Harga Minyak Tembus US$ 97 per Barel Dipicu Kesepakatan Iran-Oman

- Penulis

Selasa, 8 September 2026 - 12:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Grafik pergerakan harga minyak mentah dunia mendekati level US$ 97 per barel.

Harga minyak mentah dunia mendekati level US$ 97 per barel akibat dinamika geopolitik Iran-Oman.

Redaksiku.com – Harga minyak mentah dunia kembali bergerak mendekati level US$ 97 per barel di tengah dinamika geopolitik yang melibatkan negosiasi pengaturan Selat Hormuz antara Iran dan Oman. Pergerakan harga ini langsung memancing perhatian para pelaku pasar dan pedagang global yang memantau ketat potensi hambatan pasokan energi internasional.

Sebagai jalur maritim yang sangat vital bagi perdagangan energi dunia, Selat Hormuz menghubungkan berbagai produsen utama di kawasan Teluk Persia dengan pasar global. Dalam situasi normal dan tanpa gangguan konflik, jalur perairan sempit ini dilalui oleh sekitar seperlima dari total pasokan minyak gas dan minyak bumi dunia.

Pada perdagangan pagi, patokan harga minyak mentah Brent tercatat berada di level US$ 97,03 per barel pada pukul 09.26 waktu Singapura. Sementara itu, kontrak berjangka untuk minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI juga mengalami kenaikan tipis hingga menyentuh angka US$ 92,43 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lonjakan harga Brent sejauh ini telah mencatatkan kenaikan lebih dari 30 persen sejak konflik di kawasan tersebut mulai berkecamuk lebih dari enam bulan lalu.

Meskipun mengalami penguatan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, posisi harga saat ini masih berada jauh di bawah rekor tertinggi yang pernah tercatat. Pada akhir April lalu, harga minyak sempat menembus level di atas US$ 126 per barel akibat kepanikan pasar yang luar biasa.

Selain komoditas mentah, harga produk olahan seperti bahan bakar diesel bahkan mengalami lonjakan yang jauh lebih tajam. Situasi ini diperparah oleh konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina yang secara bersamaan turut memperketat rantai pasokan energi global.

Dinamika Pengaturan Selat Hormuz

Di tengah ketegangan yang belum mereda, pemerintah Iran dan Oman dilaporkan sedang berupaya meresmikan pengaturan baru terkait pengelolaan Selat Hormuz. Salah satu poin yang dibahas adalah rencana penerapan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi wilayah perairan tersebut.

Langkah diplomasi ini tampak bertentangan secara langsung dengan keinginan Amerika Serikat. Washington secara tegas menginginkan agar Selat Hormuz dikembalikan ke status quo sebelum perang, yakni sebagai jalur perairan internasional yang bebas dilalui oleh kapal-kapal komersial tanpa pungutan tambahan.

Menanggapi proses negosiasi tersebut, pihak Iran menyatakan bahwa kesepakatan pengelolaan jalur strategis ini akan segera tercapai dalam waktu dekat. Pada tahap awal implementasinya, kesepakatan itu difokuskan pada penyediaan rute pelayanan yang aman bersifat sementara bagi kapal tanker.

Pertempuran berskala terbatas antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas dalam sepekan terakhir menjadi pemicu utama kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan.

Para analis dan pedagang komoditas menilai bahwa eskalasi militer terbaru berpotensi menciptakan gangguan yang lebih masif pada arus distribusi energi. Hal inilah yang mendorong harga minyak berjangka terus merangkak naik di bursa internasional.

Perilaku Pasar dan Proyeksi Kedepan

Di sisi permintaan, kilang-kilang minyak di Cina terpantau baru saja meningkatkan volume pembelian mereka. Tindakan ini secara langsung mendongkrak harga minyak mentah yang berasal dari kawasan Afrika, Kanada, serta Amerika Latin.

Namun, para pengamat pasar mengingatkan bahwa lonjakan pembelian sesaat dari Negeri Tirai Bambu tersebut belum tentu mencerminkan pemulihan permintaan energi global dalam jangka panjang. Faktor spekulasi jangka pendek masih mendominasi pergerakan pasar saat ini.

Organisasi finansial global turut merevisi pandangan mereka terhadap pasar energi dunia menyusul perkembangan situasi di Timur Tengah. Risiko geopolitik yang terus berlanjut membuat proyeksi harga minyak harus disesuaikan dengan realitas lapangan.

“Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan konflik Timur Tengah berlangsung berkepanjangan,” tulis analis Goldman Sachs Group Inc., termasuk Daan Struyven, dalam sebuah catatan dikutip dari Bloomberg, Selasa (8/9).

Sebagai bentuk antisipasi, Goldman Sachs sedikit menaikkan proyeksi harga minyak dengan asumsi bahwa gangguan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi berlanjut hingga tahun 2027. Kendati demikian, pasokan fisik minyak mentah dari kawasan Teluk Persia terpantau masih terus mengalir keluar.

Berdasarkan data dari Macquarie Group Ltd, volume minyak mentah dan produk olahan yang masih sanggup melintasi Selat Hormuz saat ini berkisar di angka 7 juta barel per hari. Angka tersebut memang masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan volume normal sebelum perang yang mencapai sekitar 20 juta barel per hari. Di sisi lain, para pejabat Amerika Serikat dalam beberapa kesempatan juga mengonfirmasi bahwa angka ekspor dari kawasan tersebut masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat dalam sepekan terakhir.

Pertanyaan Umum

Berapa harga minyak dunia saat ini?

Harga minyak mentah Brent tercatat berada di level US$ 97,03 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate atau WTI naik ke posisi US$ 92,43 per barel.

Mengapa Selat Hormuz sangat penting bagi pasar minyak?

Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan maritim vital yang menghubungkan produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global, yang dalam kondisi normal dilalui oleh seperlima pasokan energi dunia.

Bagaimana proyeksi harga minyak dari lembaga keuangan?

Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak dengan asumsi gangguan pelayaran akibat konflik di Timur Tengah berpotensi berlanjut hingga tahun 2027.

Ringkasan

Harga minyak dunia mendekati level US$ 97 per barel akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi hambatan pasokan energi global yang dipicu oleh negosiasi pengaturan Selat Hormuz antara Iran dan Oman serta eskalasi konflik di Timur Tengah.

Patokan minyak Brent tercatat di posisi US$ 97,03 per barel dan WTI berada di angka US$ 92,43 per barel, sementara Goldman Sachs memproyeksikan gangguan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi berlanjut hingga tahun 2027.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MBMA Pertimbangkan Jual Saham di Bursa Hong Kong
IHSG Rawan Turun, Cek Rekomendasi Saham AKRA hingga MDKA
NAB Reksadana Naik Tipis Agustus 2026 dan Prospeknya
Prospek Kinerja UNTR 2026 dan Rekomendasi Sahamnya
Pemerintah Lelang Beras Bulog Turun Mutu Jadi Bahan Tepung
NAB Reksadana Naik Tipis dan Net Redemption Rp 8,5 Triliun Agustus 2026
Saham Pilihan Saat Asing Masuk Kembali ke Pasar Bursa
Cadangan Devisa Indonesia Naik Jadi US$146,5 Miliar pada Agustus 2026

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 12:15 WIB

Harga Minyak Tembus US$ 97 per Barel Dipicu Kesepakatan Iran-Oman

Selasa, 8 September 2026 - 10:30 WIB

MBMA Pertimbangkan Jual Saham di Bursa Hong Kong

Selasa, 8 September 2026 - 09:38 WIB

IHSG Rawan Turun, Cek Rekomendasi Saham AKRA hingga MDKA

Selasa, 8 September 2026 - 09:35 WIB

NAB Reksadana Naik Tipis Agustus 2026 dan Prospeknya

Senin, 7 September 2026 - 21:40 WIB

Prospek Kinerja UNTR 2026 dan Rekomendasi Sahamnya

Berita Terbaru

Manajemen Fiorentina resmi memecat pelatih Fabio Grosso menyusul rentetan hasil buruk di awal kompetisi Serie A musim ini.

Olahraga

Fiorentina Pecat Pelatih Fabio Grosso Usai Hasil Buruk

Selasa, 8 Sep 2026 - 12:15 WIB

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) siap memperluas ekspansi bisnis melalui peluang sektor FWA dan spektrum frekuensi baru.

Teknologi

Strategi TOWR Hadapi Peluang Ekspansi Bisnis FWA Telekomunikasi

Selasa, 8 Sep 2026 - 11:30 WIB

PT Merdeka Battery Materials Tbk mengkaji rencana penerbitan depositary receipts di Bursa Efek Hong Kong.

Keuangan

MBMA Pertimbangkan Jual Saham di Bursa Hong Kong

Selasa, 8 Sep 2026 - 10:30 WIB