalah kecil yang sudah ditangani. Setelah tamu undangan terakhir pulang, sepasang mempelai itu pulang ke rumah Gumilar dan tinggal di sana selama satu pekan untuk kemudian diadakan acara unduh mantu di pihak keluarga Attala.

 

“Sekarang rumah ini adalah rumahmu juga, Atta. Jangan sungkan di sini. Kami bukan lagi orang lain, melainkan orang tua yang akan mendampingi dan membimbing kalian semampu kami. Harapan kami, Atta bisa menjaga Kirei seperti kami menjaganya sejak kecil.” Gumilar memberikan nasehat kepada menantunya.

 

Atta mengangguk takzim, lalu menjawab dengan santun permintaan Gumelar. Sebagai pria yang irit bicara, dia selalu berposisi sebagai pendengar yang baik. Bahkan, saat Kirei merajuk untuk segera masuk ke kamar, dia hanya mengangguk dan segera berpamitan kepada kedua mertuanya.

 

“Ma, Pa, kami izin mendahului istirahat. Sepertinya, Kirei kelelahan,” ucap Attala sambil melirik ke arah Kirei.

 

“Baiklah, silakan istirahat. Kalian tentu sangat lelah hari ini. Kami juga akan segera istirahat,” jawab Gayatri.

 

Kedua pengantin baru itu memasuki kamar dengan canggung. Kirei yang biasanya tidur ditemani guling, kini sudah harus berbagi ranjang dengan Attala. Lucu memang tetapi sudah menjadi kewajiban suami-istri untuk tidur satu ranjang, bukan? Attala pun merasakan kecanggungan yang sama. Sebagai lelaki yang tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan sebelumnya, ia bingung harus bagaimana?

 

“Hmm, kau mau kuambilkan sesuatu?” Attala mulai membuka percakapan.

 

“Tidak.” Kirei menjawab dengan canggung. Dia memang sudah jatuh cinta dengan Attala sejak pertama kali bertatap muka tetapi setiap kali mereka bertemu selalu ada orang lain, entah itu Maya ataupun Naziha, bahkan tidak jarang kedua orang tuanya. Jadi berhadapan langsung dengan Attala saat ini membuat Kirei salah tingkah.

 

“Bagaimana kalau kita membuka kado-kado itu?” Attala berusaha mencairkan suasana dengan memindahkan tumpukan kado di sudut ruangan ke atas ranjang. Kirei mengangguk tanda setuju.

Sembari membuka kado, berbagai macam cerita mengalir dari mulut Kirei. Hingga sampai pada kotak kado terakhir yang berbungkus kertas berwarna hitam. Tidak ada tulisan apapun di sampulnya. Kirei mencoba menggoyangkan kotak itu. Terasa berat di satu sisi, begitu juga saat dia menggoyangkan kotaknya ke sisi lain, beratnya berpindah juga. Karena penasaran, dia segera membuka kotak itu.

“Aaaaaaaaa….” Kirei menjerit sambil melemparkan kotak kado yang sudah terkoyak bungkusnya itu.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Tamat)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Sabtu, 7 Desember 2024 - 08:41 WIB

Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)

Berita Terbaru

Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Pendidikan

5 Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:50 WIB

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Hiburan

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:34 WIB